Dosa Pembunuhan? (1)

terpasung

TERPASUNG – Anselmus Wara (30 tahun) yang mengalami gangguan jiwa, terpasung setelah melakukan tindakan kriminal membunuh mosalaki Leonardus Langi (77 tahun) pada Senin (7/10/2013) lalu. Kedua kakinya mengalami luka borok, berbau busuk, berulat, juga pantatnya penuh luka, setelah lima bulan terpasung. Ia meneteskan air mata saat dikunjungi, Minggu (9/2) lalu.

  • Lima Bulan Terpasung, Kaki Anselmus Wara Luka Borok

Oleh Avent Saur

Sejak Mei 2013, saya menyusuri kampung-kampung di wilayah Paroki Roworeke, Ende. Tujuannya cuma satu, merayakan ekaristi di gereja pusat, kapela-kapela stasi dan lingkungan. Usai ekaristi, biasanya, saya diajak untuk bercerita sambil menikmati sajian makanan ringan atau juga santap siang bersama dengan pengurus komunitas umat basis (KUB), stasi atau lingkungan. Karena ini sudah menjadi kebiasaan, dan terasa sudah akrab dengan umat setempat, maka sekian sering saya secara ‘spontan’ menanyakan soal tempat berkumpul untuk bercerita-cerita.

“Bukan Cuma Boleh”

Pada Minggu, 9 Februari 2014, saya merayakan ekaristi dengan umat di lingkungan (kampung) Kurumboro (Desa Tiwu Tewa, Kecamatan Ende Timur). Oleh umat setempat, lingkungan ini disebut sebagai lingkungan istimewa, dan ia istimewa lantaran di sana terdapat sebuah kapela berukuran kecil. Kalau tidak ada kapela, maka sulit bagi mereka untuk menghadiri ekaristi di Kapela Stasi Detumbawa, yang notabene berjarak cukup jauh.

Ketika itu, hal yang ‘spontan’ tadi muncul. “Pa, kita duduk bercerita-cerita di mana?” tanya saya ingin tahu, kepada ketua lingkungan. “Di KUB saya, tuan. Di sebuah rumah yang berdekatan dengan rumah saya,” jawabnya spontan juga.

“Tetapi sebelum ke rumah itu,” lanjutnya, “apa boleh tuan pergi mendengarkan pengakuan seorang umat yang sedang sakit?” “Yah, bukan cuma boleh, tetapi harus! Itu salah satu tugas hakiki seorang pastor. Sebentar, setelah pengakuan, kita akan layani orang sakit itu dengan komuni kudus,” ujar saya dengan kesan militan.

Tetapi semangat pengabdian yang militan itu seketika agak kendur, ketika ketua lingkungan (Bapak Hendrik) membisikkan bahwa umat yang dimaksud adalah seorang yang mengalami gangguan jiwa. “Ia terpasung, tuan. Sejak tadi pagi, ia menangis, mendesak ayahnya untuk menghubungi ketua lingkungan supaya selanjutnya menghubungi pastor,” jelasnya.

Mendengar kata “ia terpasung”, saya pun teringat bahwa sekitar dua bulan sebelumnya, Bapak Hendrik sebetulnya telah menginformasikan ‘seadanya’ tentang umat gila itu. “Ini rumah Bapak Leonardus Langi yang dibunuh oleh orang gila beberapa waktu lalu. Dan itu rumah orang gila tersebut.” Kira-kira demikian bunyi informasi ‘seadanya’ itu. “Ohhhh…..”. Kira-kira demikian respons saya ‘seadanya’ pula pada waktu itu, sambil memandang kedua rumah yang berdampingan itu, lalu berjalan lewat.

Dan sekarang, ketika mengingat lagi respons tersebut, saya sempat bergumam dalam hati, “Kiranya, dengan berjalan lewat, saya tidak gampang disamakan dengan seorang imam dan seorang Lewi dalam cerita Kitab Suci yang ‘berjalan lewat’, yang tidak peduli terhadap seorang tak berdaya di pinggir jalan menuju Yerikho itu,” (bdk. Lukas 10:31-32).

Dosa Pembunuhan?

