Jangan Suruh Orang Lapar Pergi!

Luk 9:9b-17

Oleh Avent Saur, SVD

orang lapar antri

Orang-orang lapar di Afrika sedang antri menerima pembagian makanan.

Ketika mengutus keduabelas murid-Nya, Yesus memberikan “tenaga dan kuasa” kepada mereka. Selain untuk menguasai setan, juga untuk menyembuhkan orang sakit (Luk 9:1). Dalam Matius, para murid juga diberikan kuasa untuk membangkitkan orang mati (Mat 10:8).

Menurut beberapa ahli Kitab seperti Bauer Lexicon, misi “bangkitkan orang mati” itu bukan dalam arti harfiah, melainkan hanya sebuah metafora. Bahwasanya, tindakan “membangkitkan” itu cuma dalam arti spiritual, di mana orang dibangkitkan dari pelbagai perilaku buruk setelah menyaksikan pelbagai mukjizat penyembuhan dan pengusiran setan. Dengan demikian, cuma Yesus yang mampu membangkitkan orang mati seperti terjadi pada Lazarus, anak Yairus dan pemuda di Nain.

Nah, bagaimana dengan mujizat penggandaan roti? Rupanya, seperti kuasa pembangkitan, kuasa untuk penggandaan roti juga tidak diberikan Yesus kepada para murid. Dengan itu, ketika lima ribu orang (laki-laki) yang mengikuti Yesus dan para murid ke tempat yang sunyi di Betsaida, mengalami kelaparan, para murid spontan (kompak) meminta Yesus untuk menyuruh mereka pergi. “Suruhlah orang banyak itu pergi,” kata para murid. “Kamu harus memberi mereka makan,” jawab Yesus (juga spontan).

Para murid hanya memiliki lima roti dan dua ikan. Untuk keduabelas murid ditambah dengan Yesus, hampir pasti lima roti dan dua ikan itu mungkin tidak cukup. Apalagi kalau roti atau ikan yang ada itu bukan lima “buah” atau bukan dua “ekor”. Mungkin cuma lima “potong (an)” roti atau dua “potong(an)” ikan saja.

Akal sehat para murid “berjalan”. Untuk kelompok mereka saja, makanan itu tidak cukup, apalagi untuk lima ribu orang. Dalam situasi kepepet, para murid tidak bisa memberikan apa-apa, selain meminta Yesus untuk menyuruh semua orang itu “pergi”.

Namun Yesus ingin mengajarkan para murid untuk “memberi dari kekurangan”. Betapa tidak. Lima roti dan dua ikan bisa diberikan kepada orang-orang yang “paling lapar” di antara orang-orang yang lapar. Yang penting ya bisa memulihkan tenaga (sekalipun sedikit saja). Kalau Yesus tidak menyuruh orang banyak itu pergi, para murid meminta Yesus untuk disuruh pergi membeli roti. Tapi hal ini tentu mustahil untuk diwujudkan. Sebab, seberapa banyak uang yang ada di kantong Yudas Iskariot? Belum lagi, Yudas sudah “menguranginya”untuk kepentingan pribadi.

lapar di papua

Masyarakat Papua dengan potensi alam yang menjanjikan hidup dalam keadaan “melarat” karena potensi alam dikeruk oleh “orang luar” yang berkolusi dengan pemerintah.

Menyinggung soal “memberi dari kekurangan”, mungkin kita pernah mendengar nama Gerd Theissen (lahir 24 April 1943), seorang teolog (protestan) Jerman  yang menggeluti secara khusus tentang Gereja perdana. Bagi Theissen, kelompok Yesus dan para murid-Nya adalah kelompok gerakan keagamaan di Yerusalem dan sekitarnya. Kelompok ini diliputi keadaan “serba kekurangan”. Mereka adalah orang-orang tuna wisma (tak memiliki rumah), pribadi-pribadi karismatis jalanan, tidak terikat pada relasi hubungan darah, terlepas dari kepemilikan harta benda dan tidak memiliki perlindungan hukum (dan politik).

Dalam Kitab Suci, kita bisa jumpai kata-kata Yesus sendiri. “Serigala mempunyai liang dan burung di udara mempunyai sarang tetapi Putra Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat 8:20). “Jikalau seseorang datang kepada-Ku dan tidak membenci bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14:26). “Carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6: 33).  Atau kita baca juga bahwa “Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat” (Mrk 14:1).

Dari situasi “serba kekurangan” itu, apa yang mau diberikan kepada kelompok besar tersebut? Bagi Yesus, rupanya, bukan soal apa yang mau diberikan, melainkan soal “jangan menyuruh mereka pergi atau pulang” dengan hampa.

Menyuruh orang lapar pergi dalam keadaan lapar, secara moral, adalah tindakan buruk. Dan para murid mengetahui hal ini. Tapi mereka tidak langsung menyuruh orang banyak itu “pergi”, melainkan meminta Yesus untuk “menyuruh” mereka pergi. Dengan demikian, kalau tindakan “menyuruh” itu terjadi, maka Yesus-lah bersalah, bukan para murid.

