Memaknai Budaya “Reba” di Ngada (1)

Flores Pos, Senin, 24 Februari 2014

“Uwi” Versus “Hui”

Oleh FIRMINA ANGELA NAI (Dosen FKIP Undana Kupang. Artikel ini dipublikasikan di blog ini setelah mendapat izin dari penulisnya.)

Reba

BUDAYA REBA – Inilah salah satu tarian dalam budaya reba yang digelar setiap tahun oleh masyarakat Ngada. Tampak bapak-bapak sedang menari saat pagelaran budaya reba diaspora di Kupang, Sabtu (9/2) lalu. (foto:floresbangkit.com/bone pukan)

Sejak akhir Desember sampai akhir Februari setiap tahun, masyarakat Ngada menggelar ritus reba; sebuah budaya yang sifatnya wajib dilakukan dalam berbagai bentuk dan versi. Mengapa wajib? Budaya ini merupakan salah satu pilar utama   masyarakat Ngada dalam memaknai kehidupannya. Model pemaknaan dilakukan dengan merujuk pada fenomena sebuah suku bangsa agraris yang bersifat komunal.

Mungkin saja istilah-istilah tersebut sudah kurang pas untuk era pengetahuan abad ini, namun era pengetahuan tetap merujuk pada sejarah sebagai sumber informasi dan sumber pembelajaran.

Empat Tahap Perkembangan Budaya

Saya mengutip Galbreth (1999) melalui Wasis Dwiyogo (2014), Doktor Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang dan salah satu penggagas Pembelajaran Visioner dalam e-booknya menyatakan bahwa sekarang ini kita telah memasuki masa yang disebut sebagai abad pengetahuan (knowledge age). Perkembangan budaya manusia terdiri atas empat tahap, yaitu abad agraris (sebelum tahun 1880), abad industri (1880-1985), abad informasi (1955-2000), dan abad pengetahuan (1995-sekarang).

Tahap-tahap sejarah peradaban manusia tersebut dilakoni melalui belajar sepanjang hayat. Pada abad pengetahuan berbagai karakteristik yang melingkupi kehidupan sangat berbeda dengan karakteristik kehidupan abad industri dan abad pertanian. Pada abad pengetahuan, teknologi utama yang menjadi landasannya adalah komputer, pada abad industri berupa mesin, sedangkan abad pertanian berupa bajak.

Dinamika kehidupan manusia turut mempengaruhi dan dipengaruhi oleh fenomena peradaban tersebut meski sifatnya tidak menyeluruh dan serta-merta. Konstelasi pikiran dan perasaan manusia turut terjelma melalui rakitan peradaban tersebut. Dan dengan meminjam istilah Pater Dr. Hubert Muda SVD tentang narasi kemanusiaan, maka segala pikiran, perkataan, tindak tanduk, sikap, bahkan kerlingan mata kita, menarasikan kualitas kemanusiaan kita berdasarkan fenomena peradaban tersebut.

Narasi kemanusiaan abad pengetahuan tentu bermuara dari landasan teknologi komputer yang tidak lagi berjarak dan beruang. Kualitas manusia abad ini adalah manusia yang antara lain mampu berpikir dan berbuat secara kritis. Kualitas manusia abad industri, cenderung berpikir secara mekanis, cepat dan tepat karena diukur dari dan dengan kualitas mesin. Dan kualitas manusia abad pertanian bermuara dari teknologi bajak yang berjalan berat dan lamban meskipun pasti.

Bajak dalam bahasa Ngada disebut luku yang merupakan polisemi bajak dan dendam. Mungkin ada benar, jika kedua makna tersebut dianalogikan satu dengan yang lainnya. Orang yang dendam biasanya menunggu saat yang tepat untuk membalasnya. Menunggu memerlukan waktu yang meski lamban, tapi pasti akan datang.

“Reba”: Momentum Introspeksi Diri

Reba, bagi masyarakat Ngada sebagai pelaku budaya tersebut, merupakan ruang dan waktu yang ditetapkan secara khusus dan istimewa untuk merefleksi, menginstrospeksi diri, dan mengaca diri. Bermenung tentang apa yang telah dibuat sepanjang tahun yang lampau. Berbuat apa bagi diri sendiri, keluarga, sebaya, sesama, dan siapa pun. Mereka merenungkan makna kemanusiaan masing-masing.

