Warga Kurumboro Kemukakan Tiga Tuntutan

Flores Pos, Selasa, 20 Mei 2014

  • Kasus Anselmus Wara

Oleh AVENT SAUR

Pembebasan dan evakuasi terhadap Anselmus Wara dari kayu pasungan, pada Jumat (16/5), tidak membebaskan dirinya dari pelbagai tuntutan warga sekampungnya. Warga Kurumboro, Dusun Wolombangga, Desa Tiwu Tewa, Ende Timur (Flores, NTT) mengemukakan tiga tuntutan keras terhadap Anselmus Wara. Tuntutan itu tertuang dalam surat “Berita Acara Musyawarah tentang Penanganan Saudara Anselmus Wara” yang dialamatkan kepada Pemerintah Daerah Ende, dan tembusannya diterima Flores Pos, Senin (19/5) siang.

Dalam surat setebal lima (5) halaman itu, warga menuntut, apabila Anselmus dinyatakan sembuh dan kembali ke kampung Kurumboro, maka pihak pemerintah dan keluarga harus membuat kandang besi untuk Anselmus agar yang bersangkutan tidak melakukan kekerasan terhadap warga. Dan apabila kandang itu tidak dibuat, maka Anselmus tidak diperbolehkan kembali ke kampung Kurumboro seumur hidupnya.

Selain itu, warga juga menuntut, apabila di kemudian hari Anselmus mengancam keselamatan warga Kurumboro, maka warga Kurumboro tidak segan-segan akan melakukan kekerasan terhadap yang bersangkutan.

Anselmus Itu Manusia

Tiga tuntutan itu disepakati warga Kurumboro dalam musyawarah yang berlangsung, Jumat (16/5) di Kurumboro. Musyawarah ini dihadiri Plt. Sekda Ende Sebastianus Doa Sukadamai, Kepala Dinas Sosial Ende, Kepala Dinas Kesehatan Ende, Camat Ende Timur, Kapolsek Ende, Babinsa Ende timur dan Kepala Puskesmas Rewarangga.

Sebastianus Doa Sukadamai

Sebastianus Doa Sukadamai, Plt. Sekda Ende

Menurut Sebastianus, musyawarah antara warga dengan pemerintah, pada saat itu, berlangsung alot, tapi akhirnya bisa membuahkan hasil di mana warga membolehkan Anselmus dilepaskan dan dirawat. Sementara tiga tuntutan yang dikemukakan warga itu sebenarnya disepakati secara internal di antara warga sendiri, sekalipun pihak pemerintah hadir saat musyawarah itu.

“Pada saat itu, warga mengajukan pelbagai tuntutan, dan pemerintah mengajak warga untuk menuangkan tuntutan itu secara tertulis, sekaligus membuat berita acara atas musyawarah tersebut. Disepakati, warga menyelesaikan berita acara dan tuntutan itu pada Senin (19/5), dan warga sudah menepati kesepakatan itu,” katanya, saat dihubungi Flores Pos, Senin (19/5) siang.

Sebastianus mengatakan, tuntutan pembuatan kandang besi untuk Anselmus, sebetulnya mesti dipertimbangkan lagi. Dalam undang-undang di Republik Indonesia ini tidak ada hukuman yang memperbolehkan manusia dikandangkan. Tuntutan itu bertabrakan dengan apa yang diharapkan pemerintah, karena semua manusia tidak boleh diperlakukan seperti binatang. “Anselmus harus diperlakukan sebagai manusia seperti kita,” ujarnya.

“Kita masih memiliki waktu ke depan untuk mengevaluasi tuntutan itu. Yang penting sekarang adalah kita berkonsentrasi pada perawatan kaki-kaki dan tulang belakang Anselmus yang berluka borok itu. Setelah fisiknya pulih, pemerintah akan berupaya untuk membawanya ke rumah sakit jiwa di Kupang (Ibukota Provinsi NTT), atau panti rehabilitasi. Anselmus harus disembuhkan secara tuntas baik fisik maupun psikis,” lanjutnya.

Melalui short messages service (SMS), Sebastianus menambahkan, direktur RSUD Ende menginformasikan bahwa jika Anselmus diantar terlambat ke rumah sakit, maka pasti akan berakibat fatal. Anselmus memang tampak lemah, tetapi dokter berjanji untuk memberikan perawatan maksimal terhadapnya. “Sekarang, Anselmus mulai tampakkan tanda-tanda kemajuan,” katanya.

