Teologi Setelah Kasus Lela

Oleh JUAN ORONG

Juan orong

Juan orong, Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores

Tanggapan atas vonis hukuman mati terhadap Herman Jumat Masan (HJM) oleh Mahkamah Agung (MA), selain tentu berisikan desakan untuk meminta grasi dari presiden, tetapi juga barangkali yang paling aktual adalah diskusi mengenai posisi agama dan teologi dalam ruang kehidupan virtual manusia.Pertanyaan teologis teramat serius dalam hal ini adalah apakah setelah seorang terdakwa pastor dihukum mati, pembicaraan tentang Tuhan masih legitim? Apakah agama belum kehilangan gairah untuk menegaskan hakikat dirinya terhadap individu manusia (umat beragama) sebagai sumber pemahaman yang benar tentang moralitas, tentang ketenangan jiwa, tentang makna dan kerelaan menghadapi kehidupan,  tentang kebangkitan orang mati dan keselamatan jiwa? Pada ranah sosial, apakah agama masih relevan dipahami sebagai institusi yang menjamin persahabatan, keselarasan sosial, tanggung jawab, cita rasa kemanusiaan, dan batasan yang mengurangi atau meniadakan kriminalitas? Sebab kriminalitas dan atau kejahatan lainnya, termasuk pembunuhan yang diciptakan orang beragama, selain menodai agama yang dianutnya, juga mencederai hakikat keberadaan sang pelaku tindakan kejahatan itu.

Bisa saja sebelum vonis hukuman mati diberikan kepada HJM, fokus pikiran kita terarah kepada kejahatan, kekerasan, dan egoisme yang dimilikinya. Hal yang kita pikirkan tentang dia tidak lain mungkin adalah seputar kenaifan dari perbuatannya dan nihilisme yang terbangun pasca-pengadilannya.Jauh dari fakta bahwa dia tidak beriman kepada Tuhan, tindakannya yang menyebabkan kematian tiga orang berturut-turut, -yang barangkali jauh dari kesengajaan-, tentu dipenuhi kepastian dan antusiasme. Pada saat itu, dia tentu masih memiliki semua yang diperlukan untuk mengetahui kebenaran dan kebaikan. Dia tentu tidak sedang ditawan oleh radikalisme daya insting atau diperbudak oleh kebebasan penuh tanpa kontrol.Dia masih memiliki semua ketaatan akan dogma agama dan keyakinan kepada Tuhan. Dan dia adalah pengajar iman, pemuja kebenaran, pencinta keadilan, dan pelaksana harian cinta kasih Allah. Paling kurang sampai dengan saat-saat kematian masing-masing tiga orang itu, pengetahuan orang tentangnya tidak lain adalah empat hal tadi: pengajar iman, pemuja kebenaran, pencinta keadilan, dan pelaksana harian cinta kasih Allah.

Reaksi emosional yang paling dapat dipahami dan diterima setelah sepuluh tahun kasus kematian tiga orang di Lela itu terkuak adalah rasa ngeri, muak, dan jijik. Perasaan-perasaan negatif itu merasuki tidak saja orang-orang beriman, tetapi juga mungkin kaum agnostik dan ateis. Semua orang, tentu saja terlebihkeluarga korban, menganggap bahwa apa pun hukuman yang bakal diberikan kepada pelaku tidak akan pernah mengubah keadaan. Bahkan mungkin, ketika kini terdakwa divonis hukuman mati, rasa jijik dan kebencian terhadapnya belum lunas terbayar. Pada saat seperti ini, nihilisme barangkali menjadi bentuk pemahaman yang paling sulit dilenyapkan dari pikiran.

Kehampaan berkaitan dengan hilangnya tendensi akan pengharapan dan keabadian. Lalu apakah yang tersisa dari teologi, jika tendensi itu telah hilang, dan nihilisme menjadi taruhan semua ajaran dan bangunan moralitas agama. Kematian tiga orang di Lela, berikut pengadilan atas pelaku, dan kemudian hukuman mati atasnya telah menjadi kapak pembunuh eksistensi agama dan teologi. Jika penilaian ini berlebihan, sebab sejatinya banyak orang, termasuk keluarga korban, bahkan mungkin korban sendiri; sebagaimana dibayangkan oleh Hans Hayon dalam cerpennya “Hujan di Biara [Surat untuk Tuhannya Grace]” (Pos Kupang, Minggu, 3 Maret 2014) masih memiliki alasan untuk membela terdakwa; apakah alasan seperti itu, termasuk keikhlasan untuk mengampuni terdakwa; tidak membingungkan dan tidak mengakibatkan kerancuan berpikir dan beriman bagi siapa pun?

