Memburu “Tikus Kantor”

  • Suara Serak dari Bawah

Oleh Avent Saur

tikus kita

LAGU – kisah usang tikus-tikus kantor
yang suka berenang disungai yang kotor
kisah usang tikus-tikus berdasi
yang suka ingkar janji
lalu sembunyi dibalik meja
teman sekerja
didalam lemari dari baja
kucing datang

Terminologi ‘tikus kantor’ bukanlah sesuatu yang ‘luar biasa’ untuk konteks negara kita. Sebaliknya, sesuatu yang biasa. Pelbagai media elektronik dan cetak menampilkan karikatur-karikatur bergambar tikus yang sedang ‘mencabik’ lembaran merah seratus ribu rupiah yang tersusun berlapis-lapis.

Karikatur-karikatur itu ditampilkan, ketika suatu media sedang memberitakan aneka kasus korupsi. Tindakan (pidana) korupsi yang dipraktikkan oleh seorang atau sekelompok orang dianalogikan dengan aksi si tikus tersebut.

Iwan Fals (lahir, 3 September 1961), seorang artis yang peduli terhadap pelbagai ketimpangan sosial-politik, pernah menggambarkan secara lugas tentang aksi si tikus tersebut melalui lagu berjudul “Tikus-Tikus Kantor”. Boleh jadi terminologi tikus kantor yang menganalogikan praktik korupsi itu menjadi popular berawal dari dari artis yang lagu-lagunya bernuansa kritik sosial tersebut.

Yang ditekankan oleh Iwan Fals sebetulnya bukan soal kantor. Mengapa? Tidak semua orang yang bekerja di kantor itu bertingkah tikus-tikusan. Yang ditekankan adalah ketikusannya. Dengan itu, sang artis tidak mengkritisi kantor, melainkan “tikus-tikusnya”.

Tikus-tikus kantor itu, menurut Iwan Fals, memiliki pelbagai karakter. Pertama-tama, sebagai tikus kantor, ia mesti berdasi. Tentu juga pelbagai perlengkapan pakaian lainnya, yang adalah pakaian kantor.

Yang namanya pakaian kantor tentu rapih dan neces. Tapi bagi tikus kantor, justru dengan pakaian seperti itu ia berenang di sungai yang kotor, bahkan itu menjadi kesukaannya.

Entahlah, mengapa dan untuk apa ia berenang. Yang pasti kalau ia berenang, maka dia adalah tikus. Dan tikus itu mesti kotor. Kalau tidak kotor, maka ia bukan tikus. Dengan itu, tikus itu identik dengan kotor, atau bermain kotor-kotoran.

Salah satu tindakan berenang di sungai yang kotor adalah “suka ingkar janji”. Bukan cuma ingkar, melainkan justru lebih dari itu, perlakuan mengingkar menjadi sebuah kesukaan.

Itu berarti pengingkaran tersebut merupakan suatu perlakuan sadar sebagai seorang manusia berakal budi dan berkehendak. Ia mengingkar bukan karena lupa akan sesuatu yang pernah diingat atau yang sudah sekian lama dijanjikan, melainkan suatu manifestasi dari kebusukan yang pernah dibungkus dengan kata-kata manis, kalimat-kalimat etis dan slogan-slogan luhur. 

Iwan Fals

Iwan Fals yang bernama lengkap Virgiawan Listanto (lahir di Jakarta, 3 September 1961) adalah seorang Penyanyi beraliran balada dan Country yang menjadi salah satu legenda hidup    di Indonesia.
Lewat lagu-lagunya, ia ‘memotret’ suasana sosial kehidupan Indonesia pada akhir tahun 1970-an hingga sekarang, kehidupan dunia pada umumnya, dan kehidupan itu sendiri. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia, TIKUS-TIKUS KANTOR) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Namun demikian, Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya sendiri tetapi juga sejumlah pencipta lain.

Dengan demikian, pengingkaran itu adalah ekspresi lanjutan dari aksi penipuan sebelumnya. Seperti apa penipuan itu? Yah, tentu tidak lain dari pada kata-kata yang digembar-gemborkan saat kampanye atau pemaparan dan pertanggungjawaban visi-misi. Sebetulnya, ketika itu juga, mereka sudah menjadi tikus. Kasihan masyarakat, pernah mendengarkan tikus-tikus berbicara dan menipu.

