Tersingkir Secara Sosial dan Religius (3)

Kapela Kurumboro

KAPELA KURUMBORO – Inilah Kapela Lingkungan Kurumboro yang menjadi saksi bisu iman umat Kurumboro. Rumah-rumah umat tidak jauh (berjarak 15 meter) dari kapela ini. Kata-kata Yesus ini mungkin tepat bila dialamatkan kepada mereka: “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Lukas 6:46). Gambar diambil, Minggu (16/2).

  • Lima Bulan Terpasung, Kaki Anselmus Wara Luka Borok

Oleh Avent Saur

Namun luput dari hukum sipil tidak berarti Anselmus samasekali tidak diberikan hukuman. Dan hukuman yang sedang dia jalani sekarang adalah hukuman yang berasal dari hukum tradisional, sekaligus sosial-budaya. Ia dipasung, dan kini sudah berjalan sekitar lima bulan. Di kamar yang berukuran 3×3,5 meter itu, ada dua batang kayu berkelas (kuat); yang satu berukuran tiga meter, yang lain berukuran satu meter lebih. Kedua kayu itu terapit, dan di antara apitan itu terdapat lubang di mana kedua kaki pria, yang sudah ditinggalkan istrinya ini, terbujur kaku.

Ada juga empat besi beton yang ujung-ujungnya tertanam di lantai rumah itu, yang membuat kedua batang kayu tersebut tidak bergeser sedikit pun. Ada tiga baut cukup besar, 11 paku anti karat yang tertanam pada kedua kayu. Tangannya juga diborgol dengan rantai baja dan terdapat satu gembok yang menyambungi kedua ujung rantai itu. Kedua kaki Anselmus tak banyak bergerak.

Katanya, sewaktu dipasung, kakinya masih leluasa bergerak karena lubang itu lumayan besar. Namun setelah tiga bulan berada dalam pasungan, kakinya mulai kemerahan yang menandai adanya luka. Mengapa? Selain karena kaki selalu digerakkan sekalipun hanya dalam volume lubang itu saja, juga karena permukaan lubang itu tampak cukup kasar. Gesekan demi gesekan dahulu, kini mengakibatkan luka. Kakinya, kini sudah memadati lubang itu. Tak ada lagi celah sedikit pun. Kakinya membengkak dan berluka borok, berbau, berulat. Kalau sebelumnya, kakinya masuk ke dalam lubang kayu, maka kini, permukaan kayu masuk ke dalam kakinya, menembusi kulit kakinya. Tentu tak terbayangkan, sakit mengerikan dan tak tertahankan dialami Anselmus.

“Saya sulit buang air besar dan buang air kecil. Saya geser sedikit, kaki sakit sekali. Saya setengah mati sekali. Sengsara sekali,” tukas Ansel disertai tangisan meratapi nasibnya.

Anselmus juga mengalami luka pada bagian pantat. Itu disebabkan karena geseran demi geseran, sekalipun tak seberapa jauh jaraknya, lantaran ia cuma duduk lalu tidur, duduk lalu tidur lagi. Kedua tangannya selalu menjulur ke depan karena telah disatukan dengan rantai baja. Luka pada bagian pantat itu membuatnya tak bisa lagi bergerak sedikit pun.

Siapa pun dokternya, apalagi orang yang awam bidang keperawatan, kaki dan pantat Anselmus tak mungkin diobati. Di rumah itu, ia cuma ditemani Ame Rafael Wanda. Ame tampak kurus, lesu, kurang bersemangat dan batuk-batuk.

Seorang warga mengatakan, Ame sedang menderita asma. Ame memperhatikan Anselmus, cuma dengan memberikan makan. Itu saja. Mau memberikan perhatian lebih yakni mengobati kedua kaki dan pantatnya, tapi toh sulit karena tidak ada celah sedikit pun di lubang kayu berkelas tersebut. Maka sangat beralasan, Ame berujar dengan suara halus sembari mengelus dada tipisnya, “Kalau lubang ini agak lebar, saya bisa mengobati luka-luka itu dan mengeluarkan ulat-ulatnya. Tapi itu tidak mungkin, karena lubang itu pas dengan besaran kakinya. Mereka mau kasi mati anak saya.”

Balas Dendam

“Mereka mau kasi mati anak saya.” Siapakah mereka itu? Yang pasti, Anselmus dipasung oleh seluruh warga kampung tersebut, terutama keluarga korban. Soal sakramen pengakuan yang pernah disinggung tadi, saya tidak memikirkannya lagi, setelah menjelaskan kepada Ansel dan ayahnya, bahwa itu hanya bisa didengarkan dan diberikan absolusi oleh pejabat Gereja yang menerima tahbisan tertinggi, yakni uskup. Saya pun terfokus kepada mereka yang memasung Ansel. Toh, bukan soal pemasungan itu sendiri, tapi soal kedua kaki yang luka borok itu, yang diminta Ansel untuk diobati. Setidaknya, pasungan itu diperlonggar. Kalau tidak, bukankah ini sama halnya dengan perbuatan membunuh? “Warga kampung itu membunuh Anselmus dengan cara pemasungan,” kira-kira demikian isi hati saya.