Sudah tentu, semua diskursus yang menganjurkan untuk membuang dan merusak moral, bukan atas dalil bahwa mereka relatif, tetapi atas kenyataan bahwa mereka keji, adalah nihilisme total. Termasuk dalam batasan ini adalah segala kenaifan berpikir untuk mengutuk terdakwa dan menutup pintu pengampunan rapat-rapat. Semua itu merupakan nihilisme. Namun, entahkan jika ada orang beriman dan beragama pada akhirnya setelah dakwaan hukuman mati itu memutuskan untuk menjadi ateis atau sekurang-kurangnya menjadi agnostis adalah juga nihilis? Dalam hal terakhir ini, persoalannya barangkali menjadi berbeda.

Oleh dorongan paling primordial, manusia, termasuk kaum ateis tidak pernah bebas dari tuntutan untuk melakukan perbuatan baik. Dalil “tidak ada yang benar, apa saja boleh” tidak akan pernah diterima dan diakui keberadaannya, juga oleh kaum ateis. Dan karena itu, kita masih selalu memiliki alasan untuk menolak hukuman mati atas terdakwa, termasuk masih selalu berdoa baginya. Kalau dalil untuk menentang penolakan terhadap eksistensi Tuhan adalah “jika Tuhan tidak ada, tidak ada yang disebut sebagai kebenaran”, dipakai, maka tentu alasan keyakinan kepada Tuhan menjadi penyanggah perjuangan menolak segala bentuk nihilisme, termasuk hukuman mati.

Namun tentu persoalannya menjadi semakin rumit, ketika sebagian orang (beragama dan tidak) memandang realitas, termasuk  mungkin doa, puji-pujian kepada Tuhan dan demonstrasi menentang hukuman mati adalah hal-hal yang mustahil dipahami.Mungkin orang memang akan sampai pada simpulan seperti dikemukakan Nietzsche, yakni bahwa sesungguhnya “tidak ada kenyataan; yang ada hanya penafsiran-penafsiran”. Ketika banyak orang (baca: umat), katakanlah, merasa terpukul dan malu bukan kepalang atas perbuatan HJM, barangkali, melupakan peristiwa buruk itu dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak pernah terjadi adalah jalan terbaik, daripada senantiasa membiarkannya menganggu pikiran. Demikian pun, mungkin walaupun bentuk-bentuk kepatuhan terhadap agama dan teologi masih terus dijalankan, tetapi kepatuhan itu tak bakal menghapus rasa hampa dan sia-sia.

Bisa saja, ketika negosiasi melawan hukuman mati berhasil dan katakanlah (walaupun tentu mustahil) terdakwa dibebaskan, hal apakah yang mendorong orang untuk berjuang memerangi kejahatan, kekerasan, kengerian, atau ketidakadilan? Sekali lagi, mungkin orang  kembali kepada jalan buntu kaum nihilis. Dunia tentu akan diserahkan sepenuhnya kepada orang-orang fanatik dan kaum barbar. Apa saja diperbolehkan: terorisme, penyiksaan, kediktatoran, dan genosida. Akibatnya segala tindakan kejahatan, tidak lagi dianggap buruk. Antara kebohongan, kebenaran, dan omong kosong tidak lagi memiliki perbedaan, dan segala nilai pun menjadi tidak ada; atau jika mereka ada, semua nilai itu tidak lagi memiliki arti. Maka mungkin, hak asasi manusia, kemajuan sosial, politik, termasuk agama dan teologi,semuanya akan sia-sia.

Sangatlah penting saat ini untuk membangun benteng perlawanan terhadap nihilisme seperti itu. Segala dalil akan kehampaan sama sekali tidak mencegah kita dari perjuangan menegakkan kebenaran, memerangi kejahatan, dan menegaskan, seperti komentar Publishers Weekly terhadap buku “Spiritualitas Tanpa Tuhan” (2007) karya filsuf Andre Comte Sponville, bahwa walaupun mungkin menurut logika Tuhan tidak selalu dibutuhkan, kita tetap bisa memiliki cinta, perilaku etis, dan bahkan pengalaman abadi. Apalagi jika kita berpikir bahwa HJM adalah subjek untuk dirinya sendiri, -seorang pribadi yang diciptakan Tuhan-, yang saat ini divonis hukuman mati karena telah bersalah (berdosa); namun mungkin oleh kerahiman-Nya, Tuhan sedang membuka pintu surga bagi kedatangannya.Apabila sesungguhnya demikianlah yang bakal terjadi, tidak berarti bahwa kita mesti membunuh sesama agar masuk surga. Akan tetapi pemahaman kita selalu rapuh terhadap kehendak Tuhan. Itu makanya setelah kasus Lela, teologi barangkali masih tetap relevan.*** (Flores Pos, Senin, 17 Maret 2014)

Baca tanggapan terhadap artikel ini: Indelebilis Imamat di (https://aventsaur.wordpress.com/2014/04/04/indelebilis-imamat/#more-529)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Teologi Setelah Kasus Lela

  1. Pingback: Indelebilis Imamat | SENTILAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s