Sisi Ganda Betlehem

Mimbar Natal

Flores Pos, Selasa, 24 Desember 2013

Oleh AVENT SAUR

Ramalan kedatangan Yesus diperdengarkan oleh Yesaya sekitar abad ke-8 sebelum masehi (SM). Sekitar tahun 740-an SM. Sejak saat itu, umat Israel memulai masa adventus. Mengapa Yahwe memilih abad tersebut, itu menjadi misteri yang hanya diketahui oleh Yahwe sendiri. Tentang hal ini, Yesaya – seorang nabi, penyambung lidah-Nya – pun tidak tahu.

betlehem

Inilah lukisan Yosef dan Maria yang menampakkan wajah kebahagiaan usai bayi mungil Yesus dilahirkan.

Namun secara objektif, ramalan tersebut diperdengarkan manakala umat Israel, yang notabene sebagai umat pilihan, sedang “gencar” mempertontonkan sekurang-kurangnya tiga dosa yang cukup serius. Pertama, mereka berperang melawan bangsa-bangsa atau kerajaan-kerajaan lain. Entah mereka berinisiatif menyerang musuh (mereka mendatangi musuh), entah mereka menantang penyerangan musuh (mereka didatangi musuh). Kadang menang, kadang kalah. Kedua, untuk memenangi peperangan, mereka menggalang kekuatan sekutu-sekutu dan menciptakan alat-alat perang, semisal tombak dan pedang sebanyak mungkin. Ketiga, ketika mereka membangun hubungan bilateral tersebut terutama dalam bidang keamanan, pada saat itu juga kehidupan religusnya terancam, di mana mereka mulai menyembah dewa-dewa asing. Yahwe dilupakan, diabaikan. Iman pun merosot bahkan sampai ke titik nadir, titik yang memprihatinkan, (Yes 1:2-9).

Demi menyadari dosa-dosa inilah, ramalan nabi Yesaya diperdengarkan. Lebih dari sadar, besar harapan, mereka bertobat. Namun karena seruan ini diperdengarkan dalam situasi keamanan politik yang tidak stabil, maka Mesias yang dinantikan adalah Mesias yang bisa menjadi pemimpin kerajaan (raja); pemimpin yang mampu menggalang kekuatan nasional, pemimpin yang perkasa dan tidak mau dikalahkan, tidak gampang direndahkan dan tidak membiarkan diri diremehkan oleh musuh-musuh.

Singkatnya, diharapkan, pemimpin yang akan datang itu harus mampu membuat orang tunduk. Dengan itu, sekalipun agak dipaksakan, musuh-musuh mau tidak mau harus bernegosiasi, merunding perdamaian. Inilah alasan paling mendasar mengapa Mesias yang akan datang itu disebut oleh Yesaya sebagai Raja Damai; seorang raja yang membawa perdamaian di antara kerajaan-kerajaan, di antara bangsa-bangsa, di antara suku-suku, (Yes 9:5-6).

Dirindukan Sekaligus Ditolak

Kedatangan Raja Damai itu dirindukan dari abad ke abad, dari angkatan ke angkatan, dari keturunan ke keturunan. Betapa tidak, mereka tak pernah lelah menjalankan “laku rindu” tersebut. Bahkan kerinduan itu semakin terasah dari saat ke saat. Mereka pun membayang-bayangkan sebuah tempat yang layak bagi kelahiran Mesias tersebut laik seorang raja. 

Namun adalah sebuah ironi yang terbilang raksasa, bilamana Dia yang dirindukan itu sekaligus juga ditolak. Ada bukti-bukti tentang hal ini.

Pertama-tama, bahwa ramalan nabi Yesaya terjawab ketika Maria dikandung dari Roh Kudus. Tetapi tunangannya yang bernama Yusuf itu, mentah-mentah ingin menceraikan Maria secara diam-diam. Dia malu lantaran Maria dikandung tanpa terlebih dahulu menjalin hubungan laik suami-istri.

