“Om, Narkoba Itu Apa?”

Anak-Anak

Pater Avent sedang berbicang dengan anak-anak kelas enam sekolah dasar saat menyiapkan acara Malam Puisi di Pantai Ria Ende, Sabtu, 28 Juni 2014, siang.

  • Memaknai Hari Anti Narkoba Internasional

Oleh Avent Saur, SVD

narkoba2

Pada Sabtu, 28 Juni 2014, Komunitas Sastra Rakyat Ende (Sare) bekerja sama dengan pelbagai pihak menggelar “Malam Puisi” di Pantai Ria Ende. Acara ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan memaknai Hari Anti Narkoba Internasional 2014.

Siang hari, ketika menata panggung, beberapa anak di sekitar pantai Ria mengerumuni saya. “Om, Narkoba itu apa?” tanya anak-anak, lantaran tidak mengerti tulisan “Ma’e Pake Narkoba” yang tertera pada sebuah spanduk. Seorang teman kru Sare, yang sempat mendengarkan pertanyaan itu, spontan menyentil, “kamu tidak perlu tahu. Kalau kamu tahu, nanti kamu akan gampang terjebak di dalamnya”.

Sentilan (teguran) itu tentu bermaksud ‘menghalang’, tapi sama sekali tidak membuat saya terhalang untuk memberikan jawaban yang singkat, padat dan jelas. Dan tampaknya, anak-anak, yang sudah memasuki kelas enam sekolah dasar itu, ingin sekali mendapatkan jawabannya. “Narkoba itu singkatan dari narkotika dan obat-obat berbahaya. Narkotika itu salah satu jenis obat yang mengandung zat berbahaya, yang kalau dipakai, bakal buat kita tidak sadar (diri). Selain itu, obat itu juga akan merusaki tubuh kita: sakit dan berpenyakit. Dan karena itu, kita dilarang pakai obat itu (ma’e pake Narkoba). Kalau kita pake, nanti kita akan cepat mati dan masa depan kita hancur. Obat itu tidak dijual sebarangan, tetapi dijual sembunyi-sembunyi karena dilarang oleh polisi. Kalau kedapatan, penjualnya ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara; orang yang pake obat itu juga ditangkap.”

Jawaban ini membangkitkan dua perasaan dalam diri anak-anak itu: takut dan heran. Takut, cepat mati dan masa depan hancur. Heran, mengapa orang pakai obat itu? Bukan hanya pada anak-anak, kedua perasaan ini juga bukan tidak mungkin bisa timbul dalam diri kaum muda dan orang dewasa.

Dorongan Psiko-Epistemologis

Saya melihat bahwa pertanyaan “apa itu Narkoba?” semata-mata didorong oleh ‘keinginan untuk tahu’, dan dengan itu, boleh dibilang, sebagai sebuah dorongan psiko-epistemologis. Dengan pengetahuan itu, setidaknya sejak dini, mereka mengetahui dan menyadari apa yang baik dan yang buruk, dan selanjutnya akan mewaspadai kemunculan obat berbahaya tersebut. Lebih dari itu, mereka akan ‘mensosialisasikannya’ kepada teman-teman mereka (baca: masyarakat) entah dengan cara apa saja dan kapan saja, dan boleh jadi, sosialisasi itu hanya mungkin mereka lakukan pada saat teman-teman mereka mengungkapkan dorongan psiko-epistemologis yang sama.

Bertolak dari sini, kita pun berpikir bahwa mengetahui Narkoba tidak sama dengan mengonsumsi Narkoba, dan dorongan untuk mengetahui Narkoba tidak sama dengan dorongan untuk menggunakan Narkoba (ganja, sabu-sabu, heroin, morfin, kokain dan ekstasi).

narkoba3

Berkaitan dengan dorongan psiko-epistemologis ini, saya teringat dengan peristiwa pada tahun 1999, ketika Franz Magnis-Suseno menulis buku “Pemikiran Karl Marx, dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme”, diterbitkan oleh Penerbit Gramedia. Banyak kalangan menyatakan, melalui buku itu, Franz Magnis-Suseno menyebarkan ide-ide komunis yang bisa mempengaruhi rakyat Indonesia untuk menjadi komunis. Dan ini tentu sangat berbahaya. Toko-toko buku pun disisir, dan ribuan eksemplar buku itu dibakar di tempat-tempat umum.

