Apa Kata Umat?

  • Soal Pastor “Berdoa” bagi Petarung Pilkada

Oleh AVENT SAUR

Satu pengalaman religius bercampur politik terjadi pada tahun 1999. Seorang pastor agak tua menyeringkan itu secara pribadi kepada saya pada Mei 2012 lalu. Katanya, dia pernah berkhotbah di Gereja parokinya (Keuskupaan Maumere) tentang iman akan Allah Trinitaris: satu Allah, tiga pribadi. Kebetulan saat itu situasi politik Indonesia, pemilu 1999, sedang memanas. Cuma tiga partai yang bertarung: Golkar, PPP dan PDI.

Belum berapa lama setelah Ekaristi berakhir, segelintir umat mendatangi pastor di sakristi. “Pastor, kami bingung entah dalam pemilu nanti, kami pilih partai apa?,” tanya umat. “Ah, mengapa bingung?”  tanya pastor ingin tahu. “Tadi pastor bilang, tiga pribadi ilahi: Bapa, Putera dan Roh Kudus itu memiliki peran berbeda tetapi terarah kepada tujuan sama yakni menyelamatkan seluruh umat manusia. Dalam pemilu kali ini, tiga partai bertarung tentu dengan tujuan yang sama yakni menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Kalau demikian, partai mana yang mesti dipilih?” demikian penjelasan umat tersebut.

Apa jawaban pastor selanjutnya? Itu ‘tidak’ penting. Partai apa yang dipilih oleh umat pada hari pemilu? Itu juga tidak penting. Yang penting adalah umat dengan begitu spontan menarik garis penghubung antara tiga pribadi ilahi dengan tiga partai politik. Boleh jadi, bagi kita, segelintir umat itu tampaknya dengan “sembarang saja” menarik garis penghubung itu. Dengan kata lain, umat cuma mengada-ada garis penghubung itu, yang sebetulnya, tidak perlu ada.

Tapi kalau diselisik lebih jauh, tarik garis penghubung itu bukan tanpa dasar. Singkat saja, dasarnya adalah suara seorang pastor itu memiliki “daya pengaruh” yang kian kuat. Setiap kata yang diucapkan pastor (gembala) didengarkan umat (domba) dengan penuh keseriusan dan konsentrasi. Dan kata-kata itu ditafsirkan lebih lanjut, atau dihubung-hubungkan lebih jauh oleh umat seturut konteks kehidupan mereka.

Bahkan tafsiran kreatif itu justru membuat mereka sendiri bingung dalam menentukan pilihan politik, dan ingin melepaskan kebingungan itu atau mencari kepastiannya pada pastor. “Saya agak heran, mengapa umat begitu kreatif menafsir khotbah saya begitu jauh sampai pada konteks politik. Padahal saya (sama sekali) tidak menyinggung sedikit pun tentang hal itu.” Begitu, pastor tua itu mengakhiri syeringnya.

***

Sekalipun cuma agak mirip, masih terjadi di Keuskupan Maumere, dua fakta mencuat ke publik berkaitan dengan keterlibatan segelintir pastor dalam proses Pilkada Sikka. Pertama, para pastor hadir dalam deklarasi Paket Solid untuk mendoakan paket tersebut, bertempat di lapangan Kota Baru Maumere (FP, 19/12/2013). Kedua, seorang pastor memberikan berkat khusus kepada Paket Alex-Idong bertempat di Kantor DPC PDIP Sikka, sebelum paket tersebut diarak massa pendukungnya ke Kantor KPUD Sikka untuk mendaftarkan diri (FP, 4/1/2013).

Apa kata umat? Khotbah pastor tua tadi yang sama sekali tidak menyinggung politik, toh mengundang komentar yang “bukan-bukan” dari umat. Nah, kini segelintir pastor terang-terangan terlibat dalam proses politik pilkada, pelbagai komentar yang “bukan-bukan” itu tentu mustahil terbendung.

Sekurang-kurangnya, ada dua poin yang menjadi “kata-kata” umat. Pertama,  bagi segelintir pastor tersebut, keterlibatan berdoa dalam deklarasi (di tempat terbuka) dan memberkati pasangan calon (di kantor partai), merupakan sebuah pastoral politis. Permintaan umat (siapa saja) dan apa pun jabatannya seyogianya dilayani dengan sepenuh hati, tanpa kepentingan kontra-pastoral.

Namun di mata umat, dalam konteks politik pilkada yang sarat kompetisi miring, kepentingan pastoral ini sering dipandang cuma sebagai tameng yang dipakai pastor untuk memenuhi kepentingan vulgar. Mungkin semisal kepentingan ekonomi atau primordialisme atau kedekatan relasional. “Kasihan pastorku”. Bisa saja, umat berkata demikian.

Umat mana yang berkata demikian? Kita boleh bertanya demikian. Tentu, para petarung pilkada adalah umat. Massa pendukung yang hadir dalam deklarasi dan yang mengarak-arak petarung adalah juga umat. Ingat! Pastor tidak perlu mencari-cari, entah umat itu di mana dan siapa, lalu mengesampingkan umat yang hadir dan yang mengarak-arak itu. Boleh jadi justru umat yang hadir dalam acara politik itulah yang berkata demikian.

Apa yang biasa disebut politisasi agama bukan baru terjadi pada abad ini. Sejak abad ke-3 dan ke-4, Kaisar Kontantinus telah memperalat agama untuk melanggengkan kekuasaannya, ‘sampai-sampai’ agama yang dalam dirinya sendiri mesti pantang kekerasan, justru “mendramatisasikan” kekerasan demi kekerasan.

