“Tangan yang Menyembuhkan”

  • Sentilan untuk Para Petugas Medis

Oleh AVENT SAUR

keluarga maria goreti

Inilah sosok dr. Maria Goreti Ametembun, ahli penyakit dalam. Tiga gambar yang ditempelkan secara dekoratif itu, adalah buah hatinya, tinggal di Bandung.

Adalah seorang pastor, bertugas pada salah satu paroki di Keuskupan Maumere. Masa tugasnya, cuma enam bulan, 26 April-30 Oktober 2012. Dalam kunjungan pastoralnya ke beberapa kampung dalam paroki itu, ia berjumpa dengan cukup banyak orang sakit (fisik).

Beberapa kali, pastor itu memimpin ritus pemakaman. Dari cerita-cerita umat, direkam salah satu penyebab kematian: umat jarang berobat ke rumah sakit atau Puskesmas. Bahkan, ada umat yang (sama sekali) tidak pernah “pergi” ke rumah sakit atau Puskesmas. Sakit dan penyakitnya, semacam “dipelihara” (secara konyol) untuk pada akhirnya, orang yang menderita itu harus “berurusan” dengan kematian.

Kesan yang muncul dari cerita seperti ini, masyarakat belum memahami apalagi menyadari manfaat dari lembaga-lembaga kesehatan. Maka, dengan semangat misi dan keprihatinan yang mendalam, pastor itu berjuang mendorong mereka untuk merasakan manfaat dari lembaga kesehatan tersebut.

Namun, ternyata, yang menjadi soal bukan terletak pada pemahaman atau kesadaran masyarakat akan manfaat sebuah lembaga kesehatan. Yang terjadi adalah masyarakat justru tidak “mengalami” manfaat tersebut, ketika mereka “berkunjung” ke rumah sakit atau Puskesmas. Banyak anggota masyarakat yang pernah dirawat di dan berobat pada rumah sakit atau Puskesmas, tapi setelah berbulan-bulan, kondisi mereka tetap tak berubah. Kesehatan mereka tak kunjung pulih.

Sementara itu, banyak anggota masyarakat yang “tidak mau” ke rumah sakit atau Puskesmas karena tersugesti dengan “pengalaman buruk” anggota masyarakat lainnya. Seringkali, mereka mengaitkan pengalaman buruk tersebut dengan kondisi ekonomi mereka. “Kunjung” ke rumah sakit atau Puskesmas tentu bukan tanpa biaya. Kartu Jaminan Kesehatan (Jamkesmas) belum menjamin sepenuhnya untuk dirawat atau berobat secara gratis. “Sudah biaya ‘mahal’, sakit tak kunjung berhenti”, begitu mereka sering berkomentar dengan nada kecewa.

 ***

maria goreti

dr. Margot dikenal ramah, gampang bersahabat, dan dekat dengan orang-orang kecil. Inilah SMS dari dr. Margot, usai membaca tulisan ini di Koran Flores Pos. “Selamat pagi Pater. Tulisan ini hendak difotokopi, lalu ditempelkan pada papan publikanda di Rumah Sakit. Boleh kan? O ya, saya sebetulnya orang Tanimbar, Maluku Tenggara. Bukan orang Ambon. Pulau Tanimbar itu letaknya sejajar dengan Flores (Flores, Alor, Solor, Kisar, Banar, Tanimbar. Alkisah, dahulu kami berasal dari pulau dekat Lembata yang sudah tenggelam, di mana sebagian penduduk mengungsi ke Timor (antara lain Tanimbar) dan ada yang ke Flores Barat, juga ke Selatan suku Aborigin di Australia. Budaya Tanimbar sangat mirip dengan Flores terutama kain tenun, belis (di Tanimbar disebut belin), bahkan beberapa bahasanya juga mirip.
Saya kebetulan orang Tanimbar pertama yang menjadi dokter. Sejak kecil memang saya memiliki hobi mengobati orang. Nenek saya itu seorang paraji desa yang senang mengobati dan membantu ibu-ibu yang melahirkan.
Ayah saya, NA Ametembun, usia 81 tahun, seorang sarjana pertama di Tanimbar. Ia pesiunan dari IKIP Bandung, sedangkan ibu saya (almh.), sesorang guru wanita Tanimbar pertama pula.
Kehadiran saya di Tanimbar pada tahun 1988-1990 telah memberi warna juga dan mendorong banyak orang Tanimbar terutama wanitanya, untuk bersekolah dokter. Harapan saya, kehadiran saya di Flores ini juga membuat banyak wanita Flores terdorong untuk bersekolah setinggi-tingginya. Tgl. 18 November ini, saya mensyukuri 25 tahun profesi sebagai dokter, dan 15 tahun sebagai dokter ahli penyakit dalam, dan saya syukuri sepanjang tahun ini di Flores.
Terima kasih Tuhan. Terima kasih Bunda Maria. Terima kasih pula Pater, pemerhati orang sakit.”

