Bansos Sikka, Gereja dan Persoalan Korupsi

Oleh Redem Kono

Menulis

Redem Kono, Mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkarya Jakarta

Korupsi adalah persoalan masif yang tidak pernah tuntas di negeri ini. Hasil survei PERC (Political & Economic Risk Consultancy) menempatkan Indonesia pada urutan ketiga negara terkorup di Asia pada tahun 2008. Pada tahun 2009 dan 2010, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara terkorup di Asia.

Tak terkecuali di Kabupaten Sikka, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memberikan penilaian “tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion)” terhadap laporan keuangan Bupati Sikka tahun 2009, 2010 dan 2011. Sikap BPK muncul karena amburadulnya pengelolaan keuangan yang menabrak semua peraturan, dan juga indikasi korupsi secara besar-besaran, hampir di semua SKPD.

Laporan BPK mengindikasikan bahwa jumlah kasus dugaan korupsi di Sikka yang belum dipertanggungjawabkan pada tahun 2009, sebanyak 934 dengan total kerugian negara dan daerah sebanyak 16,5 M. Pada tahun 2010, jumlah kasus dugaan korupsi meningkat menjadi 1.206 dengan total kerugian juga bertambah menjadi 17,5 M. Kerugian keuangan negara dan daerah paling menonjol di Sikka adalah pada tahun 2009, sebesar 16,5 M, dari pos kasus dana Bansos dan belanja tidak langsung, yang masing-masing sebesar 10,7 M dan 3,4 M.

Penyelesaian kasus ini cenderung mengutamakan mekanisme kambing hitam, yang berujung penghukuman beberapa bawahan tanpa menindak atasan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab. Pertanyaannya, mengapa kasus ini dibiarkan tanpa penanganan serius?

Tiga Akar

Hemat penulis, terdapat sekurang-kurangnya tiga akar kausal dari korupsi – termasuk Bansos Sikka – yakni korupsi sistemik, asimetri pengetahuan, dan kurangnya semangat militansi.

Pertama, korupsi disebabkan oleh sistem pemerintahan yang korup. Tatanan pemerintahan yang ada sudah merefleksikan, katakanlah, ketidakadilan dalam hal pembagian kekayaan negara. Lebih ironis lagi, ketika bandul keadilan dapat dipermainkan seenaknya karena penggunaan darwinisme politik: siapa kuat, dia menang, bahkan dengan cara-cara kotor. Dapatkah maling teriak maling?

Kedua, asimetri pengetahuan dan kekuasaan. Kaum elite pemerintahan dan politik yang korup biasanya berusaha menyembunyikan realitas korupsi dengan menggunakan kekuatan argumentasi manipulatif. Korupsi yang masif menyebabkan kemiskinan yang akut pada masyarakat; suatu tesis yang hendak dibantah para koruptor. Hirarki pengetahuan antara para koruptor dan rakyat membuat koruptor leluasa memanipulasi rakyat.

Ketiga, kurangnya semangat militansi. Kontinuitas korupsi tidak hanya terjadi karena ketidakpedulian pemerintah, tetapi juga kurang kritisnya rakyat. Rakyat yang kurang kritis demikian karena malas berjuang, apatis, bahkan cenderung membiarkan korupsi tetap terjadi. Sikap permisiv rakyat ini dapat membuka peluang bagi merambahnya budaya korupsi dalam pelbagai tingkat kehidupan. Lebih miris lagi, bila koruptor membutakan dan membungkam nurani rakyat dengan hegemoni uang dan janji palsu.

Korupsi sistemik, asimetri pengetahuan dan kekuasaan, serta kurangnya semangat militansi dapat mengembangkan budaya korupsi. Jika tidak diselesaikan dengan baik, gurita korupsi akan berkembang dan memangsa impian rakyat akan kebebasan dan kebahagiaan.

Apa Kata Gereja?

Terhadap tiga akar di atas, apa tanggapan Gereja Katolik? Pertama-tama perlu ditegaskan bahwa Gereja memiliki komitmen tulus terhadap persoalan-persoalan kemasyarakatan. Gaudium Et Spes, nomor 1 menegaskan hal ini. Kegembiraan, harapan, duka, dan kecemasan dunia menjadi kegembiraan, dan harapan, duka, dan kecemasan kita juga.

Komitmen Gereja tersebut mengarahkan teologi Gereja sebagai teologi yang memberikan perhatian kepada persoalan dunia dengan membubuhi cita rasa teologis sesuai nilai-nilai Kerajaan Allah. Karenanya, korupsi sebagai persoalan universal juga merupakan tanggung jawab Gereja, sebab pemberantasan korupsi tampil sebagai salah satu ikhtiar dukungan Gereja terhadap panggilan Kristus: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat 28: 19).

