Demokrasi Pariwisata Flores (1)

Flores Pos, 25 April 2014

Oleh GABRIEL ADUR (Pernah Bekerja di Wisata Bali- Flores-Timor Overland, Sekarang Misionaris SVD  Tinggal di Muenchen Jerman)

Gabriel Adur

Gabriel Adur

Dunia sudah menjadi kampung global. Kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi telah memperpendek jarak antarbangsa dan benua. Kemungkinan dan kesempatan untuk berwisata dari satu tempat ke tempat yang lain pun lebih besar.

Peluang ini, bagi kebanyakan orang di Eropa, Amerika, Australia dan negara-negara maju di Asia seperti Jepang, Cina dan India betul-betul dimanfaatkan. Berwisata menjadi bagian dari kehidupan.

Dalam kemajuan pariwisata global, Indonesia telah menjadi salah satu negara tujuan wisata. Selain Bali, ada begitu banyak daerah-daerah wisata yang menjadi tujuan wisata internasional di Indonesia Timur. Flores, Timor, Sumba, Rote dan pulau-pulau kecil yang disebut Flobamora termasuk di dalamnya.

Bagi masyarakat Flobamora, bukan saja pebisnis, pekerja wisata dan pemerintahan, ini merupakan sebuah penghargaan yang perlu disyukuri dan diapresiasi. Juga menjadi tantangan dan peluang bagi masyarakat untuk menjadi subjek, pelaku dan juga tuan rumah yang baik bagi wisatawan.

Masyarakat memiliki kesempatan untuk belajar menjadikan pariwisata sebagai media membangun, menghidupi, memperkaya dan mempromosikan nilai-nilai dan keluhuran hidup dan budaya. Di samping itu, kita juga perlu menjaga keindahan dan melestarikan lingkungan yang indah dan eksotik.

“Society Oriented Tourism”

Pariwisata inti rakyat (society oriented) merupakan sebuah terobosan dan strategi kepariwisataan yang berbasiskan masyarakat dan kekayaan budayanya. Masyarakat setempat menjadi subyek dan pelaku pariwisata.

Komodo

Komodo

Dengan itu, kapital atau modal pariwisata tidak didatangkan dari luar, tapi lahir dari masyarakat setempat. Dalam rangka pengembangan pariwisata yang mengutamakan pengembangan, pembudidayaan dan promosi budaya masyarakat lokal, sudah seharusnya masyarakat sejak awal dilibatkan dalam kegiatan kepariwisataan. Keterlibatan aktif masyarakat merupakan faktor yang sangat penting untuk menjadikan pariwisata sebagai sebuah tonggak pembangunan.

Program kepariwisataan berintikan budaya masyarakat juga memberikan peluang kepada masyarakat  untuk terbuka akan kehadiran wisatawan. Keterbukaan ini tidak langsung ditakar untuk mendatangkan nilai ekonomis dan keuntungan bisnis belaka (businees and profit orientied tourism). Dalam arti bahwa kita secara santun, jujur dan elegan menampilkan budaya sebagai aset wisata yang tak ternilai harganya.

Budaya masyarakat yang memiliki nilai spiritual-religius, kekeluargaan, persahabatan, persaudaraan dan nilai sosial-politis bisa menjadi aset wisata. Budaya kita memiliki daya tarik yang kuat untuk mendatangkan wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal dari berbagai daerah di Indonesia.

Jujur dilihat dan dialami bahwa kegiatan berwisata tidak hanya untuk mencari kesenangan. Kebanyakan wisatawan dari Eropa, misalnya, ingin mencari sesuatu yang lain. Eksotis dan memiliki keasaliannya. Tampilkan keaslian budaya kita! Mungkin bisa menjadi sebuah seruan inspiratif agar budaya kita tidak dikomersialkan.

Filosofi kepariwisataan yang menjadi landasan dari pariwisata inti rakyat ini adalah bahwa wisatawan dihantar untuk mengalami realitas hidup dan budaya hidup masyarakat. Dengan itu, mempertahankan keaslian budaya masyarakat menjadi sebuah keharusan. Dalam arti, fisik perlu direnovasikan, keaslian tetap dilestarikan. Sejalan dengan gagasan ini, membangun desa-desa wisata juga menjadi terobosan yang baik ke depan.

Desa-desa wisata menjadi langkah untuk mendekatkan wisatawan dengan realitas budaya. Selain itu, mendekatkan wisatawan dengan kehidupan masyarakat. Kita melayani wisatawan tidak sekadar untuk memberikan profit secara ekonomis. Tapi kita melayani wisatawan untuk bisa belajar membuat interaksi budaya.