Nah, kembali ke permintaan ketua lingkungan tadi, apakah umat yang gila itu tetap dilayani dengan sakramen pengakuan? Tentu tidak. Mengapa? Ia dipasung karena telah membunuh. Dan absolusi (pengampunan) atas dosa pembunuhan hanya mungkin diberikan oleh seorang yang telah menerima tahbisan uskup. Imam tidak punya kuasa untuk itu.

Sekadar diketahui, dalam ajaran Gereja Katolik Roma, tahbisan uskup adalah sebuah tahbisan tertinggi. Hanya hierarki Gereja yang menerima tahbisan tertinggi yang memiliki kuasa untuk memberikan absolusi terhadap dosa-dosa berat seperti pembunuhan dan murtad. Demikian juga dispensasi-dispensasi untuk kasus-kasus perkawinan yang khusus, hanya bisa diberikan oleh hierarki yang menerima tahbisan tertinggi tersebut.

Tetapi apakah orang tadi memang memiliki dosa pembunuhan? Ia membunuh dalam keadaan gila. Oleh karena itu, ia tidak memiliki dosa yang tergolong berat itu. Dari aspek hukum sipil juga demikian, ia dinyatakan tidak bersalah, tidak patut diproses secara hukum karena ia melakukan kejahatan itu dalam keadaan gila. Dan oleh karena alasan itulah, maka orang itu diberikan hukuman: dipasung.

Kita tentu tahu bahwa seseorang memiliki dosa kalau ia melakukan (juga mengatakan dan memikirkan) “sesuatu yang melanggar” dalam keadaan sadar (tahu dan mau). Kalau tidak sadar (gangguan psikis), maka ia tidak mengalami dosa. Dalam kaitan dengan umat yang gila ini, kini ia sadar akan dosa-dosanya, terutama dosa pembunuhan tersebut. Ia sadar bahwa ia bersalah, berdosa.

Namun setidaknya, kita merasa bahwa pengalaman orang gila itu terkesan agak aneh. Bahwasanya, “sekarang” dia menyadari kesalahan dan dosa yang “dahulu” dia lakukan dalam keadaan tidak waras. Yah, sekalipun agak aneh, entah siapa pun imamnya, kita tetap konsisten bahwa kalau dia ingin mengakui dosa pembunuhan, maka ia mesti menghadapi uskup, atau uskup datang mengunjungi umatnya.

Apakah mungkin ada dosa lain? Yah, mungkin. Tetapi ketua lingkungan tadi membisikkan juga bahwa ia belum ‘nikah Gereja’. Persoalan ini pun menjadi halangan baginya untuk menerima sakramen pengakuan dosa.

Hampir di pelbagai paroki atau keuskupan, terdapat kebijakan bahwa umat yang kumpul kebo (kawin kampung) dilarang menerima sakramen ekaristi dan sakramen pengakuan. Saat hendak mengadakan nikah Gereja, yang hanya mungkin dilakukan kalau sudah memenuhi pelbagai tuntutan administratif (dan adat-istiadat), umat tersebut baru diperkenankan menerima kedua sakramen tersebut.

Sekian sering, dengan kebijakan pastoral demikian, para pastor ‘dikata-katai’ atau dipersalahkan, dan dengan itu, dipermasalahkan. “Mengapa terlalu ketat? Mengapa rahmat sakramen mesti dibeli dengan uang?” Dan tentu ada pelbagai pertanyaan usil-usil lainnya.

Tentang hal ini, tentu mesti diomongkan lagi lebih mendalam. Mengapa? Sekian sering umat lebih memperhatikan ‘adat-istiadat’ yang diwarnai pelbagai tuntutan ketat, lalu mengabaikan tuntutan imannya sendiri, dan lebih dari itu, membiarkan diri tenggelam dalam kedosaannya (hidup bersama dalam cinta tanpa perestuan Sang Cinta: Allah). Betapa tidak, umat yang gila itu juga terperangkap dalam mekanisme adat-istiadat yang terlalu rigor (kaku) tersebut.

