Pater Marsel Agot Masuk Calon Bupati, Mengapa Tidak Boleh?

  • (Artikel ini bertolak dari pendapat Pater Dr. Amatus Woi SVD). Artikel ini dikirimkan ke Flores Pos pada 12 September 2009 dari Ledalero tapi tidak diterbitkan)

Oleh AVENT SAUR

Pater Marsel Agot SVD

Pater Marsel Agot SVD

Siang itu (8/9/2009), saya dihubungi oleh Pater Alex Jebadu SVD (sekarang sedang belajar tingkat doktoral di Gregoriana Roma, Italia bidang misiologi). Katanya, dia pernah berbincang-bincang dengan Pater Dr. Amatus Woi SVD (Provinsial SVD Ende, sudah meninggal, Minggu, 8 November 2009 di Surabaya, dimakamkan di Ledalero).

Isi perbincangan itu adalah wacana pencalonan Pater Marsel Agot menjadi bupati Manggarai Barat (Mabar). Pater Alex memohon pertolongan saya untuk mempublikasikan isi perbincangan itu. Rasanya, isi perbincangan itu cukup penting bagi para politisi dan penguasa, para rohaniwan dan masyarakat seluruhnya.

Sampai saat ini, Marsel Agot memang tidak lagi masuk dalam daftar calon dari Koalisi Besar gabungan 14 partai politik (Kabupaten Manggarai Barat). Namanya telah dicoret lantaran tidak mengembalikan formulir pendaftaran yang menurut kepala sekretariat Koalisi Besar, formulir itu bukan diambil oleh Marsel Agot sendiri melainkan oleh orang terdekatnya.

Namun menurut Dr. Amatus Woi, seorang teolog politik, pencoretan itu tidak menghentikan perbincangan lebih mendalam tentang Marsel Agot. Sebagai sebuah wacana, kita boleh-boleh saja berbicara terus tentang dia. Ini fenomena politik yang mesti menjadi buah bibir masyarakat dan mesti diketahui oleh masyarakat.

***

Berita pertama tentang pencalonan Marsel Agot termuat dalam Flores Pos (4/9/2009). Berita ini cukup menarik karena mengandung sebuah kontroversi. Letak kontroversialnya, sebagai seorang imam Marsel Agot “ditidakbolehkan” terlibat dalam politik praktis. Ini sudah diatur dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) No. 285-187.

Apa betul ini sebuah kontroversi? Dr. Amatus berpendapat bahwa keterlibatan seorang imam dalam arena politik praktis memang sudah dianggap tabu. Ini menjadi tantangan besar bagi seorang imam seperti Marsel Agot. Namun bila seorang imam merasa bahwa jalan politik bisa mewujudkan cita-cita pelayanan misionernya, mengapa tidak boleh? Anggapan tabu semestinya segera disingkirkan. Apa yang dinamakan politik harus dipandang secara realistis.

Lebih lanjut Dr. Amatus menegaskan, “Kalau politik dipahami sebagai usaha perjuangan kepentingan dan kebaikan bersama, dan bukan perjuangan untuk meraih kekuasaan semata-mata atau mengumpulkan harta untuk diri sendiri, mengapa imamat kita tidak boleh diwujudkan melalui jalan politis seperti ini? Untuk berlaku adil dan baik terhadap sesama dan lingkungan hidup sebenarnya tidak sulit. Ini soal kemauan politis dan disposisi moral saja, entah kita mau berlaku adil atau egoistis. Kalau kita mau berlaku adil terhadap sesama manusia, maka kita tidak akan korupsi, kita tidak akan tipu orang lain, kita tidak akan memaksakan kehendak kepada rakyat dan seterusnya. Kalau Pater Marsel Agot terpilih sebagai bupati, dia harus didispensasi atau disuspensi dari jabatannya sebagai imam yang membatasi dia untuk menjalankan fungsi-fungsi imamat internal Gereja sebagaimana diatur dalam hukum gereja. Setelah masa pelayaan publik selesai, dia bisa diproses untuk diterima kembali ke dalam tarekat. Mengapa tidak boleh? ”

Dengan pandangan brilian seperti ini, maka kita sulit menemukan sebuah kontroversi dalam keterlibatan para imam dalam politik praktis. Yang terpenting, kita membuka mata terhadap pelbagai keprihatinan sosial dan mematahkan anggapan-anggapan picik tentang misi Gereja yang adalah misi Allah sendiri.

***

Saya yakin, Marsel Agot memiliki gagasan brilian seperti ini. Namun rupanya, dia ragu-ragu untuk membuktikan gagasan-gagasan ini. Dia mungkin kurang berani untuk menanggung risiko-risiko yang mesti ditanggungnya. Kalau dia sungguh berani, maka yang mengambil formulir di sekretariat koalisi besar adalah mesti dia sendiri bukan orang lain. Atau sekalipun orang lain yang mengambilnya, tapi itu atas kehendak Agot sendiri. Dari klarifikasi yang diberikannya, pengambilan formulir itu adalah kehendak masyarakat.

