Kesadaran Menentukan Keputusan

DSC05275

SEMINAR – Moderator dan pemateri dalam seminar Hari Anti Narkoba Internasional Tahun 2014 di Aula Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Santa Ursula Ende, Rabu (25/6). Dari kiri ke kanan: Pater Avent Saur SVD (moderator), Dokter Husein Pancratius, Kapolres Ende AKBP Musni Arifin dan Bruder Pio Hayon SVD.

  • Seminar Hari Anti Narkoba Internasional

Oleh Kristo Suhardi

Kesadaran Anda sangat menentukan keputusan Anda. Kita mesti berani melakukan revolusi mental dan mengubah pola pikir kita. Kita selalu berpikir tentang apa yang orang buat untuk kita, dan tidak pernah berpikir tentang apa yang dapat kita buat untuk membantu diri kita sendiri dan orang lain. Kitalah yang mesti menyiapkan sesuatu untuk diri kita sendiri, termasuk dalam persoalan penyalahgunaan Narkoba.

Hal ini disampaikan oleh Staf Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi NTT Gusti Brewon dalam seminar sehari di Aula Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Ende, Jalan Wirajaya, Rabu (25/6). Gusti Brewon menggantikan posisi Dokter Husein Pancratius (Sekretaris KPA Provinsi NTT) dalam sesi diskusi, karena dokter (usai pemaparan materi) memiliki agenda lain menemui SKPD-SKPD Kabupaten Ende untuk membicarakan pelbagai hal berkaitan dengan persoalan HIV-AIDS. Pembicara lain dalam seminar ini adalah Kapolres Ende AKBP Musni Arifin, Ahli Psikologi Konseling Bruder Pio Hayon SVD dan moderator Pater Avent Saur SVD.

Seminar sehari bertema “Narkoba dan Kaum Muda” ini merupakan hasil kerja sama Komunitas Sastra Rakyat Ende (SARE) dan mitra terkait dengan civitas academica Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat (STPM) Santa Ursula Ende. Seminar ini dihadiri oleh ratusan peserta yang merupakan perwakilan dari Orang Muda Katolik (OMK) dari (enam) paroki di wilayah kota Ende, organisasi kepemudaan dan sekolah tinggi di Kabupaten Ende.

Gusti Brewon mengungkapkan setiap orang mesti menumbuhkan kesadaran utuh dalam dirinya bahwa ia berharga dan memiliki kemampuan. Ia mengajak semua peserta untuk tidak terjebak dalam pola pikir lama melainkan hidup di atas dasar keyakinan dan nilai-nilai positif yang sudah dihidupi.

“HIV-AIDS merupakan saudara kembar dari Narkoba. Karena itu, membicarakan Narkoba berarti juga berbicara tentang HIV-AIDS. Di hadapan dua persoalan utama seperti ini, pilihannya adalah apakah kita mau munafik atau jujur terhadap realitas? Persoalannya bukan terutama bagaimana kita mengatasi aneka persoalan ini tetapi terutama bagaimana kita mengendalikannya,” kata Gusti Brewon.

Kesadaran

Bruder Pio Hayon SVD dalam makalahnya berjudul “Kaum Muda Sebagai Bejana Terbuka” membedah persoalan Narkoba dari perspektif psikologi. Menurut Magister Psikologi Konseling lulusan Universitas de La Sale Filipina ini, salah satu ciri khas masa transisi dalam perkembangan kaum muda adalah keinginan untuk mencoba.

“Keinginan untuk mencoba adalah salah satu ciri khas dalam pencarian identitas kaum muda. Kaum muda juga memiliki hasrat yang seringkali menuntut untuk mesti dipenuhi sehingga menghadirkan kepuasaan. Instrumen utama yang mengontrol keinginan untuk mencoba dan hasrat ini adalah kesadaran. Kesadaran merupakan level teratas dari mental manusia,” kata Bruder Pio, yang adalah pembina bruder student di Biara Santu Konradus Ende.

Level kesadaran dalam diri pemakai Narkoba, kata Bruder Pio, mengalami penurunan drastis. Hal ini menyebabkan, pemakai Narkoba tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengontrol segala sesuatu yang dilakukannya. Penurunan kesadaran ini berdampak pada cara dan gaya hidup yang tidak seimbang.

“Prinsip utama dalam mengatasi persoalan Narkoba adalah kemauan. Kemauan ini terhubung dengan kehendak. Karena itu, setiap orang mesti membangkitkan di dalam dirinya kesadaran dan kehendak untuk berubah. Kita mengubah cara pandang kita; tidak hanya mengharapkan bantuan dari luar tetapi juga terutama terlebih dahulu membantu diri kita sendiri untuk mengatasi aneka persoalan itu,” kata Bruder Pio.

Indonesia Itu Produsen

Kapolres Ende AKBP Musni Arifin dalam pemaparannya mengatakan, negara Indonesia saat ini tidak lagi sebatas sebagai konsumen melainkan juga menjadi salah satu negara produsen Narkoba, khususnya jenis psikotropika. Untuk mengatasi berbagai masalah seputar Narkoba, kata Musni Arifin, kepolisian telah melakukan berbagai upaya pencegahan hingga penegakan hukum berdasarkan tata aturan dalam undang-undang yang berlaku.

“Jangan pernah mencoba memakai Narkoba, karena Narkoba tidak pernah mengenal kata ‘coba-coba’. Hindari penyalahgunaan Narkoba dan mulailah hidup sehat tanpa Narkoba. Untuk mengatasi persoalan Narkoba, dibutuhkan kerja sama yang komprehensif di antara semua komponen masyarakat dan tokoh-tokoh agama,” kata Musni Arifin.

DSC05280

Kru SARE, KPA Ende dan KPA Provinsi pose bersama Kapolres Ende. Gusti Brewon (keempat dari kanan: Staf Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi NTT), Ganio Aries (kedua kiri: Koordinator Jaringan Orang-Orang yang Terinfeksi HIV-AIDS Indonesia (JOTHI) wilayah NTT dan Anggota Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI)

Seminar sehari ini juga diisi dengan kesaksian dari Ganio Aries yang merupakan mantan pecandu Narkoba. Ganio Aries saat ini merupakan koordinator Jaringan Orang-Orang yang Terinfeksi HIV-AIDS Indonesia (JOTHI) wilayah NTT dan anggota Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI). Dalam kesaksiannya yang diselipkan dalam pemaparan materi oleh Dokter Husein, Ganio Aries mengatakan, dirinya sudah pernah merasakan segala jenis Narkoba atau Napza, yang membuat hidupnya tak memiliki arah. Ia mengajak semua orang untuk tidak boleh terjerumus dalam Narkoba karena “sekali coba akan memacu keinginan untuk selalu mencoba dan tenggelam di dalamnya”.

“Saya sudah bertobat, dan sekarang ingin menolong orang lain untuk tidak boleh sedikit pun memakai Narkoba. Saya ingin katakan bahwa Narkoba itu harus dijauhkan dari masyarakat,” ujarnya.*** (Flores Pos, 26 Juni 2014)

Baca Terkait

SARE Selenggarakan Aneka Kegiatan

SARE Gelar Kampanye Anti Narkoba

SARE Gelar Malam Puisi Anti Narkoba

Om, Apa Itu Narkoba?

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s