Wartawan Sikka Kecam Direktur RSUD Lewoleba

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bahas pengusiran wartawan – Beberapa wartawan yang bertugas di Kabupaten Sikka, Selasa (9/9) membahas diskusi terbatas terkait aksi tak terpuji Direktur RSUD Lewoleba Aditya Yoga yang mengusir Wartawan Flores Pos Maxi Gantung saat menjalankan tugas jurnalistik, Rabu (3/9) pekan lalu. Wartawan mengecam keras aksi Direktur RS itu.

Oleh Wall Abulat

Maumere, Flores Pos – Sejumlah wartawan media cetak dan elektronik yang bertugas di Kabupaten Sikka mengencam keras tindakan Direktur RSUD Lewoleba Aditya Yoga yang mengusir wartawan Flores Pos Maxi Gantung saat sedang menjalankan tugas jurnalistik terkait ketiadaan obat di RS itu sebagaimana dilansir media ini sebelumnya (Flores Pos, Rabu, 4/9). Para wartawan menilai tindakan Direktur itu sangat melecehkan para jurnalis dan melanggar UU Pers.

Kecaman terhadap perilaku Direktur RSUD Lewoleba itu disampaikan Wartawan TVRI Wilayah Kerja Kabupaten Sikka Ruben Suban Raya, Wartawan media online Flobamora Net Vicky da Gomez, wartawan RCTI-MNCTV Joni Nura, Wartawan Flores Pos Walburgus Abulat, dan Wartawan TVOne Taufik Koban dalam dialog terbatas di Kantor Harian Umum Flores Pos Biro Maumere, Selasa (9/9).

Vicky da Gomez mengakui pihaknya mengetahui adanya aksi tak terpuji Direktur RSUD Lewoleba itu dari pemberitaan beberapa media terbitan NTT dan media online.

“Setelah saya mengetahui aksi direktur, saya menyatakan kekecewaan saya. Apalagi alasannya sangat, yakni soal sandal. Padahal, wartawan Maxi Gantung selama ini tetap mengenakan sandal sepatu itu ketika menemui direktur itu di ruang kerjanya. Dan anehnya, baru kali itu, Maxi diusir,” kata Vicky.

Vicky mengakui insting waryawan Maxi Gantung sangat luar biasa karena saat itu ia mengkonfirmasi hal penting bagi publik Lembata soal dugaan ketiadaan obat. “Saya kira perilaku direktur itu perlu disikapi secara serius. Apalagi yang hendak dikonfirmasi wartawan terkait ketiadaan obat. Saya minta teman-teman wartawan di Lembata memproses secara hukum sang direktur. Warga juga harus merespons hal ini karena ini soal hak masyarakat terkait persediaan obat,” kata Vicky.

Melanggar UU Pers

Wartawan Senior Ruben Suban Raya menilai perilaku Direktur RSUD Lewoleba itu melanggar UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 yang bisa menjerat yang bersangkutan secara pidana.

“Perilaku Direktur RSUD Lewoleba itu merupakan perbuatan yang harus kita lawan secara bersama oleh para jurnalis di mana pun. Karena perbuatannya sangat melecehkan profesi jurnalis. Lagi pula tindakan tak terpujinya itu melanggar UU Pers No. 41 Tahun 1999. Saya minta para wartawan di Lewoleba, terutama Maxi Gantung melaporkan yang bersangkutan ke aparat berwenang,” kata Ruben Suban Raya.

Hal senada disampaikan Wartawan RCTI-MNCTV Joni Nura dan Wartawan TVOne Taufik Koban. Kedua wartawan ini meminta para wartawan yang bertugas di Lewoleba untuk merapatkan barisan dan bersatu menentang segala aksi tak terpuji dari kalangan mana pun, termasuk tindakan Direktur RSUD Lewoleba yang mengusir wartawan Maxi Gantung.

“Wartawan harus bersatu melawan perilaku pejabat publik yang membungkam pers dengan cara melawan hukum dan melakukan aksi tak terpuji seperti  itu,” kata Taufik Koban.

Joni Nura menambakan, aksi Direktur RSUD Lewoleba harus dilawan dan dikutuki oleh insan karena hal tersebut menyangkut harga diri profesi jurnalis di mana saja. “Kita patut mengutuki aksi tak terpuji ini. Direktur RSUD Lewoleba bertanggung jawab atas perilaku tak terpujinya itu,” kata Joni Nura.

Diberitakan media ini sebelumnya, Direktur RSUD Lewoleda Aditya Yoga mengusir Wartawan Flores Pos Maxi Gantung saat hendak menemuinya di ruang kerjanya, Rabu (3/9). Maxi hendak menemui Direktur untuk mengkonfirmasi terkait ketiadaan obat di RSUD itu sejak Februari 2014.***(Flores Pos, Rabu, 10 September 2014)

Direktur RSUD Lewoleba Usir Wartawan *Tujuh Bulan, RSUD Lewoleba Ketiadaan Obat *Direktur RSUD Lewoleba Terus Menghindar *Peserta JKN Sangat Dirugikan *Publik Desak Bupati Copot Direktur RSUD *Yoga: Saya Tunggu Payung Hukum

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s