Merongrong Dosa Sosial

  • Memaknai Prapaska

Oleh Avent Saur

Dosa SosialUmat Kristen Katolik sudah memasuki pekan terakhir masa prapaska. Sejauh mana kita bergumul entah secara pribadi atau pun secara komunal sepanjang masa tersebut, kita sendiri lebih mengalami dan mengetahuinya.

Namun satu hal yang pasti bahwa dalam pergumulan tersebut, kita tidak terhindar dari refleksi tentang dosa. Dan justru karena aspek dosa, kita perlu menyiapkan secara khusus masa prapaka ini. Di hadapan Sang Khalik yang diyakini sebagai Maharahim, kita tunduk mengakui dosa dan memohon pengampunan dari pada-Nya.

Di balik pengakuan dosa dan permohonan ampun itu, kita juga berjuang untuk sedapat mungkin bertobat yang ditunjukkan dalam praksis hidup. Dengan cara itu, diyakini bahwa kita terbebas dari dosa tersebut, sekurang-kurangnya dosa yang kita akui di hadapan-Nya.

Namun tentang dosa, sekian sering kita memahaminya secara berbeda, dan dalam keberbedaannya terdapat pemahaman yang dangkal dan yang mendalam. Pemahaman mana yang kita miliki akan cukup berpengaruh dalam kehidupan praksis kita, entahkah kita sudah cukup bertobat atau tidak, dan entahkah kita sungguh mengadakan transformasi diri (dan sosial) atau tidak.

Dalam umat perjanjian lama (tradisional), dosa dipahami secara legalistis dan individualistis. Secara legalistis, dosa dipahami sebagai penyimpangan dari peraturan hukum atau kebiasaan yang berlaku. Atas nama hukum, seorang pendosa harus ditimpali dengan hukuman.

Sedangkan secara individualistik, dosa dipahami sebagai kesalahan pribadi; menyimpang dari kehendak Tuhan entah karena perbuatan atau ucapan tertentu. Hukumannya juga diberikan oleh Tuhan. Demikian juga permohonan ampun hanya ditujukan kepada Tuhan. Hal seperti ini bisa tampak dalam kata-kata pemazmur: “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kau anggap jahat” (Mzm 51:6).

Dalam umat perjanjian baru, pemahaman dosa yang legalistis dan individualistik ini telah ditransformir secara radikal. Dosa tidak lagi dimengerti sebagai penyimpangan dari hukum semata melainkan sebagai perbuatan yang lahir dari kesadaran dan rasa tanggung jawab. Sejauh suatu perbuatan yang jahat atau kesalahan dilakukan secara sadar dan dilandasi rasa tanggung jawab, maka perbuatan itu adalah dosa.

Sebaliknya, sejauh unsur kesadaran dan tanggung jawab tidak diikutsertakan, maka perbuatan itu tidak bisa disebut sebagai dosa. Seorang yang melanggar hukum karena tidak “disegajakan”, bukanlah sebuah dosa sekalipun di mata manusia itu salah. Atau kalau hukum dilanggar demi sesuatu yang lebih berarti dari hukum itu, maka pelanggaran itu tidak bisa disebut sebagai sebuah dosa.

Lebih jauh, kalau sebuah hukum memang pada dasarnya mengandung kejahatan, atau mengekspresikan kehendak penguasa yang otoriter, maka justru hukum itu tidak mengikat kewajiban untuk ditaati.

Sementara itu, pemahaman individualistik ditransformir dengan mengemukakan dimensi sosial dari dosa. Bahwasanya, sebuah perbuatan disebut dosa bukan saja karena menyimpang dari kehendak Tuhan, melainkan juga menyimpang dari apa yang dikehendaki masyarakat pada umumnya. Sejauh suatu kehendak sosial  itu baik atau sebuah harapan sosial itu wajar, maka kehendak dan harapan sosial itu merupakan ekspresi dari kehendak Tuhan. Dengan itu, perbuatan menyimpang yang seseorang lakukan, bukan hanya berdosa terhadap Tuhan, melainkan juga terhadap sesama dalam masyarakat.

Suatu perbuatan dosa tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga sesama. Dan karena “perugian” terhadap sesama melanggar cinta kasih yang adalah hakikat kehidupan sosial yang ditanam Tuhan dalam diri manusia, maka perugian itu juga merupakan sebuah bentuk perlawanan terhadap Tuhan. Permohonan ampunnya juga tidak hanya ditujukan kepada Tuhan melainkan juga terhadap sesama. “Aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa…” (Luk 15:21).

