Dari Verbalisme Menuju Diskursus

  • Persoalan Tambang

Oleh Ferry H. Warman, Pr

Menulis

Ferry H. Warman Pr, Rohaniwan, Pengajar di Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur

Dua minggu terakhir, ruang publik kita diwarnai kasak-kusuk informasi seputar pertambangan, khususnya yang terjadi di Lingko Roga, Kampung Tumbak, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Manggarai Timur. Kasak-kusuk itu bukan hanya berkembang di media massa baik surat kabar maupun jaringan sosial, tetapi juga masuk dalam ruang sosial, tempat terjadinya dialog dan relasi interpersonal manusiawi yang paling hakiki.

Tatkala membaca, mendengar dan turut dalam perbincangan itu, hati kecil saya miris. Saya seakan masuk ke dalam sebuah ruang tanpa harapan. Saya dihadapkan pada sebuah fakta yang secara tegas menggugat nurani. Cerita duka yang secara langsung mendera masyarakat lingkar tambang dan para sahabat yang peduli mengadvokasi masyarakat serentak meninggalkan luka di hati saya. Luka itu menghasilkan sejuta tanya: di manakah nurani para pemimpin Manggarai Timur (bupati, wakil bupati dan para wakil rakyatnya), ketika cerita duka nestapa masyarakat terpapar nyata di depan mata mereka? Di manakah keprihatinan dan kepedulian mereka ketika cerita derita rakyat datang secara terang benderang dan hadir dalam kehidupan mereka?

Verbalisme yang Menyesatkan

Visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Timur tentu masih terekam dalam ingatan masyarakat. Keberpihakan mereka pada upaya meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat adalah satu hal yang turut memprakarsai keterpilihan mereka sebagai pemimpin. Masyarakat memiliki kepercayaan kepada pemimpin yang memprioritaskan pembangunan suprastruktur dan infrastruktur untuk memajukan kemakmuran dan kesejahteraan dengan menitikberatkan pada pembangunan pertanian, pariwisata dan lingkungan hidup.

Ironisnya, sebuah kontradiksi (kenyataan yang bertentangan) hadir di tengah kepercayaan itu. Persoalan pertambangan telah hadir sebagai antitesis yang menguji visi dan misi pemimpin ini. Bahasa kemakmuran dan kesejahteraan langsung dihadapkan dengan bencana sosial berupa konflik dan bencana ekologis berupa kehancuran alam. Persoalan ini, kalau tidak teratasi, tentu mendera kita bukan hanya untuk lima tahun ke depan, tetapi juga untuk puluhan bahkan ratusan tahun; bukan saja untuk generasi kita tetapi juga untuk anak-anak dan cucu, cicit kita.

Yoseph Tote

Bupati Manggarai Timur, Yoseph Tote

Bahasa politik pemimpin, yang nyata dalam visi dan misi, serta pengajuan program strategis pembangunan kerapkali menjadi acuan pilihan warga masyarakat. Namun tatkala bahasa politik tidak diwujudnyatakan dalam pilihan keberpihakan, jelas bahasa politik seperti itu merupakan jargon politik yang menyesatkan. Bahasa itu menjadi sebuah verbalisme yang mengibuli dan meninabobokan masyarakat.

Secara substansial, masyarakat memahami apa arti kemakmuran dan kesejahteraan, tetapi secara praktis, pengingkaran nyata kesejahteraan dan kemakmuran melalui aktivitas pertambangan adalah sebuah jargon politik yang membawa penyesatan. Masyarakat yang sebetulnya mengerti, dibuat tidak mengerti, karena terminologi bahasa dalam wacana berpikir seorang pemimpin ternyata berbeda dengan terminologi bahasa yang dipahami oleh masyarakat kebanyakan. Dan bagi masyarakat, sungguh jelas, bahwa pemimpinnya tidak menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat, karena bahasa, cara berpikir dan logikanya bertolak belakang dengan bahasa, cara berpikir dan logika masyarakat kebanyakan.

Hal ini sungguh nyata dalam ketertutupan terhadap dialog dan wacana. Pemimpin tidak mau dikoreksi dan menutup diri terhadap masukan atau pemikiran alternatif. Jelas, ini merupakan penyesatan. Mungkin kesesatan berpikir inilah yang sedang menyandera pemimpin kita. Apalagi kalau mereka sudah dikerangkengkan oleh korporasi kapitalistik para investor pertambangan, yang cenderung mengedepankan modal (kapital) dan mengorbankan manusia dan lingkungan hidupnya.

