Balas Dendam Sudah Lama Berlalu (1)

  • Catatan Homiletis Terkait Kasus Anselmus

Oleh Damian Ria Pay, SVD

Damian Ria Pay

Pater Damian Ria Pay SVD, Tinggal di Italia

Kasus pemasungan tragis atas Anselmus Wara di Kurumboro, Ende Timur, tidak lagi hanya menjadi konsumsi masyarakat Ende, atau daratan Flores saja. Betapa tidak, ketika kejahatan kemanusiaan itu dipublikasikan di media sosial (facebook) oleh Pater Avent Saur SVD (dengan gambar-gambar yang mengerikan dan menjijikkan dari sisi kemanusiaan dan agama), banyak orang menaruh keprihatinan, bukan cuma teman-teman di Indonesia melainkan juga di luar negeri.

Bersamaan dengan keprihatinan itu, pelbagai komentar pun muncul dengan nada tanya. “Kok budaya seperti ini masih ada di daratan Flores yang notabene dihuni oleh orang-orang beragama Kristen Katolik yang menjunjung tinggi ajaran cinta kasih? Di manakah pemerintah? Pemerintah hanya peduli dengan kekuasaan dan uang, dan tidak peduli dengan rakyat yang menderita? Di manakah Gereja? Gereja hanya peduli dengan administrasi, derma, kolekte, perayaan di rumah ibadat, peringatan arwah, dan sebaliknya tidak peduli dengan pergulatan umat yang dililiti pelbagai persoalan sosial, budaya dan kemanusiaan?

Sudah Lama Berlalu

Melanjutkan komentar dan pertanyaan-pertanyaan ini, saya ingin berkomentar dan merenungkan tragedi kemanusiaan Anselmus dalam terang Injil, bertolak dari Sabda Bahagia Yesus. Teks Injil Matius 5:38-48 merupakan sebuah kelanjutan dari khotbah di bukit yang berisikan Sabda Bahagia Yesus. Dalam teks ini, kita menemukan dua bagian terakhir dari keseluruhan isi Sabda Bahagia itu.

Keseluruhan Sabda Bahagia sebenarnya mengajak orang beriman (Kristen) untuk berjuang melampaui batas-batas hukum resmi Perjanjian Lama. Isi Sabda Bahagia merupakan kepenuhan dan kesempurnaan hukum cinta ilahi yang diwujudnyatakan oleh Yesus Kristus sendiri. Oleh karena itu, dalam kenyataannya, khotbah di bukit bukan berisikan kata-kata hampa, atau dalam khotbah di bukit, manusia tidak dihadapkan dengan norma tertulis. Manusia justru dihadapkan dengan seorang pribadi yang hidup yakni Allah sendiri, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Allah yang hadir secara nyata dan sederhana di hadapan manusia.

Yesus menghapus hukum pembalasan, dan Ia mengajak semua orang untuk menanggalkan setiap praktik balas dendam. Hukum pembalasan sejatinya bukan berasal dari pribadi-pribadi beriman. Bukan pula produk hukum yang lahir dari kedalaman refleksi batin. Hukum pembalasan ditetapkan langsung oleh otoritas yang ada di luar diri manusia dengan roh keadilan yang sangat rapuh, jauh dari spirit keadilan universal. Muara hukum pembalasan ini hanya berakhir pada spiral kekerasan dan balas dendam. Upaya pencarian keadilan gampang terjerumus ke dalam hukum rimba. “Mata ganti mata, gigi ganti gigi”.

Upaya mencari perlindungan hukum terhadap tindakan ketidakadilan yang kita terima dari orang lain pada prinsipnya benar dan sah. Namun menuntut penghormatan terhadap hak-hak pribadi bukan berarti membenarkan cara-cara yang kejam dan bengis terhadap pelaku kejahatan. Permohonan keadilan bukan berarti pemenuhan upaya balas dendam. Bagi pencari keadilan, perlu adanya upaya penyangkalan diri dari sikap dendam dan amarah. Roh Kristus mendasari moral Kristen bahwa keadilan diperuntukkan bagi kepentingan dan kebaikan bersama.

