Puluhan Hektare Tanah HGU Sudah Dikapling

Oleh Wall Abulat

Maumere, Flores Pos — Ratusan warga Suku Goban dan Suku Soge, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka dan masyarakat adat Waiblama yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Adat Wairhubing telah mengkapling puluhan hektare lokasi tanah hak guna usaha (HGU) di Patiahu, Nangahale, dan di belakang SMK dan SMA Negeri Talibura, dalam sepekan terakhir. Areal yang dikapling sudah digarap menjadi lahan pertanian warga.

Pantauan Flores Pos, Senin dan Selasa (18-19/8) pekan ini, sekitar belasan hektar areal tanah HGU di pertigaan jalan Negara menuju Tanarawa telah dikapling warga. Di atas tanah yang sudah dikapling, warga membangun tenda dan menggarap tanah tersebut.

Pengkaplingan serupa juga dilakukan warga di tanah HGU di belakang SMK Negeri dan SMA Negeri Talibura. Di lokasi ini, sekitar belasan hektare tanah HGU sudah dipagar dan dikelola warga untuk persiapan tanam tahun ini.

Selain pada dua tempat tersebut, masyarakat adat juga telah mengkapling belasan hektare tanah di Patiahu. Di atas tanah yang sudah dikapling, mereka meletakkan bambu dan kayu untuk pembuatan pagar.

Pemerintah Belum Cari Solusi

Salah seorang warga, Romanus, kepada Flores Pos mengaku, ia bersama ratusan warga melakukan pengkaplingan tanah yang merupakan tanah adat karena pemerintah tidak segera mencari solusi terkait pemanfaatan areal 800 hektare lebih usai masa kontrak oleh misi selesai pada 31 Desember 2013 lalu.

“Karena pemerintah tidak segera tanggap, maka kami melakukan inisiatif menggarap lahan ini. Ini merupakan tanah masyarakat adat,” katanya.

Camat Talibura Laurens Lilo yang dihubungi berkali-kali melalui telepon terkait aksi pendudukan tanah HGU oleh ratusan warga, Rabu (20/8) tidak merespons. Ada tanda sinyal ponsel masuk, namun yang bersangkutan tidak mengangkatnya.

Sebelumnya, Wakil Bupati Sikka Paolus Nong Susar mengimbau warga untuk segera meninggalkan lokasi itu, segera kembali ke kampung halaman masing-masing. Pemkab Sikka sudah dan akan terus melakukan pendekatan persuasif terhadap warga yang masih bertahan di lokasi HGU dan telah meminta mereka ada tidak melakukan perbuatan melawan hukum.

Aspirasi warga masyarakat, katanya, akan tetap dimusyawarahkan bersama dan dikaji oleh eksekutif dan DPRD, selanjutnya diteruskan ke pemerintah pusat sebagai pengambil keputusan terakhir, karena kewenangan mengatur tanah HGU berada di tangan Pemerintah Pusat melalui Badan Pertanahan Nasional,” kata Wabup.

Aksi Lanjutan

Diberitakan media ini sebelummya, ratusan warga Waiblama, warga Likonggete dan Utanwair, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Sabtu malam hingga Minggu pagi (9-10/8) bermalam di  lokasi tanah  hak guna usaha (HGU) yang dikelola oleh misi (SVD/Societas Verbi Divini/Serikat Sabda Allah) dan Keuskupan Maumere di Nangahale dan Patiahu, Kecamatan Talibura.

Aksi bermalam ini merupakan langkah lanjutan dari aksi sekitar 500 warga dari tiga suku di atas sepanjang Sabtu (9/8) yang melakukan aksi pendudukan dan pengkaplingan tanah HGU tersebut.

Aksi massa ini terpusat pada tiga titik yakni massa dari Likonggete menduduki tanah HGU di Patiahu, massa dari Utanwair menduduki  tanah HGU di belakang SMK Negeri Talibura, dan massa dari Waiblama menduduki tanah HGU di pertigaan Patiahu.

Camat Talibura Laurensius Lilo yang dihubungi Flores Pos, Minggu (10/8) menjelaskan, ratusan warga yang bermalam di lokasi tanah  HGU itu kebanyakan berasal dari Waiblama. Mereka bermalam di bawah tenda yang beratapkan terpal di pertigaan jalan negara dan jalan menuju Waiblama.

Camat mengakui, ia bersama Camat Waiblama Patrisius Frederiko sempat berada bersama warga yang bermalam di lokasi tanah HGU hingga Minggu (10/8) pukul 01.30 Wita.

“Selama berada dengan warga, kami berbicara banyak hal termasuk keinginan warga agar segera menggelar pertemuan segi tiga antara pemerintah, Gereja dan masyarakat adat untuk membicarakan soal tanah HGU tersebut,” kata Camat.***(Flores Pos, Senin, 25 Agustus 2014)

Warga Mulai Tinggalkan Tanah HGU

Keuskupan Masih Berwenang Kelola Tanah HGU

Warga Bangun Ratusan Pondok di Tanah HGU

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Puluhan Hektare Tanah HGU Sudah Dikapling

  1. Pingback: Warga Mulai Tinggalkan Tanah HGU | SENTILAN

  2. Pingback: Keuskupan Masih Berwenang Kelola Tanah HGU | SENTILAN

  3. Pingback: Konflik Bambor-Ranggawatu Akan Segera Diselesaikan | SENTILAN

  4. Pingback: Warga Pantai Harapan Serang Warga Wulandoni | SENTILAN

  5. Pingback: Penyidik Tetapkan Empat Tersangka | SENTILAN

  6. Pingback: Warga Bangun Ratusan Pondok di Tanah HGU | SENTILAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s