Menakar Kualitas Pendidikan Tinggi

Flores Pos, Sabtu, 3 Mei 2014

Oleh GUSTY FAHIK

Anggota Liga Mahasiswa Pascasarjana (LMP) NTT, Yogyakarta. Artikel ini dipublikasikan di blog ini setelah mendapat izin dari penulisnya.

Gusty Fahik

Gusty Fahik

Berdasarkan riset Melbourne Institute of Applied Economic and Social Research dari The University of Melbourne (Australia) mengenai perbandingan Sistem Pendidikan Tinggi Nasional (SPTN) negara-negara anggota G20 tahun 2013, Indonesia menduduki peringkat 50 dari 50 negara. Indonesia berada di bawah sesama negara ASEAN lain yang juga masuk dalam kelompok negara-negara G20 seperti Singapura (9), Malaysia (27) dan Thailand (47).

Dalam riset ini, ada empat kriteria yang dievaluasi berkaitan dengan kualitas sistem pendidikan tinggi suatu negara, yakni sumber daya (resources), lingkungan (environment), konektivitas (conectivity) dan keluaran (output). Setiap kriteria diberi bobot yang kemudian dikombinasikan untuk menentukan pemeringkatan akhir. Kriteria output diberi bobot paling tinggi, 40 persen, resources 25 persen, environment 20 persen, dan conectivity 15 persen.

Empat Kriteria

Keempat kriteria itu bisa diutarakan di sini, dan juga bagaimana posisi Indoneseia pada masing-masing kriteria. Pertama, sumberdaya (resources), yakni ketersediaan dana baik dari pemerintah maupun dari pihak swasta. Dana yang cukup dianggap mampu menjamintersedianya tenaga-tenaga pengajar dan periset berkualitas bagus, sehingga dapat meningkatkan kualitas peserta didik, dan menghasilkan riset-riset bermutu. Untuk kriteria ini, Indonesia berada pada urutan 50, di bawah Singapura (8), Malaysia (13), dan Thailand (49), sementara urutan 1 ditempati oleh Denmark.

Kedua, lingkungan (environment), berkaitan dengan keterlibatan perempuan baik sebagai pengajar, periset, maupun peserta didik di jenjang pendidikan tinggi. Selain itu, aspek environment juga berkaitan dengan otonomi institusi pendidikan tinggi, serta kehadiran lembaga yang memonitor kualitas pendidikan tinggi. Dalam aspek ini, Indonesia berada pada urutan 39, di bawah Thailand (32), Malaysia (25) dan Singapura (12).

Ketiga, konektivitas (connectivity) diukur berdasarkan kehadiran mahasiswa asing di perguruan tinggi, serta keterlibatan perguruan tinggi dalam publikasi hasil-hasil riset internasional. Indonesia berada pada urutan 25, tertinggal dari Singapura (3), tetapi di atas Malaysia (37) dan Thailand (39).

Keempat,keluaran (output) pendidikan tinggi yang mencakupi jumlah artikel dan publikasi ilmiah yang dihasilkan oleh perguruan tinggi, persentasi jumlah penduduk berusia di atas 24 tahun yang mengenyam pendidikan tinggi, serta perbandingan jumlah pengangguran berijazah perguruan tinggi dengan penganggguran berijazah sekolah menengah. Kriteria ini ‘menjebloskan’ Indonesia kembali berada pada urutan 50, tertinggal dari Singapura (18), Malaysia (46) dan Thailand (47).

Bila merujuk hasil riset ini, maka dapat dikatakan bahwa kualitas sistem pendidikan tinggi kita masih tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara lain anggota G20. Menariknya, ada dua kriteria yang menempatkan Indonesia pada posisi paling akhir yakni sumber dana (resources) dan keluaran (output). Tanpa mengesampingkan kedua kriteria lain itu, dapat dilihat keterkaitan antara kualitas output dengan kualitas tenaga pengajar atau periset.

Kaitan Kualitas “Output” dan Tenaga Pengajar

Pemerintah sendiri dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Tahun 2012 telah mengalokasikan dana sebesar Rp289,95 triliun untuk pendidikan. Tahun 2013, anggaran pendidikan dinaikkan menjadi Rp336,8 triliun ditambah Rp7,5 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) Tahun 2013 yang dialokasikan sebagai bantuan siswa miskin dan beasiswa bidik misi. Apakah alokasi dana pendidikan ini telah mampu dimanfaatkan demi meningkatkan kualitas pendidikan, misalnya, dengan menyediakan tenaga-tenaga pengajar yang berkualitas?

Pasalnya, ketersediaan tenaga pengajar atau periset yang berkualitas pada institusi pendidikan tinggi akan memberi pengaruh langsung terhadap kualitas output yang dihasilkan. Kualitas tenaga pengajar ini juga berkaitan dengan situasi yang tercipta dalam lingkungan institusi pendidikan tinggi, keterlibatan dalam penelitian dan publikasi-publikasi ilmiah, serta upaya membangun jalinan kerja sama global dengan institusi pendidikan tinggi lain. Apa kegunaan sumber dana yang melimpah, bila tidak ditopang oleh sumber daya manusia yang kompeten di dalam institusi-institusi pendidikan kita?

Prof. Dr. Ki Supriyoko (Kompas, 22/3/2002) menilai rendahnya kualitas dosen dan guru di Indonesia tidak terlepas dari kurangnya minat “membaca” dalam diri para tenaga pengajar tersebut. Bila untuk membaca saja para tenaga pengajar tidak memiliki kemauan, apalagi yang hendak dikatakan tentang penelitian dan publikasi ilmiah? Pada tahap ini, kita boleh menilai, kualitas output macam apa yang dapat kita harapkan dari institusi-intitusi pendidikan tinggi kita?

Indikator lain dapat dilihat dari jumlah perguruan tinggi kita yang masuk dalam data Scopus, berdasarkan publikasi dalam jurnal-jurnal ilmiah yang telah berindeks Scopus. Tahun 2012 hanya 54 perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam indeks Scopus, dimana Universitas Nusa Cendana (Undana) menjadi satu-satunya perguruan tinggi di ProvinsiNusa Tenggara Timur (NTT) yang masuk dalam daftar dan berada di urutan 46 dengan 18 publikasi ilmiah. Di sisi lain, hanya ada 12 jurnal yang berindeks Scopus di Indonesia per September 2013.

Gelitik Kesadaran

Data-data yang disajikan di atas tidak akan berarti apa-apa, jika tidak mampu menggelitik kesadaran kita, terlebih para penyelenggara pendidikan di NTT untuk secara otonom menakar dan menilai kualitas yang dimiliki atau yang coba dibangun selama ini. Alih-alih membangun kualitas, kita justru dikejutkan oleh kasus korupsi yang merasuk ke dalam dunia pendidikan, seperti korupsi PLS senilai Rp77 miliar, korupsi pengadaan buku mata pelajaran, dan yang terbaru dugaan korupsi yang terjadi di Politeknik Negeri Kupang.

Selama korupsi masih merajalela dan kualitas tenaga pengajar dalam institusi-institusi pendidikan tinggi kita masih rendah, maka upaya membangun kualitas output pendidian tinggi yang berdaya saing dan mampu mengubah keadaan hanya akan menjadi mimpi di siang bolong. Dengan demikian, kita tidak perlu kaget, bila banyak lulusan perguruan tinggi hanya akan menambah daftar pengangguran berijazah di NTT.****

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s