Tersangkut? Lepaskan!

  • Refleksi Akhir dan Awal Tahun

Oleh AVENT SAUR

Setahun tak terasa. Kurang diingat lagi, entah kapan tahun 2012 itu dimulai. Bilangnya, sejak 1 Januari. Tapi itu yang tertulis, dan dunia tahu. Apa yang aku alami pada permulaan tahun, itu yang tidak diingat lagi entah apa dan bagaimana, dan entah kapan.

Namun untuk sekarang, aku merasa sedang berdiri di titik akhir tahun, dan sudah berpijak di awal tahun. Aku “ingat betul” akan apa yang aku alami sekarang.

Aku pernah dengar orang bilang, “hari yang sekarang tak ada bedanya dengan hari yang kemarin dan yang kemarin dulu. Demikian juga dengan hari sebelum yang kemarin dulu itu. Tak ada bedanya.”

Tapi apa benar demikian? Kalau benar, pengalamanku hari ini tak beda dengan pengalaman hari kemarin atau kemarin dulu. Tapi kalau tidak benar, aku tak bisa ingat lagi akan apa yang aku alami, apalagi merasakannya lagi. Setahun tak terasa.

Aku juga pernah dengar orang bilang, “hari yang sekarang tak sama dengan hari yang kemarin dan hari yang kemarin dulu. Demikian juga dengan hari sebelum yang kemarin dulu itu.”

Tapi apa benar demikian? Aku enggan menjawab dan membuat pengandaian “kalau benar, maka atau kalau tidak benar, maka.” Aku enggan karena aku tidak mau “tersangkut”.

Tersangkut? Ada sebuah buku cukup tebal. Halamannya berjumlah 1371. Bukan alkitab. Kamus, namanya. Disusun oleh Poerwadarminta. Menurutnya, tersangkut berarti terlibat dalam perkara atau urusan. Lalu Ia memberikan sebuah contoh penggunaannya. “Ia pun tersangkut juga dalam perkara penggelapan itu.” Mungkin, Poerwadarminta itu orang yang berpikiran negatif. Ia menamakan perkara itu dengan “penggelapan” (harta atau apa saja).

Padahal, tersangkut/terlibat dalam perkara atau urusan itu tidak mesti berkenaan dengan hal negatif. Orang bisa terlibat dengan perkara sosial atau urusan karitatif. Orang bisa terlibat dengan urusan advokasi tambang atau perkara membela klien yang dikambinghitamkan. Orang juga bisa terlibat dalam perkara religius atau urusan pelestarian budaya dan peningkatan kualitas pendidikan.

Tapi rupanya, aku terlalu didominasi oleh pikiran negatif Poerwadarminta: tersangkut itu terlibat dalam perkara atau urusan semisal “penggelapan”. Poerwadarminta tak salah. Ada benarnya. Dan kebenarannya boleh jadi mencapai angka seabad (seratus), yang dalam metode statistik, seratus itu dilengkapi dengan persen. Kebenarannya, seratus persen.

Tersangkut dalam arti leksikal itu, diduga kuat, bereferensi pada fakta di medan pergumulan hidup insan ciptaan. Di awal tahun, komunitas politik misalnya, memiliki komitmen untuk berubah. Tapi hingga tahun berakhir, komunitas politik itu tak ubah-ubah juga. Mereka berkomitmen mengabdi rakyat, tapi malah justru membelakanginya. Komitmen untuk membangun dari desa, tapi malah “membangun” dari diri sendiri. Komitmen  untuk membangkitkan daya hidup rakyat, tapi malah justru mematikan. Komitmen untuk menyejahterakan, tapi malah justru memiskinkan rakyat. Komitmen untuk “memperterang”, tapi malah justru “mempergelap.” Sebuah Penggelapan.

Anggota komunitas budaya, sosial, bisnis, kesehatan dan pendidikan tak jauh berbeda. Egoisme meraja lela. Jurang kaya-miskin semakin lebar. Intimidasi dan diskriminasi tak terbendung. Janji-janji muluk selalu “mulus”. Konsumerisme dan hedonisme apalagi. Juga skeptisme dan permisivisme.