 ***

Dosa, dalam karakternya yang asli, selalu berkaitan dengan pribadi. Dengan itu, ia boleh dibilang, dosa pribadi. Dosa dibuat oleh orang secara pribadi, dengan sadar dan rasa tanggung jawab yang lahir dari kehendak pribadi tersebut. Namun, oleh Roger Haight (teolog dogmatik, dalam bukunya: Teologi Rahmat dari Masa ke Masa), pembicaraan tentang dosa bisa dialihkan kepada karakter sosial. Boleh dibilang, dosa sosial. Apa itu dosa sosial?

Tidak ada uraian khusus yang cukup argumentatif tentang dosa sosial. Roger Haight langsung menempatkan dosa sosial sebagai dosa yang dilakukan oleh sistem-sistem budaya dan politik atau lembaga-lembaga publik. Beliau menegaskan bahwa sistem-sistem itu pada dasarnya diciptakan oleh manusia atau pribadi-pribadi. Demikian juga lembaga-lembaga publik, tentu diorganisir oleh penguasa-penguasa, yang tentunya adalah manusia atau pribadi-pribadi.

Sebagaimana setiap manusia tidak luput dari dosa pribadi, demikian juga sistem-sistem dan lembaga-lembaga publik tidak luput dari dosa. Cuma dalam konteks pribadi, dosa itu adalah dosa pribadi, sedangkan dalam konteks sistem dan lembaga publik, dosa itu menjadi dosa sosial. Artinya, suatu dosa yang dilakukan karena sistem dan karakter lembaga publik.

Dosa sosial tampak dalam pelbagai fenomena. Jika kita mengambil contoh yang agak jauh di Jerman, Pemerintahan Adolf Hittler menampakkan secara eviden (jelas) tentang dosa sosial tersebut. Dengan kehendak yang egoistik dan otoriter serta sistem yang tidak adil, Hittler telah menindas jutaan manusia dan melindas martabat luhur manusia. Beliau menempatkan manusia pada keadaan intimidatif dan mencekam.

Dalam bangsa kita, hal serupa juga terjadi, terutama pada zaman kolonial. Rakyat tanah air dikandangkan dalam sistem kolonial yang otoriter dan intimidatif. Ruang gerak dibatasi dan aspirasi-aspirasi rakyat tidak didengar. Benar-benar suatu sistem dan lembaga yang jahat. Dalam diam, sebetulnya orang-orang yang ditindas dengan tegas menolak sistem dan lembaga tersebut. Dengan suara serak-serak dan nafas terengah-engah tentu mereka berjuang untuk merongrong dosa sosial tersebut. Dan dalam keyakinan pribadi dan keyakinan sosial yang mendalam, suara dalam diam dan suara serak-serak serta nafas yang terengah-engah itu, pada saatnya, akan tampil dalam perongrongan konkret yang bebas dari ketakutan. Dan memang itulah yang terjadi. 

Dalam konteks kita entah lokal maupun nasional, sistem dan lembaga yang jahat secara total itu tidak ada. Sistem-sistem budaya, politik dan lembaga-lembaga sosial dengan jujur menempatkan martabat manusia sebagai prinsip fundamental perjuangannya. Martabat manusia secara “ramai-ramai” (kolektif) diterjemahkan ke dalam formulasi hak-hak asasi manusia, dan selanjutnya diperjuangkan melalui pelbagai kebijakan yang konstruktif. Semuanya, demi kepentingan sosial/publik.

Namun entah mau atau tidak, kita “dilarang” untuk menyangkal fakta. Formulasi hak-hak asasi sekian sering dijadikan sebagai semacam prosopon (topeng) yang menyembunyikan pelbagai kebobrokan. Pembelaan terhadap HAM tidak tanpa kepentingan pribadi-egoistik. Kebijakan-kebijakan publik-konstruktif juga tidak luput dari kepentingan pemerkayaan pribadi atau penimbunan harta kelompok atau keluarga. Banyak sistem dibangun, dan tampak baik, tapi menyelipkan pelbagai cela bagi terjadinya banyak kecurangan dan penyimpangan. Perhelatan-perhelatan politik melalui Pemilukada sangat dekat dengan kehendak berkuasa semata, dan primordialisme ekstrem dan akut. Proses peradilan suatu perkara hampir tidak absen dari keinginan untuk memiliki uang dan pemerasan atas orang-orang kecil.

