Menggugat Ketertutupan Pendidikan

Flores Pos, Selasa, 6 Mei 2014

Oleh FLORIANUS DUS ARIFIAN

(Dosen STKIP St. Paulus Ruteng, Sedang Meneliti dan Mengembangkan Perangkat Pembelajaran Tematik Integratif Kurikulum 2013 di Universitas Negeri Yogyakarta)

Flori Arifin

Florianus Dus Arifian

Kurikulum 2013 diperkuat oleh tiga pendekatan yakni pendekatan tematik integratif (khusus untuk SD), pendekatan saintifik dan penilaian autentik. Persenyawaan tiga unsur ini sesungguhnya bisa menggugat ketertutupan pendidikan yang begitu lama dan masif dipraktikkan selama ini. Saya ingin menyinggung gugatan itu dengan harapan bahwa pihak-pihak yang terkait dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Pelbagai Pendekatan

Pendekatan tematik integratif mengintegrasikan secara intradisipliner, interdisipliner, multidisipliner, dan transdisipliner berbagai kompetensi dasar dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Integrasi intradisipliner dilakukan dengan mengintegrasikan sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara holistik dalam satu mata pelajaran. Integrasi interdisipliner berarti menggabungkan kompetensi dasar lintas mata pelajaran agar saling terkait, sehingga dapat saling memperkuat, menghindari tumpang tindih, dan menjaga keselarasan pembelajaran.

Sementara itu, integrasi multidisipliner dilakukan tanpa menggabungkan kompetensi dasar tiap mata pelajaran sehingga masih memiliki kompetensi dasar sendiri. Hal ini menjelaskan bahwa kompetensi dasar ilmu pengetahuan alam (IPA) dan ilmu pengetahuan sosial (IPS) pada kelas tinggi sekolah dasar SD berdiri sendiri kemudian diintegrasikan melalui tema, berbeda dengan kelas rendah yang mengintegrasikan kompetensi dasar dari kedua mata pelajaran itu ke dalam pelbagai mata pelajaran lain berdasarkan kedekatan makna untuk kemudian diintegtasikan melalui tema.

Adapun integrasi transdisipliner mengaitkan berbagai mata pelajaran dengan permasalahan aktual di sekitar.

Pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang mengikuti langgam ilmiah dalam memperoleh informasi atau data. Kegiatan pembelajaran dalam pendekatan ini berupa mengamati, menanyakan, menalar, mencoba, mengolah, dan mengomunikasikan pengetahuan dan keterampilan.

Pendekatan saintifik digunakan dengan tetap diterjemahkan sesuai dengan karakteristik materi pembelajaran. Misalnya, ketika pembelajaran dengan materi yang dikemas dalam teks bacaan, kegiatan mengamati berarti memperhatikan satuan-satuan bahasa dalam teks bacaan itu. Namun, pada saat siswa diminta untuk menyusun teks laporan, kegiatan mengamati diterjemahkan dalam pengertian mengindera objek sebagai basis penyusunan teks itu.

Pendekatan yang ketiga adalah penilaian autentik. Penilaian autentik merupakan penilaian tentang aktivitas ketika siswa mengkonstruksi dan menghasilkan pengetahuan yang bermakna pada ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Penilaian ini mengharuskan siswa untuk melaksanakan tugas nyata sebagai aplikasi yang bermakna dari pengetahuan atau keterampilan esensial.

Dalam penilaian autentik, siswa tidak hanya menunjukkan perilaku yang sesuai dengan rumusan tujuan pembelajaran, tetapi juga mengerjakan sesuatu yang terkait dengan konteks kehidupan nyata. Penilaian ini menuntut siswa untuk menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi, tidak sekadar memilih jawaban yang disiapkan guru.

Menggugat Ketertutupan

Tidak dapat diingkari bahwa sejauh ini budaya akademis yang dibangun di sekolah kerap menjadi penghalang antara guru dan rekannya. Salah satu penyebabnya adalah kentalnya pendekatan pembelajaran menurut mata pelajaran.

Terlepas dari sisi positifnya, pendekatan tersebut membuat guru menjadikan kegiatan mengajar sebagai profesi publik yang paling pribadi (Palmer, 2009:209). Guru memang mengajar di depan siswa-siswi, tetapi hampir selalu mengajar sendirian di luar kerja sama dan diskusi dengan sejawatnya karena sudah terpaku melalui pendekatan menurut mata pelajaran.

