Gereja dan Revolusi Cinta

Opini Flores Pos, Senin, 26 Mei 2014

  • Catatan Terlambat untuk Dies Natalis STFK Ledalero

Oleh GUSTY FAHIK

Gusty Fahik

gusty Fahik, Alumnus STFK Ledalero, Maumere, Anggota Liga Mahasiswa Pascasarjana (LMP) NTT  Yogyakarta

Pada Mei 1964, Bung Karno berpidato dalam Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja Indonesia. Dalam pidato itu, ia mengisahkan kembali bagaimana ia diadili di hadapan pengadilan kolonial di Bandung (1930) yang dipimpin Mr. Dr. Siegenbeek van Heukelom. Ketika ditanya mengenai hakikat revolusi tanpa bom-bom dan granat-granat, serta tokoh yang menginspirasi model revolusi semacam itu, Bung Karno dengan jelas menjawab bahwa ia menimba inspirasi untuk revolusi tanpa bom dan granat itu dari Nabi Isa, Yesus Kristus.

Pengakuan ini mengagetkan, tetapi juga menakutkan, sebab ketua pengadilan kolonial tidak menyangka seorang inlander Islam dapat menafsirkan Injil dengan begitu meyakinkan dan diubah menjadi sebuah model revolusi melawan kolonial (Dhakidae, 2003, 549-550). Ironisnya, bangsa kolonial yang menjajah Indonesia dan mengadili Sukarno adalah sebuah bangsa yang memiliki latar belakang religius Kristen, dan sudah pasti mengenal sosok Yesus Kristus, dan ajaran-ajaran-Nya seperti termuat dalam Kitab Suci (Injil).

Semua soal penafsiran, bagaimana Injil ditafsirkan tentu memberi implikasi yang berbeda dalam praksis hidup. Namun, bila Injil ditafsirkan sebagai sebuah teks yang hidup, dengan Yesus sebagai sosok revolusioner yang melakukan perubahan tanpa senjata, maka yang menjadi pegangan ialah sikap, kata dan ajaran-Nya, terutama ajaran mengenai cinta kasih radikal yang memandang musuh sebagai sesama yang perlu dicintai dan didoakan.

Ini adalah sebuah revolusi mental dan pikiran, yang tentu saja akan tercermin dalam praksis hidup setiap hari. Ini bukan sesuatu yang baru, tetapi sudah menjadi sesuatu yang terus diulang-ulang dalam berbagai kesempatan khotbah atau renungan rohani para pemimpin umat dan pemuka Gereja. Konsep cinta kasih telah menjadi hal utama yang ditekankan oleh kekristenan mungkin sejak pertama kali kekristenan ini menjejakkan kakinya di Folres atau di NTT.

Bercermin pada Realitas

Ketika bercermin pada fakta ketimpangan sosial yang terjadi di NTT, di mana NTT diposisikan sebagai sarang nyaman para koruptor, juga aktor-aktor penganut primordialisme, sebuah pertanyaan bisa diajukan berkaitan dengan peran sosial Gereja dalam menyikapi realitas sosial semacam ini. Apakah nilai-nilai kekristenan telah cukup mengakar dalam batin dan dihidupi dalam praksis keseharian orang NTT yang notabene mayoritas penganut ajaran Yesus? Mungkinkah kekristenan di NTT ibarat air dalam wadah kaca? Artinya, NTT hanya sebuah wadah yang berfungsi menampung air agar tidak tumpah, sementara wadah itu tidak mampu meresap air yang ditampungnya? Bisa jadi, NTT hanya menampung dan menjaga nilai-nilai kekristenan, sementara nilai-nilai itu tidak diresap sama sekali apalagi diwujudkan.

Kemiskinan struktural yang mendera NTT dan praksis demokrasi liberal yang memungkinkan terjadinya persaingan bebas antar-warga negara demi merebut kekuasaan politis, membuat orang menjadi amat pragmatis dan oportunistis, yang tidak jarang berujung pada konflik horizontal seperti terjadi di Sumba Barat Daya, pasca pemilu kepala daerah. Perbedaan pilihan politis dengan mudah mengubah orang menjadi serigala bagi sesamanya. Pada tahap ini, Gereja sepatutnya melihat kembali kritik-kritik yang ada dalam Injil, sebagai oposisi utama yang membantu Gereja untuk tetap mawas diri, dan selalu bersedia membarui diri terus-menerus.

