“Kadang Error, Kadang Waras” (2)

Rumah Anselmus

RUMAH ANSELMUS – Inilah rumah (kanan) di mana Anselmus Wara dan Ame Rafael Wanda menetap. Seturut cerita warga, Minggu (16/2), pintu rumah tertutup karena Ame Rafael sedang berada di kebun, sementara Anselmus tetap tenang di kamar pesakitannya.

  • Lima Bulan Terpasung, Kaki Anselmus Wara Luka Borok

Oleh Avent Saur

Mungkin orang akan mengira sok suci, kalau wajah Anselmus dengan mudah dianggap sebagai wajah Sang Guru Agung (Yesus) itu. Untaian kata ini pun sedikit menggema: “Barangsiapa menyambut seorang anak (kecil) seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku,” (Markus 9:37). Anselmus memang bukanlah seorang kanak-kanak, tapi ia adalah ‘orang kecil’: kebebasannya kecil, kepedulian yang didapatnya kecil, harapan hidupnya kecil dan kebahagiaannya kecil.

Lebih tepat lagi, kata-kata lain mengusik bahkan menggetarkan: “…Ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. …..Sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku,” (Matius 25:42-45). Anselmus adalah orang kecil yang harus diterima, dan orang sakit yang perlu dilawat.

Seketika, mata saya tak tahan melotot. Rupanya, daya tangisan dan wajah mengharukan itu lebih kuat. Mata saya pejam sebentar, memeras air mata yang ingin mengalir. Mata dibuka lagi, lalu toleh ke ayah-Ame Rafael Wanda, tanpa mengucap sepatah kata pun. Namun Ame Rafael membalasnya dengan ucapan “Pastor, tolong anak saya….”.

“Mau tolong dengan cara apa?” gumam saya dalam hati. Anselmus menangis sejadi-jadinya, ketika namanya dipanggil: “Anselmus…”. “Pastor, tolong saya. Mereka mau kasi mati saya. Saya tidak bisa tahan lagi. Kaki saya luka semua. Ada banyak ulat. Kaki saya sudah berbau busuk. Pantat saya juga luka. Saya tidak pernah mandi. Saya sulit buang air besar dan buang air kecil. Saya geser sedikit, kaki sakit. Saya setengah mati sekali. Sengsara,” keluhnya sambil menangis tersedu-sedu.

Ancam dan Bunuh

Semakin sedih rasanya. Saya pun memasuki kamar yang sudah dipenuhi bau mengengat bersumber dari luka borok di kedua kakinya. Tentu dengan menahan nafas sedalam-dalamnya. Dengan duduk bersila di sisi kanannya, saya memeluk dan membelainya.

Anselmus duduk di kamar pesakitan itu sejak ia melakukan tindakan kriminal membunuh mosalaki Leonardus Langi (77 tahun), Senin, 7 Oktober 2013 lalu. Menurut cerita warga, Anselmus menghabisi nyawa mantan Kepala Desa Tiwu Tewa, Kecamatan Ende Timur itu di kebun areal atas kampung Kurumboro, ketika sedang memberikan makanan untuk babi.

Biasanya, Bapa Leo Langi kembali ke rumah setelah beri makanan babi, sekitar pukul 17.30 Wita, tapi sore itu, ia tidak ‘kunjung’ pulang. Sekitar pukul 18.00 Wita, anggota keluarga dan beberapa warga pun mencari, dan sungguh mengagetkan, Bapa Leo Langi yang adalah Ketua Badan Permusyarawatan Desa Tiwi Tewa itu tergeletak tak bernyawa. Tampak luka menganga di siku kiri, agak dalam sampai ke tulang. Di dahi bagian kiri sampai sisi atas telinga juga luka menganga, bahkan menembusi tulang kepala dan sampai ke otak. Ia ditemukan sekitar pukul 18.30 Wita.

Tangisan pun tak terbendung sore-malam itu. Air mata bercucuran. Bukan cuma air mata, pikiran dan hati semua warga kampung Kurumboro pun terfokus kepada Anselmus, warga yang gila itu.

Pasalnya, sekitar pukul 17.00, Anselmus berjalan menuju areal tersebut dengan sebilah parang di tangannya. Semua warga memastikan bahwa yang menebas Bapa Leo adalah Anselmus. Sore-malam itu, Anselmus tak ada di kampung, padahal ia biasa berada di rumah kala hari sudah mulai malam. “Ia lari ke bukit Ndungga, wilayah Kecamatan Ende, tak jauh dari kampung Kurumboro,” ujar seorang warga.

Semua warga kampung tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka tidak berani mengejar Anselmus, apalagi parang dibawa serta oleh Anselmus. Malah, mereka justru takut kalau-kalau Anselmus kembali ke kampung malam itu juga. Bukan tidak mungkin ada korban lain lagi. Solusi yang mereka tempuh cuma satu: melaporkan kejadian ini kepada polisi di Kepolisian Sektor Ende. Dan polisi segera mengepung Kurumboro, setidaknya, supaya warga merasa aman.

