Sebulan Dirawat, Anselmus Semakin Membaik

DSC04842

Ansel dan Ayah Rafael Wanda

Berita Flores Pos, Rabu, 18 Juni 2014

Oleh REMIGIUS FOBIA (Wartawan Flores Pos)

Kondisi korban pemasungan Anselmus Wara, warga Kampung Kurumboro, Desa Tiwu Tewa, Ende Timur semakin membaik setelah dirawat intensif di RSUD Ende, sejak 16 Mei 2014. Disaksikan Flores Pos di ruang Sakura, kamar nomor 5, pada Senin (16/6) siang, Ansel yang ditemani ayah kandungnya Rafael Wanda, tampak cerah. Kedua kaki yang sebelumnya penuh luka borok dan luka di tulang punggung serta bagian pantat sudah sudah mulai sembuh.

Ansel mengatakan, tubuhnya mulai terasa ringan, tidak seperti sebelumnya, terasa sangat berat. Kalau sebelumnya, Ansel tidak bisa bangun sendiri dari tempat tidurnya, sekarang bisa bangun sendiri tanpa dibantu ayahnya atau perawat. Demikian juga, kalau sebelumnya, kaki tidak bisa ditekuk, sekarang bisa ditekuk sekalipun tekukannya hanya sekitar 15 derajat saja.

“Saya mengalami perkembangan yang cukup baik. Saya bisa bangun dan duduk sendiri di kursi roda, sekalipun kaki belum bisa bergerak sendiri. Kalau mau duduk di kursi roda, saya mesti mengangkat kaki satu demi satu pakai dua tangan. Kalau angkat kaki hanya pakai satu tangan, pasti terasa sakit sekali. Kaki tidak bisa digerakkan sendiri. Tapi dengan kursi roda, kaki saya bisa ditekuk sedikit, dan saya bisa mandi sendiri dengan posisi duduk di kursi roda. Saya bersyukur untuk keadaan ini,” katanya.

Bisa Rawat Jalan

Menurut dr. Agung Nugroho yang menangani Ansel, karena pemasungan yang berbulan-bulan, Ansel kehilangan otot pada bagian bawah betisnya. Sekalipun luka-lukanya nanti akan sembuh total, kemungkinan besar Ansel tidak bisa berjalan normal bahkan tidak bisa berdiri tegak karena kakinya tidak mungkin mampu menopang tubuhnya.

“Kesembuhan total memang agak sulit. Ia mesti memakai tongkat supaya bisa berjalan, atau dengan menggunakan kursi roda. Untuk informasi lain, silahkan temui direktris rumah sakit,” katanya.

Dokter Surip Tintin

Direktris RSUD Ende, dr. Surip Tintin

Direktris RSUD Ende, dr. Surip Tintin yang ditemui Flores Pos di Hotel Dwi Putera Ende, Senin (16/6), mengatakan, secara medis, Ansel sudah bisa dirawat jalan. Ansel bisa dirawat di Puskesmas terdekat.

“Selama sebulan, perawat tidak hanya merawat luka-lukanya, tapi juga melakukan terapi, seperti pijat atau masas. Perawat juga melatih untuk menggerakkan kedua kakinya yang sangat kaku. Hal-hal seperti ini bisa dilakukan di rumah oleh keluarganya,” katanya.

Menurut dr. Tintin, tinggal berbulan-bulan di rumah sakit bisa membuat pasien kurang bebas, dan bisa memperlambat proses penyembuhan. “Untuk perawatan luka, Ansel bisa datang secara rutin ke Puskesmas. Tapi untuk terapi manual, keluarga bisa mengurusnya di rumah dan bisa dibuat kapan saja. Di rumah sakit, terapi hanya sekali sehari,” katanya.

Warga Tolak Ansel

Pater Avent Saur SVD yang mendampingi Ansel selama pemasungan hingga dirawat di rumah sakit, mengatakan, warga Kampung Kurumboro tidak mungkin akan menerimanya untuk kembali ke kampung tersebut. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Ansel dilarang kembali ke Kurumboro, atau kalau kembali ke Kurumboro, maka pemerintah mesti membuat kandang besi untuk Ansel.

