Yesus dan Zakheus

Mimbar Flores Pos, 2 November 2013

 Luk 19:1-10

Oleh AVENT SAUR

Kita tahu, dahulu Yesus menanggung penderitaan hebat di Yerusalem. Jauh sebelum itu terjadi, Yesus telah memberitahukannya kepada para murid. Bahkan Yesus beritahu berulang kali, sampai tiga kali. Setelah pemberitahuan yang ketiga, Yesus mengajak para murid segera ke Yerusalem. “Sekarang, kita pergi ke Yerusalem…” (Luk 18:31).

Perjumpaan di Yerikho

Perjumpaan antara Yesus dengan Zakheus (dalam Injil Minggu (3/11) besok), adalah sebuah perjumpaan ketika Yesus dan para murid menjelajahi daerah Yerikho menuju Yerusalem. Sebelum masuk kampung Yerikho, Yesus membuat satu mujizat: menyembuhkan seorang tunanetra (buta) yang juga pengemis. Dalam Injil Markus, pengemis buta itu bernama Bartimeus (Mrk 10:46). Namun berbeda dengan Lukas, Markus (dan Matius) menginformasikan bahwa penyembuhan seorang tunanetra pengemis itu terjadi setelah Yesus keluar dari Yerikho. Yang terpenting, ada mukjizat penyembuhan tunanetra pengemis. Bukan soal lokasi. Kepadanya, Yesus menunjukkan Allah yang penuh belaskasihan.

Lukisan Zakheus di pohon ara disuruh turun oleh Yesus. Tindakan Zakheus ini memikat Yesus untuk segera menumpangi rumahnya di Yerikho.

Lukisan Zakheus di pohon ara disuruh turun oleh Yesus. Tindakan Zakheus ini memikat Yesus untuk segera menumpangi rumahnya di Yerikho.

Sekalipun sebelumnya, Yesus selalu membuat banyak mukjizat penyembuhan, rupanya penyembuhan si tunanetra pengemis tersebut lebih tampak menggegerkan banyak orang. Yah, tentu menggegerkan Zakheus juga. Hal itulah yang mendorong Zakheus untuk melihat Yesus dari dekat. Dalam bahasa Lukas, “Zakheus berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu.”

Disinyalir, selama tiga tahun Yesus bermisi, Zakheus belum pernah melihat-Nya. Dengan itu, kali ini, Zakheus bersikeras (berkomitmen) untuk melihat Yesus. Namun badan pendek tentu menjadi penghalang komitmen ini. Dan yang menjadi penghalang bukan cuma kodrat tubuhnya itu, melainkan juga ia agak canggung bergabung dengan khalayak (orang banyak) karena dianggap najis (kotor, berdosa) oleh orang lain. Ia pun berlari mendahului khalayak dan Yesus, untuk memanjat pohon ara (teks asli, pohon kurma; Yerikho disebut kota kurma), supaya komitmennya tercapai.

Betapa tidak, apa yang dicapai oleh Zakheus bukan cuma melihat Yesus, melainkan juga berdialog dengan-Nya. Lebih dari itu, Yesus bahkan singgah-tumpang di rumahnya. Tumpangi rumah, berarti tidur di rumah itu, entah semalam saja atau pun lebih, dan bercakap-cakap penuh kekeluargaan dengan seluruh anggota rumah. Dan tentu lebih dari semuanya itu, Yesus mengampuni dosa Zakheus, membersihkan Zakheus dari segala kenajisan, dan menggerakkan Zakheus untuk memulai babak baru dalam hidupnya: transformasi.

Jadi tidak diduga oleh Zakheus sendiri, Yesus menjadikannya sebagai orang kedua yang menerima mukjizat di wilayah Yerikho. Bartimeus dimelekkan dari kebutaan fisik-jasmaniah, Zakheus dimelekkan dari kebutaan psiko-rohaniah (spiritual). Bartimeus mengalami Allah yang menyembuhkan, Zakheus mengalami Allah yang mengampuni. Lalu kita?

Reaksi Khalayak

Oleh khalayak, apa yang dibuat Yesus terhadap Zakheus dinilai sebagai sesuatu yang tidak proporsional. Mengapa? Khalayak sudah mengenal Zakheus bukan cuma sebagai seorang pemungut cukai, melainkan terutama sebagai pemimpin kelompok pemungut cukai di wilayah Yerikho. Para anggota kelompok pemungut cukai saja dibenci oleh khalayak, apalagi pemimpin kelompok itu. Ia pasti lebih dibenci.

zakheus dan orang banyak

Mengapa khalayak membenci kelompok pemungut cukai? Konon, bangsa Yahudi dijajah oleh bangsa Romawi. Ketika bangsa kolonial ini menduduki takhta pemerintahan Yahudi, mereka menerbitkan pelbagai kebijakan yang menindas bangsa Yahudi. Salah satu kebijakan yang intimidatif itu adalah bea cukai rakyat.