Warga bertutur, “Hari itu, Anselmus tampak error. Pagi hari, ia melempari rumah milik David Dawa, sembari mengeluarkan kata-kata kotor: kenapa kau ikut campur rumah tangga saya? Seusai itu, ia ke kebun, pulang sekitar pukul 17.00 Wita. Ia mendobrak rumah milik nenek Sae Lawe, alih-alih untuk meminta air padahal ia langsung mengambil parang milik nenek tersebut. Dengan sebilah parang itu, ia mengancam ingin membunuh Bapak Petrus Pape (bapak kecil dari Anselmus) dan Yohana Ghona (istri dari Petrus Pape. Karena tidak berhasil, ia berjalan menuju areal atas kampung itu, mendapati Bapa Leo dan menghabisinya.”

“Anselmus mengancam” itu bukan kali pertama. Ia banyak kali melakukan pengancaman yang membuat warga takut dan tidak nyaman. Ada ancaman membunuh, memerkosa, membakar rumah dan pelbagai ancaman serta kata-kata kotor lainnya.

Pada Senin, 7 Oktober 2013 itu, apa yang dibuat Anselmus ini bukan tanpa alasan, sekalipun alasan itu sangat dangkal. Warga berkisah, “Dua pekan sebelumnya, Anselmus bercekcok dengan istrinya, bernama Alfira (asal kampung Tomberabu 2). Ia mengancam akan membunuh ‘tulang rusuknya’ itu. Lalu, Alfira meluputkan diri dan menginap di rumah Bapa Leo Langi. Itu terjadi pada Minggu, 22 September 2013. Selanjutnya, Alfira pulang ke rumah orangtuanya, Sabtu, 28 September 2013. Beberapa kali, ia melempari rumah Bapa Leo.”

Terhadap perilaku dan kata-kata yang terlontar Anselmus, warga Kurumboro tidak banyak memberikan tanggapan. Warga tahu dan paham bahwa ia sedang tidak waras. “Anselmus pernah merantau di Negeri Jiran, Malaysia. Beberapa tahun juga di Kalimantan. Ia pernah mengenyam pendidikan di Universitas Flores, Fakultas FKIP, Jurusan Matematika, tapi ‘putus’ di tengah jalan. Ia kadang error, kadang normal (waras). Kalau waras, ia baik-baik saja. Bekerja seperti biasa. Kalau error, ia maki-maki dan mengancam warga. Biasanya, di rumahnya, Ame Rafael menyembunyikan alat-alat senjata tajam supaya tidak dipakai sebarangan oleh Anselmus.”

Lima Bulan Terpasung

Pembunuhan Bapa Leo Langi adalah puncak dari segala perilaku error-nya. Di bukit Ndungga, tempat di mana Anselmus bersembunyi sehari sesudah kejadian nahas itu, ia dikepung aparat Kepolisian Sektor dan Resor Ende. Sebelum berhasil ditangkap untuk selanjutnya dibawa ke Polres Ende, Anselmus sempat berduel dengan para polisi.

Sekalipun warga menganggap bahwa Anselmus itu gila, bagi polisi selaku penegak hukum, hal itu mesti dibuktikan secara medis. Oleh karena itu, setelah beberapa pekan “diamankan” (dipasung?) di Polres Ende, ia dibawa ke Rumah Sakit W.Z Yohanes Kupang, Senin, 18 November 2013 untuk diperiksa. Hasilnya, ‘positif’: Anselmus gila, menderita gangguan mental. Ia pun diserahkan kepada keluarga, dan luput dari jeratan 338 KUHP jo pasal 351 ayat 3 dengan tuntutan 15 tahun penjara.*** (Flores Pos, Jumat, 14 Maret 2014)

Bersambung ke: *Tersingkir Secara Sosial dan Religius (3)

Baca terkait: *Warga Kurumboro Bongkar Rumah Anselmus *Kondisi Anselmus Semakin Kritis *Anselmus Wara Telah Dievakusi *Sadisme Kolektif *Ketika Negara Gagal Bertindak *Anselmus, Pemasungan dan Humanisme *Dia Itu Penjahat? *Balas Dendam Sudah Lama Berlalu (1) *Balas Dendam Sudah Lama Berlalu (2) *Malam Puisi Tumbuhkan Kepedulian Sosial *Hikayat Anselmus*Malam Puisi untuk Anselmus *Sebulan Dirawat, Anselmus Semakin Membaik *Anselmus Jalani Perawatan Lanjutan

Kurumboro

KAMPUNG KURUMBORO – Tampak bubungan seng rumah-rumah warga kampung Kurumboro yang berada di lembah perbukitan Ndungga, Desa Tiwu Tewa, Ende Timur. Pemandangan ini diabadikan dari Jalan Trans Flores, kilometer 14 arah timur Kota Ende, Minggu (16/2).

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s