Orang Gila, Tuhan dan Pelayan Publik

Sebuah Catatan Lepas

Flores Pos, Selasa-Rabu, 7-8 Mei 2013

Oleh AVENT SAUR

SANG INSPIRATOR

SANG INSPIRATOR – Inilah dia yang biasa duduk terpekur dan menangkat kepala untuk mengawang di emperen-emperan toko di kota Maumere, Sikka, NTT. Pada siang Minggu itu, dia mengayun langkah di sisi bawah jalan tersebut.

Suatu perjalanan yang mungkin tidak terlalu panjang. Dari Kewapante menuju Ledalero, wilayah Maumere.

Siang itu, Minggu 13 Maret 2011, cuaca kurang bersahabat. Hujan lebat mengguyur kota Maumere. Saya dan seorang teman bernaung di bawah sebuah tenda mini (berterpal) milik seorang penjual bakso, tepat di depan kantor Telkom. Hampir dua puluh menit, kami duduk di situ sambil bercanda seadanya.

Hujan agak reda, dan berharap akan “terus seperti itu” hingga di tempat tujuan. Ah, sekitar tiga ratus meter ditempuh, hujan mengguyur lagi. Segera mencari tempat naungan baru, tepat di teras sebuah toko di samping kompleks Polres, Sikka.

Para pengendara sepeda motor lainnya, yang sempat lintas di jalan itu, beramai-ramai menuju teras pelindung tersebut, dengan atap yang terbilang mewah.

Kurang lebih se-jam, kami bernaung di teras berlantai keramik putih itu. Hampir semua orang yang ada di situ melemparkan pandangan ke arah jalan, sambil menanti redanya hujan yang terasa semakin deras itu.

Orang Gila

Entahlah, apa yang dipandang atau yang ditangkap oleh mata mereka. Sambil melipatkan kedua tangan di dada, dan duduk agak santun di lantai dan bersandar pada dinding toko itu, bersama orang lain itu juga saya memandang ke depan, ke arah jalan.

dom helder camara

MENDEKAP – Uskup Agung Olinda dan Refice Brazil, Mgr. Dom Hélder Pessoa Câmara (lahir 7 Februari 1909, meninggal 27 Agustus 1999) mendekap seorang perempuan sakit jiwa (gila). Satu ungkapan popular dari Mgr. Dom Camara, “Ketika aku memberi makan kepada orang lapar, mereka menyebut aku, seorang kudus. Ketika aku bertanya mengapa mereka miskin, mereka menyebut aku, seorang komunis.” Ia melayani kaum urban yang miskin dan sakit di wilayah Refice, Brazil, dan pada tahun 1973, ia menerima Nobel Perdamaian dari The American Friends Service Committee (AFSC).

Uh, di jalan itu, berjalan seorang yang memancing senyuman spontan. Ia berjalan tunduk di trotoar sisi bawah jalan. Bajunya kotor, tak terurus. Compang-camping. Tersobek-sobek, berlubang-lubang. Celana, apalagi. Cuma sebelah kanannya yang panjang, sebelah kirinya sudah pendek, tersobek-sobek. Sobekannya juga bergantung-gantungan.

Orangnya memang tampak aneh. Rambutnya panjang, hampir mendekati pinggang. Ujung bawahnya diikat dengan tali yang cukup kelihatan dari jarak tiga puluh meter. Warna rambutnya kemerah-merahan dan kekuning-kuningan. Yah, agak pirang.

O ya, kedua tangannya memegang sebuah potongan gardus. Rasanya, ia “takut hujan”, tak mau kebasahan. Tapi ia berjalan tenang, tak terburu-buru. Badannya ramping, kurus, berkulit hitam.

Menyaksikan hal yang agak aneh ini, hampir semua orang di teras tadi menebarkan senyuman.

Ada yang lucu pada orang itu? Wajah tenang dan lugu tak lagi tampak pada semua orang itu. Perlahan-lahan mulai keributan di antara mereka. Mereka saling memberikan komentar soal “si aneh” itu.

Hampir semua orang mengatakan, orang itu adalah orang gila.

Sejak ia melintas dalam keadaan yang “luar biasa” itu, saya sendiri langsung mengenalnya sebagai orang gila. Ya, itu orang gila. Ia biasa terlihat pada emperan-emperan toko di kota Maumere. Kadang tidur pulas, kadang duduk terpekur.

Saya sendiri tersenyum, juga menganggukkan kepala. Entahlah, apa arti senyuman dan anggukan itu.

Namun kenyataan yang “luar biasa” itu paling tidak menimbulkan beberapa pertanyaan.