Jadi, tikus kantor itu suka ingkar janji, dan menurut Iwan Fals, “lalu sembunyi”. Tempat persembunyiannya bukan pada liang-liang yang keramat atau lubang-lubang yang kedalamannya tak terjangkau, melainkan cuma bersembunyi di balik meja teman sekerja dan di dalam lemari yang terbuat dari baja (mungkin seperti kotak penyimpanan uang).

Tempat persembunyian seperti ini tentu bukan tidak mudah dijangkau. Kalau tikus itu dicari atau dikejar karena ia lari dari meja ke meja atau dari lemari ke lemari yang lain, bukan tidak mungkin langkahnya bisa dihentikan.

Namun tempat persembunyian tersebut, menurut Iwan Fals, mengandung daya ubah atau berkekuatan magis. Tempat itu menjadi ruang dan peluang bagi tikus-tikus untuk secara gesit mengganti muka, dan segera menjelma menjadi bagaikan orang yang tak bercela. Dalam muka yang tak bercela, tentu tidak mungkin ada noda yang mencurigakan, dan tampaknya seakan-akan tikus-tikus itu tidak pernah berada di tempat persembunyian, seolah-olah tidak mengalami daya ubah/magis.

Bagi iwan Fals, tikus-tikus itu bukannya tidak merasakan kehilangan harga diri, melainkan terhadap kehilangan itu tikus-tikus bermasa bodoh. Bagi tikus-tikus itu, yang terpenting tak ada bukti noda dan cela, dan dengan itu, selalu memiliki kemungkinan untuk “sikat lagi”, dendang sang artis.

Namun sekian sering, betapa pun wajah bercela itu telah mengalami daya magis, tokh bisa diidentifikasi bahwa dia pernah bercela, dia pernah ternoda, dia pernah berenang di sungai yang kotor. Dengan identifikasi tersebut, sebetulnya dia dilempari “dugaan kuat” yang menuntut kejujuran nurani.

Tetapi “aneh bin ajaib”, dia justru berdalih dan mementahkan dugaan. Dia melemparkan tanggung jawab, bahkan mempersalahkan orang lain, persis seperti manusia pertama dalam narasi biblis yang melemparkan kesalahannya kepada “tulang rusuk” atau pasangan hidupnya sendiri. Dia mencuci tangan bak Pilatus yang tidak mau kehilangan otoritas, dan berani dengan angkuh menjual orang kecil (bawahan), menginjak dan menindas mereka sebagai yang bersalah.

Tentu ini sebuah dosa dimensional yang sulit dibayangkan akan kedatangan rahmat pengampunannya. Betapa tidak, sebetulnya, ada aneka demonstrasi (bukti) yang mengindikasikan bahwa dia pernah bercela dan bernoda. Ada jejak kaki nodanya, dan ada sidik jari celanya. Moralitas pribadi sungguh-sungguh dipertaruhkan.

Tindakan cuci tangan: melemparkan kesalahan dan tanggung jawab kepada orang lain, serta menunjukkan diri sebagai yang bersih (padahal kotor), bagi sang artis, hendaknya tidak membuat kita keheranan. Mengapa? Ada alasannya, bahwa tikus-tikus itu pada dasarnya “tidak kenal kenyang dan rakus bukan kepalang”.

Wah, dua alasan yang tak terbantahkan, dan memang betul kita tidak perlu heran. Namun sebetulnya, ini bukanlah suatu urusan ekonomi semata atau perkara psikis saja. Urusan ekonomi seperti mengisi “kampung tengah” itu tentu ada etikanya. Demikian juga, perkara psikis manusia seperti kepuasan/kenikmatan afeksi itu ada batas-batas etisnya.

Kantor, di mana orang-orang berdasi bertindak tikus-tikusan sebetulnya bukan diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan ekonomi dan pemuasaan kehendak “semau gue”. Kantor bukanlah tempat di mana orang menyulapi diri dan memanipulasi orang lain. Sebaliknya, kantor merupakan tempat di mana segala urusan sosial rakyat ditangani, diselenggarakan dan diselesaikan. Kantor mesti menjadi rumah di mana pelbagai strategi kesejahteraan publik digagaskan dan dirancang.

kucing kantor

LAGU – cepat ganti muka
segera menjelma
bagai tak tercela
masa bodoh hilang harga diri
asal tidak terbukti ah
tentu sikat lagi
tikus-tikus tak kenal kenyang
rakus-rakus bukan kepalang
otak tikus memang bukan otak udang
kucing datang
tikus menghilang
kucing-kucing yang kerjanya molor

Tindakan tikus-tikusan di kantor-kantor bukannya tanpa penjagaan oleh pihak yang berwewenang, sebagai misal, para penegak hukum. Penegak hukum dianalogikan oleh Iwan Fals sebagai kucing yang terus mencari mangsanya. 