“Kalau Ansel diminta keluar dari rumah sakit, nah ia pulang ke mana? Warga Kurumboro mustahil menerima dia secara manusiawi. Selama ini, ia hanya ditemani oleh ayah kandungnya. Di kota Ende, ia memang memiliki keluarga, tapi dalam keluarga itu, mesti ada orang khusus untuk memperhatikannya. Tapi kan dalam keluarga itu, semuanya memiliki kesibukan tersendiri, dan hal ini bisa berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan Ansel. Jangan sampai, selama rawat jalan, kesehatannya justru akan menurun,” katanya.

Menanggapi hal ini, Direktris RSUD Ende, dr. Tintin Surip mengatakan bahwa pada dasarnya, secara medis Ansel diperbolehkan untuk rawat jalan. Tapi kalau tidak ada rumah yang menampungnya dan tidak ada orang yang memperhatikannya, maka rumah sakit akan tetap menampungnya hingga sembuh total.

“Selama ini, dokter dan perawat memperhatikan dia supaya kesehatannya membaik. Kalau rawat jalan memang sulit dilakukan, maka saya tidak mau kesehatannya menurun. Mestinya, perkembangannya ke arah yang baik. Saya akan sangat kecewa kalau usaha kami selama ini sia-sia. Untuk itu, rumah sakit akan tetap merawatnya hingga sembuh total. Tapi semuanya mesti atas rekomendasi dari pemerintah, entah Sekda atau Bupati. Kami tetap bersedia merawatnya,” katanya.

Dokter Tintin Surip melanjutkan, menurut dokter dan perawat yang menangani Ansel, tidak ada tanda-tanda fisik bahwa Ansel mengalami gangguan jiwa. Tetapi hal ini tentu mesti dibuktikan secara medis. Bila nanti diantar ke tempat rehabilitasi di luar wilayah Kabupaten Ende, dia bisa pergi langsung dari rumah sakit saja, tanpa harus kembali ke rumah.

“Untuk urusan administrasi, kita bisa atur kemudian, melalui Jamkesda. Yang terpenting, urusan kemanusiaan. Harap semua pihak mendukungnya,” lanjutnya.

Sebastianus Doa Sukadamai

Plt. Sekda Ende, Sebastianus Doa Sukadamai

Pelaksana Tugas (Plt.) Sekda Ende, Doa Sukadamai, yang dihubungi per telepon, Selasa (17/6) siang mengatakan, pemerintah akan tetap memperhatikan Ansel hingga tuntas. Kadis sosial sedang merampungkan konsep penanganan lanjutan atas Ansel.

“Saya dan Kadis Kesehatan, Direktris RSUD dan Kadis Sosial sudah memikirkan tindakan lanjutan setelah Ansel dirawat di RSUD Ende. Supaya apa yang kami pikirkan itu bisa berjalan dengan lancar, maka kami harus meminta persetujuan Bupati karena perawatan itu terkait dengan kebijakan anggaran,” katanya.

Gereja dan Pemerintah

Pater Avent Saur mengatakan, dukungan semua pihak telah dirasakan oleh Ansel sejak saat-saat terakhir menjelang pembebasan pada Jumat (16/5) lalu, hingga ia dirawat di RSUD. Pemerintah telah mewujudkan tanggung jawab yang luar biasa terhadap Ansel, terutama melalui Bupati Ende, Sekda Ende, Dinas Sosial Ende, Kadis Kesehatan, RSUD Ende, kepolisian dan pemerintah Kecamatan Ende Timur.

“Selain pihak RSUD, pihak Dinas Sosial sangat aktif memperhatikan Ansel. Selain memberikan materi, mereka juga sering mengunjunginya, sebagai bukti perhatian yang sederhana tapi sangat berharga untuk Ansel. Sejak Ansel dilepaskan dari pasungan, pihak Gereja menyatakan siap mengawasi perawatan Ansel di rumah sakit. Tapi kita tidak tahu apa dan bagaimana bentuk pengawasan Gereja lokal terhadap Ansel sebab hingga saat ini, Ansel belum pernah dikunjungi pihak Gereja lokal,” katanya.

“Kita berharap kerja sama pemerintah dan Gereja dijalankan dengan baik, bukan hanya dalam konteks kasus Ansel, melainkan juga terkait pelbagai persoalan lain di wilayah Kabupaten Ende. Diharapkan, perawatan di tempat rehabilitasi tetap diperhatikan melalui kerja sama pemerintah dan Gereja,” lanjutnya.***

DSC04870

Perawat (berjilbab) sedang memijat kaki Ansel. Fr Kristo Suhardi menemani.

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s