Bukan suatu kebetulan, di Rumah Sakit Sta. Elisabeth Lela (Kabupaten Sikka) terdapat seorang Dokter Ahli Penyakit Dalam. Namanya, dr. Maria Goretti Ametembun. Ia bekerja sebagai tenaga kontrak. Oleh karena “kontak” yang intensif dengan dokter ini, maka pastor tadi mengirim 200 pasien dari parokinya untuk diperiksa, dirawat dan diobati di Rumah Sakit tersebut.

Pasien-pasien yang dikirim adalah pasien yang memiliki Jamkesmas. Semua pasien itu dirawat secara gratis. Dokter itu sendiri yang “membuat” pelayanan itu gratis. Ia berpribadi sosial. Biaya pemeriksaan (perawatan dan pengobatan) yang melebihi tanggungan Jamkesmas, dengan rela dokter menanggungnya. Baginya, yang terpenting adalah orang-orang Flores merasakan “tangannya”.

Para pasien itu dikirim tahap demi tahap. Sekitar tiga tahap dalam seminggu. Ini berlangsung selama kurang lebih tiga bulan, dan masih berlangsung sampai sekarang. Sehari setelah para pasien kembali ke rumah mereka, hampir semua pasien mengirim pesan singkat “berterima kasih” kepada pastor dan terutama dokter itu.

Terima kasih, apa alasannya? “Ditangani” gratis oleh dokter ahli tentu mendatangkan kegembiraan khusus dalam diri para pasien. Sewajarnyalah mereka berterima kasih. Tapi bagi mereka, bukan soal gratisnya, melainkan karena apa yang gratis itu diberikan dengan “semangat khusus” yang sulit mereka temukan pada petugas medis lain (dan rumah sakit atau Puskesmas lain). Para pasien dilayani dengan ramah, perhatian dan penuh perjuangan (militan). Semua keluhan didengar, semua pertanyaan dijawab, semua harapan terpenuhi dan berlangsung dalam suasana tenang, bukan terburu-buru.

Para pasien merasa bahwa petugas medis ahli asal Ambon ini bekerja sangat profesional. Penyebab atas keluhan-keluhan mereka terjawab dalam hasil diagnosa dengan cara yang canggih. Mereka diperiksa secara “lengkap”. Mereka mendapat penjelasan tentang mengapa mereka mengalami sakit tertentu, mengapa terserang penyakit tertentu, apa solusinya, berapa lama mengonsumsi obat. Semuanya beres.

Hingga sekarang, hampir semua pasien yang sudah ditanganinya telah menikmati kesembuhan. Bahkan, kesembuhan itu dialami sebelum obat-obatnya habis dikonsumsi. Yang masih didera sakit pun, masih berkonsultasi kepada dokter untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan lanjutan. Konsultasi melalui alat komunikasi modern (hand phone) juga dilayani sepenuh hati.