Reba dilakukan secara berulang kali setiap tahun dengan mekanisme yang sama sesuai karakteristik setiap kampung. Reba adalah ritual musiman yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang telah ditetapkan sesuai dengan siklus lingkaran alam dan dilakukan secara berulang kali. Reba dilakukan pada musim dengan curah hujan yang cukup ekstrim dan masa paceklik yang juga ekstrim, karena lumbung sudah kosong, kebun baru ditanami. Pada masa ekstrim tersebut, semua orang diajak masuk ke kampung, pulang ke rumah adat masing-masing melalui ungkapan yang dapat disimbolkan dengan pulang ke jati diri, pulang ke hati nurani merenungkan apa yang telah dibuat bagi diri dan sesama, untuk bersyukur atas apa yang telah diperoleh dari Sang Maha Empunya.

Karakteristik utama yang nyaris serupa untuk setiap tahun pada setiap kampung adalah tiga rangkaian ritual reba yakni kobe dheke, o uwi, dan kobe dhoi. Kobe dheke berarti malam naik; malam ketika seluruh penghuni kampung diharapkan pulang ke rumah adat masing-masing. Pada sisi ini, pulang bermakna harafiah, yakni pulang ke kampung halaman, ke rumah adat, karena setelah reba, penghuni kampung kembali ke kebun, ke tempat kerja masing-masing. Pulang juga berkonotasi dengan pulang ke jati diri untuk bermenung.

Pada sisi ini, reba memberi ruang bagi mereka yang tidak bisa pulang ke kampung secara harafiah. Berkembanglah istilah reba diaspora. Masyarakat Ngada di Kupang melakukan reba di Kupang, masyarakat Ngada di Denpasar melakukannya di Denpasar, dan yang paling anyar melakukan itu adalah masyarakat Ngada diaspora di Jakarta. Gaungnya cukup heboh karena berlangsung di pusat ibu kota. Sama seperti pulang ke kampung harafiah, Reba diaspora juga mengusung makna mengenang bahwa setiap manusia memiliki asal dan usul. Setiap manusia memiliki sejarah yang menarasikan kualitas kehidupan masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.

Rangkaian kedua adalah o uwi, tarian massal di tengah kampung sebagai ungkapan kegembiraan karena masih berkesempatan pulang kampung, berkumpul dengan segenap anggota keluarga dan sesama sehalaman kampung dan juga dari kampung lainnya.

Sebagian ana sa’o (anak kampung) menari dan bergembira di tengah kampung, ana sa’o lainnya tetap berada di dalam rumah untuk menjamu siapa saja yang mau singgah ke rumah tersebut. Jamu-menjamu juga merupakan ungkapan kegembiraan sekaligus menarasikan kualitas kemanusiaan tentang apa dan berapa yang berhasil dikerjakan dan dikumpulkan selama setahun. Kesempatan untuk berbagi rejeki yang berhasil diraih dalam bentuk makanan dan minuman. Hal ini wajib dilakukan agar lumbung yang telah terisi penuh itu tertumpah keluar untuk kemudian diisi kembali setelah reba.

Kesempatan ini menarasikan kualitas kemanusiaan yang mau berbagi dengan orang lain. Hal itu tergambar secara visual melalui kita ata benu teda atau teda sao da le ja yang berarti penuh tidaknya para tamu dijamu di pendopo rumah, atau pendopo tersebut sepi dan dingin, meski di tengah kampung sedang diriuhrendahkan oleh tarian dan nyanyian. Sebuah visualisasi konkrit tentang narasi kemanusiaan penghuni rumah tersebut.

Hal ini tentu saja tidak dapat dilakukan pada momentum reba diaspora, dan oleh karena itu, masyarakat Ngada diaspora diwajibkan sesekali pulang ke kampung harafiah sehingga berkesempatan menuangkan lumbung untuk dapat diisi kembali. Berkesempatan menarasikan kemanusiaannya pada warga kampung halaman yang mungkin sudah bertambah dengan orang-orang baru atau generasi baru.***Editor: Avent Saur

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s