Dulu Diculik, Sekarang Bela Penculik

Opini Flores Pos, Selasa, 17 Juni 2014

  • Catatan untuk Pius Lustrilanang dan Masyarakat NTT

Oleh JUAN ORONG (Dosen STFK Ledalero, Maumere, Flores)

Pius Lustrilanang dan Prabowo Subianto

Prabowo Subianto dan Pius Lustrilanang

Untuk keduakalinya politikus Partai Gerindra, Pius Lustrilanang terpilih sebagai anggota DPRI dari Dapil Satu NTT (Flores, Lembata, dan Alor). Selain dia, anggota DPR petahana dari Dapil yang sama, yang tetap bertahan di Senayan adalah Honing Sanny (PDI-P), Melkhias Mekeng (Golkar), Laurens Bahang Dama (PAN), Benny Kabur Harman (Demokrat). Dari enam anggota DPR Dapil Satu NTT, yang berhasil ke Senayan hanya satu wajah baru, yakni Johny Plate dari Partai NasDem.

Dari antara mereka, hanya Pius Lustrilanang yang bukan kelahiran NTT. Pius Lustrilanang yang berasal dari Palembang itu terhitung satu dari segelintir anggota dewan yang didukung konstituen bukan dari daerah asalnya.

Secara politis, terpilihnya Lustrilanang sebenarnya menggambarkan dua karakter positif dari demokrasi. Pertama, orang Flores, Lembata dan Alor agaknya telah lebih demokratis dalam hal memilih. Apriori tentang tradisi primordialisme dalam Pemilu menjadi kurang terbukti di Dapil Satu NTT.

Kedua, kualitas pengaruh figur seorang Pius Lustrilanang mengalahkan putra/putri kelahiran NTT, seperti Laurens Tato, Yofani Maria Renya Rosari, Josef A. Naesoi, Emanuel Melkiades Laka Lena, Cipry Aur, Cyillus Iryanto Kerong, Andreas Hugo Parera, Petrus Salestinus, Sonny Keraf, dan beberapa yang lain.

Namun, ketika persepsi demokratis coba ditempatkan dalam koridor dua butir penilaian positif seperti itu, kita bertanya-tanya: prestasi apakah yang telah ditampilkan Pius Lustrilanang di NTT? Betulkah orang Flores, Lembata dan Alor telah sedemikian demokratis dalam memilih wakil mereka di lembaga legislasi? Apakah untuk urusan yang satu ini, memilih calon dari suku dan daerah yang sama tidak lagi masuk pertimbangan? Apakah memang benar kualitas pribadi Pius Lustrilanang lebih unggul dibandingkan dengan calon legislator asal NTT?

Pius Lustrilanang

Stiker Caleg Pius Lustrilanang

Sejauh ini, jawaban memadai terhadap persoalan-persoalan tersebut, selain sulit ditemukan, juga mustahil. Jika memang demikian, hal apakah yang menyebabkan Pius Lustrilanang laku di NTT?

***

Terus terang, ketika mengajukan pertanyaan terakhir ini, sebagai orang NTT, saya dirasuki rasa jengkel dan malu. Betapa tidak? Jika kita mencari tahu latar belakang dan perjalanan karier politik dari Pius Lustrilanang, kita hanya akan merasa telah bersalah dan ceroboh menentukan pilihan. Selain dia adalah kader dari sebuah partai yang pendirinya adalah tokoh yang pada tahun 1998 menculiknya, Pius Lustrilanang selama masa kampanye di beberapa tempat di Flores dan Lembata melakukan penipuan identitas.

Sebenarnya, koran “NTT EXPO online, edisi Minggu IV Maret 2014” membongkar kedok Pius Lustrilanang. Expo edisi itu mencatat “sikap politik Pius Lustrilanang sangat buruk. Demi memenangkan suara dan meraih simpati orang Flores, pada setiap pertemuan selalu mengaku orang Flores. Di Lembata, Pius mengaku orang Lomblen-Lembata karena di belakang namanya ada Lustrilanang. Padahal di Lomblen hanya ada fam Lanang. Bukan Lustrilanang.”

