Dia Itu Penjahat?

  • Mimbar Flores Pos, Sabtu, 22 Februari 2014

Oleh Avent Saur, SVD

Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu (Mat 5:38.43)

Membaca kata-kata ini, saya teringat akan pengalaman unik dan langka beberapa pekan lalu. Dan dari pengalaman itulah, saya memberikan judul renungan ini.

orang gila

ILUSTRASI – Orang yang mengalami gangguan mental (jiwa) atau gila dipasung dengan menggunakan kayu pada kedua kakinya. Kita tidak memiliki alasan untuk tidak menghargai martabatnya sebagai manusia.

Pada Minggu, 9 Februari 2014, saya merayakan misa di salah satu kapela lingkungan istimewa di wilayah Paroki Roworeke, Keuskupan Agung Ende. Lingkungan itu disebut istimewa karena di sana ada kapela, dan tanpa kapela itu, umat di kampung tersebut akan sulit menghadiri misa di kapela stasi yang berjarak cukup jauh.

Sudah hampir satu tahun terakhir, saya melayani misa bagi umat di wilayah Paroki Roworeke tersebut. Entah di gereja paroki, kapela-kapela stasi atau juga di kapela-kapela lingkungan istimewa.

Soal Dosa

Pada Minggu, 9 Februari itu, usai misa saya diminta untuk mendengarkan pengakuan dari seorang yang sakit, mengalami gangguan jiwa, gila. Yah, sekalipun umat itu gila, tetapi kalau dia minta dengan “hormat”, tentu seorang pastor tidak boleh menolaknya. Katanya, sejak pagi buta, umat gila itu menangis tersedu-sedu, memaksa ayahnya untuk meminta ketua lingkungan menghubungi pastor. Awalnya, ayahnya menolak tapi akhirnya juga mengabulkan “pemaksaan” si anak.

Namun, kemudian baru saya ketahui bahwa umat gila itu terpasung karena bertindak kriminal, membunuh seorang mosalaki di kampung tersebut pada 7 Oktober 2013 lalu. Bukan tidak mungkin, umat gila yang bernama Anselmus Wara (30 tahun) itu akan mengakui dosa pembunuhan tersebut. Dan benar, setelah saya memasuki sebuah kamar di mana ia sedang terpasung, Ansel mengatakan sambil menangis terisak-isak: “Pastor, tolong saya. Saya mau mengakui dosa saya. Saya ingat sedikit bahwa saya pernah membunuh. Dan oleh karena dosa itu, maka saya jadi begini. Saya mau mengakui dosa, dan saya mohon, lepaskan saya dari pasungan ini. Saya sudah tidak tahan lagi.”

Anselmus memang tampak tak bertahan lagi. Kedua kakinya yang dipasung terentang itu sudah mengeluarkan bau busuk. Luka borok, dan juga ada ulat-ulat. “Sakit sekali,” teriaknya sambil menangis sejadi-jadinya. Kalau tidak dilepaskan, ujarnya, biar diperlonggar saja, supaya kedua kaki ini bisa diobati. Demikian juga permintaan ayahnya. “Mereka mau kasi mati anak saya,” ujar sang ayah dengan nada sedih yang setia mendampingi anaknya itu.

“Di rumah ini, cuma kami dua saja. Mama sudah ‘mendahului’, kakak-kakak dan adik-adik saya sudah meninggalkan rumah ini. Istri dan anak saya juga sudah pergi,” ujar Ansel tak henti dengan raut wajah mengundang empati.

Balas Dendam

“Mereka mau kasi mati anak saya.” Siapakah mereka itu? Katanya, Anselmus dipasung oleh seluruh warga kampung tersebut, terutama keluarga korban. Ia tidak bisa diproses secara hukum karena ia gila. Soal sakramen pengakuan tadi, saya tidak memikirkannya lagi, setelah menjelaskan kepada Ansel dan ayahnya, bahwa itu hanya bisa didengarkan dan diabsolusi oleh pejabat Gereja yang menerima tahbisan tertinggi, yakni uskup. Saya terfokus kepada mereka yang memasung Ansel.

Toh, bukan soal pemasungan itu sendiri, tapi soal kedua kaki yang luka borok itu, yang diminta Ansel untuk diobati. Setidaknya, pasungan itu diperlonggar. Kalau tidak, bukankah ini sama halnya dengan perbuatan membunuh? “Warga kampung itu membunuh Anselmus dengan cara pemasungan,” kira-kira demikian isi hati saya.

Ansel dan ayahnya, saya tinggalkan, dan segera menemui beberapa anggota keluarga korban yang rumahnya tak jauh dari rumah Ansel. Kepada mereka, dengan terus terang, saya menceritakan keadaan Anselmus. Apa jawaban mereka? “Ya, tuan, mau bagaimana lagi? Biarkan dia terpasung demikian?” ujar salah seorang Bapak. “Bagaimana kalau Ansel mati di pasungan?” tanya saya menantang. “Ah, dia itu kan penjahat. Dia harus dihukum begitu,” ujar seorang ibu dengan nada agak tinggi. “Ansel itu penjahat?” seketika hati saya membisik.