Selanjutnya, Gaudium Et Spes, Bab II mengetengahkan kehadiran Allah di tengah perkembangan zaman, termasuk perjuangan manusia menggapai kesejahteraan umum. Sikap profetik Gereja terhadap korupsi bertumpu pada bagian ini. Jadi, tata masyarakat dan kemajuannya harus tiada hentinya menunjang kesejahteraan pribadi-pribadi; sebab penataan hal-hal harus dibawakan kepada tingkatan pribadi-pribadi. Tata dunia harus semakin dikembangkan, didasarkan pada kebenaran, dibangun dalam keadilan, dihidupkan dalam cinta kasih, harus menemukan keseimbangannya yang semakin manusiawi dalam kebebasan.”  Sikap Gereja ini menandaskan keberpihakan Gereja kepada mereka yang termarginalisasi oleh karena korupsi.

Korupsi sebagai realitas patologis dalam tata masyarakat – menurut ajaran di atas – mementaskan dua kenyataan menyimpang. Pertama, korupsi dapat menodai pribadi manusia sebagai citra Allah. Karenanya, alih-alih mencoreng pribadi manusia, tindakan korupsi juga bertentangan dengan kemuliaan Pencipta. Pada dasarnya, semua manusia sebagai pribadi memiliki kesamaan dasariah yakni sama-sama adalah jiwa yang berbudi, diciptakan menurut gambar Allah, ditebus oleh Kristus, dan mengemban panggilan dan tujuan yang sama pula. Eksploitasi dan manipulasi manusia terhadap yang lain dalam korupsi melanggar keluhuran martabat manusia yang telah dianugerahkan Allah.

Kedua, korupsi melanggar nilai-nilai Kerajaan Allah. Tata masyarakat yang ideal sangat menghormati keluhuran martabat manusia, dan tujuan ini dicapai dengan mengimplementasikan kebenaran, keadilan, cinta kasih, dan kebebasan. Nilai-nilai Kerajaan Allah ini sudah diajarkan dan dibuktikan Yesus selama hidup-Nya di dunia.

Korupsi melawan kebenaran karena sering memanipulasi fakta-fakta korupsi dengan melakukan pembohongan publik. Korupsi berseberangan dengan keadilan karena merampas hak-hak pribadi masyarakat, walaupun itu bukan hak-haknya. Cinta kasih tidak ada dalam kamus koruptor karena kegilaan pada cinta diri dan kepentingan kelompok. Korupsi menafikan kebebasan karena mengerangkeng sikap kritis setiap warga, yang juga adalah ciptaan Tuhan. Tak diragukan lagi bahwa korupsi melanggar nilai-nilai Kerajaan Allah.

Kawal Kasus Bansos Sikka!

Terhadap kasus Dana Bansos Sikka, warga Kabupaten Sikka yang secara mayoritas beragama Katolik (dan termasuk wilayah Keuskupan Maumere) mesti menggelorakan perlawanan Gereja terhadap praktik korupsi. Sikap profetik itu juga tampak jelas melalui semangat Gereja kontekstual sejak Sinode I Keuskupan Maumere (20-25 Oktober 2013) lalu. Sinode tersebut mengundang masyarakat Sikka untuk menampilkan wajah Gereja yang kritis dan profetis terhadap segala ketidakdilan dalam masyarakat. Sinode menempatkan perjuangan kemasyarakatan sebagai bagian integral dari ibadah kristiani, yang mengarah para praksis pembebasan umat dari pelbagai ketidakadilan. Sebab itu, sinode ini memberi perhatian terhadap pelbagai masalah kemasyarakatan, seperti kekurangan air minum, korupsi, kecenderungan pesta pora yang masif, dan lain-lain sebagai masalah-masalah pokok yang berkaitan dengan tanggung jawab profetik Gereja.

Karenanya, masyarakat Sikka perlu menagih janji-janji pemerintah Sikka sekarang untuk menuntaskan pelbagai tindak korupsi di Kabupaten Sikka. Dalam terang semangat Sinode, korupsi dari sisi tilik moral kristiani sangat bertentangan dengan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam tata masyarakat dunia. Sebab itu, menegakkan keadilan rakyat yang telah dicederai korupsi merupakan salah satu bagian integral dari penghargaan terhadap pribadi manusia sebagai citra Allah dan penegakan nilai-nilai Kerajaan Allah.

Kesadaran ini dapat memantik sikap militansi, kritis dan profetik dari masyarakat sekaligus umat Keuskupan Maumere demi penyelesaian berkeadilan atas dana Bansos. Pada gilirannya pula, militansi dapat menerabas korupsi sistemik dan hirarki epistemis sebagai akar-akar korupsi.***(Flores Pos, Selasa, 2 September 2014)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s