Kondisi Anselmus Semakin Kritis

Luka Borok

KAKI LUKA BOROK – Rafael Wanda, ayah kandung Anselmus memperlihat kedua kaki Anselmus yang luka borok, berbau, bernanah membasahi kayu pasungan. Biasanya, Rafael Wanda menutupinya dengan kain agar lalat tidak hinggap pada luka-luka itu. Kadang ia menyiram luka ini dengan air garam untuk mengurangi ulat-ulat, dan kadang juga mencungkil ulat dengan memakai sendok makan. Gambar diambil, Sabtu (10/5) siang.

Flores Pos, Rabu, 14 Mei 2014

  • Romo Sipri Sadipun: Kasus Urgen, Pemerintah Mesti Bergerak Cepat
  • Camat Ende Timur: Saya Tunggu Perintah Bupati

Oleh Avent Saur

Kondisi Anselmus Wara, warga Kampung Kurumboro, Desa Tiwu Tewa, Ende Timur (Flores Tengah, Nusa Tenggara Timur/NTT) yang terpasung sejak enam bulan lalu, tampak semakin kritis. Luka-luka di kedua kakinya semakin memborok, berbau busuk, ulat semakin banyak, dan nanah-nanah atau bilur-bilur yang bersumber dari luka-luka itu menetes membasahi kayu pasungan.

Selain itu, tulang belakang dan bagian pantatnya juga terluka dengan bau menyengat, borok dan berulat. Nafasnya terengah-enggah, debaran jantungnya semakin cepat.

Hal ini disaksikan Flores Pos pada Sabtu (10/5) siang, saat mengunjungi Anselmus dan ayah Rafael Wanda di rumah kediamannya, Kurumboro. Rumah sederhana dibongkar warga kampung Kurumboro pada Minggu (27/4) lalu.

Dengan suara terbata-bata, Anselmus mengatakan, ia sudah tidak bisa tahan lagi untuk menanggung penderitaannya itu. Tidak seperti biasanya yang menyambut Flores Pos dengan deraian air mata bahkan menangis tersedu-sedu, kali ini Anselmus tampak lelah, lemah lesu dan semakin tak berdaya.

“Pater, saya tidak butuh kunjungan lagi. Saya juga tidak butuh senyuman dan penghiburan, makanan dan minuman atau uang. Saya hanya butuh satu tindakan: bebaskan saya dari pasungan ini! Biar kurung saja saya dengan sel baja, yang penting jangan siksa saya seperti ini. Kayu pasungan ini, terasa sudah mengena pada tulang kaki saya, sehingga darah segar juga kadang mengalir dari luka-luka ini. Rasanya, saya mau mati saja karena saya tidak mampu bertahan lagi,” ujar Anselmus yang mengundang pilu.

Dokter Tidak Bisa Obati

Rafael Wanda, ayah kandung Anselmus mengatakan, pada Selasa (29/4) lalu, beberapa tentara, polisi dan Camat Ende Timur datang ke kampung Kurumboro, dan beberapa di antara mereka memasuki kamar di mana Anselmus terpasung. Pada hari itu juga, sekitar sore hari, beberapa dokter dan perawat serta beberapa romo datang melihat dari dekat kondisi Anselmus. Tapi setelah itu, dan hingga hari Sabtu (10/5), mereka tidak datang lagi.

“Pada waktu itu, dokter ingin mengobati kaki dan tulang belakang Anselmus, tapi mereka tidak bisa lakukan itu karena kedua kakinya sudah menyatu dengan kayu pasungan. Luka di tulang belakangnya juga tidak bisa diobati karena Ansel tidak bisa bangun atau kalau ia dibangunkan, maka ia berteriak histeris lantaran sakit yang tak tertahankan,” ujar Rafael Wanda yang setia menemani Ansel.

“Dokter bilang,” lanjutnya, “kalau Ansel dilepaskan dari pasungan, baru mereka bisa obati dengan baik. Tapi kan warga kampung ini belum mengizinkan Ansel dilepaskan. Beberapa hari terakhir, darah segar keluar dari kaki Ansel, dan itu yang membuat dia semakin tidak berdaya. Saya cemas dan takut, kalau-kalau anak saya mati dengan cara seperti ini.”

Pemerintah dan Gereja

Ketua Caritas Keuskupan Agung Ende, Romo Sipri Sadipun yang dihubungi per telepon di Surabaya, membenarkan bahwa dirinya bersama Pastor Paroki Roworeke dan Pastor Kapelan Paroki Roworeke, Camat Ende Timur, polisi dan para petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ende mengunjungi Anselmus dan warga Kurumboro, pada Selasa (29/5) lalu.

Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr

Uskup Agung Ende, Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr

Romo Sipri mengatakan, para romo mewakili Gereja lokal pergi ke kampung itu berdasarkan pengutusan Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota untuk memberikan penyadaran kepada warga Kurumboro bahwa pemasungan terhadap orang gila adalah tindakan yang tidak manusiawi. Apalagi, sampai sekarang kondisi Anselmus sudah sampai taraf gawat. Terhadap orang gila, apa pun alasannya termasuk tindakan pembunuhan, warga tidak boleh menyiksa dia dengan cara memasung sampai luka borok dan berulat pada kaki dan tulang belakang. Hukum di negara ini juga tidak mengizinkan tindakan seperti ini.

