Kepingan Jiwa Politik

Oleh Avent Saur

sakramen politik

Cover Buku “Sakramen Politik. Mempertanggungjawabkan Memoria”.

Pada tahun 2008, penerbit Lamalera yang terletak di Jalan Ikan Paus, Pandak Bantul, Yogyakarta, berani menerbitkan buku berjudul Sakramen Politik. Buku yang sangat diminati oleh para dosen dan mahasiswa teologi dan filsafat ini ditulis oleh Eddy Kristiyanto, seorang pengajar filsafat dan spesialis sejarah Gereja di STF Driyarkara, Jakarta.

Lamalera dianggap berani, mengingat dalam Gereja Katolik, cuma dikenal tujuh sakramen. Oleh karena itu, ketika “sakramen politik” disodorkan kepada publik, tak pelak, karya yang tergolong dalam teologi kontekstual ini, cukup memancing pelbagai tanggapan terutama dari kalangan intelektual Kristen.

Eddy Kristiyanto sendiri telah mengantisipasi kemunculan tanggapan itu. Hal itu secara jelas, ia tegaskan dalam prolog karya tersebut. “Istilah sakramen politik barangkali sudah membuat Anda mengernyitkan dahi, bahkan lebih jauh Anda mengira sebagai ajaran baru yang menyesatkan jemaat beriman.”

Namun sebagaimana ditegaskan oleh J. Kristiadi yang memberikan postkript karya tersebut, “catatan pastor fransiskan itu menempatkan politik sebagai fenomena yang mempunyai kandungan nilai-nilai yang sangat luhur. Politik sebagai sakramen mengantar pembebasan dan penyelamatan manusia dari semua hal yang menistakan.”

Bagi siapa saja, penegasan ini tentu bukanlah hal baru. Baik para politisi maupun masyarakat awam mengetahui bahwa politik mengandung nilai-nilai luhur, semisal, keadilan, solidaritas, kejujuran dan pelbagai nilai lainnya. Oleh Kristiyanto, nilai-nilai ini disebut sebagai jiwa politik.

Karena jiwa politik tampil dalam pelbagai nilai moral yang dari sono-nya bersifat prinsipiil, maka jiwa politik menjadi basis dari setiap perjuangan politik. Dengan itu, sekian sering, jiwa politik diperbincangkan dalam pelbagai discourse (wacana). Harapannya, jiwa politik akan selalu diingat oleh orang-orang yang bergelut dalam politik, sekaligus orang-orang itu dibuat jedah apabila memang mereka sempat berjalan pincang.

Namun betapa tidak, jiwa politik “belum tampak secara jelas” pada ranah discourse. Di sana, ia hanya berwajah suram. Mengapa? Selain karena setiap perbincangan jiwa politik bisa saja hanya menjadi “kata-kata” belaka, juga karena perbincangan itu belum bisa dikatakan sebagai sebuah pengamalan. Yang semestinya terjadi adalah jiwa politik harus “diamalkan”, bukan hanya “dikatakan”.

Oleh karena itu, masih menyetir Kristiyanto, jiwa politik akan “paling jelas terbaca” ketika setiap pribadi berjuang untuk menciptakan komunitas politik yang manusiawi (human) dan ramah (hospitable), kaya akan keadilan (justice) dan penuh bela rasa (compassion). Itu berarti jiwa politik harus dihidupi secara nyata. Dan menghidupi jiwa politik tidak hanya didominasi oleh para perancang kebijakan publik melainkan juga dan hampir pasti terutama oleh massa rakyat.

Namun akan sulit disangkal, jiwa politik sekarang tampak telah retak bahkan pecah dan runtuh berkeping-keping. Ini terjadi lantaran ulah para politisi yang tidak memberikan pendidikan politik yang wajar kepada massa rakyat.

Ia juga berkeping-keping karena sikap-sikap pincang dalam perhelatan demokrasi; entah penggelembungan suara, pekikan atau tindakan provikatif, kampanye hitam, mencari-cari kesalahan, sulit menerima kekalahan, nafsu berlebihan akan kekuasaan, persaingan tidak sehat, membungkam suara kritis, mafia peradilan, maupun KKN yang mungkin tak berujung(?).

Untuk itu, di antara kepingan-kepingan jiwa politik, kita hanya bisa bertindak mengaisnya, dan itu pun dilakukan sejauh dapat. Dengan tindakan mengais, kiranya kita pun semakin sadar bahwa politik adalah sebuah sakramen yang di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur atau jiwa yang kalau dijaga secara militan akan membawa kita kepada tujuan politik itu sendiri, bonum commune, kebaikan bersama. Sekurang-kurangnya, langkah berani yang ditempuh Eddy Kristiyanto pun akan terpenuhi.***(Flores Pos, Kamis, 27 Juni 2013)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Kepingan Jiwa Politik

  1. flori says:

    tuang ini sebenarnya artike opini atau resensi buku?

    • Rupanya, resensi kecil sekaligus opini yang dilemparkan kepada publik untuk direnungkan dan disadari bahwa politik mesti dipandang sebagai sakramen untuk mendatangkan “kesejahteraan/keselamatan” bagi publik itu sendiri. Seorang teman beri SMS kepada sy dengan bertanya: “kalau politik itu sakramen (yang secara harfiah dipahami seturut pandangan teologi kristen), mengapa politik itu sering menyengsarakan?” Kita pun mesti bersama-sama menjawab!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s