Ada orang berbuat baik, tapi jumlahnya tak sebanyak yang berbuat buruk. Perbuatan baiknya juga sedikit, tak sebanding dengan jumlah perbuatan buruk. Orang lupa nilai-nilai moral? Orang kehilangan kesadaran dan tanggung jawab moral?

Tidak. Aku ingat kata-kata para filosof. “Setiap pengalaman selalu meninggalkan bekas. Kecuali idiot.” Setiap orang pada tahap-tahap perkembangan pribadinya, selalu ditanami nilai-nilai. Nilai-nilai itulah yang membangkitkan kesadaran dan tanggung jawab. “Ini hal yang hakiki,” tegas filosof Theo Huijbers. Kalau orang lupa nilai-nilai moral atau kehilangan kesadaran dan tanggung jawab, itu terjadi karena kecerobohan dan ketidakgubrisan.

Semuanya ini adalah fakta. Fakta-fakta yang memperlakukan kemanusiaan semakin tergeser ke pinggir. Fakta-fakta ini negatif, patut dibubuhi poin merah. Terjadi sepanjang tahun. Hampir semua orang tersangkut pada fakta-fakta itu. Biangnya cuma segelintir orang, tapi korbannya khalayak ramai.

Tapi semuanya ini bukanlah nasib. Bukan fatalisme. Masih ada peluang untuk terlepas dari ketersangkutan itu. Masih ada saat untuk berubah. Dalam teologi, peluang untuk berubah itu adalah sebuah harapan, dan dalam filsafat, peluang itu adalah sebuah proses. Semuanya ini ada karena manusia hidup dalam waktu. Sekali-kali, itu tukas para filosof.

Manusia hidup dalam waktu. Apa artinya? Kata dalam menandai hubungan hakiki antara manusia dan waktu. Ia ada dalam waktu, atau waktu ada di dalam diri manusia, bukan di luar. Seperti makhluk lain dan benda apa saja, manusia ditentukan oleh waktu. Manusia hidup pada waktu sekarang, dan ia datang dari waktu lampau serta berjalan menuju waktu mendatang.

Apa yang dilakukan manusia pada waktu sekarang akan menjadi bekas di waktu lampau, serta menjadi penunjuk arah menuju waktu mendatang. Sepanjang tahun 2012, terlihat bekas-bekas ketersangkutan. Kalau tidak mau terlepas dari ketersangkutan itu, maka ketersangkutan-ketersangkutan baru akan terlihat pada waktu 2013. Arah ke waktu mendatang pun akan kusut seperti benang yang sulit teruraikan.

Waktu sekarang hampir usai. Waktu mendatang akan segera menjadi waktu sekarang. Semua komitmen yang baik-baik, terjadi di awal tahun. Sebaliknya, di tengah tahun atau di akhir tahun atau di mana saja letaknya, terjadi hal yang “tidak baik-tidak baik”. Namun aku “tak ingat” kapan awal tahun itu dimulai.

Tak ingat, itu bukan berarti aku sedang menderita amnesia psikogen atau amnesia fisiogen, kehilangan ingatan karena sakit mental atau karena ketuaan. Aku cuma ingin untuk tidak tersangkut dengan perkara atau urusan yang bersentuhan dengan kemanusiaan itu. Kalau aku ingat, maka aku pasti tersangkut. Dan kalau aku tersangkut, maka aku harus bertanggung jawab.

Waktuku cuma sehari. Sehari cuma 24 jam. Kapan aku harus tersangkut pada tanggung jawab mereka, sementara aku sendiri sedang tersangkut? Kita tersangkut? Lepaskan!  Semuanya, dimulai dari diri. Komitmen batin dan konsistensi aktualitas, mendesak untuk diwujudkan. Selamat tutup dan buka tahun.***(Flores Pos, Jumat, 4 Januari 2013)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s