Tidakkah Yusuf sadar bahwa ia itu keturunan Daud? Dalam ramalan Yesaya, jelas-jelas dituturkan, dari keturunan Daud itulah, Mesias akan lahir. Tampak Yusuf menolak Maria untuk dijadikan istri, tapi tindakan Yusuf itu jauh lebih dalam maknanya, yakni Yusuf menolak Mesias yang dirindukan itu. Padahal, Yusuf sebagai keturunan Daud tentu masuk dalam kerangka “laku rindu” tersebut, (Mat 1:19-24).

Maria berusaha meyakinkan Yusuf, tetapi Yusuf tak teryakinkan juga. Dalam sebuah film bertajuk “Saint Joseph”, terlihat adegan dimana Maria berada pada titik keputusasaan, dia memberikan sebuah batu lumayan besar kepada Yusuf dengan tujuan Yusuf dipersilahkan melempari Maria hingga mampus. Yah, kita mengakui Yusuf sebagai pribadi “yang tulus dan tidak mau mencemarkan nama tunangannya di depan umum”, tapi sisi gelap pribadi Yusuf tetaplah tampak jelas. Dan memang, pada akhirnya, Yusuf baru teryakinkan setelah mendapat “mimpi kudus” itu.

Penolakan kedatangan Yesus berlanjut. Sebagaimana cerita biblis, Yusuf dan Maria pergi ke Betlehem untuk melaksanakan sensus penduduk sebagai keturunan Daud. Di luar dugaan, Maria tiba-tiba hendak melahirkan di Betlehem. Siapakah yang merelakan rumahnya ditumpangi keluarga muda asing ini? Tidak ada. Seakan-akan Betlehem itu sepi, ketiadaan penduduk, (Luk 2:6-7).

Masih dalam cerita film tadi. Sekurang-kurangnya, ada empat rumah yang pintunya diketuk oleh Yusuf. Jawaban yang hampir sama didapat Yusuf: “Kamar-kamar di dalam rumahku sudah penuh.” Di rumah yang terakhir, tuan rumah tidak cuma menjawab seperti itu, tetapi ia menambahkan “saya memiliki sebuah kandang hewan peliharaanku, kamu bisa tempati salah satu tenda di dalamnya.” Tentu sangat menyakitkan. Tapi sudahlah, Yusuf menarik lagi keledainya yang ditumpangi Maria yang saat itu sedang meringis kesakitan. Tapi baru berjalan lima langkah, tuan kandang itu meneriaki Yusuf, “Eh, kurang ajar, kandang itu bukan gratis. Silahkan bayar terlebih dahulu.” Sakit, kan? Tak mau ambil pusing, sambil marah-marah, Yusuf melempari tuan kandang itu dengan kantongan yang berisi kepingan uang yang sebetulnya dipersiapkan sebagai bekal perjalanan pulang ke Nazaret. Yusuf kehilangan segala-galanya.

Bersamaan dengan penolakan yang memang bersifat pribadi tapi terasa “masal” itu, Raja Herodes menolak Yesus secara agak unik. Kepada orang majus, ia berkelit ingin melihat dan mengunjungi Anak itu. Dalam hatinya terdapat keangkuhan yang luar biasa, ingin menghabisi Dia. Mengapa? Dia dianggap sebagai tandingannya, (Mat 2:1-8).

Tentu rentetan penolakan terhadap Mesias tidak cuma sampai di sini. Ketika Ia tampil ke depan publik, banyak kalangan menaruh rasa benci kepada-Nya. Bahkan warga kampung-Nya sendiri dengan keras menolak-Nya. Penolakan itu mencapai puncak, ketika Ia dianggap sebagai “terpidana” kasus fiktif “pelecehan terhadap Allah dan penghasut rakyat”, (Mat 27:3-5).

