Independensi Media

Opini Flores Pos, Rabu, 18 Jni 2014

Oleh GUSTY FAHIK

Gusty Fahik

Gusty Fahik, Anggota Liga Mahasiswa Pascasarjana (LMP) NTT di Yogyakarta

“Hari-hari ini, Anda sedang menyaksikan wafatnya independensi media”.Begitu tulis seorang sahabat di status media sosialnya. Apakah ini berarti independensi media itu memang pernah hidup dan kini wafat, persis di tengah memanasnya kontestasi para elite politik memperebutkan kuasa? Atau independensi media memang sudah lama tiada, hanya publik terlambat menyadari ketiadaannya?

Pernyataan pun pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dipakai untuk melihat dan memikirkan kembali peran media massa, yang oleh sebagian orang diidealkan sebagai pilar keempat demokrasi. Media massa dianggap sebagai salah satu ruang publik yang sejatinya bebas dari pelbagai kepentingan pribadi dan kelompok, sehingga bisa menjadi arena dimana terjadi saling tukar informasi, serentak saluran bagi aspirasi masyarakat.

Konglomerasi Media

Berpadunya kepentingan politik dengan kepentingan bisnis media massa di tanah air dapat dilihat dengan mengamati kepemilikan media-media arus utama nasional yang membawahi banyak media massa lokal. Hasil riset Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) menunjukkan, media-media arus utama di Indonesia dikuasai oleh 12 korporasi swasta, yakni MNC Group, Kompas Gramedia Group, Elang Mahkota Teknologi, Mahaka Media, CT Group, Berita Satu Media Holdings (Lippo Group), Media Group, Visi Media Asia, Jawa Pos Group, MRA Media, Femina Group, dan Tempo Inti Media.

media massa

Pelbagai jenis media massa cetak.

Keberpihakan politik para pemilik bisnis media ini juga dapat dilihat secara gamblang dalam komposisi koalisi Capres-Cawapres saat ini, dimana kubu Prabowo-Hatta diperkuat oleh kehadiran Aburizal Bakrie dan Harry Tanoe, sementara kubu Jokowi-JK diisi oleh Surya Paloh dan Dahlan Iskan. Komposisi ini tentu saja sangatmenentukan arah pemberitaan media dalam mempengaruhi opini publik dalam proses pemilihan presiden, sebagaimana terjadi saat ini. Bahkan perang pembentukan opini yang lebih dahsyat juga terjadi di media-media online, yang mengandalkan kecepatan dalam menampilkan isu-isu baru ke hadapan publik.

Kedekatan institusi media dengan kepentingan politik semacam ini menimbulkan sebuah paradoks bagi media massa sendiri. Artinya, media massa yang digadang-gadang sebagai pilar keempat demokrasi, dan menjalankan fungsi pengawasan(kontrol) terhadap pelaksanaan demokrasi, justru terjerumus ke dalam cengkeraman aktor-aktor politik yang berkuasa.Croteau dan Hoynes (dalam Nyarwi, 2008:159-160) menyebutkan beberapa hal yang memunculkan kedekatan elite-elite politik dengan media, yakni “persaingan dalam hal pencitraan yang terjadi di kalangan elite dan partai politik yang kian menguat, dan kecenderungan untuk menempatkan publik sebagai penonton politik.

Kedua konsep ini dan implikasinya dalam praktik yang dilakukan oleh media-media di Indonesia dapat dilihat dalam beberapa penjabaran (Nyarwi, 2008: 160). Nyarwi menegaskan bahwa di dalamnya terdapat proses penentuan konstruksi suatu pemberitaan, yakni bagaimana suatu berita diperoleh dan diproduksi.Demikian juga pemilihan nara sumber, kutipan pernyataan yang diucapkan nara sumber, serta  bagaimana nara sumber ini direpresentasikan di hadapan publik.

Bila menggunakan model talk show televisi, atau hearing di radio,maka dinamika politik media akan bermain pada proses pemilihan para nara sumber, topik-topik utama yang hendak dibahas, serta sudut pandang yang akan digunakan dalam pembicaraan. Lebih lanjut, politik media juga turut mempengaruhi seleksi isu-isu yang hendak disajikan, dan apakah isu-isu ini berkaitan dengan agenda politik atau agenda publik.

