Rekonsiliasi Hewokloang

  • Bentara (Tajuk Rencana) Flores Pos, Rabu, 24 September 2014

Oleh Avent Saur

Rekonsiliasi adalah proses panjang, seringkali terputus-putus dan acapkali terpatahkan.Lian Jemali

Ketika rumah Markus Manugete, tersangka pembunuhan dua bersaudara di Hewokloang, dilalap api, kita mudah menyangka, itu terkait balas dendam oleh pihak keluarga korban. Yah, sekalipun, pihak penegak hukum masih menyelidiki penyebabnya, (FP, 22/9).

Yang pasti, situasi Hewokloang yang sebelumnya “sudah kondusif”, sekarang “tidak kondusif” lagi. Boleh jadi, dalam beberapa hari ke depan, penegak hukum akan mengatakan sekali lagi, kondisi “sudah kondusif”. Pertanyaannya, sampai kapan situasi kondusif itu bertahan?

“Situasi kondusif”, seringkali mudah terucap oleh pihak berwajib, untuk menyebut sebuah situasi tanpa kekacauan. Bukan cuma penegak hukum, pemerintah, dalam hal ini, Camat Hewokloang juga pernah mengatakan hal yang sama. Demikian juga warga Hewokloang sendiri, sehingga ke-14 keluarga pelaku yang sempat berlindung di Mapolsek Kewapante, akhirnya kembali ke Hewokloang beberapa waktu lalu.

Namun dengan peristiwa nahas (kebakaran) tersebut, kita pun sulit membayangkan, kira-kira apa lagi yang akan terjadi di Hewokloang pada waktu-waktu mendatang. Polisi memang aktif berpatroli dan menjaga keamanan kampung, dan hal ini akan tetap dilakukan sampai akhirnya nanti mengatakan sekali lagi, “situasi sudah kondusif”. Proses hukum atas Markus Manugete juga terus berjalan (diharapkan hingga tuntas). Namun apakah tindakan ini menyelesaikan masalah kampung itu sampai ke akar-akarnya?

Markus Manugete sendiri mengatakan, pada tahun 2006, dirinya pernah melukai Elias (30). Entah masalah apa di balik peristiwa itu, Markus tidak mengakui dengan jujur. Delapan tahun berlalu, pada Juli 2014, tiga bersaudara (Elias, Yulius Keor dan Joni), mendatangi rumahnya dengan membawa pelbagai perlengkapan “perang”. Markus meladeni ketiganya, dan tragedi berdarah pun terjadi, Elias dan Yulius tewas. Markus menegaskan, “mereka datang mungkin karena masih dendam”.

Itu berarti, sebetulnya Hewokloang itu bagaikan sekam yang menyimpan api; atau “kemasan relasi sosial” yang selama ini tampak indah tapi membungkus kebusukan interaksi. Patroli keamanan yang digiatkan oleh kepolisian, dan proses hukum atas Markus Manugete, percaya atau tidak, tidak akan memadamkan api itu, atau tidak akan menghalau kebusukan menjadi keharuman di kampung itu.

Lalu apa yang mesti dilakukan? Rekonsiliasi sosial.

Ketika konflik sosial terjadi, entah antar-individu, entah antar-kampung, kerapkali, pemerintah dan tokoh agama (Gereja) mengimbau “segera lakukan rekonsiliasi”. “Lakukan rekonsiliasi”, sebagai imbauan, mudah diucapkan, tapi sebagai tindakan nyata, agaknya sangat rumit. Mengapa?

Penegasan Lian Jemali (teolog muda, dalam buku “Teologi Hitam dan Teologi Ubuntu Desmond Tutu” – teolog Afrika), setidaknya menjawab pertanyaan ini. “Rekonsiliasi adalah sebuah proses panjang, seringkali terputus-putus dan acapkali terpatahkan.” Jika sempat terputus, atau pun sering terputus, bahkan terpatahkan, waktu selalu tersedia bagi kita untuk menyambungnya kembali. Prosesnya panjang, karena rekonsiliasi membutuhkan perubahan pelbagai kebiasaan dan cara pandang terhadap yang lain, juga perubahan relasi personal dan sosial.

Yang mau dicapai di balik perubahan itu adalah “kunci ikatan yang menyakitkan kedua belah pihak dibuka (sekalipun rumit), dan dengan itu, keduanya dibebaskan. Pelaku kejahatan dibebaskan dari rasa bersalah yang mendalam, dan para korban dibebaskan dari rasa sakit. Pelaku mengakui kesalahannya dengan sadar, dan korban memberikan pengampunan dengan total.”

Karena rekonsiliasi Hewokloang itu urgen, maka pertanyaannya bukan lagi, apakah agama (Gereja) dan pemerintah (sebagai lembaga yang mengabdi publik) mampu melakukannya, melainkan kapan pemerintah dan Gereja memulai tindakan itu? Damai tidak datang melalui jalan alamiah, tapi selalu melalui jalan rekonsiliasi sosial. Situasi kondusif pun akan bertahan langgeng.***

Baca artikel terkait: Rumah Tersangka Kasus Pembunuhan Terbakar


SENGGOL

*Hewokloang berapi. Pemerintah dan Gereja mesti bawa air ke sana.

*Polisi berpatroli di Hewokloang. Menakutkan, bukan mendamaikan.

*Konflik sosial di Tumbak. Sumbernya justru dari pemerintah.

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s