Di Balik Penilaian Pembelajaran

Opini Flores Pos, 23 April 2014

  • Soal Kurikulum 2013

Oleh FLORIANUS DUS ARIFIN (Dosen STKIP St. Paulus Ruteng. Artikel ini dipublikasikan di blog ini setelah mendapat izin dari penulisnya.)

Flori Arifin

Florianus Dus Arifin

Seorang sahabat yang berprofesi guru mengirim pesannya via facebook bahwa penilaian pembelajaran dalam Kurikulum 2013 (K’13) memberatkan guru karena banyaknya indikator yang perlu dinilai. Saya membaca pesan itu sebagai keluhan bukan terutama dari sahabat, melainkan dari guru yang di pundaknya idealisme K’13 dan penilaian pembelajaran di dalamnya dipertaruhkan. Saya juga berasumsi bahwa keluhan sahabat itu hanyalah bagian kecil di permukaan gunung es keluhan para guru dalam menghadapi perubahan mendasar penilaian pembelajaran dalam K’13. Ya, wajar saja guru mengeluh karena dituntut untuk keluar dari zona nyaman praktik penilaian selama ini. Oleh karena itu, upaya memompa motivasi guru perlu dilakukan.

Sarat Penyimpangan

Sejauh ini, penilaian pembelajaran dililiti penyimpangan. Penilaian pembelajaran cenderung diperlakukan secara terpisah lewat penggunaannya yang secara dominan mengukur hasil dan mengabaikan pemantauan proses pembelajaran. Penilaian hanya menjadi pelengkap yang dimunculkan sekadarnya saja pada akhir pembelajaran. Selain itu, penilaian cenderung digunakan secara sempit untuk mengukur aspek kognitif, dan kurang memperhatikan keterampilan dan sikap yang semestinya menjadi indikator penting keberhasilan pembelajaran. Penilaian cenderung direduksi sebagai pengukuran, dan secara monoton menggunakan teknik tes.

Berbagai ulangan harian, ujian tengah semester, dan ujian akhir semester yang dipraktikkan di sekolah terkunci dalam paradigma dan praksis yang sempit tersebut. Guru melakukan penilaian cenderung untuk menyadap pengetahuan lewat butir-butir kering soal tes dan gagal menggambarkan secara autentik profil keterampilan dan sikap siswa. Ujian nasional (UN) sebagai rujukan umum pun malah mengekalkan pemandangan serupa.

Praktik seperti di atas mengerdilkan makna penilaian. Penilaian yang sejatinya merupakan prosedur pengumpulan informasi secara sistematik untuk menyimpulkan karakteristik siswa menjadi kegiatan pengukuran dan tes pengetahuan belaka. Apakah prosedur pengumpulan informasi itu hanya berupa pengukuran dan teknik tes? Apakah karakteristik siswa dan bekal untuk menghadapi kehidupan ini satu-satunya adalah pengetahuan? Jawabannya, jelas ‘tidak’. Pengukuran dan teknik tes hanyalah asteroid kecil dalam semesta prosedur pengumpulan data pembelajaran siswa sehingga memiliki keterbatasan dalam menyadap data. Aspek pengetahuan pun hanyalah setetes air dalam samudera kompetensi yang dimiliki dan diperlukan siswa untuk mengarungi kehidupan ini. Pengetahuan bahkan mudah dilupakan, jika dibandingkan dengan keterampilan dan sikap.

Selain itu, dalam praktik seperti di atas peran penilaian diperlemah. Penilaian yang susungguhnya mengemban misi penting, yakni mendiagnosis dan memantau kemajuan pembelajaran, memberi peringkat pada siswa, memprediksi keberhasilan masa depan, memotivasi siswa, dan mendiagnosis pengajaran (Marsh, 1996:213), hanya menjadi ajang untuk mengotak-kotakkan lewat pemberian label peringkat serentak menanamkan benih persaingan yang tidak sepenuhnya baik untuk siswa. Peran dahsyat penilaian yang sesungguhnya menjadi pemandu dan pendukung proses pembelajaran (Sharples, et al., 2012:3) hanyalah utopia abadi karena posisinya dicampakkan ke wilayah periferi.

Dampak Buruk

Akibat dari penyimpangan penilaian itu dapat dilihat minimal dari sisi siswa dan guru. Dari sisi siswa, penilaian yang demikian secara psikologis menciptakan ketakutan. Dalam persepsi siswa, penilaian laksana raja kejam yang duduk dalam istana kekuasaan, dan pada waktunya akan keluar menghukum orang yang tidak sesuai dengan kemauannya. Tidak dapat diingkari, banyak siswa yang cemas ketika akan menghadapi ulangan atau ujian. Hal yang memprihatinkan adalah siswa mulai menempuh cara instan dan curang agar sukses menghadapi ujian. Hal ini justru meruntuhkan wibawa pendidikan.

Dari sisi guru, penyimpangan itu hanya menyajikan data yang terbatas berupa aspek kognitif dan hasil pembelajaran. Data ini tidak bersifat autentik dan holistik menggambarkan profil kompetensi siswa. Guru lalu terjebak dalam keputusan keliru tentang prestasi belajar siswanya sebab hanya didasarkan pada data yang terbatas.

