Sang Profesor di Hadapan Siswa

  • Yang Tercecer dari Seminar Pendidikan di Syuradikara

Oleh Avent Saur

Kemarin, Minggu, 29 September, SMAK Syuradikara Ende merayakan usianya yang ke-60. Pelbagai kegiatan mengesankan telah mewarnai pesta intan ini, sejak Rabu, 25 September 2013. Ada press conference, bhakti sosial, penyambutan (dan temu) alumni, workshop dan gerak jalan kenangan yang diiringi drumband. Juga ada pentas seni teater (di lapangan bola kaki) dihadiri ribuan penonton, renungan malam, seminar, talkshow, ekaristi dan peresmian laboratorium multimedia, serta pelbagai acara sampingan lainnya.

syuradikaraKhusus soal seminar yang mengusung tema seputar pendidikan, masyarakat akademik Syuradikara patut merasa bangga karena didatangi seorang narasumber handal, Rhenald Kasali, seorang profesor Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta. Awalnya, mungkin bukan cuma saya, amat pesimistis dengan efektivitas seminar ini. Soalnya, seorang profesor berbicara di hadapan peserta mayoritas siswa sekolah menengah, bukan cuma SMAK Syuradikara, melainkan juga beberapa siswa dari SMA sekota Ende, bahkan ada juga sejumlah siswa SMP.

Bukan tidak mungkin, sebagai profesor yang saban hari berbicara di hadapan para mahasiswa, bakal meredaksi kalimat dan mengemukakan gagasan yang sulit dicerap oleh para siswa sekolah menengah. Terminologi-terminologi serapan bahasa asing dan bahkan bahasa asing itu sendiri, sangat mungkin dipakai sang profesor entah secara spontan atau pun sengaja. Dan semuanya itu, akan sulit dicerap para siswa. Seminar pun akan tampak hambar, demikian juga gagasan-gagasan inti akan seperti angin lalu.

Namun betapa tidak, rasa pesimistis itu seketika bubar, lantaran sang profesor tampil fleksibel (lentur). Baik dalam hal ekspresi (metode), maupun dalam pengungkapan gagasan, dia tampil memikat peserta. Dalam hal metode, dia tidak hanya bersuara dari “meja dan kursi pembicara”, melainkan dia juga turun ke “panti peserta”.

Sementara itu, dalam hal pengungkapan gagasan, dia tidak cuma meredaksi gagasan dengan kalimat yang mengantar imajinasi peserta menuju pelbagai belahan dunia, melainkan juga dia menampilkan pelbagai ilustrasi dan cerita menarik yang tampak lucu nan bermakna. Semuanya ini, terasa “sangat cukup” bagi peserta (siswa, alumni dan undangan) untuk mencerna gagasan-gagasan briliannya.

Cognitive Flexibility

Penampilannya yang lentur ini, rupanya tidak terlepas dari salah satu gagasan yang sempat ia utarakan sang profesor yakni cognitive flexibility (lenturan intelek atau intelek yang melentur, yang tidak kaku). Di belahan dunia barat, kata Rhenald, cognitive flexibility merupakan dasar dari setiap upaya perubahan baik perubahan dalam cara berpikir, pendidikan maupun penemuan-penemuan teknologi baru. Dengan cognitive flexibility, intelek (kognisi) masyarakat barat mudah lentur untuk beradaptasi dengan perubahan baru, atau juga membiarkan kemampuan inteleknya untuk disesuaikan dan menyesuaikan dengan keadaan baru. Tak pelak, masyarakat barat tampil ke tengah dunia internasional dengan profesionalitas yang pekat, dan lahir sebagai ahli dalam pelbagai jenis teknologi, serta berjiwa produktif.

Dalam konteks pendidikan di Indonesia, cognitive flexibility yang seharusnya melekat dalam diri setiap insan ciptaan, sedikit banyak kurang bahkan tidak dikembangkan. Segelintir anggota masyarakat kelas atas atau kelas menengah boleh jadi menempuh sekolah jenjang tertinggi, tapi usai bersekolah, mereka kurang tampil sebagai ahli dalam bidangnya.

Mengapa? Karena seseorang bersekolah lebih berorientasi pada perolehan ijazah, jabatan dan peran sosial, daripada orientasi perubahan sosial (atau pelbagai bidang lainnya). Seorang mahasiswa, misalnya, menempuh pendidikan dalam bidang politik. Selekas wisuda, ia lebih bangga akan ijazah daripada memikirkan perubahan apa yang akan segera atau perlahan-lahan diwujudkannya. Tidak heran, demokrasi sekian sering hanya sebagai label dalam perpolitikan negara kita.

Demikian juga, seorang guru yang sudah sekian lama mengajar, mesti bersekolah lagi dan mengurusi sertifikasi. Cognitive flexibility-nya kurang digerakkan, sehingga orientasi pendidikan itu lebih pada ijazah dan urusan ekonomi daripada perubahan kualitatif dalam dirinya sendiri, juga pada peserta didiknya.