Hari itu, Anselmus dan ayahnya, saya tinggalkan, dan segera menemui beberapa anggota keluarga korban yang rumahnya tak jauh dari rumah Anselmus. Kepada mereka, dengan terus terang, saya menceritakan keadaan Anselmus. Apa jawaban mereka? “Ya, tuan, mau bagaimana lagi? Biarkan dia terpasung demikian?” ujar salah seorang Bapak. “Bagaimana kalau Ansel mati di pasungan?” tanya saya menantang. “Ah, dia itu kan penjahat. Dia harus dihukum begitu,” ujar seorang ibu dengan nada agak tinggi.

“Ansel itu penjahat?” seketika hati saya membisik. “Di wilayah sekitar ini, sudah ada beberapa orang gila yang mati di pasungan. Mereka dibiarkan mati begitu. Ansel masih lebih baik, dipasung dan tinggal di rumah. Dahulu, ada orang gila yang dipasung dan dibiarkan tinggal di bawah naungan pohon kakao (cokelat) hingga ajal menjemputnya,” ujar beberapa warga lain.

Rasanya, memang sangat risih. Mereka bercerita dan berkomentar tanpa rasa kemanusiaan. Terlihat, wajah mereka memancarkan aneka perasaan: marah, benci, kecewa, sakit hati, terluka. Mata saya terpanah kepada wajah-wajah mereka, yang adalah domba-dombaku juga.

Sekalipun kita memahami perasaan ini, tapi sekurang-kurangnya, dalam hati kita tentu muncul pertanyaan: “dimanakah identitas Kristiani mereka?” Siapa pun pasti tidak menghendaki Anselmus dilepaskan dari pasaungan tersebut, sebab siapa pun juga tidak bisa memastikan bahwa Anselmus tidak sakit (gila) lagi. Ame Rafael juga sadar akan hal itu. Dengan itu, yang diinginkannya cuma satu: pasungan diperlonggar supaya ia bisa mengobati luka-luka borok tersebut.

Lebih jauh, supaya anak kesayangannya itu tidak mati karena luka-luka itu. Namun apa hendak dikata, keluarga korban (dan warga) tidak menghendaki hal itu. “Apakah ada jaminan, kalau pasungan diperlonggar, Ansel tidak terlepas? Kalau terlepas, maka bukan tidak mungkin, pasti ada korban lain lagi,” ungkap Bapak Petrus Pape.

Anselmus juga Umat Allah

Jawaban yang sama diperoleh ketika saya menghubungi Pastor Paroki Santu Martinus Roworeke, Romo Heribertus Avelinus Pr, sehari setelah pulang dari kampung Kurumboro, Senin (10/2). Katanya, masyarakat sebetulnya memiliki belaskasihan terhadap Anselmus, tapi mereka sulit cari solusi entah bagaimana mewujudkan belaskasihan itu.

“Kita tidak menghendaki dia menderita seperti itu. Kalau masyarakat perlebarkan lubang pasungan, dan kakinya diobati, sulit dijamin bahwa ia tidak terlepas dari pasungan itu,” ujar Romo Ave, yang salah satu ladang penggembalaannya adalah lingkungan Kurumboro (semua warga kampung itu beragama Katolik).

“Masyarakat tidak nyaman sebelum Anselmus dipasung. Anselmus mungkin sadar dan ingin mengakui dosanya, tapi dia itu kan gila. Dia minta pengampunan, tapi pengampunan hanya diberikan kepada orang yang melakukan dosa dengan sadar.”

Agaknya, sulit untuk melihat di mana tanggung jawab seorang gembala terhadap umatnya yang mengalami situasi khusus sebagaimana dialami Anselmus. Maaf, Romo Avelinus sendiri mengakui bahwa dirinya tidak tahan kalau melihat luka borok, busuk dan berulat sehingga mungkin tidak akan mengunjungi umatnya yang malang itu.

Tampaknya, Anselmus tersingkir bukan hanya secara sosial tetapi juga religius. Bukankah Anselmus itu juga umat Allah yang harus dilayani? Setidaknya, seorang gembala memperlihatkan pastoral kehadiran di hadapannya. Pastoral kehadiran itu memang tidak mungkin berdayaguna persis seperti yang pernah ditunjukkan oleh Sang Gembala Agung, Yesus Kristus. “Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta” (Mat 8:1-4); “Yesus menyembuhkan orang yang kerasukan setan” (Mat 8:28-34); atau “Yesus menyembuhkan seorang anak muda yang sakit ayan” (Mat 17:14-21).