Dalam konteks pastoral, tentu hal itu kita sebut politisasi pastoral. Alih-alih demi kepentingan pastoral, “daya pengaruh” seorang pastor diperalat oleh umat demi meraup kepentingan politik parsial. Umat yang memperalat tertawa “kikik-kikik” karena sadar (baca: tahu) akan hal itu. Sementara pastor yang diperalat tersenyum “lebar-lebar” tapi bukan karena sadar melainkan karena tidak sadar, lantaran baginya, itu pastoral politis murni.

Dalam konteks ini, imbauan moral Martin Kelo benar adanya. “Pilihlah pemimpin sesuai dengan hati nurani. Jangan terpengaruh dengan para tokoh agama yang mendoakan dan memberkati paket calon tertentu, sebab paket calon itu akan diberkati Tuhan, jika hati mereka benar-benar tulus untuk membangun Kabupaten Sikka” (Aspirasi FP, 7/1/2013).

Kedua, berdoa bagi siapa saja termasuk bagi petarung politik pilkada bukanlah hal yang haram, sebaliknya justru menjadi sebuah imperatif moral agama. Bukan cuma pastor, semua umat mesti mendoakan para petarung, dengan harapan, mereka bisa bertarung secara sportif, dan kalau menang, mereka bisa memimpin rakyat dengan penuh dedikasi.

Namun dalam konteks politik pilkada,  tempat di mana saya (sebagai umat biasa) melakukan kegiatan berdoa misalnya, itu menjadi persoalan khusus. Saya tidak mungkin hadir untuk berdoa dalam deklarasi paket A, sementara paket yang saya dukung adalah paket B. Saya juga tidak mungkin hadir untuk berdoa bagi paket A sebelum diarak-arakan menuju KPU sebagai tempat pendaftaran, sementara paket yang saya dukung adalah paket B.

Saya bisa berdoa untuk paket A, tapi cuma di tempat pribadi (atau rumah) atau tempat netral seperti tempat ibadah. Saya mesti menentukan (sendiri) pilihan politik yang tepat sekurang-kurangnya menurut suara hati nurani saya, tanpa membenci orang atau paket lain yang memiliki pilihan politik berbeda. Setidaknya, saya hadir dan berdoa bagi paket B yang saya dukung, di mana saja dan dalam kesempatan apa saja paket itu menunjukkan dirinya sebagai petarung pilkada. Saya menentukan sikap atau pilihan politik itu karena saya bukan rakyat netral, melainkan rakyat yang berpihak, sambil menjunjung setinggi-tingginya nilai-nilai moral politik.

Ketelibatan segelintir pastor dalam momen spesial paket tertentu, mudah dibaca oleh umat bahwa pastor itu tidak berada dalam posisi netral. Dan itu berarti keterlibatan tersebut menunjukkan keberpihakan. Padahal, keberpihakan seorang pastor mesti terarah kepada nilai-nilai moral, bukan keberpihakan yang terarah kepada pilihan politik praktis.

Kita tahu, semua proses dalam politik pilkada dan politik pilkada itu sendiri adalah sebuah politik praktis. Ketika pastor terlibat dalam proses itu, maka ia “menjerumuskan” diri ke dalam wilayah praktis perpolitikan.

Setiap orang (atau petarung) memiliki hak mengundang pastor untuk menghadiri momen-momen khusus dalam proses politik pilkada. Tentu pastor diundang untuk menjalankan tugas seturut porsinya, berdoa dan memberikan berkat (khusus). Namun karena momen itu sudah menjadi wilayah politik praktis, dan bagi pastor, terlibat dalam wilayah praktis itu “haram” demi hukum Gereja dan demi menjaga kemurnian pastoral, maka tidak ada “kewajiban” baginya untuk memenuhi undangan tersebut.

Apa salahnya, pastor berdoa bagi petarung dalam misa pribadi saja? Apa salahnya, petarung pilkada itu datang berdua ke pastoran atau ke biara untuk meminta berkat khusus tersebut?

Tanpa mengemukakan apa kata-kata hukum tentang keterlibatan pastor dalam bidang politik, adalah tanggung jawab uskup untuk menerjemahkan kata-kata hukum itu ke dalam kebijakan-kebijakan praktis bagi para pastornya. Uskup Ruteng Mgr. Hubert Leteng Pr telah memberikan contoh penerjemahan tersebut lewat imbauan pastoralnya.

“Para imam dan biarawan-biarawati tidak masuk dan tidak bergerak dalam wilayah politik praktis dengan membuat kampanye atau promosi paket tertentu lewat telepon atau SMS atau lewat mimbar sabda atau khotbah atau lewat pertemuan atau visitasi. Setiap orang pasti memiliki pilihan dan opini pribadi. Untuk itu, para imam dan biarawan-biarawati tidak boleh membuat propaganda terbuka atau juga terselubung untuk mempengaruhi umat atau masyarakat guna memilih pasangan calon tertentu” (FP, 10/1/2013).

***

Ketika gong politik pilkada mulai dibunyikan, godaan politik praktis selalu menghantui karya pastoral Gereja. Entah godaan kepentingan primordial, kedekatan emosi-relasional maupun ekonomi selalu membayang-bayangi kesejatian karya pastoral itu. Namun bagai emas murni mesti diuji dalam tanur api, kualitas pastoral Gereja justru akan diacung jempol bila bertahan dalam godaan-godaan politik praktis.

Daya pengaruh pastor mesti tidak dijual murah dalam bayang-bayang godaan kepentingan tersebut. Seperti pastor tua tadi yang menjaga kesejatian mimbar untuk mengkhotbahkan inti iman trinitaris, hendaklah para pastor sekarang dalam konteks politik pilkada, menjaga kesejatian pastoral keterlibatannya.

Kita akan dengar secara jelas, apa kata umat.***(Fores Pos, Sabtu, 19 Januari 2013)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s