Tentang pengembalian Anselmus ke kampung kelahirannya, menurut Sebastianus, akan diurus kemudian. Beliau mengharapkan kerja sama antar-pelbagai pihak terutama Gereja, untuk memberikan sosialisasi dan pencerahan kemanusiaan serta pendalaman iman kepada warga, bukan hanya warga kampung Kurumboro.

Nilai di Balik Tuntutan

Senada dengan itu, Ketua Caritas Keuskupan Agung Ende, Romo Sipri Sadipun mengatakan, pada dasarnya, Gereja tidak setuju dengan hukuman Anselmus dikandangkan. Tetapi tuntutan itu tentu memiliki nilai di baliknya, bahwa keamanan warga Kurumboro harus dijamin. Dan pemerintah dan Gereja harus memenuhi jaminan keamanan ini.

“Kalau Anselmus sudah sembuh total, maka tentu saja tuntutan itu tidak relevan untuk diterapkan. Tetapi kita harus menjaga hal-hal negatif yang mungkin saja terjadi. Untuk itu, apabila Anselmus telah sembuh dan dikembalikan ke kampung, maka kita harus mengadakan rekonsiliasi di antara mereka. Kita harus pastikan bahwa relasi antara warga dengan Anselmus berjalan baik, normal dan aman,” katanya.

Menurut Romo Sipri, di Kabupaten Ende terdapat banyak orang gila. Semestinya, pemerintah tidak hanya memperhatikan orang-orang sehat saja, melainkan juga orang-orang gila itu karena sebagai warga negara yang notabene sakit, mereka memiliki hak untuk dilindungi dan dijamin oleh negara.

“Gereja memang harus bekerja sama dengan pemerintah untuk menangani masalah ini. Gereja memiliki data tentang orang gila, dan juga data tentang orang-orang cacat. Negara mesti mengakomodir hak hidup mereka untuk dijamin baik sisi ekonomi, mental maupun kesehatannya. Dinas Sosial Kabupaten Ende pasti memiliki anggaran untuk rakyat seperti ini, dan Gereja akan terus mendorong pemerintah untuk menggunakan anggaran itu secara transparan,” ujarnya.

Profil Surat

Surat “Berita Acara Musyawarah tentang Penanganan Saudara Anselmus Wara” itu terdiri dari lima lembar. Lembaran pertama berisi “pengantar” yang ditandatangani oleh Pejabat Kepala Desa Tiwu Tewa Petrus Pape. Lembaran kedua berisi sebuah pernyataan dan tiga tuntutan. Sedangkan lembaran ketiga sampai kelima berisi tanda tangan warga.

Ame Rafael Wanda

Rafael Wanda, ayah kandung dari Anselmus

Dalam lembaran kedua tertera tiga nama, antara lain Ketua Badan Permusyarawatan Desa Tiwu Tewa Bonefasius More, Pejabat Kepala Desa Tiwu Tewa Petrus Pape, ayah kandung Ansemus yakni Rafael Wanda. Tetapi yang membubuhkan tanda tangan hanya Rafael Wanda, sedangkan kedua nama lainnya, tidak.

Selain itu, tertera juga kalimat “warga masyarakat Dusun Wolombangga” dengan keterangan “terlampir”. Lembaran lampiran itu (tiga lembar) berisi tanda tangan warga, dan Pejabat Kepala Desa Tiwu Tewa Petrus Pape, serta pihak pemerintah yang hadir saat musyawarah, Jumat (16/5). Total orang yang membubuhkan tanda tangan sebanyak 64 orang.

Menurut Sekretaris Desa Tiwu Tewa Sisilia Bunga, selain kepada Flores Pos, surat itu dikirim juga kepada pelbagai pihak, antara lain Uskup Agung Ende, Camat Ende Timur, Polres Ende, dan beberapa dinas terkait.***

Baca artikel terkait: (1-3)Doa Pembunuhan? (1); dan Kadang Error, Kadang Waras (2); dan Tersingkir Secara Sosial dan Religius (3); dan Warga Kurumboro Bongkar Rumah Anselmus; dan Sadisme Kolektif; dan Balas Dendam Sudah Lama Berlalu (1); dan Balas Dendam Sudah Lama Berlalu (2); dan Kondisi Anselmus Semakin Kritis; dan Ketika Negara Gagal Bertindak; dan Dia Itu Penjahat?

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s