Sumber yang sama mencatat, “lima tahun lalu, saat Pius Lustrilanang berkampanye, di mana-mana mengaku bilang keturunan Manggarai. Akhir Januari 2014 lalu, ketika di Flores Timur Pius Lustrilanang bilang asal dari Flores Timur.”

Kasus HAM 1998

Kasus pelanggaran HAM 1998

Jika kita mencari tahu lebih lanjut, kita akan mendapatkan informasi lengkap dan objektif tentang identitas orang ini. Situs id.wikipedia.org/wiki/ mencatat, Pius Lustrilanang lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 10 Oktober 1968. Dia adalah aktivis dan politisi. Pada tahun 1998, namanya mencuat setelah dia melaporkan kepada Komnas HAM tentang penculikannya oleh sekelompok orang tak dikenal selama dua bulan. Saat itu, Pius adalah sekretaris jenderal Solidaritas Indonesia untuk Amien dan Mega (SIAGA). Selama penculikan itu, Pius Lustrilanang disiksa, dipukuli, disetrum, dan ditelanjangi.

Tentang peristiwa penculikan itu, Arif Kurniawan dalam blog pribadinya, sebagaimana ditemukan dalam arifkurniawan.wordpress.com/2007/01/09/sindrom-stockholm-oh-pius memuatnya secara detail. Pada 14 Februari 1998, Pius Lustrilanang diculik oleh Tim Mawar, satuan tentara elite Kopassus di bawah kendali Kodam. Penculikan berlangsung kira-kira pukul 15.30 WIB di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta (RSCM). Penculikan ini diakui resmi oleh Departemen Pertahanan.

Pada 29 April 1998 pagi, Pius memberikan kesaksian di depan Komnas HAM, Mayjen (Purn) Samsudin, Albert Hasibuan dan puluhan wartawan. Pada petang harinya, ia tiba-tiba langsung terbang ke Belanda. ‘Pelarian ini didukung oleh (alm) A.A. Baramuli, Mantan Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan para aktivis HAM untuk Indonesia di Belanda, yaitu Indonesia-House. Di Belanda Pius ditampung di rumah saudara Reza, di Lizzy Annsinghastraat, Amsterdam. Bulan Juli 1998, Pius pulang ke Indonesia setelah dua bulan melakukan gerakan kampanye anti kekerasan dan militerisme di Eropa.

Pius pindah haluan, mendaftarkan diri menjadi Caleg PDIP di Bogor. Namun posisi ini tidak didapatkannya. Pada Akhir 1999, Pius bertemu Prabowo di Kuala Lumpur. Pius mengatakan bahwa pada saat itu Prabowo berkata kepadanya “Saya hanya prajurit. Tugas saya memenuhi perintah. Di antaranya adalah menculik kamu”. Pada saat ini, Prabowo sudah dipecat dari TNI. Dalam pertemuan itu, Pius dijanjikan untuk diberikan posisi strategis di Partai Gerindra yang didirikan Prabowo. Sekarang ini, Pius Lustrilanang adalah kader dan anggota DPR dari Partai Gerindra yang didirikan Prabowo.

Pertanyaan yang barangkali sukar dijawab dan bahkan akan tetap menjadi misteri adalah “Bagaimana mungkin seorang yang dahulu diculik, disiksa, dipukul, disetrum, ditelanjangi dan hampir mati, kemudian banting stir menjadi pembela sang penculik?” Perubahan sikap seperti ini sudah tentu hanya mungkin terjadi melalui proses pencucian otak. Namun, sulit dilacak dan diketahui proses ini tanpa pengakuan yang jujur dari korban.

***

Dalam dunia psikologi, perubahan sikap seperti ini disebut dengan istilah stockholm syndrome (sindrom stockholm). Sindrom stockholm berasal dari sebuah kisah perampokan bank di Norrmalmstorg, Stockholm, Swedia pada 23-28 Agustus 1973. Korban penculikan merasa bersimpati dengan penculiknya, sehingga setelah bebas dari penculikan, mereka mencoba membela atau bersimpati kepada para penculiknya.

