Yang Keliru Harus Didobrak

  • Soal Politik

Oleh Avent Saur

bicara politik

Berbicara tentang Politik.

Soal politik, siapa saja bisa membicarakannya. Tetapi apa isi (muatan) pembicaraan berkaitan dengan politik, itu menjadi persoalan serius yang perlu dikritisi. Demikian juga, siapa saja bisa mewujudkan politik dalam bentuk tindakan apa pun. Tetapi apa muatan tindakan politik, itu juga menjadi persoalan serius yang perlu dikaji.

Serius karena soal politik, bukan asal diomongkan begitu saja. Ia juga serius karena tindakan politik tidak asal dilakukan begitu saja. Sebaliknya, isi pembicaraan politik itu harus “tepat”, demikian juga isi tindakan politik. Nah apa saja isi pembicaraan dan tindakan politik yang tepat?

Pembicaraan dan tindakan politik dengan muatan yang tepat, itu berhubungan dengan nilai-nilai etis politik, semisal keadilan, tanggung jawab, solidaritas, kebebasan, kedamaian, kejujuran, dan pelbagai nilai etis lainnya. Dengan kata lain, membicarakan politik adalah membicarakan nilai-nilai etis politik itu sendiri.

Dan hal ini biasa disebut sebagai etika politik atau moralitas politik. Oleh karena itu, sepanjang sejarah perpolitikan dalam pelbagai komunitas politik di dunia, pertanyaan (apa saja isi pembicaraan dan tindakan politik yang tepat?) tadi sesungguhnya menjadi wewenang atau tugas kaum intelektual yang menggeluti secara khusus etika politik.

Oleh kaum intelektual, nilai-nilai moral politik itu “dikabarkan” kepada para politisi yang “bergairah” (terlibat) dalam urusan politik praktis, atau dalam bahasa Franz Magnis-Suseno (Filsuf sosial politik, tinggal di Jakarta), nilai-nilai moral politik itu “dikhotbahkan” kepada para politisi. Selanjutnya, oleh para politisi yang notabene terjun langsung di medan politik atau yang terjun ke kampung-kampung (masyarakat akar rumput), nilai-nilai moral politik itu mesti “dikhotbahkan” secara militan. Yah, sebetulnya kaum intelektual juga bisa berkhotbah di hadapan masyarakat akar rumput tersebut.

Betapa tidak, inilah yang kita sebut sebagai pendidikan politik (atau mungkin pembekalan politik); membagi-bagi pandangan politik yang tepat; berbicara politik dengan muatan yang tepat, untuk selanjutnya mewujudkan politik itu dalam bentuk tindakan yang tepat juga.

Dalam perhelatan demokrasi pemilihan gubernur NTT beberapa waktu lalu (18 Maret dan 23 Mei 2013), aspek pendidikan politik ini gagal dilakukan oleh pelbagai pihak. Akibatnya, primordialisme dan SARA yang tergolong virus dan penyakit lama senantiasa menyerang politik pemilu.

Bukan cuma saya, banyak orang termasuk para pemimpin agama di NTT juga mengatakan demikian. Ya, antara lain, petinggi Gereja Lokal di Flores Uskup Agung Ende Mgr. Vincentius Sensi Potokota Pr, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) wilayah NTT Abdul Kadir Makarim dan Ketua MUI Ende Djamal Humris. Kegagalan dalam pendidikan politik membuat masyarakat belum “diselamatkan” dari jurang pandangan yang keliru soal politik, (Pos Kupang, Minggu, 9 Juni 2013).

***

Belum berapa lama, Flores Pos, Kamis, 27 Juni 2013, menerbitkan sebuah artikel saya yang teramat pendek bertajuk Kepingan Jiwa Politik. Dalamnya, terdapat pernyataan bahwa politik adalah sebuah sakramen (term dalam teologi Kristen) yang bisa mengantar manusia kepada keadaan yang membebaskan. Yah, diandaikan saja, kita tahu, apa itu situasi bebas seturut konteks hidup kita.

Tak disangka-sangka, terhadap pernyataan ini, via short message service (SMS) dan email, juga blog pribadi, saya menerima pelbagai komentar nan kritis. Di antara pelbagai komentar tersebut, ada satu komentar yang pada hemat saya, muncul dari pandangan keliru soal politik.

rakyat sengsara

Mengapa terjadi demikian?

Bunyinya kira-kira demikian. “Kalau politik itu menjadi sakramen yang membebaskan, toh mengapa politik selama ini justru menyengsarakan rakyat?” Secara amat singkat, saya cuma menyodorkan satu pertanyaan balik: “Yang menyengsarakan itu politik atau politisi?”

Entah siapa pun, termasuk sahabat yang “mempertanyakan” tadi, pasti dengan tulus menjawab bahwa “yang menyengsarakan” itu adalah politisi. Tentu yang kita maksudkan dengan politisi di sini adalah orang-orang yang bergelut dalam politik entah politik kekuasaan eksekutif, legislatif atau pun juga yudikatif. Sebab, dalam sebuah komunitas politik, pada umumnya ketiga kelompok inilah yang menjalankan tugas pengabdian kenegaraan.