Boleh jadi para murid sangat menghormati Yesus sebagai guru mereka. Bahwasanya, orang banyak itu adalah “tamu” Yesus, karena orang-orang itu datang ke tempat sunyi itu hanya untuk menemui Yesus. Tapi tampaknya, dibalik penghormatan itu tersembunyi keinginan “melemparkan” tanggung jawab atas orang-orang lapar. Entahlah. Tapi Yesus menghendaki, terhadap ribuan tamu itu, menjadi tanggung jawab bersama.

“Kamu harus memberi mereka makan.” Makanan itu bersumber dari Yesus sendiri. Yesus melakukan penggandaan lima roti dan dua ikan. Peristiwa penggandaan itu merupakan sekaligus rahmat dan mukjizat. Rahmat, karena sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, tapi terjadi. Mukjizat, karena sesuatu yang biasanya tidak terjadi, tapi terjadi. Dan semuanya itu terjadi dalam keadaan “serba kekurangan”. Tapi dari situasi getir ini, Yesus justru mampu memberikan “sesuatu” yang melebihi apa yang orang banyak itu butuhkan. “Mereka semuanya makan sampai kenyang. Sisanya, dua belas bakul” (penuh, Mrk 8:19-20; Yoh 6:13; Mat 14:20).

Peristiwa penggandaan roti ini boleh disebut sebagai ekaristi lapangan (banyak rumput, Yoh 6:10), yang menjadi langkah awal kepada ekaristi (perjamuan) malam terakhir dan ekaristi bukit Kalvari atau Golgota, di mana Yesus memberikan tubuh-Nya secara nyata demi mengenyangkan orang-orang lapar akan kebenaran dan keadilan. Dengan itu, sebagaimana lima roti dan dua ikan menjadi rahmat dan mukjizat bagi lima ribu orang, demikianlah tubuh (dan darah) Yesus menjadi jalan yang menyelamatkan bagi semua orang. Yesus tidak memiliki apa-apa, selain “tubuh bersimbah darah”.

Yesus “memerintahkan” Gereja yang diwakili oleh para murid untuk selalu mengenang peristiwa “pemberian” tubuh dan darah-Nya itu. Hingga kini dan sampai keabadian, Gereja mewariskan kenangan itu dalam bentuk ekaristi. Dalam ekaristi, kita dipersatukan dalam pengalaman kesengsaraan, kematian dan kebangkitan Yesus melalui penerimaan tubuh (dan darah-Nya).

Gereja mengimani bahwa dalam ekaristi terjadi mukjizat: roti jadi tubuh Kristus dan anggur jadi darah Kristus. Ada sebuah kisah nyata, kiranya meneguhkan iman kita.

Buku Mukjizat Ekaristi

“Mukzijat terjadi di Gereja St. Maria dari Ford di Ferrara, Italia, Minggu Paskah, 28 Maret 1171. Misa kudus dipersembahkan oleh para pastor dari Ordo Portuensi: Pietro de Verona, didampingi Bono, Leonardo dan Aimone. Ketika hosti yang sudah dikonsekrasi dipecahkan jadi dua bagian, umat terkejut melihat darah keluar dari hosti, dan percik ke kubah setengah lingkaran yang berada di belakang dan di atas altar. Umat juga melihat hosti telah berubah menjadi daging. Uskup Amato dari Ferrara dan Uskup Agung Gherardo dari Ravenna bergegas ke tempat itu.

Dokumen awal yang menjelaskan mujizat ini berjudul Gemma Ecclesiastica (1197), ditulis Geraldo Cambrense. Tulisan ini ditemukan tahun 1981 oleh Mgr. Antonio Samaritani (ahli sejarah tinggal di Ferrara). Dokumen asli disimpan di London dan salinannya disimpan di Vatikan. Dokumen lain, ditulis oleh Kardinal Migliorati, 6 Maret 1404. Paus Eugenius IV secara resmi mengakuinya, tertuang dalam Surat (dari Paus) Papal Bull, 7 April 1442. Paus Benediktus XIV dan Kardinal Nicolo Fieschi juga mengakui mukjizat ini (1519). Paus Pius IX pernah kunjungi gereja tersebut, tahun 1857. Tahun 1500, gereja kecil itu diperluas menjadi basilika, dan tahun 1930 dikelola oleh misionaris Darah Terkudus, anak rohani St. Gaspar del Bufalo yang berdevosi kepada Darah Penebus.” (Diringkas dari Buku Mukjizat-Mukjizat Ekaristi, Jilid I diterbitkan Marian Centre Indonesia, tahun 2005, halaman 17-18).

Yesus beri tubuh dan darah-Nya untuk semua orang. Kita teladani ini dengan cara beri sesuatu kepada orang yang memintanya kepada kita, bukan malah “menyuruh orang lapar pergi”. Jangan.***(Mimbar Flores Pos, Sabtu, 1 Juni 2013)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s