Merayakan Hidup dalam Horison Makna

Oleh Frans Nala, Pr (Berkarya di Lembaga Pendidikan Santu Klaus Kuwu, Manggarai)

Pada Rabu (27/8) yang lalu, pameran pembangunan Kabupaten Manggarai dibuka secara resmi oleh Bapak Wakil Bupati di lapangan Motang Rua Ruteng. Acara pembukaan berlangsung khidmat, dihadiri unsur pemerintah dan masyarakat yang memadati lapangan Motang Rua. Pameran ini berlangsung selama kurang lebih (10) hari sampai Jumat (6/9).

Tentu ini kegiatan yang sangat fenomenal dan patut diapresiasi. Bahwasanya masyarakat diberikan ruang dan waktu khusus untuk berekspresi dan menampilkan pernak-pernik kehidupannya. Mereka dapat mengekspresikan hasil karya-ciptanya masing-masing. Masyarakat merayakan kehidupan dalam nuansa yang memotivasi dan membangkitkan dinamika kreativitas.

Pagelaran ini tentu lebih dari sekadar momen hiburan rakyat semata. Orang-orang yang mengikuti pameran atau pagelaran seni-budaya juga mengharapkan sesuatu yang lain dari sekadar mencari hiburan atau membeli sesuatu. Paling kurang, dengan mengikuti kegiatan tersebut, mereka dapat menimba pengalaman, informasi, wawasan dan ilmu yang baru tentang sesuatu. Itu berarti, suasana pagelaran hendaknya menjadi momen transmisi nilai, penyebaran ilmu dan pembauran horison pemahaman, seperti yang dikatakan oleh Hans George Gadamer (filsuf Jerman). Ruang pameran mesti dikemas menjadi “laboratorium pengayaan informasi”— tempat setiap orang menimba  wawasan dan pengetahuan baru untuk berusaha dan berkreasi.

***

Saya menangkap dua gagasan penting dari pagelaran ini. Pertama, pagelaran dibuat untuk memaknai HUT ke-69 Kemerdekaan RI. Nuansa dan waktunya sungguh mengungkapkan hal itu. Secara tidak langsung, semua orang diajak untuk masuk ke dalam “memori sejarah” seraya menimba energi baru untuk meneguhkan nasionalisme dan jiwa kesatriaan sebagai anak-anak bangsa yang merdeka.

Memang kita perlu memaknai HUT kemerdekaan ini dalam suasana persaudaraan dan kreativitas. Sebab, seringkali kita terperangkap dalam pola pikir primordial dan corak relasi yang sektarian. Pola pikir dan corak relasi seperti itu berpotensi melahirkan konflik dan pertikaian. Keindonesiaan harus dikonservasi dalam bejana hidup bersama yang solid dalam semangat saling menghargai, tenggang rasa, dan solidaritas. Kehidupan bersama mesti direkonstruksi bak karya seni yang mengungkapkan harmoni, soliditas dan keseimbangan unsur-unsur kehidupan.

Kedua, pagelaran dibuat untuk menghidupkan kembali kearifan budaya. Kita cukup sering mendengar slogan yang berbunyi, “cintailah produk dalam negeri”. Slogan ini secara tidak langsung mengatakan “cintailah budaya kita sendiri”. Sebab produk yang paling primordial dalam kehidupan manusia adalah kebudayaan. Kalau kebudayaan cukup solid dalam mengkonservasi nilai, maka dinamika pertumbuhan dalam konteks karya-cipta akan sungguh terwujud.

Sekalipun muatan nilai budaya terungkap dalam simbol-simbol, tetapi kesadaran dan pengalaman hidup tetap menjadi dasarnya. Clifford James Geertz (antropolog) mengatakan, pola-pola makna yang terwujud sebagai simbol-simbol atau suatu sistem konsepsi yang diekspresikan dalam bentuk-bentuk simbolik merupakan model dari realitas dan model bagi realitas. Itu berarti, kebudayaan tidak hanya dilihat sebagai fenomena material tetapi juga organisasi kognitif dari fenomena tersebut.

***

Ada dua catatan yang patut direnungkan berkaitan dengan isu ekonomi dan budaya. Pertama, pagelaran ini kiranya tidak hanya sekadar simulasi. Jean Baudrillard (filsuf Perancis) mengatakan, simulasi adalah keadaan yang dikreasikan sebagai sesuatu yang lain – bukan yang sebenarnya. Memang pada dasarnya, pameran mengungkapkan suasana gebyar, pesta rakyat. Pada saat pameran, hidup sungguh-sungguh dirayakan dengan penuh sukacita dalam kebersamaan – sekalipun interaksinya terjadi dalam suatu kerumunan massa saja.

Namun amat ironis, apabila miniatur hidup yang ditampilkan dalam pameran tersebut, tidak sesuai dengan kenyataan hidup yang sesungguhnya. Kita merayakan gebyar massal di tengah situasi kehidupan yang sesungguhnya masih dililit gurita kemiskinan, korupsi yang semakin merebak, dan pertambangan yang kian menyeruak di beberapa wilayah di Manggarai Raya ini. Itu berarti, kita merayakan gebyar hidup di atas bayang-bayang penderitaan dan gelimang persoalan.

