Mengadili dengan Kasih

  • Matius 20: 1-16a

Oleh Romo Silvi M. Mongko, Pr

Menulis

Romo Silvi M. Mongko, Rohaniwan Keuskupan Ruteng, Tinggal di Seminari Kisol

Bacaan-bacaan suci hari Minggu ini (21/9) menyuguhkan sebuah pesan istimewa bagi umat Kristiani. Bahwasanya, Yesus menggambarkan Allah sebagai ‘majikan’ yang baik, yang berkenan memilih pekerja untuk mengerjakan kebun anggurnya.

Figur majikan itu baik, karena pertama-tama, majikan itu berkenan memilih ‘buruh’ untuk bekerja di kebun anggurnya. Dan kedua, ia memberikan ‘upah’ kepada buruhnya sesuai yang telah disepakati. Lebih dari sekadar memberi upah, majikan yang baik itu dilengkapi dengan gambaran kemurahan hati yang memberikan upah secara penuh tanpa pandang perbedaan lamanya waktu bekerja.

Sepintas, mungkin terkesan tak adil, karena majikan memberikan upah yang sama kepada semua buruhnya. Sementara kenyataannya, ada yang bekerja sepanjang hari, dan ada juga yang datang siang hari, bahkan sore menjelang pulang. Namun, tuan itu malah memberikan upah yang sama. Bukankah itu tidak adil?

Jelaslah bahwa tuduhan ketidakadilan itu tak terbukti. Sebab, ia tidak mencaplok sedikit pun hak buruh yang bekerja seharian. Ketidakadilan dalam konteks ini bisa dibayangkan sebagai perlakuan tak wajar dari majikan atas buruhnya, misalnya berlaku kasar terhadap buruh, atau memberikan upah kurang dari yang telah disepakati, atau tidak memberikan upah sama sekali. Sebaliknya, majikan itu memberikan upah sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Ia memenuhi kewajibannya pada waktunya.

Saya kira di sinilah keistimewaan majikan yang diangkat dalam perumpaan penginjil Matius, yakni bahwa ia menyatakan kepenuhan kasihnya kepada mereka yang datang kemudian tanpa mengurangi atau mencaplok sedikit pun hak mereka yang datang lebih awal untuk bekerja. Majikan itu berlaku adil justru karena ia tidak menjadikan perbedaan sebagai patokan untuk menyatakan kasihnya.

***

Kiranya, ada beberapa pesan penting dari Firman Tuhan ini. Pertama, Allah memanggil manusia untuk terlibat dalam pekerjaan-Nya. Allah mengundang manusia untuk bekerja di kebun anggur-Nya. Allah ingin manusia bisa mengambil bagian dalam pembangunan kerajaan-Nya. Porsi dan ukuran keterlibatan itu bisa berbeda-beda satu sama lain. Ada yang datang sejak awal, ada yang datang siang hari, ada juga yang datang sore hari. Di sini, Allah hendak membangun kerja sama dengan manusia dalam rencana keselamatan-Nya. Ia bukanlah Allah yang single fighter, tapi Ia senantiasa mempercayakan setiap orang dan ingin memakai siapa saja untuk bekerja sama dengan-Nya.

Dalam kenyataan hidup harian kita, ada orang yang tidak mau bekerja sama dengan orang lain. Selalu ada orang yang merasa diri paling hebat dan merasa diri bisa bekerja sendiri sampai tuntas. Dalam tugas kepemimpinan, misalnya, ada pemimpin yang kurang yakin dengan kemampuan bawahannya, sehingga kurang diberikan kepercayaan untuk tugas-tugas yang menjadi porsinya. Akibatnya, ia bekerja sendiri, sedangkan bawahannya tidak berkembang. Atau kalaupun dipercayakan, ia lebih sering mengintervensi dan mendikte bawahannya sehingga bawahan tidak bisa bekerja lebih leluasa.

Ada pemimpin politik, misalnya, yang tidak mau mendengarkan keluhan rakyatnya, sehingga ia mengambil kebijakan seturut selera dan kepentingannya. Ia kurang menghargai aspirasi rakyatnya. Pemimpin seperti ini akan sangat sulit membangun kerja sama dengan rakyatnya, dan orientasinya lebih kepada keuntungan diri atau kelompoknya.

Kedua, Allah tidak menghendaki manusia itu menjadi penganggur. Allah menghendaki supaya orientasi hidup manusia itu jelas. Karena itu, setiap orang mesti berjuang untuk membangun masa depan yang lebih terarah. Dan inilah makna hidup yang sesungguhnya, bahwa setiap orang mesti memiliki arah hidup yang jelas dan hidup dari hasil karyanya sendiri.