Ketika guru memasuki ruang kerja, pintu ruangan kelas tertutup dari rekan kerja. Ketika pembelajaran selesai, guru keluar dan jarang berdiskusi dengan sejawat tentang apa yang terjadi atau apa yang perlu pada pertemuan berikutnya. Guru merasa tidak memiliki pengalaman yang sama untuk dibicarakan dengan rekannya karena sudah dibatasi tembok mata pelajaran tertentu yang menjadi tanggung jawabnya.

Budaya ketertutupan ini bahkan dilegitimasi sebagai kelebihan lewat jargon ‘wewenang profesional’. Bidang studiku adalah urusanku dan bidang studimu adalah urusanmu. Kita profesional di bidang masing-masing.

Pendekatan tematik integratif menggugat kultur ketertutupan. Lewat perpaduan berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema, pendekatan ini memaksa guru keluar dari ego sektoral pada mata pelajaran tertentu lalu membuka diri dan bersinergi dengan rekan sejawat untuk mendesain pembelajaran tematik. Kalau berbagai mata pelajaran saling bersinergi melalui tema. Guru yang selama ini berlindung di balik mata pelajaran tertentu juga perlu membuka diri untuk bersinergi dalam kebersamaan dengan rekan guru dari berbagai mata pelajaran itu.

Sejauh ini juga pendidikan pekat diwarnai aktivitas mengalirkan ilmu pengetahuan secara hierarkis, “dari atas ke bawah”, dari guru yang memiliki kecakapan untuk mencari kepada siswa yang hanya memiliki kecakapan untuk menerima pengetahuan. Dalam pola atas-bawah ini, kebenaran adalah serangkaian dalil tentang objek pengetahuan, dan pendidikan adalah sistem untuk menyampaikan dalil itu kepada siswa. Siswa yang terdidik adalah dia yang dapat mengingat dan mengulang kembali dalil yang disampaikan guru. Dalam pola hierarkis, objek pengetahuan tidak dapat disentuh dan menjadi benda keramat yang dijauhkan dari siswa. Sebagian guru berani menyentuh objek pengetahuan itu lalu dialirkannya kepada siswa. Namun, sebagiannya sering pasif menerima dalil pengetahuan dari ahli lalu dialirkan kepada siswa.

Terlepas dari kelemahannya, pendekatan saintifik merupakan protes terhadap ketertutupan objek pengetahuan dari sentuhan siswa. Melalui kegiatan mengamati, menanyakan, menalar, mencoba, mengolah, dan mengomunikasikan, siswa dapat berinteraksi secara langsung dengan objek pengetahuan. Siswa dilatih untuk menimba sendiri pada sumur ilmu pengetahuan. Dengan demikian, kebenaran tidak hanya berada dalam dalil baku dan pendidikan lebih dari sekadar menyampaikan dalil tentang objek ilmu kepada siswa. Lebih dari itu, pendekatan saintifik membuka rahasia kepada siswa tentang cara memperoleh ilmu pengetahuan.

Pendidikan di ruangan tertutup juga dipicu dan dipacu dengan kultur penilaian pembelajaran. Selama ini, penilaian cenderung dilihat sebagai pelengkap yang dilakukan sekadarnya saja pada akhir pembelajaran. Maka penilaian terjebak dalam praktik primitif untuk mengukur aspek kognitif lewat penggunaan secara monoton teknik tes dengan instrumen berupa butir kering soal tes kognitif. Penilaian seperti ini menjebakkan pendidikan pada rutinitas pengap dalam ruangan serentak kehilangan arena bagi siswa untuk mengaplikasikan keterampilannya.

Penilaian autentik membongkar pendidikan yang terisolasi dari konteks kehidupan nyata. Hal ini terjadi karena penilaian autentik menghendaki adanya tugas-tugas nyata yang perlu dikerjakan siswa. Tugas-tugas itu merupakan metafora dari persoalan di lapangan kehidupan, dan hanya menjadi mungkin ketika pembelajaran tidak disandera dalam ruangan tertutup.***

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s