Pada sisi lain, internal Gereja (Katolik) sendiri menghadapi guncangan yang tidak bisa dianggap sepele setelah salah seorang mantan pastor terbukti secara hukum melakukan pembunuhan ketika masih berstatus pelayan umat. Sebuah bumerang bagi Gereja yang dalam banyak kasus justru tampil sebagai pembela keadilan dan penjaga nilai-nilai moral. Sebagai missal, keberanian Gereja memperjuangkan penolakan tambang, dan seruan-seruan bernada kritis melawan praktik korupsi yang mewabah dalam struktur birokrasi pemerintahan.

Berlangkah Lebih Jauh

Gereja di NTT boleh jadi telah cukup konsisten mewujudkan tugas profetiknya, sebagaimana dilakukan Yohanes Pembaptis. Gereja kini perlu lebih jauh bertindak untuk sebuah revolusi yang lebih radikal dan militan, tanpa senjata atau bom, tetapi dengan menafsirkan secara baru ajaran-ajaran Yesus dalam Injil. Agen-agen pastoral Gereja, terutama para imam tidak harus berpuas diri dengan filsafat dan teologi, tetapi perlu melengkapinya dengan kemampuan membaca tanda-tanda zaman, menganalisa wacana-wacana sosial yang berkembang, agar lebih antisipatif dalam merespons perubahan sosial.

Bila demikian, maka peran STFK Ledalero yang pada awal bulan ini (5 Mei 2014) merayakan dies natalisnya, dilihat sebagai salah satu tonggak penyokong perkembangan Gereja di NTT, sekaligus lahan yang menyemai bibit-bibit masa depan Gereja, tidak bisa dianggap enteng. STFK Ledalero dapat dianggap bertanggung jawab dalam menghasilkan manusia-manusia muda, yang kelak diharapkan menjadi agen perubahan, atau agen pengubah situasi sosial dalam Gereja dan masyarakat. Karena itu, untuk merespons perkembangan dunia dan perubahan wacana sosial, STFK perlu melengkapi para calon agen perubahan itu tidak hanya dengan filsafat dan teologi konseptual, tetapi juga filsafat dan teologi kontekstual; yang tidak hanya selaras dengan konteks zaman, tetapi juga antisipatif terhadap perubahan zaman.

Agen-agen perubahan yang dimiliki Gereja tidak cukup hanya ‘berseru-seru’, tetapi juga perlu terlibat langsung dan berani bertarung melawan kondisi sosial. Bisa jadi, STFK Ledalero mampu memberikan begitu banyak teori dan konsep kepada mahasiswanya, tetapi bagaimana teori dan konsep ini dioperasikan, sangat perlu diberikan perhatian.

Teori dan konsep merupakan jawaban atau jalan keluar yang ditawarkan para pemikir tentang berbagai persoalan dunia, tetapi apa gunanya jawaban-jawaban ini, bila tidak ada pertanyaan yang dimunculkan? Jangan sampai pertanyaan memang ada, tetapi tidak ditemukan, sengaja didiamkan, atau memang orang tidak tahu dengan konsep atau pendekatan macam apa persoalan itu diselesaikan. Akibatnya, konsep-konsep yang kita miliki menjadi mubasir, tidak berdaya mengubah keadaan, dan hanya dijadikan penghiburan atau semacam obat penenang bagi umat atau masyarakat, dengan ditambahkan sedikit kutipan ayat-ayat Kitab Suci.

Meski semua ketimpangan sosial di NTT tidak bisa dengan serta merta dianggap sebagai tanggung jawab Gereja semata, tetapi dalam batas-batas tertentu, peran sosial Gereja juga bisa dilihat kembali dengan bercermin pada kenyataan yang sedang bergulir. STFK Ledalero sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi yang berperan menyiapkan agen-agen masa depan Gereja, seyogyanya mampu membaca kecenderungan zaman yang tidak menentu ini, agar dapat meresponsnya dengan membina dan menghasilkan generasi-generasi yang tidak hanya kaya akan konsep-konsep filosofis dan teologis, tetapi juga lebih jauh, berani melakukan revolusi sikap dan mental masyarakat, sehingga nilai-nilai kristiani mampu menjadi inspirasi bagi revolusi sosial yang tidak menggunakan senjata dan bom tetapi dengan cinta dan pelayanan. Ya, sebuah revolusi cinta.***

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s