Contoh stockholm syndrome yang paling terkenal adalah Patty Hearst. Ketika diculik oleh Symbionese Liberation Army (SLA), organisasi radikal kiri USA, Patty adalah seorang wanita muda, cerdas, cantik, bintang film serta cucu multijutawan William Randolph Hearst. Dua bulan setelah polisi membebaskannya dari penculikan, Patty membantu SLA untuk merampok sebuah bank di San Fransisco, USA.

Para psikolog mendefinisikan sindrom stockholm sebagai peristiwa di mana korban penculikan atau penindasan atau penganiayaan jatuh cinta kepada orang yang melakukan kekerasan terhadapnya, (Bdk.kamuskesehatan.com/arti/sindrom-stockholm). Menurut teori psikoanalisis, ini adalah salah satu bentuk upaya pembelaan diri sang korban.

Dalam film The World is Not Enough, James Bond menganalisis Elektra King sebagai korban sindrom stockholm. Elektra mengaku diculik dan diperkosa oleh Renard (banditnya). Ternyata Renard malah mengaku bahwa ia jatuh cinta kepada Elektra. Renard, pada kondisi ini, mengalami gejala psikologi lima syndrome; di mana penculik jatuh cinta kepada korbannya.

Pius Lustrilanang3

Pius Lustrilanang diterima warga ketika mengunjungi Alor, beberapa waktu lalu. Saat itu, Pius datang sebagai anggota Komisi VII DPR/MPR RI.

Di Indonesia, gejala ini secara telak diperankan oleh Prabowo Subianto, Capres dari Partai Gerindra. Prabowo diketahui banyak merangkul aktivis korban penculikan untuk bergabung ke partainya. Jika Prabowo adalah contoh gejala psikologi lima syndrome, Pius Lustrilanang adalah contoh sindrom stockholm. Selain dia, mereka yang dahulu diculik atas perintah Prabowo dalam peristiwa 1998 dan kemudian (pernah) bergabung ke Gerindra adalah Haryanto Taslam, Desmond J. Mahesa dan Aan Rusdianto (Bdk. Merdeka.com, 5 Juni 2014).

***

Layaknya menonton sebuah film, pada akhir catatan ini, kita barangkali merasa dikejutkan. Namun ini bukanlah ending dari sebuah sinetron. Sindrom stockholm yang diperankan Pius Lustrilanang saat ini bukanlah realitas rekaan. Ia adalah afirmasi atas minusnya pengetahuan dan rendahnya kemampuan kritis masyarakat NTT untuk melacak perjalanan karier politik calon wakil rakyat.

Belajar dari pengalaman ini, semoga kita menjadi semakin cerdas dalam menjatuhkan pilihan. Semoga kita, katakanlah kelak setelah menjadi korban penculikan, penyanderaan politis, pencurian uang rakyat, kita tidak beralih mengidentifikasikan diri dengan dan memiliki simpati terhadap para penculik, penyandera, dan koruptor. Selamat menjadi pemilih yang cerdas.***

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Dulu Diculik, Sekarang Bela Penculik

  1. pius says:

    bearti masih setuju dengan sikap primordial….jangan lihat masa lalu, coba lihat masa depan. toh begitu banyak anggota dewan orang NTT tapi tidak pernah buat satu perubahan besar utk orang NTT. coba beri kesempatan.

  2. Bacharuddin Abbas says:

    1. Dua kali dipilih oleh rakyat Flores, bagi saya Tuhan merestui apa yang dia lakukan untuk rakyat Flores: 2. Seseorang dipilih untuk menjadi wakil rakyat di parlemen, pasti Tuhan terlibat dalam penentuan pilihan tersebut; 3. Jangan melihat darimana dia datang dan apa latarbelakangnya tetapi lihatlah apa yang baik dan terbaik yang dia buat sehingga Tuhan merestui niatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s