Betlehem Kita

Penolakan terhadap Mesias memiliki variasi alasan, tetapi kerinduan akan Mesias tak mengenal variasi. Cuma satu, umat Israel merindukan Mesias yang adalah Sang Raja Damai. Namun sang pemimpin yang membawa perdamaian itu rupanya tidak ditemukan umat Israel dalam sosok Yesus. Mereka memang sempat mengarak-arakkan Yesus dan mengangkat-Nya secara illegal sebagai raja, tapi hal ini tentu tidaklah cukup.

Lalu apa yang salah? Langsung saja. Yang salah adalah bahwa umat merindukan Mesias yang bisa menjadi pemimpin sebuah bangsa atau kerajaan; pemimpin yang perkasa dan kuat dalam berperang secara fisik. Sebaliknya, Yesus yang datang adalah terutama Sang Raja Damai yang memimpin tiap pribadi dari jalan yang salah ke jalan yang benar. Ketika tiap pribadi bisa kembali ke jalan yang benar, maka mereka pasti akan berjalan bergerombol, hidup dalam persekutuan. Yesus datang untuk mengumpulkan suku-suku Israel dan mempersatukan mereka di bawah keyakinan akan satu Allah yakni Allah nenek moyang (Abraham, Ishak, Yakub).

Tujuan utama kedatangan Yesus adalah membangun kembali hubungan antara manusia dengan Allah yang telah dihancur-leburkan oleh dosa. Oleh karena dosa, hubungan manusia dengan Allah telah rusak, renggang bahkan putus. Yesus datang untuk memulihkan hubungan itu. Dengan itu, pertama-tama Yesus datang untuk mengampuni dosa umat manusia. “Ia akan melahirkan seorang anak laki-laki dan engkau akan menamai Dia Yesus, karena Dia-lah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka,” (Mat 1:21). Maka yang dituntut adalah pertobatan. Yesus ingin merajai hati manusia dan hati seluruh bangsa manusia, bukan cuma hati umat Israel.

Dalam konteks pertobatan itulah, sebuah kandang di sekitar Betlehem itu pun bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, kandang Betlehem di mana Yesus lahir menunjukkan bahwa begitulah cara manusia menerima Tuhan-nya. Terasa sadis memang. Kandang itu adalah hati manusia yang penuh kehinaan, dosa. Maka sebetulnya, ketika Yesus datang, manusia sedang dalam keadaan tidak siap, sekalipun mereka merindukan-Nya selama berabad-abad. Manusia belum sungguh-sungguh bertobat.

Pertanyaannya, apakah Betlehem yang dulu itu masih ada sampai sekarang dalam hati kita dan dalam masyarakat kita? Apakah kita memiliki Betlehem baru yang tidak lagi membuat Yusuf marah-marah, yang tidak lagi membuat Maria meringis kesakitan begitu lama tak menentu?

Kedua, Yesus dilahirkan di kadang menunjukkan bahwa Yesus menempati sisi paling hina dalam diri manusia yakni dosa. Yesus rela merasakan kedosaan kita. Tujuannya, demi mengangkat kita dari kandang dosa dan menempatkan kita pada jalan hidup yang benar. Yesus ingin mengalahkan dosa, maut yang masih merongrong diri kita yang adalah takhta Allah itu sendiri. Dari sisi yang paling hina itu, Yesus kemudian merajai kita dan seluruh laku hidup kita. Dengan itu, kita pun tidak merasa terhina karena Tuhan kita itu lahir di tempat yang tak layak. Kita justru bangga akan Tuhan kita yang dengan segala kekuasaan-Nya ingin merangkul kita pada persekutuan cinta ilahi, Allah Tritunggal Mahakudus.

SELAMAT HARI RAYA NATAL. Kiranya, kelahiran Kristus tidak cuma kita rayakan dalam doa dan perayaan Ekaristi, melainkan terutama dirayakan dalam kehidupan nyata setiap hari seturut konteks hidup kita. Kita pun akan dilahirkan atau diperbarui secara kontinu dalam kerangka kerinduan dan harapan akan hari akhir zaman (parousia) dimana Kristus akan datang kembali untuk menghantar kita kepada kemuliaan-Nya.*** 

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s