Sipir Penjara Jadi Tersangka

Napi Bersaksi

Korban Percabulan – Para Napi pria yang menjadi korban percabulan sipir Paulus Soka menjalani pemeriksaan di Ruang PPA Reskrim Polres Manggarai, Selasa (26/8)

  • Kasus Percabulan di Lapas Labe
  • Sejumlah Pegawai Penjara Juga Akan Diperiksa

Oleh Christo Lawudin

Ruteng, Flores Pos — Penyidik Polres Manggarai menetapkan sipir Rutan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Labe Ruteng Paulus Soka (PS) menjadi tersangka. Penetapan ini dilakukan setelah memeriksa para saksi korban percabulan di Rutan Lapas Labe Ruteng. Tersangka Soka segera diperiksa dalam dua hari ke depan.

Kasat Reskrim Polres Manggarai Edy melalui Kanit PPA, Samsu kepada wartawan di Ruteng, Selasa (26/8) mengatakan, sesuai dengan bukti-bukti yang ada dan hasil pemeriksaan semua para saksi korban, PS telah ditetapkan sebagai tersangka.

Selain saksi korban, pihak kepolisian juga akan memeriksa sejumlah pegawai Lapas. Pemeriksaan para saksi itu sudah diagendakan, dan undangan telah dikeluarkan penyidik. Para saksi diharapkan memenuhi undangan tersebut.

Rayuan dan Ancaman

Dalam menjalankan aksinya, kata Samsu, sesuai dengan keterangan para saksi korban, tersangka merayu dan mengancam korban. Tempatnya, di rumah korban, di ruang kerja, di tempat piket, dan bahkan di hutan. Para Napi terpaksa mengikuti saja kemauannya karena takut. Dan, beberapa orang, PS memberi uang dan rokok agar korban tidak membongkar ulah bejatnya.

Dan, setelah kasus ini terbongkar, kata Samsu, ada upaya meminta damai. PS sendiri meminta maaf kepada para korban. Malah, sempat memberi sebotol bir dan rokok. Tetapi, para korban tidak mau menerimanya. Para korban bersama keluarga sudah berkomitmen untuk menyelesaikan kasus ini secara hukum.

“Malah, ada juga belakangan ini, para saksi disuruh untuk menandatangani surat yang tidak diketahui isinya oleh para korban. Surat itu diserahkan oleh sejumlah pegawai di penjara. Untuk apa surat itu, para korban tidak mengetahuinya,” katanya.

Seorang korban, Yosef mengatakan, dirinya tidak mau berdamai. Kasus ini mesti diselesaikan secara hukum karena perbuatannya berpengaruh tidak baik bagi korban. Semua korban sudah berkomitmen tidak ingin menyelesaikannya di luar jalur hukum.

“Ada upaya damai, tetapi, kami tidak mau. Dia mau minta maaf, tetapi kami tidak terima. Kasusnya harus diselesaikan secara hukum,” katanya.

Hal senada disampaikan, Sil Ngambut. Menurutnya, dirinya siap menerima risiko karena mengakui telah diperlakukan tidak baik secara seksual oleh PS. Hal itu penting untuk pembelajaran ke depan.

“Untuk damai, sulit. Kami tidak mau terima. Kami ini sudah siap terima risiko,” katanya.***(Flores Pos, 27 Agustus 2014)

Baca juga: Kasus Moral Harus Dituntaskan (Pelaku Anggota Legislatif)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s