Cabut Semua Izin Tambang

  • Sikap Sinode III Sesi III Keuskupan Ruteng

Oleh Christo Lawudin

Ruteng, Flores Pos – Sinode III sesi III Keuskupan Ruteng berbicara tentang pastoral keluarga, kaum muda, dan anak. Namun realitas konkret Gereja Keuskupan Ruteng menggerakkan peserta sinode untuk menyerap aspirasi dan menyikapi masalah pertambangan di Manggarai raya. Salah satu sikap sinode adalah menuntut pemerintah untuk mencabut semua izin.

Kopian surat tuntutan kepada pemerintah di Manggarai raya yang diterima wartawan dari panitia sinode III sesi III,  Romo Ino Sutam Pr, Jumat (26/9). Ada empat tuntutan konkret yang dihasilkan peserta sinode, yakni para bupati di wilayah Keuskupan Ruteng didesak untuk mencabut semua izin tambang yang telah diberikan, membatalkan pemberian izin tambang yang masih diproses dan selanjutnya tidak mengeluarkan IUP.

Peserta sonode juga menyatakan bahwa pemerintah daerah sering berlindung di balik alasan yang bersifat formal dan yuridis, padahal aturan dan izin pertambangan dibuat oleh mereka sendiri dan proses pembuatannya tidak bersifat transparan. Mereka lupa akan dua hal mendasar. Pertama, peraturan harus melindungi masyarakat dan menjamin hak-haknya, peraturan adalah untuk manusia, bukan sebaliknya, manusia untuk peraturan. Karena itu, peraturan yang menindas manusia dan merusak hak dan martabatnya harus dikoreksi atau bahkan dicabut.

Kedua, berkaitan dengan pertambangan, hal yang paling subtansial adalah rusaknya lingkungan hidup/tanah adat, rusaknya keharmonisan kehidupan masyarakat,  rusaknya kehidupan budaya, dan tercerabutnya hak-hak masyarakat atas hak milik mereka yang diwariskan turun-temurun. Kebenaran lahir dari hal yang paling substansial dan mendasar ini, dan bukan dari konsep formal-yuridis yang memihak kepentingan elite politik dan ekonomi (pemerintah dan perusahaan tambang).

Lindungi Warga

Menurut Koordinator JPIC Keuskupan Ruteng, Romo Marten Jenarut Pr,  sinode juga menuntut seluruh aparat pemerintah dari yang tertinggi sampai yang terendah di seluruh wilayah Keuskupan Ruteng untuk menganyomi dan melindungi masyarakat, terutama masyarakat lingkar tambang dan menjamin hak-hak dan martabatnya. Pemerintah tidak boleh melakukan tindakan yang bertentangan dengan fungsinya seperti memanipulasi, mengintimidasi, dan lain-lain.

“Sinode juga menuntut para anggota DPRD kabupaten, provinsi, dan pusat di seluruh wilayah dan anggota DPD RI dari NTT untuk melakukan fungsi kontrol dengan mengawasi, meminta pertanggungjawaban pemerintah di tiga kabupaten dalam wilayah Keuskupan Ruteng berkaitan dengan aktivitas pertambangan di wilayahnya masing-masing,” katanya.

Aparat keamanan, dalam hal ini TNI dan Polri, kata Romo Marten, di seluruh wilayah administratif pemerintahan yang ada di Keuskupan Ruteng mendesak untuk tidak memihak ataupun memprovokasi pihak mana pun dalam konflik pertambangan dan lingkungan.

Anggota panitia Romo Hermen Sanusi Pr mengatakan, surat tuntutan telah dibacakan di hadapan peserta sinode III sesi III selama sepekan. Surat tuntutan tolak tambang itu ditandatangani Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng.

“Peserta sinode sepakat untuk tolak tambang. Dan, disepakati pula apa yang dilakukan Gereja ke depannya dalam menyikapi pelbagai masalah yang terkait dengan tambang,” katanya.***(Flores Pos, Sabtu, 27 September 2014)

Baca artikel terkait: Silahkan Gugat IUP Bermasalah *Dua Warga Marabola Dilaporkan ke Polisi *Dewan Harus Bela Masyarakat Lingkar Tambang *Soal Tambang, Bupati Minta Berpikir Rasional *Bupati Matim Belum Keluarkan Izin Tambang *Warga Lingkar Tambang Kerap Diintimidasi *Piramida Kurban *Siap Mati Demi Tanah *Telanjang Dada Melawan Tambang *Bupati Matim Baru Tahu? *Bupati Matim dan Enam Izin Tambang *Pilkada Ende dan Tambang *Demokrasi Pariwisata Flores (1) *Demokrasi Pariwisata Flores (2) *Dari Verbalisme Menuju Diskursus *Membangun Manggarai Tanpa Tambang

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s