Membongkar Tirai Pembohongan

romo faustin - Seribu Lilin

Umat di Kota Maumere menyalakan seribu lilin di taman patung Kristus Rajauntuk mengenang kematian Romo Faustin Sega Pr.

  • Apresiasi untuk Mun’in Idris dan Penyidik Polda NTT, Soal Kematian Romo Faustin Sega, Pr

Oleh Avent Saur

Awalnya pihak keluarga, para aktivis dan Gereja menolak otopsi terhadap jasad Romo Faustin yang telah empat bulan terbaring kaku dalam liang lahat. Penolakan ini tentu bukan tanpa pertimbangan (alasan) yang matang.

Selain mempertimbangkan aspek kultural dan rasa manusiawi, terdapat satu pertimbangan dasariah yang sempat terekam oleh pers bahwa pihak keluarga merasa trauma dengan pengalaman otopsi pada kasus lain. Bahwasanya, otopsi bisa dijadikan alasan untuk mempercepat penghentian penyelidikan sebuah perkara.

Keluarga lebih bersikap antisipatif. Apalagi pada saat itu, terdengar isu dikeluarkannya Surat Penghentian Penyelidikan Perkara (SP3). Demikian juga, kalau melihat kasus kematian Andri Hariyanto di Maumere, Sikka. Sekalipun pada tubuh Andri terdapat hal-hal aneh dan posisi tubuhnya meninggalkan jejak yang menimbulkan banyak pertanyaan penyelidikan, tapi tokh dilalaikan begitu saja, dan dianggap bunuh diri. Penyelidikan kasus ini pun dihentikan.

Selain bersikap antisipatif, penolakan otopsi bukanlah ekspresi rasa capek dalam perjuangan pihak keluarga, Gereja dan aktivis. Keluarga almarhum yang malang itu, justru merasa tak mengenal capek atau lelah. Rintangan yang mereka hadapi justru menambah semangat dan membakar keberanian perjuangan mereka. Ketika ditanya soal rencana otopsi, mereka malahan melemparkan pertanyaan kritis yang tearah kepada penegak hukum, dalam hal ini Polres Ngada.

Apa alasan fundamental dari otopsi? Mana hasil kerja penegak hukum dalam rentang waktu empat bulan? Pihak keluarga menambahkan, bila autopsi dilakukan hanya karena profesionalitas buruk para penegak hukum, maka otopsi pasti mengalami degradasi nilanya.

Sebetulnya autopsi hanya dan hanya mungkin dilaksanakan, bila penegak hukum mengalami hambatan serius dalam proses penyelidikan. Pada prinsipnya otopsi itu pilihan terakhir dalam deretan profesionalitas penegak hukum. Otopsi sama sekali bukan untuk mengisi kelalaian.

Namun sekalipun menolak, keluarga pun “diajak harus” setuju otopsi. Kali ini otopsi coba ditilik dari sisi lain. Rasa trauma coba dikesampingkan dan sikap antisipatif segera dikurangi. Yang mesti ditilik pada otopsi adalah untuk apa topsi dan autopsi oleh siapa?

Otopsi merupakan jalan terobosan untuk mengetahui secara jelas penyebab kematian “tubuh kaku” yang ditemukan oleh pengembala ternak itu. Dan autopsi pada dasarnya diperuntukkan bagi kepentingan hukum, di mana ia menjadi dasar yuridis bagi pengusutan lebih lanjut. Tentang autopsi oleh siapa, pihak keluarga percaya pada jaminan profesionalitas seorang ahli forensik dari universitas ternama di negeri ini (Universitas Indonesia).

***

Sehari sebelum pelaksanaan otopsi, ahli forensik Mun’in Idris diterima oleh Uskup Vicentius Sensi Potokota di istana Keuskupan Agung Ende. Pada kesempatan itu, uskup mengatakan kepadanya alasan mendasar persetujuan otopsi. Bahwasanya, Uskup Sensi menaruh kepercayaan penuh kepada pengetahuan dan nurani professor Mun’in Idris untuk mencairkan kebekuan kasus kematian imam asal Maulo’o, Sikka ini.

Dan betapa tidak, harapan dan kepercayaan kepadanya sungguh tak sia-sia. Ahli forensik yang diutus oleh Mabes Polri ini, hanya dalam tempo beberapa jam saja bisa mencairkan kebekuan dan memecahkan keheningan batin serta menerangi kegelapan pikiran para pejuang kebenaran dan domba-domba yang ditinggalkan oleh imam tahbisan Juni 2002 ini.

Lebih lagi, Mun’in Idris mematahkan kesimpulan sementara yang dinyatakan secara formal oleh penegak hukum kepada publik bahwa Romo Faustin mati wajar.

Melalui autopsi yang cermat dan sangat professional, Mun’in Idris berani mengatakan secara tegas dan jelas bahwa Romo Faustin mati tidak wajar. Beliau menemukan aneka indikasi kekerasan.