Namun saking beratnya mencari mangsa, kucing kadang atau bahkan sekian sering “tinggal di tempat”, dan membiarkan tikus sendiri yang datang dan memberikan makanan kepada kucing. Kucing tidak lagi mamangsa tikus, sebaliknya membiarkan tikus berkeliaran untuk mencari makan bagi kucing. Kucing tidak lagi “bekerja”, sebaliknya yang bekerja adalah tikus.

Kucing kadang atau sekian sering berpura-pura lapar, dan kepura-kepuraan ini dibaca secara kritis oleh tikus. “Roti pun dikasih”. Ah, mana mungkin kucing makan roti. Yah, itulah kucing-kucing kantor, yang tugasnya bukan menjaga atau mengejar tikus, melainkan membiarkan tikus mencari makan untuk mereka.

Dalam dramatisasi-analogis seperti ini Iwan Fals bertanya, “tikus teramat pintar ataukah kucing kurang ditatar?” Boleh jadi jawabannya cukup bervariasi. Tikus bisa teramat pintar, tapi sebuah kepintaran yang tidak etis. Dan dari sisi moral, sebetulnya ini sebuah kebodohan yang purna-personal, kebodohan seluruh diri. Sebetulnya, tikus mengetahui apa yang “semestinya” dia lakukan untuk masyarakat, tapi pengetahuan itu diabaikan, dan membiarkan keinginan pribadi diutamakan di atas kepentingan “yang semestinya” itu.

Demikian juga dengan kucing. Ia kurang ditatar sehingga menjadi bodoh, dan gampang dijadikan obyek kepintaran si tikus? Boleh jadi.

Tapi untuk menjadi kucing yang bekerja di kantor tidak mungkin tidak ditatar terlebih dahulu. Ia mesti melewati pelbagai tanur api untuk bisa bekerja. Tapi boleh juga terjadi, kucing tidak menatarkan diri secara kontinu. Penataran yang telah dilewati tidak lagi ada jejaknya dalam diri mereka, dan dengan itu, mudah berpura-pura demi mendapatkan makanan dengan mudah dari si tikus.

***

Dalam konteks lokal, di mana pelbagai realitas penyelewengan dipertontonkan, rasanya, kita tidak mengalami kesulitan untuk membaca konteks tersebut dalam terang analogi tikus kantor (dan kucing kantor). Ada pelbagai macam penyelewengan terutama dalam urusan politik, yang bagi kita, politik adalah suatu seni mengurusi kepentingan publik.

Karena politik dipahami demikian, maka sejahtera atau tidak sejahteranya masyarakat sangat bergantung pada apakah politik itu diurus secara baik atau tidak baik. Adanya realitas penyelewengan sudah menunjukkan bahwa politik kita sedang dalam keadaan tidak baik. Dan kesejahteraan masyarakat pun sedang dalam keadaan tidak baik juga.

tikus kantor

LAGU – tak ingat tikus kantor
datang men-teror
cerdik licik
tikus bertingkah tengik
mungkin karena sang kucing
pura-pura mendelik
tikus tahu sang kucing lapar
kasih roti jalanpun lancar
memang sial sang tikus teramat pintar
atau mungkin sikucing yang kurang
ditatar !

Tentu ada banyak jalan untuk bisa keluar dari keadaan tidak baik tersebut. Salah satunya adalah memburu tikus-tikus kantor tersebut. Aksi pemburuan memang sudah sering kali dilakukan, bahkan para pemburu sendiri (seperti kucing) kadang atau sering kali berpura-pura, dan justru membiarkan tikus-tikus itu.

Tapi di hadapan kenyataan ini, teriakan “memburu” semestinya tetap diserukan, sekalipun teriakan itu terasa keluar dari suara yang sudah agak serak. Yah, itu memang suara “dari bawah” yang tidak memiliki daya dan sekian sering sulit didengar. Oleh pihak berwewenang, juga oleh para pemerhati masalah sosial-politik, tikus-tikus kantor itu mesti terus diburu dan diteriaki.***(Pos Kupang, 20 Juni 2011)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s