Memoria Publik

  • Tagih Janji Politik

Oleh Avent Saur

Setiap hajatan demokrasi pasti melahirkan pemenang. Entah berlangsung hanya satu putaran ataupun dua putaran, bahkan entah ada gugatan ataupun klaim “kurang fair” dalam proses demokrasi tersebut. Oleh pihak yang berwenang, pada waktunya, sang pemenang pasti tetap ditetapkan, selanjutnya dilantik.

***

Satu pertanyaan sederhana nan urgen yang patut disodorkan: apa yang membuat mereka bisa menang? Terhadap pertanyaan ini, ada pelbagai kemungkinan jawaban. Dan kepelbagaian kemungkinan itu bisa dikerucutkan dalam tiga sifat jawaban: positif, negatif, dan penggabungan positif-negatif.

paket frenly

Paket Frenly (Frans Lebu Raya dan Benny A. Litelnony) menang dalam pemilihan Gubernur NTT untuk periode 2013-2018 (dua putaran).

Secara positif, orang (atau paket tertentu) bisa menang karena rekam jejak yang baik. Orang juga bisa menang karena visi dan misinya yang kontekstual: kena sasaran persoalan kemasyarakatan. Lebih jauh, visi dan misi itu disosialisasikan dengan cerdas dan retorika yang meyakinkan.

Selain itu, orang juga bisa menang karena bersikap jujur (tegas dan rendah hati) dalam proses demokrasi (sosialisasi diri). Di dalam diri orang itu, masyarakat pemilih melirik potensi perubahan yang bakal diwujudkannya.

Tentu masih ada hal-hal positif lainnya. Misalnya, dengan dana yang relatif amat sedikit atau pun juga amat banyak, orang “berpolitik pemilu” dalam batas-batas etis yang wajar.

Sementara itu, secara negatif, orang juga bisa menang hanya karena berhasil menggiring massa pemilih dengan motor primordialisme dan SARA. Sekian sering, massa pemilih juga digiring dengan kampanye hitam. Bahkan, ada juga tindak pembunuhan karakter lawan politik.

Kita tahu, biaya politik pemilu juga agak mahal, bahkan sangat mahal. Jalan politik uang pun pasti ditempuh; entah dalam bentuk serangan fajar (gelap-gelapan) atau serangan siang bolong (terang-terangan memberikan bantuan dengan motif mendulang suara; politik sembako?).

Otoritas dalam komunitas tertentu juga turut membayang-bayangi hajatan demokrasi. Atasan bisa saja “memprovokasi” para bawahan untuk memenangkan orang-orang tertentu. Bahkan bukan hanya provokasi, melainkan juga dengan intimidasi. Para pegawai pemerintahan (PNS), misalnya, diarahkan dengan kemasan “imbauan” untuk memilih si A, jangan si B; sekalipun di bilik suara para pemilih memang memiliki kebebasan penuh untuk menentukan pilihan seturut nuraninya.

Demikian juga otoritas dalam komunitas tradisional (suku atau kampung) dan komunitas organisasi tertentu atau lembaga-lembaga tertentu lainnya. Pengaruh atasan (pemimpin setempat atau internal) cukup diperhitungkan.

tikus kita

Bukan cuma uang yang dicuri, melainkan juga surat suara.

Bukan cuma itu. Soal suara pemilih, bisa dipercurang. Seseorang (atau paket) bisa mencapai kemenangan melalui jalan singkat “menggelembungkan” surat suara untuk dirinya, atau mengurangkan surat suara untuk orang lain. Pencoblosan juga bisa dilakukan bukan pada tempatnya; coblos di luar tempat pemungutan suara (TPS).

Oleh para analis, dalam konteks hajatan demokrasi di NTT, fakta-fakta politik tidak elok ini tidak bisa disangkal, sebaliknya “diakui”. Pers hampir tidak absen memberikan kabar hangat, bahkan panas tentang semuanya ini; sekalipun secara hukum sekian sering politik tak elok tersebut sulit dibuktikan. Kualitas demokrasi pemilu kita pun selalu menimbulkan keprihatinan tertentu.

***

Dengan adanya jawaban yang bersifat positif dan negatif ini, maka dalam hajatan demokrasi sebetulnya ada dua lorong menuju kemenangan. Kita bisa katakan saja: lorong positif dan lorong negatif.

Namun hampir pasti bahwa tidak ada politisi (paket dan tim pemenangan) yang secara ekstrem “hanya” menempuh lorong positif saja atau “hanya” lorong negatif saja. Kedua lorong itu sekian sering dilalui oleh siapa saja. Tetapi bedanya, soal intensitas “lalu lalang” di lorong tersebut; entah sering atau jarang. Obyektivitasnya akan sulit diukur.

