Gereja Perempuan?

  • Sumbang Gagasan untuk Proses Sinode I Keuskupan Maumere

Oleh AVENT SAUR

uskup maumere, mgr. gerulfus kherubim pareira, svd

Gembala Umat Keuskupan Maumere, Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD. Lahir di Lela, 26 September 1941. Imam (1972), Uskup Weetebula (1985-2008), Uskup Maumere (2008).

Pada Minggu Pentekosta, 27 Mei 2012, Uskup Maumere Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira SVD mencanangkan Sinode I Keuskupan Maumere (KUM). Sinode ini akan berpuncak pada November 2013.

Kurang lebih, satu bulan kemudian, Komisi Gender dan Pemberdayaan Perempuan (GPP) Keuskupan ini menyelenggarakan sosialisasi visi-misi GPP bertempat di Wisma Nazaret Nele, 23-26 Juni 2012. Pesertanya, berjumlah 62 orang (utusan dari paroki-paroki se-KUM), sebagian besar perempuan.

Sebagai sosialisasi, momen ini tidak lebih dari pada sebuah pengenalan saja. Tapi betapa tidak, para peserta sungguh dibekali dengan perspektif yang sama tentang siapa itu perempuan dan apa saja masalah yang melilitinya. Pada penghujung momen itu, semua peserta bertekad untuk mengadakan sosialisasi lanjutan pada paroki-paroki yang mengutus mereka.

Selama sosialisasi berlangsung, secara spontan muncul dalam benak saya sebuah “kata batin”. Bunyinya kira-kira demikian. “Perempuan-perempuan ini hadir di sini tentu bukan hanya karena mereka itu perempuan, melainkan juga karena mereka itu anggota Gereja. Di dalam keperempuanan mereka, melekat identitas kegerejaan.”

Lantas, masalah apa saja yang perempuan-perempuan itu (dan perempuan pada umumnya) alami dalam hubungan dengan identitasnya sebagai anggota Gereja? Rupanya, tak banyak masalah yang bisa kita temukan, jika dibandingkan dengan kaum laki-laki. Pada beberapa paroki di mana saya pernah “nongol” menghamba di Keuskupan Maumere, kelihatannya kaum perempuan cukup konsisten dengan komitmennya sebagai anggota Gereja.

Di Paroki Lekebai, misalnya, ditemukan beberapa kongregasi rohani khusus untuk kaum perempuan. Ada kelompok doa Santa Anna, Santa Monika, Kerahiman, Pasionis dan Legio Maria. Keanggotaannya bervariasi, mama-mama yang sudah lanjut usia dan ibu-ibu usia produktif. Satu kali dalam sepekan, mereka berdoa di rumah umat dan gereja, juga mengunjungi orang sakit. Di gereja, dalam misa harian, merekalah yang menemani pastor paroki untuk merayakan Ekaristi.

Di Paroki Ili hal serupa ditemukan, tapi cuma kelompok doa Santa Anna. Pada Jumat Pertama dan Sabtu Pertama dalam bulan, mereka setia duduk di gereja untuk makan dari meja sabda dan meja Ekaristi dalam Misa. Hadir juga bapak-bapak tapi jumlahnya ‘tak seberapa’.

imam dan perempuan

Umat tunduk menghormati sakramen mahakudus yang sedang diarakkan di dalam gereja.

Dalam kunjungan pastoral ke lingkungan-lingkungan di Paroki Ili, saya kadang membuat “kesalahan” yang mengundang gelak tawa dari umat. Di awal kata pengantar dalam misa, misalnya, saya menyapa umat dengan rumusan yang agak baku ini: Bapa-Ibu, Saudara-Saudari yang terkasih dalam Yesus Tuhan. Secara spontan mereka tersenyum. Ketika ditanyai mengapa tersenyum, mereka justru tertawa sambil memandang dua atau tiga anak kecil laki-laki yang duduk di pinggir belakang halaman rumah (tempat misa).

Bagi mereka, itu sebuah sapaan sinis atas ketidakhadiran bapak-bapak, dan menganggap ketiga anak laki-laki itu seakan-akan mewakili bapak-bapak. Padahal sebetulnya, itu bukan sapaan sinis. Itu semata-mata sapaan spontan yang terkesan baku, yang bisa diucapkan oleh seorang pastor dalam kata pengantar dan khotbah.

Sekalipun spontan, sapaan itu bukan tanpa dasar. Misa kunjungan pastoral itu selalu diperuntukkan bagi semua umat. Dengan itu, dianggap saja, semua umat akan hadir karena toh inilah misi yang mendekatkan umat pada Ekaristi. Atau, sekalipun bukan semua tapi setidaknya umat yang hadir itu bercampuran: bapak-bapak, mama-mama, anak-anak dan muda-mudi.

