Solidaritas, Masyarakat dan Pers

Opini Flores Pos, 3 Februari 2014

Oleh AVENT SAUR

Markas besar Flores Pos Ende didatangi seorang pembaca, Jumat, 10 Januari 2014 lalu. Ia datang dari Kombandaru – Ende untuk membawa bantuan bagi Ferdi, yang dalam Flores Pos,  wadah bantuan itu tersedia dengan nama Kotak Solidaritas Ferdi. Bantuan itu berasal dari anak-anak Sekami Paroki Kombandaru.

Ketika jumlah bantuan itu sedang dicatat dalam kuitansi, beliau sempat berceletuk: “Media ini patut diapresiasi lantaran membuka ruang bagi masyarakat untuk mewujudkan rasa solidernya kepada orang-orang yang tak berdaya, semisal Ferdi dan Antika (Dompet Antika). Ketika anak-anak Sekami mendengar dan membaca kabar bahwa ada orang yang sakit parah dan tidak memiliki uang untuk membiayai perawatan medis, dengan sukarela mereka mengumpulkan uang ini. Ini memang cuma sedikit, tapi jangan lihat jumlahnya!”

Tidak ada ungkapan yang lebih penting untuk menanggapi celetuk ini, selain mengatakan, terima kasih. Terima kasih untuk apresiasi yang telah dilontarkan, dan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan.

Namun rasanya, tanggapan terhadap celetuk bermakna itu tidak cukup kalau hanya berhenti pada ucapan terima kasih. Ada sesuatu yang menggelitik yang mesti ditelusuri lebih jauh dan mendalam. Sekurang-kurangnya, berkaitan dengan dua ungkapan: media memberikan ruang dan masyarakat mewujudkan rasa solidernya.

Masyarakat yang Solider

Mengatakan “masyarakat mewujudkan rasa solidernya” memperlihatkan bahwa di dalam diri (warga) masyarakat terdapat satu nilai yang disebut “solidaritas”. Nah, apa itu solidaritas? Pada umumnya, solidaritas diartikan sebagai kesetiakawanan, dan bersikap solider berarti bersikap setia kawan. Namun setia kawan tidak berarti bahwa solidaritas itu hanya diberikan kepada siapa yang menjadi kawan, lantas orang lain menjadi lawan. Dalam kesetiakawanan, yang ditekankan adalah kebutuhan. Kesetiakawanan diwujudkan kepada siapa saja yang membutuhkannya, entah orang itu mengatakan atau memperlihatkan bahwa dia sedang membutuhkan, atau juga kebutuhan orang itu terbaca oleh orang lain.

Hal ini menunjukkan bahwa tujuan dari kesetiakawanan adalah mengisi kebutuhan orang lain di mana orang lain itu tidak mampu mengisinya sendiri, atau bahkan orang lain itu samasekali tidak berdaya melakukannya sendiri. Ia pun menaruh harapan atau bahkan menggantungkan hidupnya kepada sesama.

Kalau orang lain itu, misalnya, sedang mengalami ketidakadilan, maka ia membutuhkan pembebasan dari ketidakadilan itu. Dahulu di Eropa, pada abad ke-19, para buruh (kaum proletar) mengalami ketidakadilan yang dipertontonkan oleh majikan (kaum kapitalis). Orang dari kalangan menengah berjuang bersama kaum buruh menuntut keadilan. Pada saat itulah, gerakan solidaritas buruh muncul. Dari kalangan Gereja Katolik Roma, melalui dokumen Rerum Novarum (Hal-Hal Baru) yang dikeluarkan oleh Paus Leo XIII pada 15 Mei 1891, tampil sebagai seruan solidaritas terhadap kaum buruh. Solidaritas itu diwujudkan lintas sekat-sekat apapun.

Demikian pun dalam konteks Kotak Solidaritas Ferdi dan Dompet Antika. Kedua orang ini sedang mengalami penderitaan hebat baik dari sisi fisik (sakit) maupun sisi ekonomi (miskin). Yang mereka butuhkan adalah kesembuhan dan uang (perubahan dan pembebasan dari keadaan sakit). Mereka menggantungkan harapan hidupnya kepada sesamanya. Dan khusus soal uang, mereka sudah memperolehnya.

Tampaknya, hal ini bisa dikatakan “bak gayung bersambut”: ada yang membutuhkan dan pada saat yang sama ada juga yang mengisi kebutuhan itu. Namun sebetulnya, ini bukan semata-mata perkara pribahasa. Nilai solidaritas dan perwujudannya memiliki dasarnya dalam hakikat manusia sebagai makhluk sosial (homo sosiale). Bahwasanya, manusia harus hidup bersama dalam masyarakat. Dan hal yang paling kentara dalam hidup bermasyarakat ialah saling ketergantungan di antara individu-individu, dan di atas saling ketergantungan itulah manusia harus mempertontonkan kerja sama yang terarah kepada kesejahteraan bersama. Dan ketika kerja sama ada, maka solidaritas pun terwujud.