Secara moral tidak dapat diterima, jika upaya pencarian keadilan dilakukan atas dasar benci dan balas dendam yang bertujuan hanya demi merusak dan menghancurkan pelaku kejahatan; justru praktik ini yang sedang pertontonkan oleh warga Kurumboro terhadap Anselmus. Hukuman yang setimpal bagi pelaku kejahatan adalah sah demi kesadaran dan perbaikan diri serta terjaminnya keamanan bagi hidup masyarakat. Namun tidak demi upaya pemenuhan nafsu balas dendam. Hukum arkais dan kuno menghidupi praktik hukum yang bengis dan keji terhadap pelaku kejahatan. Aspek ini ditolerir demi menghadirkan efek jera. Atas nama keadilan, penghilangan nyawa dianggap layak. Yesus menghadirkan sebuah hukum baru yang melampui baik hukum arkais maupun kitab hukum perjanjian lama. Dan dengan itu, hukum balas dendam pun berlalu.

Sikap Dasar Orang Kristen

Yesus yang datang untuk menyempurnakan segala hukum di bumi, dan Ia mengajak semua orang beriman untuk “mencintai musuh”. Cinta terhadap musuh dengan memajukan kepentingan dan perkembangan mereka yang menghina kita, menjadi inti pewartaan hukum cinta Kristus itu. Ajakan tersebut diperuntukkan bagi setiap orang yang tidak ingin tinggal dan berkutat dalam pola hukum lama yang kejam dan anarkis. Yesus hadir dengan menawarkan perspektif baru demi kemajuan kemanusiaan universal sejati. Kemajuan ini hanya mungkin dicapai ketika di dasar hati manusia hidup roh cinta dan pengampunan.

Dalam keadaan apa pun – cinta terhadap musuh – tetap akan selalu menjadi imperatif moral yang mendasari sikap hidup orang kristen. Kriteria ini yang membedakan para pengikut Kristus dengan orang lain. Kriteria inilah yang memungkinkan kita untuk mengambil bagian dalam kekudusan sebagai anak-anak Allah.

Tuhan ingin agar “kekudusan-Nya” yakni pemisahan diri dari kejahatan atau kepenuhan kebaikan itu – tampak dalam tingkah dan pola hidup umat-Nya. Benci dan balas dendam merupakan kejahatan, dan karena itu, harus dijauhkan dari kehidupan bersama. Cinta dan belas kasih adalah kebaikan, dan karena itu, harus selalu ada di dasar hati setiap orang beriman. Kekudusan sejatinya tidak berarti hidup tanpa dosa, namun lebih jauh menegaskan kepada kita untuk percaya dengan sungguh-sungguh kepada-Nya bahwa Dia mampu melakukan karya-karya-Nya yang ajaib dan besar dalam dan melalui diri kita.

Kebeningan nurani menuntun pola tindakan kaum beriman untuk tidak gampang jatuh pada penghakiman yang keji dan garang. Yesus melampaui dasar ketentuan hukum pembalasan dengan mengatakan kepada murid-murid-Nya: “Hendaklah hatimu selalu siap untuk tidak melakukan pembalasan, tidak melawan ketidakadilan dengan kekerasan!”

Balas dendam melahirkan balas dendam. Darah yang tertumpah selalu menuntut pertumpahan darah baru. Bagi mereka yang ingin menegakkan damai dengan menggunakan senjata dan perang – perdamaian akan semakin menjauh. Mengapa? Sebab spiral kekerasan akan teruntai bagai labirin yang sulit terurai.

Dasar-dasar kegembiraan dan perdamaian dalam hidup bersama hanya mungkin ada, jika semangat dasar ini selalu tertanam dalam batin orang Kristen. Tanpa semangat dasar ini, kita sering menjadi musuh bagi sesama, ketika kita tidak memperlakukan orang lain dengan baik, tidak tuntas menghendaki kebaikan sesama dengan jujur dan tulus. Kita justru merasa gembira, ketika orang lain ditimpa kemalangan; kita justru merasa puas, ketika sesama menderita.*** (Flores Pos, Sabtu, 10 Mei 2014)

Bersambung ke: *Balas Dendam Sudah Lama Berlalu (2)

Artikel terkait: Dosa Pembunuhan? (1) *“Kadang Error, Kadang Waras” (2) *Tersingkir Secara Sosial dan Religius (3) *Warga Kurumboro Bongkar Rumah Anselmus *Kondisi Anselmus Semakin Kritis *Anselmus Wara Telah Dievakusi *Sadisme Kolektif *Ketika Negara Gagal Bertindak *Anselmus, Pemasungan dan Humanisme *Dia Itu Penjahat? *Malam Puisi Tumbuhkan Kepedulian Sosial *Hikayat Anselmus*Malam Puisi untuk Anselmus *Sebulan Dirawat, Anselmus Semakin Membaik *Anselmus Jalani Perawatan Lanjutan

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s