Seturut pengalaman saya, rupanya, anggapan ini “tak laku” dalam misa kunjungan pastoral tersebut. Tentu ini sebuah “kesalahan” yang sekalipun mengundang senyum dan tertawa tapi rupanya agak “serius” bila kita renungkan tentang identitas kita sebagai anggota Gereja.

bunda theresa dari kalkuta

Kesaksian hidup Suster Theresa dari Kalkuta yang dengan sungguh mengalami Yesus dalam diri orang-orang yang menderita.

Itu ihwal hidup spiritual. Dan kesaksian hidup spiritual ini tampaknya diperkuat oleh kesaksian hidup mereka dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai gerejani lebih banyak justru diamalkan oleh perempuan. Perempuan, misalnya, jarang kita temukan menjadi pengacau dalam kehidupan sosial. Kekacauan (efek dari emosi yang kurang terkontrol akal sehat) lebih sering bersumber dari kaum lelaki.

Di Keuskupan Maumere apalagi, dengan konsumsi minuman keras yang berlebihan (oleh kaum lelaki), kekacauan sosial dan keluarga tentu cukup rentan terjadi. Entah mau dibilang apa, perempuan (istri) selalu menjadi korban. Istrilah yang dituntut “ketabahan lebih” dalam hidup berkeluarga. Dan ada begitu banyak fakta serupa di mana perempuan sering menjadi korban.

Terhadap kenyataan di mana perempuan lebih aktif dalam kegiatan rohaniah, Paul Budi Kleden (teolog STFK Ledalero) pernah melontarkan dua pertanyaan kristis. Apakah hal itu terjadi sebagai ketundukan yang fatalistis? Dan apakah itu menjadi momen untuk mengungkapkan keluh kesahnya kepada Tuhan?

Tentu pertanyaan kritis yang sama bisa dilontarkan dalam kaitan dengan kehidupan sosial. Apakah perempuan yang mencintai damai dan banyak sabar, lebih merupakan ketundukan yang fatalistis, sembari mengeluh di dalam dirinya akan perlakuan subordinatif oleh kaum lelaki?

Pertanyaan-pertanyaan ini tentu membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak”. Dan kita mesti cenderung untuk menjawab “tidak”. Dengan jawaban “tidak”, keaktifan perempuan dalam kehidupan rohani bukanlah sebuah ketundukan fatalistis. Juga bukan semata-mata pengungkapan keluh kesah atas prilaku subordinatif yang mereka alami.

Keaktifan tersebut semestinya dipandang sebagai sebuah keterlibatan kaum perempuan yang pada dasarnya dituntut dari semua anggota Gereja. Tekun dalam hidup rohani dan cinta damai dalam hidup sosial, merupakan sebuah gaya perempuan dalam bersaksi atau menghayati imannya. Mengatakan bahwa itu sebuah ketundukan fatalistis dan keluh kesah penderitaan, merupakan bahasa penistaan dan pandangan negatif yang merendahkan inti iman Gereja itu sendiri.

Kenyataan tersebut semestinya menimbulkan pertanyaan kritis: apakah Gereja kita itu cuma perempuan? Sekalipun tidak semua perempuan menghayati imannya seperti dalam contoh tadi, dan sekalipun tidak semua laki-laki lalai menghayati imannya, sekurang-kurangnya pertanyaan kecil itu sudah bisa membuat laki-laki “terganggu”. Karena toh, penghayatan iman yang ditunjukkan oleh perempuan itu patut diapresiasi dan diteladani.

Dan mumpung, KUM yang sedang bergumul dengan proses Sinode I, mengambil tema Jadilah Saksi Kristus. Semua anggota Gereja didorong untuk menjadi saksi Kristus. Dengan itu, Gereja pun tidak hanya menjadi Gereja perempuan tetapi seutuhnya menjadi Gereja kita.

paus dan perempuan

Paus Fransiskus disoraki dan disalami dengan penuh sukacita oleh umat perempuan di pelataran Basilika Santo Petrus, Vatikan.

Dengan mengacu pada dan bertujuan untuk menggapai “Gereja kita” tersebut, kenyataan bahwa peserta sosialisasi GPP di atas tadi hampir semuanya adalah perempuan, merupakan sebuah kenyataan yang timpang. Sosialisasi yang bertujuan untuk mengangkat martabat perempuan dari posisi rendah dan lemah itu, semestinya dihadiri oleh orang-orang dari semua “jenis kelamin” sebagai bukti bahwa kita semua bertanggung jawab atas persoalan yang menyudutkan kaum perempuan.

Bahwasanya, bukan hanya perempuan, laki-laki juga harus memiliki pandangan yang jernih tentang perempuan, dan mendorong sesama kaumnya untuk menghentikan aneka perlakuan “keji” terhadap perempuan dalam pelbagai domain kehidupan: sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, politik maupun agama. Kesaksiannya sebagai anggota Gereja pun akan semakin mantap.

“Jadilah saksi Kristus! Itulah undangan dan perintah Yesus sendiri agar kita menjadi saksi-Nya bersama dengan Roh Kudus” (Surat Gembala Uskup Maumere untuk Sinode I, 27 Mei 2012).***(Flores Pos, Sabtu, 16 Februari 2013)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s