Allah Tritunggal, Inspirasi untuk Kita

Mimbar Flores Pos, Sabtu, 14 Juni 2014

Oleh YORI NANGO SVD

Yori Nango3

Pater Yori Nango SVD (kanan), biarawan-misionaris tinggal di Seminari Tinggi Ledalero,Maumere, Flores, NTT. Sekarang sedang menunggu penyelesaian urusan visa untuk bermisi di Amerika Barat.

Hari Minggu, 15 Juni 2014, kita memperingati Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Kita hendak merayakan kesatupaduan relasi trinitaris penuh kasih antara Bapa,Putra dan Roh Kudus. Kita hendak menegaskan keesaan Allah dalam cara keberadaannya masing-masing yang saling mengisi, saling berbagi dan saling meresapi.

Santo Paulus menyerukan secara sangat jelas kepada jemaat di Korintus  tentang ketakterpisahan antara ketiga pribadi ilahi ini.“Kasih karunia Tuhan, Yesus Kristus, kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian,” (Bdk. 2Kor 13:13). Kepada jemaat di Korintus, Santo Paulus menasihati agar mereka sehati, sepikir dan hidup dalam damai sejahtera. Allah sebagai sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai mereka.

Antisipasi Paulus

Sepintas lalu mungkin ungkapan-ungkapan di atas tampaknya dapat dilewatkan. Salam-salam seperti itu mungkin dapat dianggap sebagai bentuk basa-basi komunikasi. Namun, mari kita lihat makna salam itu secara lebih dalam.

“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Ungkapan ini, entah langsung maupun tidak langsung menggambarkan sebuah antisipasi Paulus akan iman terhadap Allah Tritunggal yang kemudian dipromulgasikan Gereja dalam Konsili Lateran dan Toledo. Jauh-jauh hari sebelum Gereja menetapkan dan meyakini iman Allah Tritunggal sebagai kebenaran definitif, Santo Paulus sudah mengantisipasinya.

Paulus, teolog besar Gereja tersebut sesungguhnya mau menunjukkan sebuah keterkaitan erat antara iman akan Allah Tritunggal itu dengan kehidupan manusia. Nasihat Paulus, supaya jemaat di Korintus hidup dalam semangat sehati dan sepikir, dalam situasi yang penuh kasih dan damai sejahtera sesungguhnya merupakan buah permenungan Paulus yang mendalam akan kehidupan Tritunggal dalam diri Allah sendiri. Paulus hendak menggali ilham yang sedemikian besar dan inspiratif dari kehidupan Allah Tritunggal bagi kehidupan berkomunitas jemaat. Allah Tritunggal yang hidup dalam semangat komunikasi intens satu sama lain, dalam semangat cinta kasih dan persaudaraan, dalam semangat kesetaraan dan kolegialitas antara Bapa, Putra dan Roh Kudus dapat menjadi inspirasi yang sungguh menggugah dan menggerocok bagi kehidupan komunitas jemaat Korintus (dan tentunya menjadi spirit pula bagi kehidupan komunitas kita sebagai satu Gereja).

Jemaat Korintus dan jemaat kita dapat “belajar” dari Allah Tritunggal tentang bagaimana menjadi komunitas yang sungguh manusiawi bernapaskan semangat Tritunggal. Semangat jemaat, semangat Gereja, semangat komunitas yang sesungguhnya mestimenjamin terciptanya atmosfer komunikatif, cinta kasih dan persaudaraan, kesetaraan dan kolegialitas antara setiap unsur dan elemen yang membentuk jemaat, komunitas dan Gereja kita.

Konsistensi Allah

Dalam Injil Yohanes 3:16-18, Yesus menekankan tentang konsistensi sikap Allah terhadap manusia. Allahkita bukanlahAllahyang datang untuk menghakimi, untuk menjadi penguasa yang sewenang-wenang, untuk menjadi tiran-absolut yang kejam dan haus kuasamelainkan Dia yang datang untuk mengasihi dan menyelamatkan; Dia yang mengajak semua bangsa untuk bersatu padu dan hidup dalam spirit kasih dan damai. Karena kasih Allah yang sedemikian besar, iamemberikan kepada kita Yesus, Anak-Nya yang sangat Dia kasihi untuk menjadi penyelamat, pengantara dan pemersatu relasi antara Allah dengan manusia (relasi vertikal) dan manusia dengan manusia (relasi horizontal).

Seruan Yesus, untuk percaya sepenuhnya kepada Allah, datang dari pengalaman kebersamaan-Nya dengan Bapa dan Roh Kudus. Bahwasanya dalam Allah Tritunggal tersebut, manusia dapat menemukan sebuah wadas yang kuat, batu karang yang teguh. Bahwasanya juga, hidup manusia yang sungguh bernilai adalah hidup dalam kebersamaan, dalam semangat berbagi satu sama lain, dalam kerelaan untuk menghargai sebagai partner, sebagai pribadi yang memberikan kebebasan dan keleluasaan berkehendak serentak pula menyesuaikan kebebasan tersebut demi kepentingan sosial yang lebih besar.

Inspirasi Tritunggal

Minimal, dua inspirasi berikut dapat merupakan mata air segar yang dapat kita timba dari Allah Tritunggal.

