Hikayat Anselmus

  • (Dibacakan saat Malam Puisi, persembahkan untuk Anselmus dari Kurumboro)

Karya KRISTO SUHARDI

DSC04420

Kristo Suhardi sedang membacakan puisi “Hikayat Anselmus” dalam acara Malam Puisi persembahan untuk Anselmus, Sabtu, 24 Mei 2014

Pagi-pagi sekali, engkau datang membawa cerita dalam linang air mata

‘kemanusiaan telah dipasung oleh pengikut Tuhan yang selalu madahkan doa’

Lalu mulai merobek nas suci yang terkelupas lacur

‘kutemukan ini di depan rumah ibadah pagi ini’

Dan mulai merapal cerita, dalam rintih lirih:

‘pada mulanya adalah sabda bahagia dalam ritus suci,

dan dentang pembebasan dalam rumus luruh doa

juga sepotong madah damai dalamharmoni semu

yang lupa buka telinga, lalu tuli, menghilang’

Anselmus, pagi-pagi sekali engkau datang sambil merobek nas

yang lama terkelupas lacur, dan aku menggumam malu’

“aku salah”

Siang hari, engkau datang menjalin cerita tanpa akhir

dalam tutur luka duka pemasungan tak teredam,

dan kami masih asyik berlutut sujud madahkan pinta

memohon Tuhan alirkan rahmat dan merayu surga bagimu

tapi lupa membuka hati di rongga dada sendiri

Sementara lantun syair bahagia terus engkau dengar

seperti larik khianat, tak bertuah dan berbuah

Ninabobo!

 

Siang ini, engkau akhirnya tahu Anselmus,

teduh sabda ninabobo ternyata lebih manjur membawa orang ke dalam mimpi

daripada ratap tangis tujuh mata angin para tetangga, mendamba selamat.

Jerit tangismu acapkali karam dalam tapa dan madah pagi palsu…

 

Sore hari, bersama deru mentari yang mengamuk dalam amarah

engkau kisahkan kepada kami madah derita di tubir duka mahadalam

katamu ‘sebelum malam datang membunuh harap dan kandangkan kasih

bersama madah pembebasan lelaki yang terpasung

bersama syair jerit rintih lirih,

kembalilah ke dunia lupakan surga yang memenjara…’

dan kami menggumam:

‘Anselmus, hari sudah terlalu senja, kembalilah esok hari

dentang lonceng Gereja dan dentum adzan memanggil kami untuk menjumpai Tuhan kita’

 

Malam hari, tanpa sesal, engkau pulang, membawa kabar ke seluruh penjuru mata angin

dan kepada Tuhanmu:

di tempat ini, nurani kemanusiaan telah dipasung dan terpenjara dalam kata-kata

mulai besok, barangkali tak perlu lagi ada surga…..

kalau doa selalu berarti menjumpai Tuhan dalam surga dan abaikan yang lain

 

dan hikayat ini berakhir dalam sesal….

 

Ecce Homo! Lihatlah Anselmus!

BBK Ende, 24 Mei 2014

***

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s