Di lapangan, yang bertugas sebagai pegawai eksekutif adalah orang-orang Yahudi sendiri. Mereka membentuk kelompok dengan nama kelompok pemungut bea cukai atau disingkat pemungut cukai. Tugas ini dianggap sebagai bentuk persekongkolah dengan bangsa kolonial. Dengan itu, tugas ini dan orang yang menjalani tugas ini pasti dibenci bangsa Yahudi. Seperti bangsa kolonial, mereka dinilai kafir, tidak mengenal Allah.

Namun alasan kebencian bukan cuma karena persekongkolan, melainkan juga karena para pegawai cuka itu melakukan tindak pemerasan. Mereka menagih bea cukai dengan jumlah melebihi aturan yang ditetapkan bangsa kolonial. Seringkali, penagihan dilakukan dengan metode verbal abuse (kekerasan verbal) dan physical violence (kekerasan fisik). Rupanya, Zakheus menjadi semakin kaya karena selain menerima gaji, juga karena menerima dana pemerasan.

Oleh orang Yahudi, tindakan ini dinilai overdosis (keterlaluan). Kebijakan bea cukai saja dianggap tidak adil, apalagi ditambah dengan tindak pemerasan. Dengan itu, khalayak memandang para pegawai cukai (apalagi pemimpinnya) sebagai pelaku ketidakadilan (penjahat), orang kafir (orang yang tidak mengenal Alah atau kaum pendosa) dan tidak mengenal belaskasihan terhadap sesama. Konsekuensinya, khayalak mengucilkan mereka dari interaksi sosial.

Bertolak dari semua anggapan ini, maka adalah tidak proporsional kalau Yesus menjumpai, apalagi mengunjungi rumah Zakheus dan bermalam di dalamnya. Namun sesungguhnya, yang ditilik oleh khalayak adalah Zakheus hari kemarin dan hari-hari sebelumnya. Singkatnya, Zakheus masa lampau. Sementara Yesus menilik Zakheus “hari ini”. Kata Yesus, “Zakheus, hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Yang lain, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham,” (Luk 19:5.9).

Bak gayung bersambut, inisiatif Yesus disambut hangat (sukacita) oleh Zakheus. Dengan tegas, Zakheus berkomitmen memperhatikan nasib-nasib orang-orang miskin, dan dengan ikhlas akan mengembalikan segala hasil tindak pemerasannya. Dengan cara ini, Zakheus akan dibebaskan dari hukuman sosial (pengucilan) dan menjadi seorang pengikut Kristus (Kristen) serta siap meninggalkan pekerjaan sebagai pegawai eksekutif kebijakan bea cukai kolonial, dan sebaliknya siap yang siap mewujudkan kehendak Allah. Zakheus menampilkan dirinya yang asli, sekaligus merupakan sebuah diri yang baru. Zakheus bertobat; mengalami Allah yang mengampuni.

Diri asli yang mana? Nama Zakheus bisa kita telusuri.

Yesus dan Zakheus

Nama Zakheus berasal dari bahasa Yunani: Zakkhaios, Ibrani: Zakkay. Artinya, bersih, tidak bersalah, saleh. Itu sejajar dengan kata Saddiq yang berarti benar. Jadi Zakheus adalah orang yang bersih, tidak bersalah, orang benar. Stigma najis atas dirinya, hanya karena ia terperosok ke dalam kebijakan tidak adil bangsa kolonial.

Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Mehmet Ali Agca di penjara. Agca dipenjara karena menembak Paus pada 13 Mei 1982

Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Mehmet Ali Agca di penjara. Agca dipenjara karena menembak Paus pada 13 Mei 1982

Sementara itu, nama Yesus berasal dari bahasa Ibrani: Yesyua atau Yosyua (bentuk singkat dari Yehosyua). Artinya, sama yakni Yahwe, tolonglah atau Yahwe, selamatkanlah. Atau dapat disingkat, Yahwe menolong atau Yahwe menyelamatkan. Jadi Yesus berarti Yahwe menolong/menyelamatkan.

Dalam konteks Zakheus, Yesus adalah Yahwe yang menolong Zakheus yang terperosok dalam kebijakan tidak adil bangsa penjajah; Yesus adalah Yahwe yang menyelematkan Zakheus yang dikucilkan dari tengah masyarakat karena dicap kafir dan pendosa. Padahal, sesungguhnya, dalam hatinya yang terdalam, Zakheus adalah seorang yang bersih, yang tidak bersalah, yang benar, yang beriman, yang buka diri terhadap sesama, yang ingin bergabung dengan anggota masyarakat lainnya, yang peka terhadap kebutuhan orang-orang miskin, yang “berusaha melihat Tuhan, mencari Tuhan” sampai-sampai memanjat pohon dan melupakan kodrat tubuhnya yang terbilang pendek.

Itulah Yesus dan Zakheus. Yesus dan kita? Yesus menuntut diri kita yang asli, seturut rencana awali ketika kita diciptakan Allah. Bahwasanya, kita diciptakan untuk diselamatkan, bukan untuk dibinasakan. Arahkan hidup kita kepada rencana keselamatan tersebut. Dan demi keselamatan kita-lah, Yesus menanggung penderitaan hebat di Yerusalem. Amin. ***

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s