Tapi apa kata Franz Magnis-Suseno? Dalam diri manusia terdapat salah satu dorongan hakiki yakni dorongan untuk mengetahui sesuatu entah yang baik atau pun yang jahat. Mengetahui yang jahat tidak berarti dengan sendirinya seseorang akan menjadi penjahat. Menulis dan menyebarkan ide-ide komunis tidak dengan sendirinya, “saya” (Magnis Suseno) menjadi komunis. Setiap orang berhak untuk mengetahui apa saja yang terjadi dalam dinamika peradaban dunia. Alhasil, dengan alasan itu, dan ketika orang-orang Indonesia cukup maju dalam cara berpikir, buku itu tidak ditentang lagi, ketika diterbitkan dua tahun kemudian, tahun 2001.

Hal yang dicemaskan oleh seorang teman kru Sare tadi tampaknya tidak ‘mengena’, tidak relevan. Yah, sekalipun kecemasan itu tidak boleh diabaikan begitu saja, sebab di dalamnya terkandung pesan: “mae pake Narkoba”. Inrelevansi itu rupanya diperkuat dengan dua perasaan tadi: takut dan heran. “Takut cepat mati dan masa depan hancur. Heran, mengapa orang pakai obat itu?”

Apa yang dilakukan oleh Komunitas Sare dalam kerja sama dengan pelbagai pihak tidaklah lain dari pada sebuah upaya pencerahan yang bisa mengisi ruang pengetahuan masyarakat terkait Narkoba. Ada seminar di kampus (Flores Pos, 26/6), ada penyebaran stiker di jalan raya (Flores Pos, 27/6), ada dialog interaktif di radio yang dilaksanakan pada Jumat (27/6) dan ada malam puisi (Flores Pos, 1/7) yang terkesan cukup menggelegar. Di balik upaya pencerahan ini, betapa tidak, masyarakat disadarkan bahwa persoalan Narkoba ada di depan mata kita, dan masyarakat diajak untuk peduli dengan cara mengendalikannya secara kolektif.

Tanggung Jawab Publik

Namun kisahnya memang menjadi lain sama sekali, ketika orang didorong bukan untuk mengetahui Narkoba, melainkan didorong untuk mengalami Narkoba. Menurut para ahli psikologi, dorongan itu muncul ketika orang sedang berada dalam kondisi diri yang labil. Dan kondisi labil dipicu oleh pelbagai persoalan yang tidak mampu dihadapi dengan kepercayaan diri yang kuat. Biasanya, hal seperi ini dialami oleh kaum muda, dan memang fakta menunjukkan bahwa orang-orang yang terjerat Narkoba, mayoritas kaum muda.

Beberapa persoalan patut dikemukakan yang bisa saja dialami oleh orang-orang berbeda lintas profesi dan agama, lintas budaya dan kondisi sosial, lintas pendidikan dan aliran. Ada persoalan putus cinta dan kekacauan dalam rumah tangga; ada ketidaknyaman dalam hidup bertetangga dan keputusasaan di tempat kerja, atau juga kegagalan dalam usaha-usaha ekonomi, ditambah lagi dengan kelalaian dalam menghayati hidup religius. Dengan persoalan-persoalan ini, dan didasari oleh ketidakpercayaan diri yang kuat, maka orang akan merasa bahwa banyak wadah di dalam dirinya yang tidak terisi atau kosong. Karena kosong, maka dia pun lemah. Selanjutnya, wadah kosong ini mesti diisi, dan Narkoba dianggap sebagai “jalan pintas”: kesempatan sekaligus barang yang tepat untuk mengisi wadah yang kosong itu,

Bertolak dari sini, kita pun sadar bahwa mengatasi penyalahgunaan Narkoba tidak saja dengan cara mengendalikan penyebarannya, melainkan terutama bagaimana mengendalikan masyarakat supaya tidak memerosokkan diri ke dalam sumur maut Narkoba itu. Untuk itu, orang mesti dikuatkan untuk tak gentar, kuat dan tangguh dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya yang boleh jadi tak bisa dihindari. Kepercayaan diri mesti dikuatkan dalam menghadapi persoalan itu dengan tangguh dan mengatasinya dengan “jalan panjang” (bukan jalan pintas).

Itu berarti upaya pencerahan (revolusi mental dan pengetahuan) merupakan senjata ampuh yang semestinya selalu dilakukan oleh pelbagai kalangan (publik). Bukan hanya oleh komunitas peduli dan lembaga swadaya masyarakat, melainkan juga dan terutama oleh orang tua, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah dan penegak hukum.