Untuk apa ia hidup? Ia tak berguna lagi. Mengapa Tuhan membiarkan ia hidup sengsara, penuh derita? Mengapa Tuhan tidak menghentikan derap langkah hidupnya di dunia yang tak lagi berarti bagi dia?

Tuhan, sekali lagi, untuk apa ia hidup?

Ada satu alasan mengapa pertanyaan-pertanyaan itu timbul. Mengutip Dom Helder Camara (Seorang penulis, Uskup di Brasil), bahwasanya hidup orang gila itu merupakan sebuah kenyataan subhuman. Ia tak layak hidup sebagai seorang manusia.

Kelayakan hidupnya ditekan dalam kegilaannya. Dalam hal kemiskinan, ia mungkin tidak ada bedanya dengan para pengemis dan orang-orang melarat dan miskin yang hidup di bawah kolong-kolong jembatan di kota-kota metropolitan. Tapi kenyataan hidupnya lebih dari sekadar miskin; ia gila, sakit jiwa, tak waras lagi.

Sekali lagi untuk apa ia hidup, Tuhan? “Tuhan, ambillah saja dia, mungkin itu yang terbaik untuknya.” Begitu saya berceletuk dalam batin yang dibayang-bayangi seribu satu macam pertanyaan.

Tuhan

Tiga hari sesudahnya. Pengalaman itu tak terpikirkan lagi. Semacam angin berlalu, sekalipun sempat menimbulkan pelbagai pertanyaan yang cukup eksistensial tentang hidup seorang anak manusia.

Namun bukan suatu kebetulan, di malam hari, saya membaca sebuah manuskrip tentang “Sakramen Orang Sakit”. Dalam manuskrip setebal dua puluh satu halaman itu, terdapat satu pokok ulasan teologis tentang sakramen orang sakit. Dan dalam satu pokok itu terdapat beberapa poin, dan salah satunya adalah penghargaan terhadap martabat orang sakit.

Ditegaskan, ritus sakramen orang sakit merupakan suatu media menghargai martabat orang sakit. Orang sakit itu manusia. Ia memiliki martabat sama seperti orang yang sehat. Ia memang tidak bisa menjalani hidup atau melaksanakan pekerjaannya seturut orang sehat. Tapi martabatnya sebagai manusia, hendaknya tidak direduksi ke dalam pelaksanaan tugasnya.

Tugas atau pekerjaan, seturut Karl Marx (filsuf asal Jerman), memang mengekpresikan identitas diri manusia. Tapi tak bekerja karena alasan yang bisa dipertanggungjawabkan dan di luar kontrol manusia, merupakan suatu kenyataan yang mengekspresikan identitas diri manusia itu juga secara integral.

Apa yang diperlihatkan oleh si sakit melalui kesakitan atau penderitaannya? Sebuah pertanyaan yang menuntut suatu penelusuran teologis yang mendalam.

Masih dari manuskrip itu, buah karya Pater Ignas Ledot, SVD (Dosen Liturgi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere). Ditegaskan, si sakit itu memperlihatkan penderitaan Tuhan yang tersalib. Ia menampakkan satu dimensi lain dari kisah hidup Tuhan yang juga adalah manusia itu. Dengan itu, meremehkan si sakit berarti juga merendahkan makna salib Tuhan. Dan dengan itu juga, menghina makna keselamatan yang terpancar dari salib Tuhan.

Selain memperlihatkan dimensi derita dari kisah hidup Tuhan, si sakit juga mempersaksikan sebuah kefanaan hidup. Bahwasanya, manusia itu fana, rapuh. Manusia itu bisa sakit, bahkan bisa hilang lenyap dari muka bumi. Manusia tak bertahan, menyetir term dari Theilard de Chardin (filsuf), dalam proses seleksi alam (dan waktu). Dari hari ke hari, manusia terus diseleksi oleh alam dan waktu, dan entah cepat atau lambat, manusia akan tiba pada satu titik di mana dia tak akan bertahan lagi. Dia akan jatuh sakit, bahkan lebih ekstrem dari itu, mati-lenyap.

Si sakit mempersaksikan, kemewahan itu tak ada nilainya. Tubuh yang indah, cantik, pakaian yang aduhai, penampilan yang mengundang decak kagum, tak ada nilainya dalam kefanaan. Kefanaan itu menegur pola hidup yang hedonistik dengan makanan yang serba lezat dan rumah yang wah dengan fasilitas yang serba komplit.

 Dengan penderitaannya, si sakit mengabarkan bahwa hidup itu fana. Untuk itu, yang terpenting dan yang lebih bernilai bukanlah hal-hal yang bisa lenyap dan rapuh, melainkan kebajikan-kebajikan hidup. Cuma kebajikan hidup-lah, yang tampak langgeng. Cuma respeksitas terhadap martabat manusia-lah, yang kelihatan bertahan. Cuma nilai-nilai di balik penderitaan-lah, yang luput dari proses seleksi alam dan waktu.