Situasi pameran kiranya menjadi miniatur untuk melihat diri dan menata masa depan yang lebih kreatif, berdaya saing, unggul dan mandiri. Sangat tidak berarti apabila yang dipamerkan adalah pajangan yang “dipindahtempatkan” dari toko, dan bukan hasil kreasi sendiri.

Memasuki era Komunitas Ekonomi Asia, kita perlu membangun kemandirian dalam bidang ekonomi. Potensi-potensi ekonomi yang dimiliki harus diberdayakan-dikelola sendiri. Kita perlu meninggalkan mental “ketergantungan” dalam jejaring korporatokrasi. Wajah neoliberalisme dalam pelbagai penjelmaannya mesti segera dilucuti kalau tidak ingin sendi-sendi kehidupan kita kian tergerus-hancur. Sudah saatnya, kita membangun kemandirian usaha dan meningkatkan produktivitas dalam bingkai ekonomi kerakyatan. Apabila kita tidak “memberdayakan” diri, kita akan ditinggalkan, bahkan dilindas oleh bangsa-bangsa Asia yang lain.

Kedua, pagelaran seni-budaya menjadi momentum revitalisasi kearifan budaya. Budaya tidak bisa dipisahkan dari keberadaan manusia. Immanuel Kant (filsuf Jerman) mengatakan, seekor binatang hanya memiliki kodrat, sedangkan kemanusiaan sudah meliputi bidang kebudayaan. Kebudayaan adalah sesuatu yang amat rasional dalam kehidupan manusia. Ia mengandung kekayaan nilai yang membuat manusia lebih manusiawi dan beradab. Semakin berbudaya, semakin beradab.

Budaya bertujuan untuk mengolah dunia dan mengembangkan eksistensi manusia secara penuh. Itu berarti, pudarnya (nilai-nilai) budaya menjadi tanda kaburnya identitas manusia. Fenomena ini tengah kita alami saat ini, ketika institusi keluarga dan lembaga-lembaga adat lebih memperhatikan aspek-aspek simbolik dan ritual, ketimbang penanaman kesadaran berbudaya dalam hidup sehari-hari.

Saya menangkap adanya keprihatinan seperti ini dalam kemasan pagelaran seni-budaya yang dilaksanakan di lapangan Motang Rua Ruteng kali ini. Nilai-nilai budaya perlu dihidupkan kembali, bukan hanya sekadar seremoni massa, melainkan sebagai kesadaran dan ritual hidup sehari-hari. Dewasa ini, nilai budaya sebagai ritual kehidupan pelan-pelan dimuseumkan, dan dibuka pada saat hajatan penting saja.

Lebih dari itu, banyak kreasi budaya yang hanya dipakai untuk mengisi panggung-panggung pentas seni saja. Kalau budaya direduksi hanya sekadar seni-pentas saja, maka lambat laun akan musnah. Sebab “kreasi seni modern” jauh lebih eksotik dan memikat. Tetapi bukan persoalan memikat atau tidak, melainkan identitas dan eksistensi manusia. Untuk itu, nilai-nilai budaya perlu direvitalisasi agar tetap menjadi pijakan dan horison hidup yang penuh makna.

***

Satu pesan penting yang mau diangkat dari pagelaran ini adalah kita perlu merekonstruksi hidup bersama dalam agenda transformasi sosial-budaya. Merayakan hidup sebagai sebuah simulasi, hanya akan membawa petaka bagi masa depan kita sendiri. Dalam kehidupan yang disimulasikan, kita tidak akan pernah menjadi diri (budaya) kita sendiri yang sesungguhnya. Sebab nilai dan identitas lain yang lebih dominan membentuk kehidupan kita. Apalagi nilai-nilai asing yang dikemas secara eksotis lebih digandrungi masyarakat kita sekarang ini, terutama kaum remaja. Arus Barat telah mempengaruhi ruang kesadaran dan perilaku kita. Ini yang menyebabkan terjadinya alienasi, menurut Karl Marx (filsuf Jerman). Generasi baru yang tercipta pun, akan menjadi generasi hibrid yang tidak memiliki karakter dan identitas (budaya) yang jelas.

Untuk itu, perlu dibangun gagasan tentang komunitas ideal. Benedict Anderson mengatakan, masyarakat ideal (Imagine Community) muncul dari kesadaran akan situasi baru yang lebih baik. Masyarakat ideal itu menghidupi kearifan asali dalam khazanah budaya. Masyarakat ideal adalah masyarakat yang hidup dalam cita rasa perdamaian, persaudaraan dan solidaritas. Tanpa ada cita-cita membentuk masyarakat baru, kita tidak mungkin dapat merumuskan agenda konkret mewujudkan perubahan sosial.

Dalam masyarakat ideal, tidak ada lagi kesejangan sosial dan diskriminasi ekonomi. Sebab pola pikir dan perilaku setiap warga diikat oleh nilai-nilai bonum commune. Kiranya, masyarakat Manggarai Raya juga bisa berevolusi secara terus-menerus menuju masyarakat Manggarai yang lebih berbudaya, solid, adil, makmur dan sejahtera.***(Flores Pos, Jumat, 12 September 2014)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s