Setiap kelompok ini memiliki tugas yang terarah kepada pencapaian bonum commune, kebaikan bersama. Dan inilah yang sebetulnya menjadi tujuan politik. Dan di sini pulalah, kita menemukan peran politik sebagai sakramen (sarana) yang membebaskan. Bahwasanya, semua orang yang menjadi warga sebuah komunitas politik mesti mengalami “kebaikan” itu, dan itu dialami secara bersama, bukan oleh kelompok tertentu saja.

Kita tahu, kebaikan bersama itu biasa juga disebut sebagai kesejahteraan umum. Tentang kesejahteraan umum itu, ada ulasannya yang cukup “sempurna”. Tapi, rasanya, memang agak monoton ketika saya sekian sering “menyebarkan” ide-ide cerdas seorang Franz Magnis-Suseno, ketika berbicara tentang politik.

franz magnis suseno

Franz Magnis Suseno

Ide-ide cerdas itu dituangkannya dalam opus magnus (mahakarya)-nya berjudul Etika Politik. Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Karya ini tergolong berani karena diterbitkan pertama kali di bawah otoritarisme orde baru, Soeharto, pada tahun 1987.

Kata Magnis Suseno, para prinsipnya, semua warga masyarakat harus hidup sejahtera. Namun kesejahteraan umum itu tidak hanya diperjuangkan oleh negara, tetapi juga oleh warga masyarakat itu sendiri. Mengapa? Karena kesejahteraan umum hanya mungkin dirasakan oleh setiap individu dalam masyarakat (kesejahteraan individual). Dengan itu, kesejahteraan harus digalakkan secara bersama antara negara dan rakyatnya.

Lalu bilamana semua warga masyarakat itu hidup dalam kesejahteraan? Magnis Suseno merumuskannya dalam dua cara yakni cara negatif dan positif.

Secara negatif, seseorang hidup sejahtera apabila ia hidup bebas dari kelaparan dan kemiskinan. Ia juga sejahtera apabila bebas dari kecemasan akan apa yang dia makan pada hari esok, bahkan untuk durasi waktu tertentu di masa mendatang. Ia sejahtera, apabila bebas dari rasa takut untuk berbicara, bebas dari tindak penindasan, dan bebas dari perlakuan tidak adil.

Sebaliknya, secara positif, seseorang sejahtera apabila ia merasa aman, tenteram. Ia sejahtera apabila dengan bebas memperjuangkan cita-cita dan nilai-nilai pribadi yang diyakininya benar (soal agama dan komitmen pribadi), dan bebas untuk memenuhi kebutuhan ekonominya dengan wajar. Sekalipun dengan kemampuan yang terbatas, seseorang akan merasa sejahtera apabila ia mengembangkan kemampuan itu dalam keadaan aman.

Penguasa, dengan politik sebagai sakramennya, paling tidak mampu menjamin semua aspek kesejahteraan ini secara bertanggung jawab. Hal paling primer, misalnya, negara menyediakan fasilitas publik: jalan raya, air bersih dan listrik. Dengan fasilitas-fasilitas ini, bukan tidak mungkin warga masyarakat akan mengembangkan pelbagai kreativitas individual yang bisa menunjang kesejahteraan individualnya. Di sini, baik kesejahteraan umum maupun kesejahteraan individual pun akan sangat terasa dalam sebuah komunitas politik.

politisi keliru

Politisi yang keliru dalam menjalankan politik harus digonggong dan didobrak.

Nah, ketika politik hadir justru membawa kesengsaraan bagi warga masyarakat, manakah yang salah: politik atau politisi? Adalah keliru, kalau kita menjawab: politik. Semestinya, politisi (penguasa).

Dengan jawaban yang terakhir ini, pandangan yang keliru soal politik pun bisa didobrak. Mengapa? Karena kekeliruan telah menjadi penghalang kesejahteraan. Selanjutnya, para penguasalah yang perlu selalu kita “gonggong”, ketika politik itu dipakai justru untuk menyengsarakan rakyat yang “mendudukkan” dia pada kursi kekuasaan.

Jauh sebelum itu, dalam konteks politik pilkada, kita mesti cerdas untuk mencermati, apa saja isi omongan dan tindakan politik seorang calon pemimpin. Bila cermat, kita pun tidak akan salah memilih. ***(Flores Pos, Selasa, 9 Juli 2013)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Yang Keliru Harus Didobrak

  1. flori says:

    Menurut saya, konten politik juga tetap perlu dikritisi. Tidak hanya politikus atau politisi yg perlu dikritisi. Alasannya, konten politik bukanlah fosil yang dikekalkan secara estafet dari zaman ke zaman. Bisa jadi konten politik, akibat tidak dikritisi, tidak relevan dengan nafas zaman yg selalu berubah, penuh fleksibilitas dari waktu ke waktu.

    • Avent Saur says:

      Benar sekali Flori. Etika politik sesungguh hasil dari kerja kritis pada pemikir etika politik itu sendiri. Etika politik adalah hasil pergumulan atas persoalan moral dalam masyarakat itu sendiri. Dengan itu, ia tetap mengena pada konteks sosial-politik.

  2. putracongkasae says:

    Mantap e Bater…Bagi saya pribadi, artikel ini merupakan sebuah releksi politik yang amat ringkas, cerdas dan berani. Tabe!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s