“Di wilayah sekitar ini, sudah ada beberapa orang gila yang mati di pasungan. Mereka dibiarkan mati begitu. Ansel masih lebih baik, dipasung dan tinggal di rumah. Dahulu, ada orang gila yang dipasung dan dibiarkan tinggal di bawah naungan pohon kakao (cokelat),” ujar beberapa warga lain.

Rasanya, sangat risih. Mereka bercerita dan berkomentar tanpa rasa kemanusiaan. Lalu di manakah identitas Kristiani mereka?

Identitas Kristiani

Bacaan Injil (Mat 5:38-48) untuk Minggu besok merupakan sambungan dari bacaan dua Minggu sebelumnya. Semuanya berisi khotbah Yesus di sebuah bukit di wilayah Galilea. Dengan khotbah tersebut, Yesus menuntut identitas baru kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya, termasuk umat di lingkungan istimewa tadi.

Untuk sampai pada identitas baru itu, Yesus menyitir apa yang terjadi dahulu pada zaman Perjanjian Lama. Dahulu, kata Yesus, berlaku hukum balas dendam: gigi ganti gigi, mata ganti mata. Kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu. Hukum balas dendam itu biasa disebut lex talionis. Kalau orang memukul saya di pipi, maka saya harus memukulnya di pipi juga. Kalau Bapak saya dimaki, maka saya juga harus memaki Bapaknya. Kalau seorang anak dibunuh, maka anak orang yang membunuh itu juga harus dibunuh.

Dalam kasus di tengah umat Katolik lingkungan istimewa tadi, lex talionis ini rupanya sedang berjalan. Mosalaki dibunuh, maka Anselmus juga harus dibunuh, sekalipun dengan cara yang berbeda. Mosalaki dibunuh dengan parang, Anselmus “dibunuh” dengan pemasungan, sekurang-kurangnya bertolak dari komentar beberapa warga tadi (sekarang Ansel masih hidup, sekalipun sudah “setengah mati”). Katanya, pembunuhan yang dilakukan Anselmus hanyalah puncak dari segala tindakan yang mengacaukan warga kampung tersebut sejak dia mengalami gangguan jiwa. Dan sebaliknya, pemasungan menjadi puncak dari segala rasa kecewa, emosi dan kebencian warga kampung tersebut terhadap Anselmus.

Yesus ingin umat Perjanjian Lama yang kini memasuki sebuah Perjanjian yang Baru, meninggalkan hukum lama dan memegang hukum baru yang diwarnai cinta kasih. “Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Yang dituntut Yesus adalah kita hendaknya “berbuat lebih” daripada orang lain. Bukan supaya kita “lebih baik” melainkan memang demikianlah tuntutan identitas kristiani. Kalau tidak berbuat lebih, maka iman kita akan Yesus adalah sia-sia.

Pengalaman-pengalaman harfiah sebagaimana terjadi di kampung tadi mungkin tidak pernah terjadi di lingkungan di mana kita tinggal. Tetapi model balas dendam terhadap orang yang menyakiti diri kita tidak mungkin tidak ada. Dalam konteks ini, kita selalu diingatkan Yesus: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Hal yang sama tentu berlaku tentang Anselmus: “Kasihilah Anselmus dan berdoalah baginya, serta maafkanlah dia.”

Apakah lebihnya kita sebagai pengikut Yesus kalau kejahatan dibalas dengan kejahatan pula? Pada dasarnya tidak ada manusia penjahat; yang ada cuma manusia yang berbuat jahat. Kejahatan yang dilakukan manusia samasekali tidak menghilangkan martabatnya sebagai manusia. Anselmus itu penjahat? Tidak! ***

Artikel terkait: Dosa Pembunuhan? (1) *“Kadang Error, Kadang Waras” (2) *Tersingkir Secara Sosial dan Religius (3) *Warga Kurumboro Bongkar Rumah Anselmus *Kondisi Anselmus Semakin Kritis *Anselmus Wara Telah Dievakusi *Sadisme Kolektif *Ketika Negara Gagal Bertindak *Anselmus, Pemasungan dan Humanisme  *Balas Dendam Sudah Lama Berlalu (1) *Balas Dendam Sudah Lama Berlalu (2) *Malam Puisi Tumbuhkan Kepedulian Sosial *Hikayat Anselmus*Malam Puisi untuk Anselmus *Sebulan Dirawat, Anselmus Semakin Membaik *Anselmus Jalani Perawatan Lanjutan

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in RENUNGAN and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s