Dari refleksi teologis ini, rupanya pertanyaan: untuk apa ia hidup, mengapa Tuhan membiarkan ia hidup penuh derita dan sengsara, bukanlah pertanyaan yang relevan untuk diajukan di hadapan orang gila tadi. Yang tak layak, bukan lagi hidup orang gila itu. Yang tak layak adalah pertanyaan tentang orang gila itu, juga tentang Tuhan.

Orang gila itu salah? Tidak! Ia benar adanya, seturut kenyataan hidupnya. Tuhan juga bukan tidak benar. Tuhan tak melakukan sesuatu yang berada di luar rencananya atas orang gila itu. Tuhan memiliki maksud tersendiri dengan orang gila itu. Hanya sebatas itulah, kita bisa berceletuk.

Pelayan Publik

Lalu, apa yang mesti ditanyakan berkaitan dengan orang gila itu? Mungkin ini: siapa yang lebih bertanggung jawab atas hidup orang gila itu? Siapa yang diikat atau mengikat kewajiban untuk mengangkat orang gila itu dari kenyataan hidupnya yang subhuman?

ILUSTRASI – Seorang bocah sedang menikmati makanan yang dibeli dengan uang hasil mengemis, dan menikmatinya di trotoar yang sebetulnya bukanlah tempat yang layak bagi dirinya sebagai seorang manusia. Matanya mengarah ke keramaian kendaraan mewah yang melintas di jalan raya. Andaikan para pelayan publik memperhatikan nasibnya, boleh jadi dia terhindar dari pengalaman getir ini.

PENGALAMAN GETIR – Seorang bocah sedang menikmati makanan yang dibeli dengan uang hasil mengemis, dan menikmatinya di trotoar yang sebetulnya bukanlah tempat yang layak bagi dirinya sebagai seorang manusia. Matanya mengarah ke keramaian kendaraan mewah yang melintas di jalan raya. Andaikan para pelayan publik memperhatikan nasibnya, boleh jadi dia terhindar dari pengalaman getir ini.

Saya kira, yang lebih bertanggung jawab adalah para pelayan publik, dan dalam konteks kita adalah pemimpin politik dan Gereja. Orang-orang elitis ini “diutus” bukan hanya untuk orang sehat. Mereka berkarya untuk melayani kepentingan semua orang termasuk orang sakit.

Orang sakit yang dimaksud juga bukan hanya mereka yang menginap di rumah-rumah sakit, atau yang rawat jalan di poliklinik-poliklinik. Orang gila itu adalah orang sakit. Mereka memiliki hak untuk dilayani entah sebagai umat Allah atau juga anggota masyarakat (rakyat).

Mereka tidak memiliki suara yang teratur untuk diperdengarkan, tapi keadaan hidupnya yang subhuman memperdengarkan satu bahkan pluralitas suara kepada para pemimpin publik, bahwa mereka perlu mendapat pelayanan yang wajar.

Keadaan orang gila yang mengayun langkah tenang di pinggir jalan itu, cukup membuktikan bahwa pemimpin publik telah mempertontonkan suatu diskriminasi, sekurang-kurangnya dari sisi orang gila itu sendiri. Entah sampai kapan diskriminasi ini dipertontonkan? Entah kapan tiba saatnya bagi orang gila dilayani juga seturut keadaan mereka?

Pada dasarnya, orang gila itu sendiri mustahil meneriakkan sendiri soal diskriminasi itu, atau juga tidak mengungkapkan bahwa mereka perlu dilayani. Kesadaran akan diskriminasi dan keadaannya yang subhuman juga mustahil bisa dibangkitkan dalam dirinya. Yang bisa dibuat adalah menyuarakan kenyataan subhuman tersebut.

Yesus sendiri menyembuhkan begitu banyak orang sakit di banyak tempat pada zaman-Nya. Hamba seorang perwira disembuhkan. Bukan hamba itu sendiri yang meminta kepada Yesus, melainkan perwiralah yang memintanya.

Dua orang kerasukan disembuhkan. Sebelumnya, mereka menolak kedatangan Yesus; suatu penolakan yang menunjukkan tidak mau dilayani karena diri mereka dikuasai oleh roh jahat. Dua orang bisu dan kerasukan setan juga disembuhkan. Mereka didatangkan oleh orang sehat, bukan atas upaya mereka sendiri.