Namun kita sempat merasa heran, pada peringatan hari anti Narkoba sebagai hari bersejarah yang harus dimaknai dan momen untuk pembaruan komitmen pemberantasan penyalahgunaan Narkoba, lembaga-lembaga berwajib (pemerintah) tidak menyediakan waktu dan tenaga serta dana khusus untuk mengisi hari bersejarah tersebut. Tanggung jawabnya pun dipertanyakan. Dan itulah yang terjadi di Kabupaten Ende, ketika anggota Komunitas Sare mengadvokasi perencanaan peringatan hari Anti Narkoba Internasional tahun 2014 ini.

Di Depan Mata

Sejarah hari anti Narkoba ini, mungkin sedikit banyak, belum kita ketahui. Dalam sejarahnya, Hari Anti Narkoba Internasional dimulai pada 26 Juni 1988, diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bermarkas besar di Newyork, Amerika Serikat. Dan prakarsa Hari Anti Narkoba tersebut disahkan dengan dikeluarkannya Resolusi PBB 42/112 pada 7 Desember 1987.

Hari Anti Narkoba dikumandangkan untuk diperingati setiap tahun dalam sejarah dunia, terutama untuk melawan penyalahgunaan obat-obat berbahaya yang dijual dan diedarkan secara illegal. Tanggal tersebut dipilih untuk memperingati pengungkapan kasus seorang pahlawan perang candu bernama Lin Zexu (seorang filsuf, ahli kaligrafi dan penyair). Ia menentang pengimporan dan perdagangan obat candu atau opium di negara Cina-Tiongkok oleh bangsa-bangsa asing. Perang itu terjadi tahun 1839-1842 dan dilanjutkan tahun 1856-1860 antara Cina dengan Britania Raya.

narkoba1

Lalu kini, di Indonesia? Di NTT? Di Flores? Sekali lagi, kasus Narkoba, ada di depan mata kita, bukan hanya di Amerika Serikat dan bukan hanya urusan PBB; bukan hanya di Cina-Tiongkok dan Britania Raya. Dengan itu, pelbagai pihak harus bergerak, baik dari pihak pemerintah, penegak hukum, para advokat di bidang kemanusiaan terkait kasus tersebut, maupun dari pihak psikolog.

Sebab, ketika Bob Matutina asal Ende dan Brigader Polisi Irwasyah ditangkap di Maumere; ketika seorang anggota polisi dan tiga kontraktor digerebek di Lewoleba beberapa waktu lalu; ketika dua Bandar Narkoba dibekuk oleh Tim Gabungan Lembata dan Polda NTT di Kota Makassar akhir pekan lalu, maka sebetulnya, persoalan Narkoba sudah ada di depan mata kita.

Kasus Narkoba tidak lagi hanya menjadi kasus nasional yang di dalamnya para artis (seperti Roger Danuarta, Sheila Marcia, Raffi Ahmad) terlibat, atau tidak hanya pejabat elite (seperti dugaan atas Akhil Mochtar) terlibat, atau juga tidak semata-mata pekerja seks komersial, atau juga tidak semata-mata Schapelle Corby dan Whitney Hauston. Kasus Narkoba justru sudah menjadi persoalan kita bersama, yang kapan saja bisa datang dan mengancam serta menguji kita. Persoalan Narkoba menuntut kita memberikan tanggapan kritis dan dewasa.

Dengan itu, upaya pecerahan yang mesti kita galakkan tidak cuma untuk meneladani Lin Zexu, melainkan terutama untuk menjawab pertanyaan: “Om, Narkoba itu apa?”. Lebih dari itu, supaya orang tidak sampai pada pertanyaan yang didorong untuk “mengalami” Narkoba.***(Judul asli: Narkoba dan Upaya Pencerahan, Flores Pos, Kamis, 3 Juli 2014).

Baca Terkait

 

SARE Selenggarakan Aneka Kegiatan

Kesadaran Menentukan Keputusan

SARE Gelar Kampanye Anti Narkoba

SARE Gelar Malam Puisi Anti Narkoba

Spanduk Narkoba

Bruder Pio Hayon SVD sedang berpose dengan gaya khas dengan latar belakang spanduk Anti Narkoba. Tulisan di spanduk itulah yang kurang dipahami anak-anak sekitar pantai Ria yang menyaksikan kru Sare dan mitra terkait saat mempersiapkan acara Malam Puisi, Sabtu, 28 Juni 2014.

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to “Om, Narkoba Itu Apa?”

  1. Pingback: SARE Gelar Malam Puisi Anti Narkoba | SENTILAN

  2. Pingback: SARE Selenggarakan Aneka Kegiatan | SENTILAN

  3. Pingback: Kesadaran Menentukan Keputusan | SENTILAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s