Pastoral kehadiran Yesus selalu membawa kesembuhan baik fisik maupun psikis. Kesembuhan fisik seperti ini tentu agak sulit diperlihatkan oleh para gembala zaman kini. Tapi setidaknya, sebagai in persona Christi (atas nama Kristus), seorang gembala menghadirkan kesembuhan psikis. Dalam konteks penderitaan yang dialami Anselmus, kesembuhan itu mungkin bukan langsung dialami olehnya, melainkan sekurang-kurangnya oleh Ame Rafael di mana ia diteguhkan untuk menderita bersama anaknya.

Lebih jauh, kesembuhan itu mungkin secara tidak langsung dialami oleh umat Kurumboro yang sedang diliputi pelbagai perasaan negatif. Setidaknya, mereka menyadari dua hal; (1) Anselmus adalah juga anak Allah yang layak dilayani dan dikasihani oleh gembalanya. Identitas Anselmus sebagai anak Allah sama sekali tidak hilang karena tindakan pembunuhan, apalagi tindakan itu dilakukan dalam keadaan gila. (2) Martabat Anselmus sebagai manusia tetap melekat di dalam dirinya. Martabat itu tidak boleh dilanggar, dan sebaliknya, martabat itu akan dilanggar apabila ia dibiarkan mati di pasungan itu.

Ia memang “dianggap” penjahat, tetapi itu hanyalah sebuah “anggapan” karena toh sekali lagi, ia bertindak dalam keadaan gila. Kata Stefan Leks, seorang ekseget (penafsir Kitab Suci, warga Belanda tinggal di Jakarta), “tidak ada manusia penjahat. Yang ada cuma manusia yang berbuat jahat”. Mengapa? Saat seseorang berbuat jahat, ia dianggap penjahat, tetapi seringkali, kita menutup mata terhadap pelbagai perbuatan baik yang diperlihatkannya. Oleh karena jumlah perbuatan jahat yang cuma 2, 3 atau pun 10, kita sering mendakwa orang sebagai penjahat. Kita lupa bahwa jumlah perbuatan baiknya jauh melebihi perbuatan jahatnya.

Dengan memahami Anselmus sebagai anak Allah dan martabatnya sebagai manusia, setidaknya, umat di Kurumboro bisa menggantikan rasa benci dengan cinta, dendam dengan maaf, marah dengan sabar, kecewa dengan hati lapang, sakit hati dan luka dengan kesembuhan psikis-spiritual. Jika tidak, maka sesungguhnya, oleh karena tindakan Anselmus yang gila itu, semua umat Kurumboro tidak memperoleh keselamatan dalam dirinya.

Sebaliknya, yang berada dalam situasi selamat adalah Anselmus sendiri (mungkin juga dengan ayahnya, Ame Rafael Wanda). Sebab, apakah artinya duduk di kapela untuk merayakan Ekaristi, kalau dalam kehidupan nyata, semangat ekaristi tidak diaplikasinya?

Kisah Iman

Pada 18-20 Oktober 2006, di Chiang Hai, Thailand digelar “Kongres Misi Asia I” dengan tema “Kisah Yesus di Asia: Perayaan Iman dan Hidup”. Wadah internasional ini dihadiri sekitar ribuan orang, di mana mereka saling berbagi kisah bagaimana pengalaman mereka akan Yesus di tempat mereka masing-masing. Toh, kisah iman itu dianggap penting, karena selama Yesus menjalankan misi-Nya, Ia menggunakan banyak cerita untuk menyampaikan warta keselamatan.

Ingat akan wadah internasional ini dan ingat akan metode pewartaan Yesus itu, lalu dihubungkan dengan kisah umat di Lingkungan Kurumboro, maka kita pun agak terperangah, kira-kira apa yang umat tersebut ceritakan tentang pengalaman imannya akan Yesus di kampung tersebut? Maaf. Sebagai orang beriman, “kita malu”. Tapi malu tidak berarti tidak maju. Dan untuk maju, kata-kata Sang Guru tetap memiliki daya yang tak pernah lengkang: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau,” (Mrk 5:19).

Untuk bercerita, kita mesti memiliki kisah nyata: pengalaman maaf kepada Anselmus dan pengalaman hormat terhadap martabatnya sebagai manusia.*** (Flores Pos, Sabtu, 15 Maret 2014)

Baca sebelumnya: Dosa Pembunuhan? (1) *“Kadang Error, Kadang Waras” (2)

Baca terkait: *Warga Kurumboro Bongkar Rumah Anselmus *Kondisi Anselmus Semakin Kritis *Anselmus Wara Telah Dievakusi *Sadisme Kolektif *Ketika Negara Gagal Bertindak *Anselmus, Pemasungan dan Humanisme *Dia Itu Penjahat? *Balas Dendam Sudah Lama Berlalu (1) *Balas Dendam Sudah Lama Berlalu (2) *Malam Puisi Tumbuhkan Kepedulian Sosial *Hikayat Anselmus*Malam Puisi untuk Anselmus *Sebulan Dirawat, Anselmus Semakin Membaik *Anselmus Jalani Perawatan Lanjutan

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s