Mungkin ini terlalu spektakuler. Suatu pengalaman luar biasa yang memiliki daya yang dasyat. Dalam ilmu eksegese, pengalaman ini disebut sebagai dunameis. Tapi apakah yang dunamis itu bisa terjadi pada masa kontemporer (sekarang), di mana orang seperti Yesus tidak ada duanya?

Mengapa tidak? Memang, adalah sesuatu yang mustahil, pengalaman dunamis masa Yesus itu dihadirkan kembali pada zaman kita. Zaman kita dengan pelbagai kreativitas akal budi dan hati, pelbagai kenyataan sakit apa saja, mestinya dipikirkan sebagai medan di mana kita melayani. Seyogianya, kita menghadirkan peristiwa dunameis itu dalam rupa yang lain seturut konteks kita.

Pihak Gereja dan penguasa politik, atau mereka yang diberi tanggung jawab oleh pemimpin politik dan Gereja, hendaknya tidak bungkam di hadapan kenyataan ini. Bukankah Sang Nabi dari Nazaret itu telah mengatakan: “Ketika Aku lapar, kamu memberi aku makan, ketika Aku haus, kamu memberi Aku air, dan seterusnya?”

Sejauh mana para pelayan publik memikirkan nasib orang gila? Orang gila adalah bagian dari tanggung jawab pelayan publik, bukan sesuatu yang fakultatif. Itu sebuah kewajiban dedikatif.

Sekian sering, para penguasa menegaskan, masalah pada umat/masyarakat itu semakin berkurang dari waktu ke waktu. Tapi penegasan itu diungkapkan bukan karena mereka mengetahui secara benar tentang realitas hidup umat atau masyarakat itu sendiri. Pikirnya, penegasan itu kan tidak perlu dipertanggungjawabkan. Siapa juga yang menuntut pertanggunganjawaban, pikirnya juga.

Rupanya, ini terjadi karena jarak antara pemimpin dengan masyarakat itu masih sangat jauh. Anehnya, mereka tampak meyakinkan, seakan-akan ucapan mereka lahir dari pengetahuan yang benar tentang realitas keprihatinan masyarakat.

Untuk itu, para pemimpin semestinya perlu belajar banyak realitas hidup masyarakat tersebut. Kegunaannya, agar pelbagai kebijakan yang dieksekusi sungguh menyentuh kepentingan konkret masyarakat. Sebaliknya, bukan kebijakan yang mengekspresikan mimpi egoistis pemimpin.

Hanya dengan cara seperti ini, aneka realitas hidup yang subhuman tidak “diomelkan” kepada Tuhan. Orang-orang yang menjadi “kaki tangan” Tuhan, merekalah yang lebih bertanggung jawab atas kenyataan subhuman tersebut.

Dan di setiap derap langkah kita, hendaknya kita arahkan kepada pelbagai kenyataan di jalan-jalan di mana kita lewati, atau di lorong-lorong di mana kita lintasi. Setiap kenyataan bisu, bila digubris, akan membicarakan sesuatu kepada kita, untuk seterusnya disuarakan atau diperdengarkan.

Yah, mungkin seperti perjalanan singkat pada Minggu, 13 Maret itu. Lebih dari itu, oleh mereka yang mengabdikan dirinya bagi pelayanan publik, dengan berbesar hati, mendengarkan suara itu dan meramunya demi perubahan.***

About these ads

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Orang Gila, Tuhan dan Pelayan Publik

  1. Sipri Kantus says:

    Krja yg kreatif, menangkap pristiwa llu menempatkanya dlm gugusan bangunan dialektika yg apik…

    Menggonggong khaos dri prpspktif teolgi drita, dibongkar dn dipasang…strusnya berulang dn trus diulang dlm rkomendasi yg kritis, yg llu brmuara pada mrka yg tak geli dgn sbutan agen prubahan..sgguh ini sbuah geliat yg bermakna.

    • Avent Saur says:

      Terima kasih, bang Ipi. Mungkin itu yang biasa disebut ketersinggungan konstruktif. Dari komentarmu, saya dapat satu terminologi: “Tak geli dengan sebutan agen perubahan”. Kenyataan sudah terjadi “dari dulu”, tapi kata-kata yang membahasakannya baru kutemukan “hari ini”. Ingin saya gali lebih lanjut.

      Terim kasih e ite.

  2. Romanus Hami says:

    Avent, mantap refleksinya tu. Mungkin ada undang-undang Negara atau perda tentang orang gila e. Biar mereka jg mendapat perhatian yang layak sebagai manusia dari pelayan publik. Kalao dari Gerejanya tu sudah ada sakramen orang sakit dan mungkin lebih ngetren lagi, pastoral orang gila. Ini proyek kita sepertinya e Aventino. Slm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s