Memaknai Budaya “Reba” di Ngada (2)

Flores Pos, Selasa, 25 Februari 2014

Uwi Versus Hui

Oleh FIRMINA ANGELA NAI (Dosen FKIP Undana Kupang. Artikel ini dipublikasikan di blog ini setelah mendapat izin dari pengirimnya)

Reba1

BUDAYA REBA – Inilah salah satu tarian dalam budaya reba yang digelar setiap tahun oleh masyarakat Ngada. Tampak bapak-bapak sedang menari saat pagelaran budaya reba diaspora di Kupang, Sabtu (9/2) lalu. (foto/floresbangkit.com)

Rangkaian ketiga adalah kobe dhoi atau kobe su’i yang mengusung beberapa makna, antara lain malam penuturan kisah perjalanan leluhur. Asal-usul masyarakat Ngada sampai dengan ana woe (ikatan suku) dituturkan oleh penatua rumah adat tersebut kepada seluruh anak cucu yang hadir. Kisah perjalanan para leluhur dalam ruang dan waktu sekarang dapat diinterpretasikan sebagai perjalanan rohani menelusuri jati diri.

Jika laut dan gelombang adalah sarana dan rintangan yang berhasil dilalui para leluhur sampai menemukan pelabuhan yang damai, maka pahit dan getirnya kehidupan adalah sarana generasi masa kini meraih kehidupan yang baik dan berhasil. Para leluhur melalui kisah su’i uwi telah menarasikan kualitas kehidupannya dengan mewariskan berbagai petuah dan nasehat serta budaya, termasuk reba. Pada masyarakat diaspora, ritual ini dapat dipadukan dengan khotbah para imam dan wejangan para penatua.

Masyarakat Ngada, pelaku budaya reba sangat tahu dan ingat bahwa pada setiap pesta reba, ada beberapa frase kunci yang dikumandangkan berulang-ulang pada waktu o uwi, yakni uwi tebu toko, meze go lewa laba, koba rako lizu, kabu  rame nitu, lobo soi Dewa. uwi kutu koe, koe dhano ko’e, uwi hui moki, moki bha’i moli. Frase-frase kunci tersebut, jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kurang lebih berbunyi: ubi tumbuh perkasa, sebesar gong sepanjang gendang, rambatnya merangkul angkasa, akar menggeluti bumi, pucuk menggapai Sang Khalik, ubi digali landak digali tiada habis, ubi, disungkur celeng, sungkur tiada pupus.

Ungkapan yang sangat dahsyat ini secara harfiah mengusung empat kata kunci yakni uwi (ubi), kutu (landak/hama/musuh petani), hui (celeng/babi hutan/hama), dan Dewa/Nitu (Penguasa langit dan bumi). Uwi dan hui (ubi dan babi hutan) yang menjadi refleksi utama reba tahun 2014 ini adalah simbol manusia Ngada.

Manusia dalam Budaya “Reba”

Rangkaian tuturan di atas mencerminkan siapakah sesungguhnya manusia menurut budaya reba. Ungkapan itu menjadi wadah manusia untuk bercermin dan bertanya diri, bagaimana kualitas kemanusiaan saya? Kualitas kemanusiaan yang biasa disemiotikkan melalui uwi dan hui atau ubi dan babi hutan/celeng.

Uwi adalah makanan utama para leluhur ketika melakukan perjalanan dari suatu tempat yang sudah tidak diketahui sehingga disebut giu gema yang berarti gelap gulita. Giu gema dapat diinterpretasi dengan berbagai makna. Kedua kata ini bisa diinterpretasi sebagai gelap gulita, tidak kelihatan, tidak diketahui ataupun biarlah menjadi gelap dan tidak terlihat lagi karena tempat itu bukan yang sangat penting. Yang paling penting adalah kualitas kita sebagai manusia di abad pengetahuan ini.

Oleh karena uwi adalah makanan, maka uwi menjadi simbol manusia yang berkualitas, yang mau dan rela memberikan diri, waktu, pikiran dan tutur katanya demi pencerahan, perbaikan dan kebermaknaan hidup orang lain.