Misalnya, dengan slogan kesejahteraan rakyat, seseorang berjuang untuk menang dengan cara politik uang. Atau, dengan visi dan misi yang kontekstual, orang berjuang untuk menduduki kursi satu di daerahnya melalui kampanye hitam. Dan ada banyak pemisalan lainnya.

Jadi pertanyaan di atas tadi (apa yang membuat mereka bisa menang?) melahirkan satu sifat lain jawabannya yakni penggabungan positif-negatif. Dan justru jawaban inilah yang paling mungkin. Ini tidak berarti bahwa kita bersikap pesimistis atas kualitas demokrasi kita, melainkan hanya membahasakan fakta yang dari waktu ke waktu selalu terjadi berulang kali.

***

Lalu ada apa dengan memoria publik? Apa hubungan memoria publik dengan politik pemilu?

jalan buruk

Salah satu ruas jalan buruk di kampung Jong Manggarai Timur. Entah sampai kapan?

Memoria tidaklah lain daripada ingatan, dimana pengalaman (historis) di masa lalu tersimpan. Sebagai sesuatu yang terjadi di masa lalu, semua pengalaman politik di atas tadi, entah pengalaman di lorong positif atau negatif ataupun juga penggabungan keduanya, tersimpan dalam memoria tersebut.

Namun tentu tidak semua pengalaman itu tersimpan atau diingat dengan baik. Mengapa? Karena secara kualitatif, manusia hanya ingat hal-hal yang “penting-penting” saja. Yah, tentu seturut skala nilai atau skala prioritas, sekalipun (meminjam kata Eddy Kristiyanto: teolog Katolik dan sejarahwan) memoria kita bisa diumpamakan dengan “sumur tanpa dasar”.

Dalam kaitan dengan politik pemilu, satu hal penting yang selalu diingat oleh publik yakni komitmen seorang pemimpin untuk menyejahterakan rakyatnya; atau komitmen membawa perubahan dalam daerahnya. Komitmen ini akan selalu diingat oleh rakyat dalam pelbagai konteks hidupnya.

Sederhana saja. Di dalam bis, misalnya, rakyat akan ingat komitmen politik pemimpinnya, ketika melewati jalan yang berbatu-batu atau berlubang-lubang, apalagi jalan yang agak berkubang. Sama halnya juga, rakyat petani akan ingat komitmen politik pemimpinnya, ketika sedang berjalan kaki menuju kebunnya, atau ketika mengalami gagal tanam atau gagal panen.

Rakyat juga akan ingat komitmen itu di pasar, ketika rakyat menyaksikan drainase digenangi air kotor, berbau busuk; atau ketika harga sembako kurang stabil, ketika stan-stan pasar tampak usang, tak terurus. Demikian juga halnya, komitmen itu akan selalu diingat secara spontan oleh rakyat, ketika ia berada di sekolah, di lembaga-lembaga sosial, di lembaga pers, di komunitas keagamaan, dan di pelbagai konteks lainnya.

Ketika komitmen itu muncul dalam ingatan, sebetulnya, kita sedang menagih janji politik seorang pemimpin. Menagih itu adalah hak politik seluruh rakyat. Ketika seorang calon pemimpin atau ketika sedang memimpin pernah menyampaikan komitmen untuk melakukan perubahan dalam masyarakat, saat itu juga, ia berutang pada rakyat. Sekurang-kurangnya utang budi, karena mayoritas rakyat telah mempercayakan dirinya untuk menjadi pemimpin.

Dengan itu, jangan heran, seorang pemimpin akan selalu dikritisi oleh masyarakat manakala ia tidak konsisten pada komitmen politiknya. Memoria publiklah yang senantiasa mendorong masyarakat untuk senantiasa bersikap kritis terhadap pemimpinnya.

***

Dalam pemilihan gubernur yang barusan kita lewati, Paket Frenly menang. Dalam Pilkada Sikka, Paket An-Sar menang. Dan dalam setiap pilkada mendatang di daerah-daerah kita, pasti cuma ada satu paket yang menang.

paket An-Sar

Paket An-Sar (Yoseph Ansar Rera dan Paolus Nong Susar) menang dalam Pilkada Sikka untuk periode 2013-2018 (dua putaran).

Kemenangan-kemenangan itu akan selalu dibayang-bayangi memoria publik, di mana janji-janji politik mereka akan selalu ditagih. Apalagi, kalau memang mungkin pernah, para pemenang mengatakan: “kemenangan kami adalah kemenangan rakyat.”

Dorongan rakyat untuk menagih pun akan terasa cukup kuat. Dan pemenang mesti merasakan daya dorong yang cukup kuat itu. Mengapa? Karena peradaban politik akan maju bergantung pada (atau sangat ditentukan oleh) interaksi yang dinamis antara memoria publik dan praksis politik para penguasa.***(Flores Pos, Jumat, 19 Juli 2013)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s