Mungkin kita sedikit kembali lagi kepada ajaran sosial Gereja Katolik. Dalam ajaran sosial yang dikumandangkan Gereja (saya yakin semua agama memiliki ajaran sosial), solidaritas dipandang sebagai sebuah hakikat sosial yang paling intrinsik dalam pribadi manusia. Dengan kaca mata solidaritas tersebut, setiap orang harus memandang sesamanya setara, baik martabat maupun hak-haknya, dan solidaritas dijadikan jalan bagi semua orang menuju persatuan dan kedamaian.

Masyarakat, termasuk anak-anak Sekami, serta siswa-siswi berbagai sekolah, yang solidaritasnya diwujudkan dengan cara memberikan sekeping duit kepada Ferdi dan Antika, setidaknya, sedang mewujudkan nilai kedamaian dan persatuan ini. Mereka menyadari makna dari saling ketergantungan dalam kehidupan bersama, mengetahui arti dari sebuah kerja sama, dan terdorong untuk membawa sesamanya kepada perubahan atau pembebasan. Dan dengan itu, meminjam ungkapan Franz Magnis-Suseno (Filsuf dan Teolog tinggal di Jakarta), solidaritas adalah sebuah praksis pembebasan. Ferdi dan Antika pun merasa bahwa perjuangan hidup mereka bukanlah sebuah perjuangan tanpa keterlibatan sesama; ada sesama yang menaruh empati pada keadaannya; ada perjuangan bersama dalam menjalani hidup di dunia ini.

Pers yang Solider

Namun untuk mewujudkan solidaritas itu, dibutuhkan ruang dan waktu. Di mana-mana dan kapan saja, sebetulnya, kita menemukan pelbagai ruang dan begitu banyak waktu. Namun ruang dan waktu itu tidak serta-merta membuat kita tergugah dan terdorong begitu saja untuk memanfaatkannya. Entahlah, mengapa hal ini terjadi. Dalam konteks celetuk yang diutarakan oleh pembawa bantuan di atas tadi, ruang dan waktu itu disediakan secara istimewa oleh media (pers) Flores Pos.

Hampir semua orang mengakui bahwa pers adalah sarana komunikasi yang telah berhasil memapankan relasi di antara individu-individu (etika pers). Memapankan, baik relasi di antara orang-orang yang sudah saling mengenal, maupun relasi di antara orang-orang yang samasekali tidak atau belum mengenal satu sama lain. Sebagai salah satu sarana komunikasi, Flores Pos telah membawa Ferdi dan Antika untuk dekat dengan orang-orang yang tidak mengenal mereka, dan lebih dekat lagi dengan orang-orang yang sudah mengenal mereka. Di sini Flores Pos hadir ke ruang masyarakat untuk menggedor hakikat sosial yang paling intrinsik dalam diri setiap pribadi, dan dengan gedoran itu, setiap pribadi mewujudkan solidaritasnya.

Di tengah situasi masyarakat yang sekian cepat dilanda egoisme (sikap mementingkan diri) dan hedonisme (berfoya-foya mencari kesenangan sesaat), gedoran Flores Pos tentu menghadirkan tantangan yang khas. Setiap pribadi ditantang untuk keluar dari kepentingan dirinya, berbagi dengan sesama, melangkah menjangkaui yang lain, mewujudkan relasi saling ketergantungan dan menciptakan keterikatan atau persatuan dengan sesama yang notabene memiliki martabat dan hak yang sama untuk merasakan kesejahteraan dalam hidupnya.

Lebih dari lingkup pribadi, sebuah lembaga publik (pemerintah) ditantang untuk mewujudkan kepublikannya dengan mengutamakan keadilan yang “seadil-adilnya” (keadilan substansial) bagi setiap pribadi yang sedang mengalami penderitaan. Dalam konteks Gereja, hal seperti ini terangkum dalam prinsip preferential option for the poor (pilihan mendahulukan orang miskin). Sebagai sebuah media milik serikat religius, Flores Pos sungguh mengedepankan prinsip (atau menaati ajaran Gereja) ini sekalipun hanya melalui gedoran yang mungkin dengan bunyi tak seberapa kuat. Dan sesungguhnya, gedoran yang nyata disambut dengan solidaritas yang nyata pula.

“Ini memang cuma sedikit, tapi jangan lihat jumlahnya!” kata warga masyarakat dermawan tadi. Inilah ciri khas masyarakat yang solider yang memanfaatkan ruang yang diberikan oleh pers yang solider pula. ***

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s