Yang Najis Versus yang Kudus

Luk 15:1-32

Oleh Avent Saur

Omong tentang orang-orang Farisi, tidak asing lagi bagi kita. Demikian juga, tentang ahli-ahli taurat. Pada satu sisi, mereka dikenal sebagai penjaga hukum Taurat, dan pada sisi lain, mereka dikenal sebagai orang-orang munafik.

orang farisi dan ahli taurat

Orang-Orang Farisi dan Para Ahli Taurat.

Sebagai penjaga hukum Taurat, mereka menginterpretasi dan mengajarkan hukum Taurat kepada umat Yahudi. Sementara itu, hidup mereka juga sama sekali (atau sebagian besar) tidak menghidupi jiwa hukum Taurat itu sendiri. Maka, muncullah kemunafikan.

Dalam hal berdoa, misalnya. Mereka mengajarkan berdoa kepada Yahwe, dan mereka berdoa, yang seturut berita Kitab Suci, berdoa “panjang-panjang”. Dengan berdoa “panjang-panjang”, mereka merasa diri kudus. Sekaligus, dengan doa tersebut, setidaknya mereka dianggap kudus oleh umat lain.

Demikian pun dalam hal cinta kasih, misalnya, sebagai perintah utama dalam hukum Taurat. Mereka mengajarkan orang tentang cinta kasih, sementara mereka sendiri tidak berbelas kasihan kepada orang-orang miskin, orang-orang menderita dan orang-orang berdosa. Lantas Yesus menyoroti mereka: “Turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka. Sebab, mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya,” (Mat 23:3).

Dengan sorotan ini, pertentangan pun muncul. Pertentangan antara kubu Yesus dengan kubu penjaga hukum Taurat. Pertentangan itu mencakup dua dimensi: pandangan teologis dan sikap pastoral. Dan sedikitnya, pertentangan pandangan dan sikap itu muncul dalam Injil Minggu (besok, 15 September 2013).

***

Alkisah, suatu ketika, Yesus didatangi oleh para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Kepada mereka, Yesus memberikan pengajaran, dan dengan sungguh mereka mendengarkan Yesus. Lebih dari itu, Yesus juga makan bersama dengan mereka.

yesus sedang mengajar

Lukisan Yesus sedang mengajar.

Terhadap sikap Yesus ini, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memberikan komentar pedas. Mereka mengkritisi sikap Yesus tersebut. Bahwasanya, bagi mereka, Yesus tidak boleh berbuat demikian. Mengapa? Sebagaimana yang ditegaskan oleh Yesus sendiri, diri-Nya adalah seorang yang kudus (suci, bersih) dan benar. Dan sebagai orang kudus dan benar, Yesus seyogianya tidak boleh bergaul dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang nota bene adalah orang-orang najis (kotor). Identitas Yesus pun dipertanyakan.

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat merasa diri kudus (suci, bersih) dan benar. Dengan itu, mereka dilarang bergaul dengan orang-orang berdosa. Orang-orang berdosa yang mereka maksudkan adalah para pemungut cukai yang koruptif, orang-orang sakit (fisik dan mental), orang-orang miskin, para pelacur dan orang-orang cacat. Bagi mereka, orang-orang ini mengalami hidup yang demikian karena mendapat kutukan dari Yahwe tersebab dosa-dosa yang dilakukan.

Kalau mereka bergaul dengan orang-orang najis, maka otomatis mereka akan tercemar oleh kenajisan. Kenajisan bagai penyakit menular yang menyerang siapa saja yang berada di sekitarnya. Supaya tidak tertular, seseorang mesti menjaga jarak. Orang-orang Farisi menjaga jarak itu, dan dalam arti yang sebenarnya, “memisahkan” (bahasa Ibrani: parash) diri dari orang-orang najis.

Dalam pandangan teologis dan sosial seperti ini, sebetulnya, terjadi pertarungan antara yang kudus dengan yang najis. Yang kudus terwakili dalam diri orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, sedangkan yang najis terwakili dalam diri orang-orang berdosa. Namun pertarungan ini, sedikit banyaknya, tidak pernah terjadi, karena yang kudus tidak berani bertarung. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang menganggap diri kudus itu sudah menyerah kalah sebelum bertarung. Takut tercemar oleh kenajisan menunjukkan bahwa mereka kalah sebelum bertarung.

Nah sebetulnya, dalam konteks ini, kekudusan dalam diri orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah sebuah kekudusan yang tidak memiliki nyali, tidak memiliki jiwa: lemah (tidak kuat), tidak berdaya. Dengan itu, sesungguhnya, mereka bukanlah orang yang suci dalam arti sebenarnya. Mengulang kata-kata Yesus tadi, “mereka adalah orang-orang munafik”.

