Peserta JKN Sangat Dirugikan

  • Amburadulnya Manajemen RSUD Lewoleba

Oleh Maxi Gantung

Dokter RSUD Lewolewa Mogok

Dokter Mogok – Para dokter PTT mogok, berada di ruang Komisi III DPRD Lembata, Selasa (26/2/20103), mengadukan jasa lembur mereka lima bulan belum dibayar pemerintah daerah Lembata.

Lewoleba, Flores Pos – Manajemen RSUD Lewoleba sangat buruk. RSUD Lewoleba yang dipimpin Aditya Yoga hanya menuai masalah tanpa solusi. Peralatan medis dan obat-obatan tidak ada lagi, sudah berlangsung tujuh bulan sejak Februari 2014. Laboratorium tidak befungsi. Kondisi rumah sakit ini sangat merugikan peserta jaminan kesehatan nasional (JKN).

Kepala layanan operasional Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kabupaten Lembata Novita Nalle, kepada wartawan di ruang kerjanya yang berhadapan dengan ruang Direktur RSUD Lewoleba, Kamis (4/9) menjelaskan, sejak BPJS Kesehatan diberlakukan di Lewoleba, keadaan obat di Rumah Sakit Umum Daerah sudah mulai menipis. Ia mengatakan, banyak peserta jaminan kesehatan nasional (JKN) yang mengeluhkan persediaan obat dan peralatan media habis pakai di RSUD Lewoleba tidak ada. Para peserta JKN terpaksa harus beli sendiri obat dan peralatan habis pakai. Ketika obat di RSUD Lewoleba habis, yang rugi adalah peserta JKN. “Peserta JKN sangat dirugikan,” ujarnya.

Dijelaskannya, BPJS bekerja sama dengan RSUD Lewoleba. Artinya, peserta JKN berobat ke RSUD Lewoleba secara gratis tanpa pungutan satu sen pun. Pihak BPJS yang membayar ke RSUD Lewoleba. Bertolak dari keluhan peserta JKN, maka pihak BPJS kesehatan mencari solusi agar peserta JKN tidak dirugikan. Caranya, kuitansi pembelian obat, alat habis pakai dan pemeriksaan laboratorium di luar RSUD Lewoleba diserahkan kepada pihak manajemen RSUD Lewoleba, dan pihak BPJS membayar kembali uang dari pasien peserta JKN.

Solusi ini disampaikan kepada pihak manajemen RSUD Lewoleba dalam hal ini direktur RSUD Lewoleba, namun pihak manjemen RSUD Lewoleba menyampaikan tidak ada anggaran yang mengatur tentang itu. “Peserta JKN tidak tahu soal aturan itu. Yang mereka tahu adalah mereka berobat gratis. Dan kami, pihak BPJS membayar ke RSUD Lewoleba sesuai klaim pasien JKN,” ujarnya.

Lebih lanjut, Novita Nale mengatakan, BPJS memiliki tanggung jawab moril terhadap peserta JKN. Karena itu, pihak BPJS menyampaikan kepada Sekda Lembata Petrus Toda Atawolo melalui telepon. Novita menyampaikan pelbagai masalah ketiadaan  ada obat di RSUD Lewoleba dan keluhan peserta JKN yang berobat di RSUD Lewoleba. Saat itu, Sekda menyampaikan bahwa peserta JKN bisa mengambil kembali uang mereka dengan catatan, peserta JKN menyerahkan bukti-bukti atau kuitansi pembelian obat dan lain sebagainya dan diserahkan kepada pihak manajemen RSUD Lewoleba.

“Banyak peserta JKN yang datang ke BPJS Kesehatan Kabupaten Lembata mengeluh dan marah terkait ketiadaan obat di RSUD Lewoleba. Kami sudah menanyakan masalah ini ke RSUD Lewoleba, dan pihak manajemen RSUD Lewoleba menyampaikan bahwa hal ini terjadi karena belum dilakukan proses tender pengadaan obat-obatan dan alat habis pakai tersebut,” ujarnya.

Eliazer Yentji Sunur

Bupati Lembata, Eliazer Yentji Sunur

Direktur RSUD Lewoleba, Aditya Yoga tidak bisa dikonfirmasi. Yoga terus menghindar wartawan. Bahkan Wartawan Flores Pos, Rabu (3/9) diusir ketika mau mengonfirmasi soal keluhan pasien terkait ketiadaan obat di RSUD Lewoleba.

Catatan Flores Pos, RSUD Lewoleba dibawa kepemimpinan Direktur Aditya Yoga selalu dirundung berbagai persoalan mulai dari dugaan pungli, peralatan laboratorium yang rusak, konflik internal, aksi mogok para dokter dan karyawan RSUD Lewoleba yang menyababkan pelayanan RSUD Lewoleba terganggu, pengelolaan keuangan tidak transparan, pelayanan tidak maksimal, dan ketiadaan obat serta alat habis pakai serta masalah lainnya. Desakan DPRD beberapa waktu lalu agar Bupati Lembata mencopot direktur RSUD Lewoleba, hingga saat ini tidak didengarkan bupati. Pemerintah tampak membiarkan masalah di RSUD Lewoleba menggunung.***(Flores Pos, Jumat, 5 September 2014)

Direktur RSUD Lewoleba Usir Wartawan

Tujuh Bulan, RSUD Lewoleba Ketiadaan Obat

Direktur RSUD Lewoleba Terus Menghindar

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Peserta JKN Sangat Dirugikan

  1. Pingback: Direktur RSUD Lewoleba Terus Menghindar | SENTILAN

  2. Pingback: Direktur RSUD Lewoleba Usir Wartawan | SENTILAN

  3. Pingback: Tujuh Bulan, RSUD Lewoleba Ketiadaan Obat | SENTILAN

  4. Pingback: Publik Desak Bupati Copot Direktur RSUD | SENTILAN

  5. Pingback: Yoga: Saya Tunggu Payung Hukum | SENTILAN

  6. Pingback: Wartawan Sikka Kecam Direktur RSUD Lewoleba | SENTILAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s