Manusia disemiotikkan leluhur dengan uwi melalui tuturan uwimeze go lewa laba, ladu wai poso, koba rako lizu, lobo soi Dewa, kabu rame nitu. Artinya, manusia yang berkualitas, berpendirian teguh, berwawasan luas, berakhlak mulia, namun tetap memijaki bumi dalam arti peduli dengan manusia lain yang miskin dan berkekurangan. Manusia dengan kualitas demikian menarasikan dirinya sebagai sosok yang merelakan dirinya untuk berpikir dan terlibat dengan dan untuk orang lain. Semuanya itu bisa memberikan solusi bagi manusia lain melalui talenta atau predikat masing-masing.

Manusia juga disemiotikkan dengan hui atau celeng/babi hutan.Hui adalah hama, perusak tanaman dan pengganggu petani. Dalam tuturan di atas disebutkan uwi kutu koe, koe dhano ko’e, uwi hui moki, moki bha’i moli. Dalam kehidupan manusia yang menarasikan kualitasnya sebagai uwi, bukan tidak ada tantangan. Realitas kehidupan (sebagaimana disinyalir para leluhur) menampakkan adanya manusia yang berkualitas hui tersebut. Sepak terjang hidupnya menarasikan kualitas sebagai pengganggu, perusak, buas, dan sifat-sifat babi hutan sebagai hama dan musuh petani. Sifat-sifat hui tersebut juga dinarasikan melalui talenta dan predikatnya masing-masing. Melalui ungkapan di atas para leluhur mengingatkan kita untuk selalu berpaling kepada jati diri. Seyogyanya, semua manusia berkualitas uwi, yang meskipun diganggu celeng atau landak, dia tak tergoyahkan.

Reba sebagai warisan budaya para leluhur patut dilestarikan melalui pelaksanaannya secara berulang setiap tahun, dengan atau sesekali pulang kampung, agar manusia selalu disadarkan pada jati dirinya yang seharusnya berkualitas uwi bukan hui.

Dalam kaitan dengan keberadaan orang Ngada sebagai generasi sekarang yang merupakan pemegang hak atas seluruh warisan budaya para leluhur, saya mengajak untuk merefleksinya melalui pernyataan Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul Outliers. Resensi buku ini saya baca dalam Transnusa Inflight Magazine (2013). Gladwell mengatakan bahwa “hanya dengan menanyakan dari mana seseorang berasal, kita dapat mengungkapkan logika di balik yang berhasil dan yang tidak”.

Gladwell melanjutkan bahwa “warisan budaya adalah kekuatan yang kuat, dan dengan memilikinya, kita bahkan memiliki kekuatan dan kehidupan yang panjang. Warisan budaya membuat kita bertahan dari generasi ke generasi, hampir utuh, bahkan ketika kondisi ekonomi, sosial dan demografi yang melahirkan kita lenyap, budaya tetap memainkan peran dalam mengarahkan perilaku kita. Kita bahkan tidak dapat memahami dunia tanpa warisan budaya.

Belajar dari Bapa Ose

Saya tutup tulisan ini dengan kisah sederhana orang Bajawa menerjemahkan kata nenu atau cermin. Bapa Ose ingin membeli cermin di toko Baba Sakelake (zaman dulu hanya orang Cina yang pakai celana panjang). Dalam perjalanan, Bapa Ose terus berpikir tentang apa bahasa Melayu dari kata nenu (cermin). Setiba di toko, Bapa Ose memilih untuk mendeskripsikan nenu pada Baba Sakelake. “Baba, saya mau beli itu barang, yang kalau saya lihat dia, dia lihat saya,” ujar Bapa Ose.

Deskripsi Bapa Ose tentang nenu terkesan sangat sederhana, namun memiliki makna yang sangat mendalam bahwa seyogyanya dalam kehidupan ini, kita hendaknya saling melihat atau lihatlah dulu diri sendiri, baru melihat orang lain, karena ketika kita melihat dia, dia juga akan melihat kita. Siapakah kita? Uwi atau hui? Bukan tidak mungkin, antara uwi dan hui selalu berkecamuk di dalam diri kita. Uwi versus hui. ***Editor: Avent Saur

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s