***

Sebagaimana orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memandang orang-orang berdosa sebagai orang-orang kotor, Yesus juga berpandangan demikian. Namun stigma kekotoran itu sama sekali tidak menghalang Yesus untuk bergaul. Yesus dengan langkah tegap nan pasti menghadiri perjamuan di rumah pemungut cukai, semisal Matius. Yesus juga bersedia ditemui oleh para pendosa. Bahkan, Yesus membiarkan diri-Nya dibasuh oleh seorang perempuan berdosa, yang dikenal sebagai seorang pelacur.

Yesus dan orang najis

Yesus dan seorang perempuan yang dianggap najis.

Dengan itu, tidak seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang psimistis, bagi Yesus, yang najis (kotor) itu sebetulnya bisa dikalahkan oleh yang kudus. Yang kudus pun tidak akan tercemar. Yang kudus justru akan menghanguskan kenajisan, dan kemudian orang-orang berdosa itu akan berbalik menjadi orang-orang kudus, sekurang-kurangnya mereka akan menyerupai Yesus itu sendiri.

Dalam hal ini, Yesus ingin mengubah pandangan dan sikap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat terhadap orang berdosa. Sekaligus, Yesus ingin menunjukkan posisi diri-Nya di hadapan manusia: penyelamat kaum pendosa, pembebas kaum terbelenggu, kabar gembira bagi tawanan dan pencinta kaum miskin. Bagi Yesus, yang najis dan yang kudus harus bertarung, dan pertarungan itu harus dimenangkan oleh yang kudus.

Sebagai sebuah pertarungan, Yesus tentu bukan tanpa senjata. Senjata-Nya adalah pengampunan. Dengan pengampunan berkekuatan dahsyat, Yesus mengalahkan kekuatan dosa dan jahat. Ia bisa mengubah pribadi pendosa menjadi pribadi yang kudus. Dan dalam konteks perjanjian lama, senjata pengampunan itu bisa meluluhkan hati umat Israel yang membatu, dan melemahkan orang yang tegar tengkuk serta mengembalikan orang yang melenceng dari jalan Tuhan.

Setelah Yesus menyelesaikan tugas-Nya di bumi, Roh pengampunan itu terus bekerja. Itu menyata, terutama dalam diri Paulus, seorang pejahat kelas kakap dan pribadi yang ganas. “Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya. Dalam diriku sebagai orang yang paling berdosa, Kristus telah menunjukkan seluruh kesabaran-Nya.” Demikian tegas Paulus. 

Yesus sendiri mengumpamakan daya pengampunan itu seperti seorang gembala yang mencari seekor domba yang hilang. Domba-domba lain (99 ekor) bukannya ditinggalkan, melainkan Sang Gembala ingin domba yang hilang itu mesti berada dalam persatuan dengan rekan-rekannya.

mencari dirham yang hilang

Seorang perempuan sedang mencari dirham yang hilang.

Yesus juga mengumpamakan daya pengampunan itu seperti seorang yang mencari satu dirham yang hilang. Dirham yang lain (9 dirham) bukannya ditelantarkan, melainkan Sang Empunya ingin dirham yang hilang itu kembali bersatu dengan dirham lainnya. Demikian juga dalam perumpamaan tentang anak yang hilang. Sang Bapa ingin putranya yang pernah hilang dari rumah dan keluarga, segera bergabung kembali.

***

Boleh jadi, dengan kadar yang bervariasi, kita pernah menjadi seperti domba yang hilang, dirham yang hilang dan juga anak yang hilang. Tuntutan Tuhan cuma satu: bersedialah untuk ditemukan Tuhan, sebab Dia terus mencari tiada henti. Dan supaya kita bisa ditemukan, hendaknya kita tidak seperti orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang merasa diri kudus: bersih dan benar, melainkan seperti para pendosa yang senantiasa memiliki waktu untuk mendengarkan Tuhan.

gembala pikul domba

Bukan tidak mungkin, dalam diri kita terdapat yang najis (kotor) dan yang kudus. Dan keduanya, selalu bertarung: yang najis versus yang kudus. Yang najis ingin mencaplok kita dari tangan Tuhan, sedangkan yang kudus ingin mengembalikan kita kepada dan mempertahankan kita di tangan-Nya. Tuhan ingin yang kudus itu memenangkan pertarungan tersebut.

Niscaya, sebagaimana Paulus, kita akan menjadi teladan bagi orang lain, dan lebih dari itu, mendapat hidup kekal. Tuhan pun akan bersukacita. Amin.***(Mimbar Flores Pos, Sabtu, 14 September 2013)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in RENUNGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s