Lukisan Allah Trinitas

Lukisan Allah Tritunggal Mahakudus

Pertama, sebagaimana Allah Tritungal adalah persatuan cinta tak terpisahkan, yang saling meresapi dan saling memberi antara Bapa dan Putra dan Roh Kudus, maka gambaran ilahi seperti itu selaras dengan gambaran pribadi manusia. Pribadi manusia tidak saja dan tidak terutama ditentukan oleh keberadaan ‘aku’ substansial, oleh otonomi dan sikap mencukupi diri, tetapi melalui hubungan, relasi dan komunikasi dengan yang lain.

Pribadi manusia dibentuk dalam arti penuh, bila ia sungguh secara total masuk ke dalam relasi yang menjamin kebebasan antara pribadi untuk saling mengakui satu sama lain. Sesama kita, sebagai dia yang lain secara esensial, secara sungguh substansial merupakan bagian dari keberadaan kita sendiri; dia yang turut membentuk ‘saya’ sebagai pribadi.

Dalam sesama dan melaluisesama, kutemukan diri saya sendiri. Melalui yang lain, saya dapat menemukan bahwa hidupini sesungguhnya sangat kaya dan sangat indah, jika ada semangat untuk membaur dengan yang lain sambil tetap mempertahankan keunikan diri. Yang lain bukan merupakan saingan yang harus saya singkirkan, enyahkan, sepelekan melainkan partner yang saya pertahankan, saya hargai dan saya jaga karena kekhasan dan keunikannya. Sesama juga mempunyai kontribusi besar bagi perkembangan hidup saya sebagai pribadi.

Kedua, gambaran AllahTrinitas merupakan sebuah gambaran keseimbangan antara penghargaan terhadap komunitas dan individu. Dalam Allah Trinitas ini, manusia dapat menemukan sebuah gambaran tentang sebuah komunitas ideal di mana komunalitas dan individualitas mendapat perhatian yang adil. Dengan demikian, atas nama komunitas, individu tidak dikorbankan dan dianggap hanya melayani kepentingan komunitas. Demikian pula sebaliknya, komunitas tidak disalahgunakan dan diinstrumentalisasi hanya demi melayani kepentingan individual. Individu dan komunitas adalah sama penting dan setara.

Gambaran yang amat gamblang dalam diri Allah ini dapat menjadi inspirasi dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan individual dan komunal agar yang satu tidak dikedepankan dan diutamakan, sementara yang lainnya dikebelakangkan dan dianaktirikan. Sebab kesatuan serentak keberagaman, kesatuan dan keberlainan adalah dua elemen yang sama penting, sama kedudukannya dalam diri Allah, namun jugaseturut keselarasan yang telah disebut antara gambaran Allah dan manusiadalam diri kita.

Dengan penghayatan yang sungguh-sungguh akan gambaran Allah Tritunggal beserta setiap ilham yang ada dalam diri-Nya, kita dapat menghargai kesatuan dengan tetap mempertahankan keberagaman. Komunitas yang ideal dalam terang Allah Tritunggal seperti ini adalah komunitas yang tetap melihat dan mempertahankan pluralitas, keberagaman, pandangan dan sikap-sikap yang berbeda tidak sebagai penghalang persatuan dan keharmonisan tetapi sebagai khazanah yang dapat memperkaya sekaligus menantang setiap insan untuk berkoeksistensi bersama dalam kerja sama yang tanpa putus dan penuh pengertian. Keunikan dan perbedaan pada yang lain dihargai dan diterima, diakui dan dihormati. Setiap kekhasan tidak lagi menjadi monade (tertutup) dalam dirinya sendiri tetapi senantiasa membuka diri dalam komunikasi dan saling berbagi kepada yang lain.

Inspirasi seperti ini tidak boleh tinggal hanya sebatas teori atau sekadar ideal diskusi para pakar teologi tetapi menjadi napas bersama dalam hidupmanusia. Setiap komunitas (entah itu komunitas Gereja maupun negara) secara langsung maupun tak langsung dapat menggali inspirasi dari iman seperti ini. Iman Kristen akan Allah Tritunggal paling kurang dapat menjadi oas-ilham bagi kita untuk senantiasa mengusahakan kehidupan komunitas agar memberi tempat bagi sebanyak mungkin anggota jemaat berpartisipasi membentuk dan membangun Gereja tanpa ada satu elemen pun yang kita anggap sepele dan kita abaikan.

Gereja akan menjadi sebuah wahana yang sungguh bernapaskan Allah Tritunggal, jika Gereja dapat mengelak dari setiap bahaya menjadi triumfalis-monadis, jika Gereja mampu mengatasi setiap kecenderungan klerikalisme berlebihan yang berujung pada berjaraknya relasi dan kedekatan antar-anggota Gereja, yang berujung pada minimnya komunikasi manusiawi yang dialogis-setara.

Dengan demikian, semangat kolegialitas setara Tritunggal itu tidak tinggal hanya dalam diri Allah saja, tidak membeku hanya sebagai bahan pembelajaran para pakar teologi yang nihil implementasi, namun sungguh berurat akar pula dalam setiap ranah kehidupan sosial manusia.***

 

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s