“Anselmus, Pastor Datang…”

Kepada umat gila yang terpasung itu, apa yang layak diberikan? Dari segi ajaran Gereja, tak sedikit pun celah rahmat sakramental untuknya. Namun, kepada ketua lingkungan tadi, saya telah mengatakan “bukan cuma boleh, tetapi harus!” Agak lama, saya terhenti dan berkutat mencari pertautan “antara ajaran Gereja dan perkataan harus” tersebut.

Namun terhenti tidak berarti ‘tidak pergi’. Dengan ayunan kaki agak gesit, kami melangkah ke rumah Anselmus yang hanya berjarak sekitar 20 meter dari Kapela Lingkungan Kurumboro. Baru sampai di pintu rumah yang berukuran 6×7 meter tersebut, Ame Rafael Wanda (sekitar 50-an tahun), ayah kandung Anselmus, berteriak dengan suara sedang, “Anselmus, pastor datang…..” sambil menangis sedih bercampur haru. Bak gayung bersambut, seketika itu juga Anselmus menangis dan berteriak “Pastor tolong saya. Saya tidak bisa tahan lagi. Saya mau mengaku dosa. Saya mau pasungan ini diperlonggar. Atau lepaskan saya, saya tidak sakit lagi.”

Sedih dan belaskasihan, duka dan pilu. “Bukankah ini litani harapan dan kesadaran?” Begitu gumam saya di kedalaman sanubari. Rumah yang sebelumnya sepi, kini tampak riuh tangis. Air mata beriringan jatuh di pipi Anselmus, lalu terus mengalir membasahi sehelai kain yang menutupi kedua pahanya. Sesekali air mata diusap dengan telapak tangan yang tampak ‘najis’ (kotor).

Saya sendiri tak kuasa menahan sedih, ketika menghampiri Anselmus di sebuah kamar berukuran 3×3,5 meter itu. Dari pintu kamar itu, kepala saya kaku, mata melototi wajah Anselmus yang pucat itu. Kedua tangan saya (bercakar) di pinggang seakan-akan ingin menantang wajahnya. Wajah itu sesungguhnya menantang nilai empati dan keterlibatan yang melekat secara hakiki dalam identitas imamat saya.*** (Flores Pos, Kamis, 13 Maret 2014)

Bersambung ke: “Kadang Error, Kadang Waras” (2) dan *Tersingkir Secara Sosial dan Religius (3)

Baca terkait: *Warga Kurumboro Bongkar Rumah Anselmus *Kondisi Anselmus Semakin Kritis *Anselmus Wara Telah Dievakusi *Sadisme Kolektif *Ketika Negara Gagal Bertindak *Anselmus, Pemasungan dan Humanisme *Dia Itu Penjahat? *Balas Dendam Sudah Lama Berlalu (1) *Balas Dendam Sudah Lama Berlalu (2) *Malam Puisi Tumbuhkan Kepedulian Sosial *Hikayat Anselmus *Malam Puisi untuk Anselmus *Sebulan Dirawat, Anselmus Semakin Membaik *Anselmus Jalani Perawatan Lanjutan

Kurumboro

KAMPUNG KURUMBORO – Tampak bubungan seng rumah-rumah warga kampung Kurumboro yang berada di lembah perbukitan Ndungga, Desa Tiwu Tewa, Ende Timur. Pemandangan ini diabadikan dari Jalan Trans Flores, kilometer 14 arah timur Kota Ende, Minggu (16/2).

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Dosa Pembunuhan? (1)

  1. Erni Dini says:

    ya Tuhan…..sedih bgt melihatnya……
    di manakh belas kasihan mereka??

  2. Erni Dini says:

    Apakh tidak ada lgi cara laen yg lebih prikemanusiaan??

  3. Simpet Soge says:

    Makasih telah mengungkap kisah2 yg jarang diungkap.

  4. john naben says:

    ini salah satu bentuk sadisme terhadap hak hidup manusia. terlepas dari perbuatan dan mental, yg waras mulai tdk berpikir waras, sedangkan yg gila makin waras

  5. dominickus menge tuba says:

    Tuhan menambhakan pundi pundi berkat bagimu saudaraku,anda seorang yang jarang berpandangan luas dan melayani dengan hati

  6. Pingback: Orang Gila, Gereja dan Pemerintah | SENTILAN

  7. Pingback: Stop stigma toward mental illness: Health Ministry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s