“Gereja berjuang supaya Anselmus dilepaskan, lalu luka-lukanya diobati, dan ia mesti dirujuk ke tempat rehabilitasi. Perjuangan kita mesti tuntas, tidak hanya menyembuhkan sakit fisik tetapi juga sakit jiwanya. Warga Kurumboro memang menginginkan, kita membangun rumah kecil untuk Ansel, berbentuk seperti kotak. Tapi saya sadarkan mereka bahwa hal itu tidak manusiawi. Ansel kan bukan binatang. Sekalipun warga Kurumboro marah, dendam, cemas, takut, trauma, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membiarkan Ansel mati di pasungan. Saya sudah hubungi pihak panti rehabilitasi di Ruteng untuk perawatan Anselmus dari segi psikis,” tegas Romo Sipri.

Romo Sipir melanjutkan, para romo sudah berembuk dengan pihak pemerintah dalam hal ini Camat Ende Timur dan Plt. Sekda Ende untuk membuat langkah praktis demi menyelamatkan Anselmus. Dirinya mengira bahwa dua pekan terakhir, pemerintah dengan aparat keamanan sudah berbuat sesuatu untuk Ansel, padahal nyatanya belum, sementara Ansel semakin kritis. “Pemerintah mesti bergerak cepat dan spontan, dalam konteks kasus urgen (mendesak) seperti ini, karena Anselmus adalah warga negara yang mesti diselamatkan oleh negara,” katanya.

Tunggu Perintah Bupati

Sementara itu, Camat Ende Timur Karolus Jemada yang dihubungi Flores Pos per telepon mengatakan, keputusan untuk melepaskan Anselmus, merawat dan merujuknya ke panti rehabilitasi merupakan sebuah keputusan besar karena menyangkut orang-orang yang mengurus kesembuhan Ansel dan biaya-biayanya. Dirinya tidak bisa mengambil keputusan apa pun atas kasus ini, sehingga dalam dua pekan terakhir tidak lagi mendatangi warga Kurumboro dan melawati Ansel.

Marsel Y.W. Petu

Bupati Ende, Marsel Y.W. Petu

“Bersama para romo dan Plt. Sekda Ende, kami memang sudah bicarakan bahwa untuk kesembuhan Ansel akan diurus oleh dinas kesehatan. Untuk rehabilitasi diurus oleh dinas sosial, dan untuk keamanan, tentu para polisi. Tapi untuk sampai kepada dinas-dinas terkait, saya tidak memiliki kewenangan. Dan untuk langkah-langkah praktis lainnya, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya tunggu saja apa perintah bupati Ende,” katanya.

Karolus Jemada melanjutkan, pihaknya mendapat informasi dari Plt. Sekda Ende bahwa kasus ini sudah disinggung kepada Bupati Ende, tapi langkah apa yang ditempuh bupati, belum diketahui. “Pater, bisa langsung hubungi Plt. Sekda Ende atau Bupati Ende untuk mendapatkan kepastiannya,” ujarnya.

Bupati Ende, Marsel Petu, ketika dihubungi Flores Pos, Selasa (13/5) siang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti upacara pelantikan kepala desa di Nangapenda. Dalam pesan singkat, Bupati Marsel mempersilahkan wartawan untuk menemuinya pada malam hari. Tapi pertemuan itu tidak bisa dilakukan karena beberapa jam sebelumnya, berita ini harus sudah diturunkan ke meja redaksi.***

Artikel terkait: Dosa Pembunuhan? (1) *“Kadang Error, Kadang Waras” (2) *Tersingkir Secara Sosial dan Religius (3) *Warga Kurumboro Bongkar Rumah Anselmus *Anselmus Wara Telah Dievakusi *Sadisme Kolektif *Ketika Negara Gagal Bertindak *Anselmus, Pemasungan dan Humanisme *Dia Itu Penjahat? *Balas Dendam Sudah Lama Berlalu (1) *Balas Dendam Sudah Lama Berlalu (2) *Malam Puisi Tumbuhkan Kepedulian Sosial *Hikayat Anselmus*Malam Puisi untuk Anselmus *Sebulan Dirawat, Anselmus Semakin Membaik *Anselmus Jalani Perawatan Lanjutan

Anselmus

DENGARKAN KELUHAN – Pater Avent Saur SVD sedang mendengarkan keluhan dan harapan Bapak Rafeal Wanda (ayah kandung dari Anselmus), dan juga keluhan serta harapan saudara Anselmus, saat mengunjungi mereka di Kurumboro, Sabtu, 10 Mei 2014.

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Kondisi Anselmus Semakin Kritis

  1. khaerul says:

    bgmn dia skrg?apa sudah ada tindakan dr pmerintah?dan apakah kondisinya membaik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s