Selain kedua aspek ini, hal yang juga berpengaruh ialah persoalan di dalam institusi media sendiri. Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta (Wazis, 2012: 73) menemukan bahwa kebanyakan media massa lokal di berbagai daerah tidak beroperasi sebagai perusahaan yang sehat, kurang profesional, dan bergantung pada dinamika politik. Kelemahan ini membuat media-media lokal memilih berafiliasi dengan grup-grup media besar, dan dengan demikian, menjadi saluran bisnis grup tertentu di daerah-daerah. Konglomerasi media berubah menjadi gurita yang punya satu kepala dengan banyak tangan yang mampu menjangkau ke mana-mana. Contoh gurita media ini adalah Kelompok Kompas Gramedia (KKG) dan Grup Jawa Pos (JPNN), yang menguasai sebagian besar surat kabar lokal di Indonesia.

Risiko Pendangkalan Informasi

Adanya pengaruh kepentingan politik dan ekonomi membuat media massa melakukan apa yang disebut komodifikasi berita yakni pengubahan ‘nilai guna’ suatu berita menjadi ‘nilai tukar’ agar dapat mendatangkan keuntungan tertentu. Isu-isu yang hendak diangkat dalam pemberitaan suatu media diubah menjadi komoditas yang bisa dipertukarkan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan isu tersebut. Pada tahap ini, para pekerja media bisa kehilangan etika jurnalistiknya karena yang diutamakan ialah keinginan mengejar profit semata.

Berita Jokowi

Ilustrasi berita di media massa elektronik.

Hal buruk lain yang juga timbul, ialah terjadinya pendangkalan informasi. Artinya, media melakukan konstruksi sekian rupa atas objek pemberitaannya sehingga bukan kebenaran yang diutamakan melainkan keuntungan bagi pihak-pihak di balik pemberitaan itu. Akibatnya, publik bingung dan mudah disesatkan oleh pemberitaan media. Sebagai misal, dalam pemberitaan kasus korupsi yang melibatkan pejabat dan sejumlah artis cantik, media cenderung mengeksploitasi kehidupan artis-artis cantik dengan dibumbui aneka gosip seputar kehidupan sang artis, alih-alih fokus memberitakan tindak korupsi si pejabat, jumlah kerugian negara, serta putusan hukum yang sudah dijatuhkan. Media lebih memilih memberitakan sesuatu yang punya nilai jual, meski sesungguhnya tidak dibutuhkan masyarakat, selain untuk hiburan semata.

Dalam konteks kontestasi Pilpres saat ini, alih-alih mengarahkan publik untuk melihat secara kritis visi dan misi para Capres, media justru beramai-ramai membuat pemberitaan yang nyaris tanpa kontrol menyangkut Capres yang dibelanya, dan hanya menyisakan sedikit ruang untuk Capres lain. Media dijadikan sarana melakukan puja-puji berlebihan  atas Capres tertentu serentak menjatuhkan atau menyorot habis-habisan sisi lemah Capres lain.

Melihat Posisi Publik

Budayawan Emha Ainun Nadjib, dalam sebuah pembicaraan pernah melontarkan  ‘kelakar’ bahwa ‘apa yang ada dalam pikiran dan kemudian dibicarakan oleh kebanyakan orang Indonesia saat ini tidak lain dari apa yang ada dalam pikiran Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Jacob Oetomo, Goenawan Moehammad dan tokoh-tokoh pemilik media di negeri ini’. Pendapat ini secara implisit menafikan peran publik sebagai subjek yang berhadapan dengan media. Apa betul bahwa publik sudah sedemikian dipengaruhi sampai kehilangan kesadaran kritis lalu dengan mudah menerima dan mereproduksi apa yang diterima dari media?

Sudah saatnya publik disadarkan untuk kritis dan cerdas menghadapi gempuran arus informasi yang diberikan media agar publik tidak mudah dikontrol oleh kepentingan tokoh-tokoh yang ada di belakang permainan media ini. Apa yang dikatakan media tidak harus diterima sebagai suatu kebenaran definitif, melainkan sesuatu yang masih mungkin untuk dipertanyakan dan digugat. Hanya dengan kesadaran kritis atas media, publik dapat menghindarkan diri dari jebakan yang hendak dijalankan sosok-sosok tidak kelihatan semacam invisible hand yang bermain di balik pemberitaan media massa.***

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s