Mendekatkan wisatawan kepada kehidupan masyarakat dan realitas budaya, menjadi strategi kepariwisataan di negara-negara maju, seperti di Jerman (di mana penulis tinggal sekarang). Dengan itu, wisatawan disuguhkan dengan keluhuran dan atraksi budaya, nilai  historisitas masyarakat, dan kehidupan sosial masyarakat.

Ida Ayu Agung Mas, perintis pariwisata inti rakyat memahami kegiatan pariwisata sebagai socially responsible  and society orientied tourism. Artinya, keberlangsungan kegiatan kepariwisataan, selain memberi keuntungan secara ekonomis tapi juga memberikan keuntungan budaya. Lebih dari itu, melalui pariwisata, masyarakat harus mampu memberi jaminan sosial dan kesejahteraan rakyat.

“Ecology Oriented Tourism”

Gagasan dan landasan pariwisata inti rakyat mendorong kegiatan kepariwisataan yang juga bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan hidup. Keberlangsungan keharmonisan ekologi (ecology oriented tourism), tidak bisa tidak menjadi prioritas dalam kegiatan kepariwisataan. Tak terpikirkan, kalau kegiatan wisata tanpa adanya kemauan untuk melestarikan lingkungan hidup.

Gugusan pulau di Flobamora yang memiliki keragaman flora dan faunanya sangat eksotis. Keanekargaman hayati dan sumber daya alam terbilang sangat kaya baik di daratan maupun perairan. Semua potensi dan kekayaan alam yang kita miliki menjadi sumber pengembangan pariwisata alam. Keeksotisan dan keindahan ini menjadi anugerah bagi masyarakat, tapi sekaligus menjadi daya tarik yang kuat untuk wisatawan.

Keterlibatan aktif masyarakat dalam mengelola, menjaga dan melestarikan lingkungan hidup merupakan persyaratan mutlak menghidupi kepariwisataan dan keberlangsungan ekologi yang sehat. Keseluruhan kekayaan alam dan potensi alam bukan saja bernilai ekonomis tinggi untuk mendatang profit dan keuangan, tetapi juga menjadi media pendidikan dalam kegiatan kepariwisataan untuk pelestarian lingkungan alam (soft tourism).

Untuk mencapai sasaran ini, perlu adanya pengelolaan dan pengusahaan yang baik dan bertanggung jawab. Di sini, perlu sebuah netz-working lintas sektoral yang berkaitan dengan pengembangan dan kepariwisataan di Flores. Kerja sama lintas sektoral seperti pemerintah daerah, dalam hal ini dinas- dinas pariswisata, lembaga sosial masyarakat dan pebisnis-pebisnis pariwisata menjadi alternatif yang konstruktif.

Koordinasi yang baik antara masyarakat dan sektor-sektor terkait dalam pengembangan pariwisata alam memiliki fungsi kontrol. Artinya, masyarakat dan pemerintah serta pihak terkait meninjau dan mengontrol pengembangan positif dan negatif kepariwisataan.

Tak terpungkiri bahwa akan ada dampak positif bagi masyarakat, antara lain menambah sumber penghasilan dan devisa negara. Di sisi lain, kepariwisataan bisa menyediakan kesempatan kerja, dan juga bisa mendorong perkembangan usaha-usaha baru. Harapan kolektifnya adalah bahwa muncul kesadaran timbal balik masyarakat dan wisatawan akan konservasi alam.

Pelaku, pebisnis dan masyarakat juga jangan menutup mata untuk tidak melihat dampak negatif kepariwisataan alam, misalnya, erosi, vandalisme dan munculnya kesenjangan sosial. Koordinasi dan kerja sama antarsemua pihak dan masyarakat akan bisa menangani persoalan-persoalan pariwisata di Flores.

Dalam perspektif kepariwistaan seperti ini lingkungan hidup dan hutan bukan saja sebagai aset yang harus ditakar secara ekonomis. Namun merupakan bagian dari kekayaan hidup masyarakat yang bisa menjadi daya tarik wisata. Maka perlu dibudidayakan dan dilestarikan.

Kita pun akan mampu mewujudkan satu slogan dalam demokrasi: dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pariwisata itu mesti menjadi medan di mana demokrasi terwujud, bahwa pariwisata itu dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Pariwisata bukan hanya diperuntukkan bagi wisatawan, para pelaku dan pemodal pariwisata saja.***Baca bagian kedua, klik: (https://aventsaur.wordpress.com/wp-admin/post.php?post=555&action=edit&message=6&postpost=v2)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Demokrasi Pariwisata Flores (1)

  1. Pingback: Demokrasi Pariwisata Flores (2) | SENTILAN

  2. Pingback: Cabut Semua Izin Tambang | SENTILAN

  3. Pingback: Warga Tumbak Awasi Aktivitas di Lokasi Tambang | SENTILAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s