Selain itu, tak sedikit orang yang berpura-pura menolong orang lain untuk memperoleh pekerjaan, padahal “membungkus” kehendak busuk untuk menjual orang lain itu sebagai obyek pemuasan nafsu seksual. Dalam lembaga-lembaga pemerintahan, tak sedikit orang yang menjalankan kuasa atas kehendak otoriter, bukan atas prinsip demokrasi dan keadilan. Jalan kompromi-konstruktif tidak diindahkan, dan pelbagai kritik yang mengedepankan kemajuan tidak digubris. Dalam lembaga-lembaga kesehatan, ada banyak orang yang bekerja cuma demi uang, tak mengindahkan martabat orang sakit, serta tak memperhitungkan derita keluarga-keluarga yang miskin.

Pokoknya, dosa-dosa sosial ada di mana-mana, pada lembaga mana saja, dan oleh siapa saja. Ia disebut dosa sosial karena tindakan-tindakan itu merugikan orang lain secara keseluruhan, bukan cuma satu atau dua orang saja. Orang juga jatuh dalam tindakan perugian itu karena memang sistem dan circumstance (keadaan secara institutif) memberi peluang untuk terjadinya tindakan tersebut.

Ada semacam kehendak sosial-institutif yang diakui secara sosial, sehingga tindakan-tindakan itu sungguh lahir dari sebuah kesadaran sosial. Dan justru karena tindakan itu lahir dari kesadaran dan kehendak sosial-institutif, maka ia sungguh-sungguh tindakan dosa.

Pertanyaan bagi kita adalah apakah mungkin kita menciptakan suatu sistem dan lembaga publik yang bebas dari dosa sosial? Apakah kita menciptakan suatu sistem dan lembaga yang benar-benar menyalurkan rahmat sosial bagi masyarakat secara keseluruhan? Tentu itu tidak mungkin. Semasih sistem-sistem dan lembaga-lembaga publik diciptakan dan diperintah oleh manusia, maka sistem dan lembaga itu tak akan luput dari dosa sosial. Dan dengan itu juga, kita tidak bisa menciptakan suatu lembaga tanpa dosa sosial.

Namun ini tidak berarti bahwa kita menyetujui atau bahkan mendukung sistem-sistem dan lembaga-lembaga yang bobrok in se (dalam dirinya sendiri). Itu juga tidak berarti bahwa kita membiarkan pelbagai tindakan bobrok yang sengaja disembunyikan di balik sistem dan lembaga yang tampak baik. Terhadap sistem dan lembaga yang bobrok in se tentu dengan sendirinya ditolak tanpa kompromi dan diskusi. Sedangkan terhadap sistem dan lembaga yang memakai prosopon (bertopeng) sekalipun tidak total, kita cuma menempuh jalan perongrongan.

Upaya perongrongan itu tampak dalam pelbagai kritik pedas dan tajam, yang sekalipun saban kali kurang didengar apalagi diaktualisir. Persoalan yang kita hadapi sekarang adalah banyak penguasa yang sudah nyaman dengan dosa sosialnya. Banyak lembaga dengan kebijakan-kebijakan luhur yang bertahan dalam dosa sosialnya.

Namun kenyataan ini hendaknya tidak melesukan militansi pembelaan kita terhadap martabat manusia yang harus dibungkus dengan hak-hak asasinya. Bagi umat Kristen katolik, perjuangan merongrong dosa sosial itu, mungkin cukup baik diintensifkan dalam momen prapaskah yang sedang dijalani ini, dan kemudian dilanjutkan dalam paskah suci serta keseluruhan hidup dalam masa paskah abadi.

Lebih dari itu, para pemimpin dan segenap perangkatnya hendaknya peduli terhadap setiap perongrongan untuk mengembalikan kekuasaan pada porsinya yang benar yakni demi kesejahteraan sosial, bukan pribadi atau golongan tertentu.

Lebih dari itu juga, apa yang dinamakan dengan dosa tidak terkungkung dalam pemahaman yang tradisional yang legalistis dan individualistik, melainkan terbuka terhadap dunia sosial dengan segala kepentingannya. Dunia dan masyarakat kita hanya mungkin berubah, selain oleh karena militansi perongrongan, tapi juga oleh transformasi pemahaman kita tentang dosa.

Mungkin ini menjadi salah satu sumbangsih yang cukup signifikan dari kalangan agama bagi transformasi masyarakat yang adalah juga umat beragama itu sendiri.***(Pos Kupang, 19 April 2011)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s