Sebagaimana sang profesor yang tampil lentur di hadapan para siswa dalam seminar pendidikan tersebut, semestinya, para pendidik khususnya dan kaum intelektual, para pegiat kenegaraan serta masyarakat Indonesia umumnya bersifat fleksibel di hadapan perkembangan zaman. Hanya dengan cara ini, kita akan maju selangkah demi selangkah: maju dalam cara berpikir dan maju dalam aksi nyata dari pikiran-pikiran yang cerdas tersebut.

Beda Bersekolah dan Belajar

Itu soal cognitive flexibility, yang adalah salah satu dari sekian banyak ide cemerlang seorang Rhenald Kasali. Ada satu lagi ide yang sempat tercecer, yang semestinya kita pungut dan simpan rapih di “saku” kita.

kelas syuradikara

Kegiatan belajar-mengajar di salah satu ruang kelas di SMAK Syuradikara.

Sang profesor mengemukakan perbedaan singkat antara bersekolah dan belajar. Bersekolah dipandang, dan memang nyatanya demikian, sebagai kegiatan belajar di lembaga formal. Di sana, seseorang akan diuji secara sistematis dari waktu ke waktu. Dan seseorang akan naik dari kelas satu ke kelas dua dan seterusnya bila mampu memenuhi tuntutan lembaga. Ia diasah dan mengasah diri, selalu dalam kerangka sistem dan tuntutan-tuntutan yang ketat.

Seseorang akan dinyatakan berhasil dalam belajar bila bertahan dalam kerangka itu dan mampu memenuhi tuntutan-tuntutan ketat tersebut. Kegiatan belajar ini pun akan terasa mencapai puncak bila seseorang telah lulus dalam setiap ujian (termasuk ujian akhir) dan menandatangani sebuah kertas meterai (ijazah).

Masyarakat kita, kata Rhenald, sudah lama terjebak dalam cara berpikir dan prilaku pendidikan ini. Orang yang telah menamatkan pendidikan SMA, misalnya, sekian sering, kembali ke kampungnya untuk bekerja sebagai seorang petani. Ia tampil di tengah masyarakat persis seperti orang-orang yang tidak berijazah.

Orang yang telah mengantongi gelar sarjana dan memiliki jabatan kepemerintahan, juga misalnya, sekian sering tampil dengan sikap serakah, persis seperti orang yang kurang mengenal kebijaksanaan dan nilai-nilai moral. Masyarakat umum pun akan cepat sekali beranggapan bahwa rupanya pendidikan tak ada nilai tambah yang signifikan. Anak-anak yang baru memulai perziarahan intelektualnya pun akan gampang memutuskan untuk putus di tengah jalan.

Lain halnya dengan “belajar” itu sendiri. Dalam bersekolah, belajar memang menjadi satu hal yang “seharusnya”. Tapi tanpa bersekolah, orang bisa belajar.

Sang profesor menampilkan kegiatan belajar dalam diri seorang perempuan cacat asal Jepang. Perempuan itu tak beruntung secara fisik: tiada tangan dan tiada kaki. Tapi betapa mengagumkan, ia bisa mencari nafkah dengan mengembangkan bakatnya dalam bernyanyi.

Selanjutnya, seorang moderator dalam seminar pendidikan itu, Piter Gero (kru Harian Kompas), menuturkan kegigihan sang penemu lampu listrik, Thomas Alfa Edison. Oleh orang tua dan para gurunya, Thomas dinyatakan bodoh (selalu peroleh nilai merah) ketika masih bersekolah di pendidikan dasar. Tapi oleh ibunya, ia dididik di rumah, dan alhasil, kegiatan belajarnya membuahkan hasil gemilang: ia menemukan teknologi dasyat itu.

Tentu dengan narasi-narasi nyata seperti ini, kita tidak sedang diarahkan untuk menganggap pendidikan formal itu kurang penting. Tapi sebaliknya, kita mulai berpikir bahwa orang cacat dan orang tak berpendidikan formal saja bisa menuai hasil gemilang, apalagi orang yang ditempa secara ketat dalam lembaga pendidikan formal. Di sini, kita dituntut untuk tidak cuma melakukan aktivitas belajar di panti pendidikan formal, tetapi mesti lebih dari pada itu, kita disadarkan untuk belajar, belajar dan belajar secara kontinu, tiada henti. Hanya dengan pola pikir seperti ini, kita akan mampu melakukan pelbagai perubahan baik perubahan ad intra (ke dalam diri sendiri, ke dalam lembaga), maupun perubahan ad extra (ke luar diri: perubahan sosial).

Untuk konteks khusus, SMAK Syuradikara sebagai “pencipta pahlawan utama” (arti kata syuradikara), dan yang mengusung moto lux ex scientia (cahaya yang terpancar dari pengetahuan), tentu diharapkan menjadi corong bagi pengembangan pola pikir baru ini. Bukan tidak mungkin, para siswa yang berada di hadapan sang profesor saat ini, akan menjadi profesor yang berada di hadapan siswa lain di masa mendatang.

Ad multos annos “kampus kuning putih”.*** (Flores Pos, Senin, 30 September 2013)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s