Tambahan pula, guru tidak dapat secara maksimal menjalankan kegiatan diagnosis terhadap praktik pedagogisnya karena tidak didukung oleh akurasi dan kekayaan informasi penilaian pembelajaran, padahal menurut Zuljan dan Vogrinc (2010:455), kemampuan berdiagnosis menjunjung praktik kreatif dan inovatif guru untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dan keahliannya. Dengan penjelasan lain, dalam penyimpangan itu penilaian tidak bermanfaat plus untuk memberdayakan guru ke arah peningkatan profesionalisme sebagai dampak dari diagnosis yang tiada henti terhadap praktik pedagogis pribadi yang didukung data autentik penilaian pembelajaran.

Purifikasi Penilaian

Tampaknya, kesadaran akan penyimpangan tersebut mulai bertumbuh saat ini. Kebijakan menghapus UN jenjang SD pada tahun lalu, selain memang kongruen dengan karakteristik pembelajaran tematik integratif dalam K’13, juga dapat dibaca dalam konteks kesadaran akan penyimpangan penilaian selama ini. Dengan dilandasi kesadaran itu, kiblat penilaian yang didengunglantangkan hari-hari ini tidak lain menuju ke fitrah hakiki penilaian itu sendiri.

Sudah waktunya penilaian harus diperlakukan sebagaimana kekayaan dimensi makna dan peran di dalamnya. Dari segi prosedur, penilaian harus menunjukkan variasi teknik sehingga dapat menggambarkan secara utuh dan nyata profil kompetensi siswa pada aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap. Penilaian harus memantau secara seimbang proses dan hasil pembelajaran. Dari segi peran, penilaian tidak boleh menakutkan siswa. Penilaian bahkan perlu memberdayakan siswa untuk menjadi penilai kinerja belajarnya lewat penggunaan penilaian diri dan sejawat.

Dua penilaian ini dapat membentuk siswa menjadi pribadi reflektif yang mengetahui kekuatan dan kelemahan belajarnya sehingga dapat membangun kekuatan menuju pelajar sejati. Bagi guru, sudah sepantasnya penilaian menjadi energi yang memberdayakan ke arah peningkatan profesionalisme sebagai dampak dari diagnosis terhadap kinerja mengajar yang berbasiskan data penilaian pembelajaran siswa.

Penilaian dalam K’13

K’13 persis berada di pusaran kesadaran memurnikan makna penilaian pembelajaran. Jika direfleksikan secara mendalam, kembali ke kesejatian makna penilaian memang bukan terutama karena soal munculnya K’13, melainkan soal bagaimana semestinya penilaian itu dipahami dan dipraktikkan. Tahap perubahan kurikulum pun memahami dan mempraktikan penilaian sesuai dengan makna sejatinya hendaknya merupakan kehausan para guru.

Dengan dilandasi semangat purifikasi penilaian, K’13 mengarusutamakan penggunaan penilaian autentik. Penilaian autentik melibatkan berbagai kinerja yang mencerminkan secara seimbang proses dan hasil dengan menggunakan prosedur dan teknik yang jamak sebagaimana kondisi proses dan hasil pembelajaran yang jamak pula. Penilaian autentik meminta guru untuk menilai kinerja siswa sebagaimana dilakukan di dunia nyata secara bermakna yang merupakan penerapan esensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap (Nurgiyantoro, 2012:306). Dalam aspek tertentu, penulis menganalogikan penilaian autentik dengan cara kerja seismograf yang mencatat secara detail kondisi guncangan gempa sepanjang waktu sehingga menghasilkan data akurat tentang perkembangan gempa.

Karakteristik penilaian autentik tersebut membutuhkan dedikasi yang tulus dan tekun sang guru sesuai dengan panggilan jiwa sebagai pendidik. Pasalnya, dalam penilaian autentik terdapat minimal empat sayarat mutlak yang harus dipersiapkan guru, yakni penetapan standar, penetapan jenis tugas, penetapan kriteria, dan pembuatan rubrik penilaian. Hanya dengan persiapan semacam ini penilaian autentik memiliki kredibilitas yang tangguh dan dapat menjadi basis andal informasi bagi kegiatan diagnosis untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dan keahlian guru.

Ya, jalan menuju penilaian sejati memang membutuhkan kerja keras, namun berjuang ke sana adalah indikator paling nyata guru profesional. Perjuangan menuju penilaian sejati mungkin memberatkan guru karena banyaknya persiapan yang perlu dilakukan, namun di balik perjuangan itu terdapat kunci untuk membuka rahasia kualitas pendidikan.***

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

1 Response to Di Balik Penilaian Pembelajaran

  1. lokong2025 says:

    penyimpangan pembelajaran sering kali terjadi ketika adanya perubahan kurikulum. yang menjadi suatu pertanyaan adalah kenapa penyimpangan pembelajaran ini sering terjadi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s