Kebuntuan yang paling masif dari sebuah proses dialog dan wacana yang tidak dihiraukan selalu memunculkan apatisme politik. Apatisme politik dalam sejarah dan kultur politik Indonesia bukan hanya milik masyarakat awam yang kurang paham politik. Dalam praktik politik, secara kasatmata, apatisme politik juga menjadi bagian dari kultur politik para pemimpin kita. Para pemimpin kita seringkali apatis, masa bodoh, dan seolah tidak peduli terhadap persoalan rakyatnya tatkala berada di singgasana kekuasaan. Mereka terobsesi dengan daya pesona kekuasaan yang menggiurkan dan melupakan jerit tangis dan penderitaan rakyat. Hal ini nyata dalam verbalisme berbahasa yang dinyatakan dalam ungkapan: “toh persoalan di Manggarai Timur bukan hanya persoalan pertambangan saja, masih ada persoalan yang lebih serius, persoalan air minum dan sebagainya.”

Pengalihan fakta sekaligus pengalihan opini adalah bentuk lain dari sikap apatis – sebuah bentuk pereduksian dan penggerusan makna keberpihakan. Dengan mengalihkan opini, kita seolah menunjukkan keberpihakan terhadap masyarakat dengan persoalannya yang lebih serius. Namun ini merupakan suatu wujud pengingkaran dan ketidakberpihakan terhadap kepentingan rakyat. Bagi saya, ini adalah wujud sikap apatis: yang di depan mata saja tidak diurus dengan baik, apalagi yang jauh di pelosok-pelosok terpencil. Bukankah ini juga sebuah tanggapan yang cerdas terhadap apatisme dan verbalisme kita? Bukankah dialog dapat membawa kita kepada ruang diskursus yang saling mencerahkan?

Diskursus yang Mencerahkan

Menjadikan pertambangan sebagai sebuah wacana dalam diskusi publik merupakan sebuah kemestian yang menyejukkan. Tanpa sebuah wacana dan diskusi yang menyertakan pertukaran gagasan yang cerdas antara pemerintah, wakil rakyat, elemen masyarakat dan agama, juga LSM, pertambangan tetap menjadi persoalan serius bagi masyarakat Manggarai Timur. Kalau Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Timur tetap bersih kukuh pada keputusannya untuk memberi izin melakukan eksplorasi bagi investor perusahaan pertambangan, pertambangan tetap akan menjadi titik api yang memunculkan bara api konflik bagi masyarakat Manggarai Timur. Pertambangan menjadi bom waktu yang sesewaktu akan meledak dan membawa kehancuran bagi bangunan sosial dan kultural masyarakat lingkar tambang dan masyarakat Manggarai Timur.

Sebetulnya, kita mesti ingat bahwa sebuah pilihan yang cerdas tak pernah dihasilkan dari sebuah kesesatan berpikir yang menolak diskursus, apalagi dibangun dari sebuah verbalisme yang menyesatkan masyarakat, atau berpijak pada keputusan pribadi yang tidak teruji tetapi dikibuli oleh janji korporasi kapitalis para investor pertambangan. Penyatuan pikiran seluruh elemen masyarakat adalah sebuah keniscayaan yang membawa kesejahteraan dan kemakmuran.

Dalam kerangka pikiran sederhana masyarakat, pertambangan di Manggarai Timur, tidak pernah membawa kesejahteraan dan kemakmuran. Pertambangan hanya membawa alienasi-keterasingan, ketersisihan dan terjungkalnya masyarakat kita dari lingkungan hidupnya. Pertambangan hanya memberikan cerita kehancuran, kesengsaraan dan kemiskinan bagi masyarakat lingkar tambang. Bukankah konflik terkait pertambangan sudah sering terjadi dan selalu terulang di tengah masyarakat kita, di Manggarai Timur? Akankah kita melanjutkan cerita dukacita-nestapa ini sebagai warisan kelam bagi anak cucu kita?

Inilah saatnya, kita kembali ke hati nurani kita. Bukan dengan sebuah verbalisme, tetapi dengan sebuah diskursus yang lahir dari keagungan jiwa yang mampu mengubah tangisan rakyat menjadi canda-tawa-cerita kesejahteraan dan kemakmuran yang kita impikan. Diskursus inilah yang mengangkat citra kita sebagai pemimpin yang populis, yang menjadikan jeritan dan tangisan rakyat sebagai basis pilihan keberpihakan dan langkah strategis pembangunan Manggarai Timur.***(Flores Pos, Selasa, 23 September 2014)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s