Dengan mempekerjakan ‘para buruh’, Allah ingin mengajarkan kepada manusia untuk mencintai pekerjaan masing-masing, bahkan sehina atau sesederhana apa pun pekerjaan itu. Dengan bekerja, manusia mengambil bagian dalam karya penciptaan dan penebusan Allah atas ciptaan. Karena itu, bekerja bukan semata menuntut upah tapi menjadi bagian dari pemenuhan atau realisasi diri manusia sebagai ciptaan Allah yang paling mulia. Sebab, hanya manusia yang sanggup menggunakan akalnya untuk bekerja. Karena itu, kerja adalah bagian dan peradaban, dan melalui kerja, manusua mengalami proses sivilisasi.

Ketiga, Allah akan memberi ‘upah’ kepada setiap orang yang bersedia untuk bekerja denganNya. Upah itu tidak bisa diukur secara ekonomis. Juga tidak bisa dibatasi oleh tuntutan dan keinginan egoistis manusia. Upah itu adalah kasihNya yang melampaui setiap perhitungan dan pengukuran manusia. KasihNya melampui setiap batasan ruang dan waktu. Jelaslah di sini bahwa manusia tak punya hak sedikit pun untuk membatasi kemurahan kasih Allah.

Tuntutan untuk mendapat upah berbeda menurut lamanya berkerja adalah bentuk lain dari peradilan manusia atas kehendak Allah. Kasih Allah itu tak dapat didikte oleh intervensi ego manusia. Ia bertindak menurut rancanganNya sendiri. “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes 55:9). Dan itulah kebebasan mutlah Allah yang bekerja atas kehendak kasihNya. Ketika manusia menuntut dan mematok agar Allah menunjukkan kasihNya menurut tatacara manusia, maka manusia sesungguhnya sedang mengadili Allah dan memendam ambisi untuk membatasi kemurahan kasih dan kebebasan total Allah.

Masalah sering kali terjadi karena manusia selalu menuntut lebih dari apa yang dibutuhkan. Oleh dorongan dan hasrat ingin hidup lebih, manusia selalu terkurung dalam semangat hedonisme dan selalu merasa kurang dalam hidup. Karena ada kesenjangan antara apa yang ada dengan angan-angan yang melampaui kenyataan, maka manusia bisa menghalalkan segala cara untuk menjembataninya dengan cara-cara yang curang dan tidak adil. Tren ingin hidup lebih justru bisa merusak watak manusia yang baik. Pada tingkat yang akut, jika jurang itu tak terjembatani, manusia bisa jatuh pada keadaan patologis yang membuka jurang kepada stres, depresi, bahkan bunuh diri, dan aneka kelainan jiwa yang bisa menghancurkan kehidupan manusia.

Metafor ‘upah’ untuk kasih Allah bagi mereka yang terlibat dalam proyek keselamatannya itu merupakan buah pertanggungjawaban manusia. Setiap orang yang dipercayakan Allah untuk bekerja sama dengan-Nya, akan dituntut suatu laporan. Itulah saat peradilan. Namun, Allah tidak mengadili menurut batasan dan ukuran manusia. Peradilan Allah adalah aktualisasi dari kasih-Nya yang sempurna. Dalam kepenuhan ‘upah’ kasih-Nya, Allah bertindak secara adil. Karenanya, pertimbangan keadilan-Nya melampui yang fana dan manusiawi. Keadilan-Nya ada dalam kasih-Nya.

Kiranya, ini yang membedakan secara tegas dari peradilan manusia yang bisa membenarkan yang salah, atau sebaliknya menyalahkan yang benar. Ingat bahwa, peradilan Allah tidak pernah melahirkan korban. Sebaliknya, peradilan manusia sering kali melahirkan korban. Hal itu terjadi karena nilai kebenaran dan keadilan diperbudak oleh hasrat ingin hidup ‘lebih’: uang, harta, kemewahan. Betapa sering hukum menjadi milik kaum berduit dan penguasa, sehingga ia menjadi sangat tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Begitu sering praktik peradilan manusia berlaku diskriminatif karena selalu saja ada orang yang kebal terhadap hukum.

Semoga kita bisa belajar dari pesan Allah melalui perumpaan majikan yang baik itu dan bisa lebih adil dalam memperlakukan sesama dalam hidup sehari-hari. Semoga!***(Mimbar Flores Pos, Sabtu, 20 September 2014)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in RENUNGAN and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s