Pada kepala almarhum terdapat tiga bekas benturan benda tumpul (kayu atau batu). Ada pendarahan pada bekas benturan itu, juga pendarahan jaringan otak, ada tanda-tanda pembusukan, pembengkakan pada otak besar, kematian jaringan paru-paru dan otot jantung. Pada tulang rawan gondok terdapat memar yang dikira akibat cekikan keras. Tambah lagi, pada dahi kiri dan kanan, juga pelipis kanannya terdapat memar.

Dengan aneka indikasi seperti ini, bagi Mun’in Idris, perkataan mati wajar adalah sesuatu yang aneh dan tak enak didengar oleh siapa pun. Nyawa almarhum sama sekali dihabiskan bukan karena serangan jantung atau hipertensi. “Kalau mungkin, almarhum diracuni, tapi jelas disertai penderaan,” demikian tegas idris.

Hasil otopsi yang profesional seperti ini sungguh membawa kepuasaan tersendiri bagi para pejuang kebenaran dan keadilan. Tentu kita katakan “otopsiprofesional” bukan karena hasil autopsi itu persis sesuai dengan apa yang kita duga dan yang diharapkan. Sesungguhnya, otopsi itu profesional karena pengautopsian mengatakan sebuah kebenaran.

Pengautopsi betul-betul menjalankan profesinya seturut etika profesi forensik, dan menjalankan otopsi hanya demi kepentingan penuntasan kasus. Dalam hati dan budi pengautopsi tidak dibawa serta kepentingan diri dan kelompok tertentu, yang bisa jadi pernah menggerogoti profesionalitasnya.

***

Selain mendatangkan ahli forensik, Polres Ngada yang butuh pertolongan dari tingkat yang lebih tinggi, segera mendatangkan para penyidik dari Polda NTT. Ada dua penyidik yang siap dan telah menyelidiki kasus tersebut. Setelah mengadakan peninjauan cermat atas hasil kerja Tim Investigasi Keuskupan Agung Ende (KAE) dan Tim Pencari Fakta (TPF) Maumere, kedua penyidik ini segera melakukan rekonstruksi di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Tampaknya mereka cukup serius dan bekerja profesional juga. Begitu mendengar kabar tentang hasil otopsi dari Mun’in Idris, keseriusan menyidik semakin menjadi-jadi. Dalam tempo beberapa hari saja, mereka yang dibantu oleh penyidik Polres Ngada berhasil menangkap beberapa pelaku dan menginterogasi pelaku secara kritis.

Terhadap kinerja penyidik Polda seperti ini, kita katakan saja bahwa misi mereka sukses. Dengan itu juga, patut diberi apresiasi. Namun kita tidak berhenti di situ.

Semestinya terhadap Polres Ngada, kita terus mengajukan pertanyaan untuk mempertanyakan kinerja mereka selama empat bulan, sejak jasad Faustin ditemukan di padang Olakile, So’a. Apa yang telah mereka buat? Mengapa hasil kerja tim independen hanya disimpan sebagai dokumen yang mati? Adakah kepentingan lain selain kepentingan penuntasan kasus?

Terhadap pertanyaan ini, tentu kita tidak berani menjawabnya sendiri-sendiri. Tapi dengan membanding-bandingkan hasil kerja dua penyidik Polda dan keadaan sebelum kedatangan mereka, dengan lantang kita boleh mengatakan bahwa kinerja kerja Polres Ngada lebih dari buruk (sangat buruk).

Bisa jadi mereka tidak melakukan apa-apa; atau bila melakukan apa-apa, maka apa yang dilakukan itu hanyalah sebuah pembohongan. Terhadap hasil kerja Tim Investigasi KAE dan TPF Maumere juga dipandang oleh pihak penegak hukum ini sebagai bentuk intervensi bukan sebagai bentuk partisipasi masyarakat.

Tanpa mengesampingkan upaya Polres Ngada dalam mengusut kasus ini, saya sempat menilik satu realitas di mana celah pembohongan masih mungkin terjadi. Entah besar atau kecilnya kecurigaan ini, kebohongan berlanjut masih mungkin terjadi dalam hari-hari ke depan.

Tampaknya ada celah di mana tirai pembohongan yang telah dibongkar oleh Mun’in Idris dan penyidik Polda NTT akan dipasang kembali oleh orang-orang yang membenci kebenaran dan keadilan. Tapi betapa diharapkan, segala kemungkinan dan celah-celah itu mesti ditutupi.

Tentu tidak hanya sebatas harapan. Oleh siapa saja, terutama pada pencari kebenaran, semestinya senantiasa melakukan kontrol ketat terhadap kinerja Polres Ngada. Dan bahkan oleh penegak hukum yang lebih tinggi, mesti menjalankan prinsip subsidiaritasnya bila keadaan menuntut.

Ini bukan berarti, kita tidak menaruh kepercayaan kepada para penegak hukum di Ngada. Kita tetap percaya mereka, tapi tidak percaya sepenuhnya, sebab kita belajar dari pengalaman masa lalu. Kiranya perjuangan Mun’in Idris dan penyidik Polda NTT dihargai oleh Polres Ngada.***(Flores Pos, 5 Maret 2009)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s