Agot menjelaskan, “Perlu saya klarifikasi bahwa sejak tahun lalu, ada sekelompok warga Mabar, dan beberapa pimpinan partai politik mendekati saya dan berdiskusi seputar keadaan riil masyarakat Mabar. Mereka mendengar, menyaksikan dan mengalami pelbagai keprihatinan seputar SDM, SDA, bidang pendidikan, transportasi, kesejahteraan masyarakat dan hal-hal lain yang terkait dengan itu.”

“Pada tahun 2009,” lanjut Agot, “kelompok yang mendekati dan berdiskusi dengan saya bertambah. Warga masyarakat itu merindukan perubahan. Butuh figur yang bisa membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat Mabar. Sejalan dengan itu, ada warga yang mengambil formulir dan mendaftarkan nama saya. Saya kira itu hak mereka, dan saya harap mereka juga menghormati hak saya. Saya sudah terikat dengan peraturan tarekat dan ketentuan sebagai imam. Jika ada perubahan, tentu didiskusikkan dengan pimpinan.”

Bila ditilik lebih jauh, sebetulnya rasa ragu-ragu tak perlu ada dalam diri seorang Agot. Yang mesti ada justru sebuah keberanian. Ke hadapannya, banyak orang yang datang untuk berdiskusi, dan belum berapa lama justru lebih banyak orang lagi yang datang mendekatinya.

Memang kita tidak begitu saja mengeneralisir bahwa orang-orang itu mewakili sebagian besar masyarakat Manggarai Barat. Namun orang-orang itu bisa menjadi tanda bahwa masyarakat merindukan seorang pemimpin yang betul-betul sanggup membawa perubahan dan bisa mengurangi bahkan “menghentikan” aneka kebobrokan. Masyarakat merasa bahwa perubahan itu datang dari balik tembok biara atau dari balik pagar seminari.

Dengan itu, para biarawan–religius hendaknya tidak merasa nyaman tinggal terus dalam biara atau seminari. Kedatangan kelompok-kelompok  masyarakat dan pengambilan formulir tersebut, mesti dipandang sebagai gugatan dan gonggongan kritis terhadap kemapanan para pastor.

Bahwasanya, dalam mencari keadilan, para pastor hendaknya tidak hanya sebatas omong dari mimbar suci atau gereja kudus. Dalam komitmen untuk membela orang-orang kecil, para pastor hendaknya tidak cuma merenungkan makna kehidupan orang kecil. Dan dalam mengangkat martabat manusia dari keterpurukan, seyogianya para pastor tidak hanya berorasi di jalan-jalan. Masyarakat menginginkan para pastor bisa menyusun program-program yang pro rakyat dan mendekati rakyat dengan pelayanan dwi-dimensi: jasmani dan spiritual. Masyarakat menginginkan para pastor tidak lagi bersama rakyat untuk menolak kebijakan picik pemerintah, sebaliknya para pastor menjadi pemerintah yang merumuskan dan mengeksekusi kebijakan pro rakyat.

Terhadap isu pencalonan Marsel Agot, Dr. Amatus Woi menilai bahwa itu sesuatu yang baik dan penting. Sebagai sebuah move atau pergerakan politis demi keadilan dan kebaikan bersama, hal itu mesti didukung. Selama ini, banyak jalan telah ditempuh bahkan kata-kata kasar telah diungkapkan secara emosional, tapi seolah-olah tidak didengar. Kalau masyarakat menghendaki sebuah gerakan politis yang dikomando oleh para pastor, mengapa tidak boleh?

“Politik itu tidak kotor”, kata doktor lulusan Universitas Sank Agustin, Jerman ini. Secara esensial, jabatan politis itu sebuah jabatan dedikatif. Dan jabatan itu tidak tertutup bagi kaum religius. Kaum religius memiliki hak untuk berpolitik sekalipun hanya semacam “operasi cesar” demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

***

Nama Marsel Agot telah dicoret dari bursa pencalonan dalam koalisi besar. Sekalipun demikian (seperti yang telah dikatakannya sendiri), dia tetap menjadi penyuara cita-cita dan visi kehidupan yang ideal bagi masyarakat.

Namun harapan kita, dan tentu harapan masyarakat Manggarai Barat, sekiranya tidak hanya sebatas penyuara. Hendaknya Marsel Agot menjadi operator cita-cita dan visi kehidupan yang ideal itu, serta menjadi eksekutor pelbagai kebijakan pro rakyat. Bila masih ada kemungkinan untuk maju, kita tidak dilarang untuk mendukungnya.***

About these ads

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Pater Marsel Agot Masuk Calon Bupati, Mengapa Tidak Boleh?

  1. arta says:

    ngaco..…

  2. arta says:

    ngaco….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s