 ***

Di tengah citra lembaga kesehatan kita yang malah semakin menurun dari waktu ke waktu, kehadiran figur petugas medis seperti dr. Maria Goretti Ametembun memberi “warna khusus”. Pada beberapa rumah sakit terutama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di wilayah kita (NTT), terdapat noda dan corengan (pengalaman pahit) yang variatif tersebab oleh ulah para petugas medis.

Beberapa hal bisa disebutkan. Satu, (mayoritas) petugas medis kurang ramah, kalau tidak mau dikatakan “menyeramkan”. Dua, perhatian terhadap pasien, jauh dari yang diharapkan. Tiga, pelayanan lamban dan lambat. Empat, fasilitas-fasilitas yang semestinya ada, malah tidak ada. Lima, para petugas medis kurang profesional. Enam, kebersihan kurang terjaga (jorok). Tujuh, uang menjadi ukuran baik atau tidak baiknya pelayanan. Delapan, ada isu korupsi yang dipraktekkan oleh para pejabat lembaga kesehatan. Sembilan, ada aksi demonstrasi mogok kerja lantaran tidak menerima uang tunjangan atau uang apa pun namanya. Tentu, masih ada masalah lain yang cukup kompleks.

Tentang uang, saya teringat akan sebuah pesan singkat yang termuat dalam Rubrik Curhat pada Harian Umum Pos Kupang. Kira-kira begini isinya: “Sudah tiga bulan, kami tidak terima uang Kesra. Perhatikan hak kami. Jangan mengeluh kalau kami akan memberikan pelayanan yang kurang baik” (PK, 22 Oktober 2012).

Uang, memang telah menjadi persoalan fenomenal. Ia fenomenal karena ia menjadi pembangkit semangat kerja atau pelayanan. Ada uang, kerja baik. Tidak ada uang, kerja buruk. Uang gaji dinaikan, kerja baik juga meningkat (atau bertahan); uang gaji diturunkan (tidak ada uang pemanas), kerja buruk muncul.

Dalam dunia kerja, hal ini wajar-wajar saja. Tapi persoalannya, sekalipun uang ada, pelayanan buruk tetap ada. Maka kita sampai pada kesimpulan singkat: sebetulnya ini masalah mental para petugas medis. Kalau demikian halnya, maka bagaimana mungkin kita mengharapkan tangan para petugas medis itu bisa menyembuhkan?

Buah (akibat) dari pengalaman-pengalaman buruk (secara moral) seperti ini, lebih banyak dirasakan oleh masyarakat pasien dan keluarga pasien. Dan pengalaman-pengalaman seperti inilah yang membuat masyarakat (umat) pada salah satu paroki terbilang di Keuskupan Maumere tadi, memilih untuk “jarang” ke rumah sakit atau Puskesmas. Bahkan, ada masyarakat yang tidak pernah dirawat, berobat, apalagi diperiksa lengkap pada rumah sakit.

Saya kira, bukan cuma Dokter Maria Goretti yang bisa menerima dan menyembuhkan para pasien yang terlanjur kecewa itu. Kita memiliki banyak petugas medis entah dokter, perawat atau bidan. Mereka bisa melakukan sesuatu yang bukan cuma sama, melainkan bahkan melebihi Dokter Maria. Tentu juga bukan cuma untuk memperbaiki citra lembaga kesehatan kita, melainkan demi meningkatkan sumber daya kesehatan masyarakat kita. 

Kalau Ibu Negara kita, Any Yudoyono mengatakan “tangan perempuan adalah kekuatan yang dapat mengubah sesuatu yang negatif menjadi yang positif”, maka kita pun boleh mengatakan “tangan petugas medis adalah kekuatan yang mampu menyembuhkan orang sakit menjadi orang sehat” (Kompas, 29 Mei 2012). Pastor cuma membantu.***(Flores Pos, Rabu, 21 November 2012)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s